NovelToon NovelToon
Identitas Tersembunyi Panglima

Identitas Tersembunyi Panglima

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Kehidupan Tentara / Perperangan / Keluarga / Raja Tentara/Dewa Perang
Popularitas:30k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di mata keluarga besar Severe, Jay Ares hanyalah seorang menantu benalu. Tanpa harta, tanpa jabatan, dan hanya bekerja sebagai sopir taksi online. Ia kenyang menelan hinaan mertua dan cemoohan kakak ipar, bertahan hanya demi cintanya pada sang istri, Angeline.

Namun, tak ada yang tahu rahasia mengerikan di balik sikap tenangnya.

Jay Ares adalah "Panglima Zero" legenda hidup militer Negara Arvanta, satu-satunya manusia yang pernah mendapat gelar Dewa Perang sebelum memutuskan pensiun dan menghilang.

Ketika organisasi bayangan Black Sun mulai mengusik ketenangan kota dan nyawa Angeline terancam oleh konspirasi tingkat tinggi, "Sang Naga Tidur" terpaksa membuka matanya. Jay harus kembali terjun ke dunia yang ia tinggalkan: dunia darah, peluru, dan intrik kekuasaan.

Saat identitas aslinya terbongkar, seluruh Negara Arvanta akan guncang. Mereka yang pernah menghinanya akan berlutut, dan mereka yang mengusik keluarganya... akan rata dengan tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Tamu Tak Diundang

"Hei, Sopir! Bisa lebih cepat tidak? Saya sudah terlambat meeting!"

Suara ketus penumpang wanita di kursi belakang membuyarkan fokus Jay. Wanita itu sibuk mematut diri di cermin bedak, sama sekali tidak peduli pada pria di balik kemudi yang membawanya.

"Maaf, Nyonya. Jalanan macet karena ada kecelakaan di terowongan depan," jawab Jay sopan. Matanya melirik spion, menatap penumpang itu sekilas, lalu kembali fokus ke jalan.

Di radio mobil, penyiar berita sedang membacakan breaking news dengan nada serius.

"...ditemukan empat pria dalam kondisi mengenaskan di terowongan Distrik 4. Polisi menduga ini adalah konflik antar sindikat, namun anehnya tidak ditemukan jejak senjata api. Keempat korban mengalami patah tulang parah seolah dihantam benda tumpul dengan presisi tingkat tinggi..."

Jay mematikan radio. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang tak terlihat. Benda tumpul? Tangan kosongnya memang sering dianggap senjata mematikan.

Setelah menurunkan penumpang yang masih saja menggerutu itu di sebuah mal, Jay melirik jam di dasbor mobil tuanya. Pukul 12.00 siang. Waktunya makan siang.

Hatinya tergerak. Ia teringat wajah lelah Angeline tadi pagi. Istrinya itu pasti belum makan karena sibuk mengurusi krisis perusahaan.

Jay memutar kemudi. Ia berhenti di sebuah food truck langganannya di pinggir taman kota.

"Hei, Jay! Pesanan biasa?" sapa penjual bertubuh gemuk dengan apron bernoda saus. Ia menyapa akrab, tanpa embel-embel formalitas.

"Ya, Carl. Sandwich Ayam Panggang. Saus pedasnya yang banyak, tapi dipisah. Istriku suka pedas, tapi rotinya jangan sampai basah," pesan Jay.

Carl tertawa sambil membalik daging di atas panggangan. "Kau ini, Jay. Perhatian sekali pada istrimu. Padahal kau sendiri dari tadi pagi cuma minum air mineral."

Jay hanya tersenyum tipis. Baginya, melihat Angeline makan dengan lahap sudah cukup untuk mengisi energinya.

Gedung Severe Group.

Menara pencakar langit berlapis kaca biru itu berdiri megah di pusat distrik bisnis Kota Langit Biru. Ini adalah simbol kekuasaan keluarga Severe, tempat di mana Angeline bekerja sebagai Direktur Pemasaran jabatan yang terdengar mentereng, namun sebenarnya penuh tekanan mematikan.

Jay memarkirkan sedan bututnya agak jauh agar tidak diusir keamanan. Dengan menenteng kantong kertas cokelat berisi sandwich, ia berjalan masuk ke lobi yang dingin dan bernuansa futuristik.

Baru saja kakinya menginjak lantai marmer lobi, seorang resepsionis wanita dengan setelan ketat langsung berdiri dan mengangkat tangan. Tatapannya sinis, memindai pakaian Jay dari atas ke bawah: kemeja flanel pudar, celana jins murah, dan sepatu kets tua.

"Maaf, pintu pengantaran ada di samping. Dilarang masuk lobi utama," tegur resepsionis itu dingin.

"Saya bukan kurir. Saya suami Angeline Severe. Saya mau antar makan siang," jawab Jay tenang.

Resepsionis itu mendengus, menahan tawa. Suaranya sengaja dikeraskan agar orang-orang di lobi mendengar. "Oh... jadi kau 'suami legendaris' itu? Yang kerjanya cuma jadi sopir taksi?"

Beberapa eksekutif muda yang lewat berbisik-bisik sambil melirik jijik. Gosip tentang Angeline yang menikah dengan pria pecundang sudah jadi lelucon favorit di kantor ini.

"Tolong hubungi dia. Bilang saya di sini," pinta Jay, mengabaikan cemoohan itu.

Belum sempat resepsionis itu menjawab, pintu lift terbuka. Angeline keluar dengan langkah terburu-buru. Namun, ia tidak sendirian. Seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan setelan jas Italia berjalan di sampingnya sambil membentak kasar.

Itu Mr. Harold, salah satu investor terbesar Severe Group.

"Aku tidak mau dengar alasanmu, Angeline! Kesepakatan ini batal!" teriak Harold, suaranya menggema di lobi yang tinggi itu. "Perusahaanmu itu kapal karam! Dan kau... kau bahkan tidak becus melayaniku dengan benar!"

Wajah Angeline pucat pasi. "Mr. Harold, tolong beri kami waktu satu minggu lagi. Masalah distribusi itu karena ada sabotase eksternal, bukan kesalahan manajemen kami..."

"Omong kosong!" Harold berhenti melangkah, lalu menunjuk wajah Angeline dengan telunjuknya yang gemuk. "Dengar, kalau bukan karena ayahmu memohon-mohon padaku, aku tidak sudi berurusan dengan wanita sepertimu. Wajah cantik, tapi otak kosong!"

PLAK!

Harold menepis tumpukan dokumen yang dipegang Angeline hingga berhamburan ke lantai marmer.

Suasana lobi hening seketika. Para staf menunduk, takut melihat kemarahan klien VIP itu. Angeline menggigit bibir bawahnya, menahan air mata agar tidak jatuh di depan umum. Ia berlutut, memunguti kertas-kertas itu dengan tangan gemetar.

Tiba-tiba, sebuah tangan kekar terulur, membantunya memungut dokumen.

Angeline mendongak. "Jay?"

Jay tersenyum lembut, menyerahkan dokumen itu ke tangan istrinya. "Kau baik-baik saja?"

"Kenapa kau di sini? Pergilah, ini urusan bisnis," bisik Angeline panik. Ia tidak ingin Jay menjadi sasaran kemarahan Harold juga.

Terlambat. Harold sudah melihatnya. Pria itu tertawa meremehkan.

"Hah! Lihat siapa yang datang. Ksatria pelindung?" Harold meludah ke samping. "Angeline, jadi ini suamimu? Sopir taksi yang jadi aib keluarga Severe itu? Pantas saja seleramu rendah, dalam bisnis maupun laki-laki."

Jay berdiri perlahan. Ia menyerahkan kantong kertas berisi sandwich itu ke tangan Angeline.

"Makanlah dulu. Kau butuh energi," kata Jay lembut, seolah Harold tidak ada di sana.

Diabaikan oleh seorang sopir membuat wajah Harold memerah padam karena marah. Ia maju selangkah, mencengkeram kerah kemeja Jay dengan kasar.

"Hei, Sampah! Aku sedang bicara padamu! Kau tuli?!" bentak Harold. Aroma alkohol tercium menyengat dari mulutnya.

Angeline terpekik. "Mr. Harold! Tolong lepaskan dia!"

Jay tidak bergerak. Ia tidak melawan. Namun, matanya menatap lurus ke bola mata Harold. Tatapan itu... kosong, gelap, dan mengerikan. Seperti menatap lubang laras senapan.

"Lepaskan," ucap Jay pelan. Nadanya datar, tapi membuat suhu di sekitar mereka terasa turun beberapa derajat.

Harold merasakan dingin yang aneh merambat di punggungnya. Namun, arogansinya sebagai orang kaya membuatnya enggan mundur.

"Kalau aku tidak mau, kau mau apa? Memukulku? Asal kau tahu, harga jas yang kau pegang ini lebih mahal dari nyawamu—"

Tiba-tiba, Jay mengangkat tangannya perlahan, seolah hendak membenarkan letak kerahnya. Gerakannya santai, tapi ibu jarinya "secara tidak sengaja" menekan titik saraf vital di pergelangan tangan Harold yang sedang mencengkeram bajunya.

"AARGH!"

Harold menjerit kesakitan. Cengkeramannya terlepas seketika. Rasanya seperti tersengat listrik tegangan tinggi. Ia mundur terhuyung-huyung sambil memegangi tangannya yang tiba-tiba mati rasa dan gemetar.

"Tangan... tanganku! Apa yang kau lakukan padaku?!" teriak Harold panik.

"Hati-hati, Tuan," kata Jay dengan wajah polos tanpa dosa. "Mungkin kram otot. Orang yang suka marah-marah biasanya sirkulasi darahnya buruk."

Jay merapikan kerah bajunya yang kusut, lalu menatap Angeline. "Aku pergi dulu. Jangan lupa makan siangnya."

Tanpa menunggu jawaban, Jay berbalik dan berjalan keluar lobi dengan langkah santai, kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.

Harold masih mengerang kesakitan, sementara Angeline menatap punggung suaminya dengan tatapan bingung. Untuk sesaat tadi... ia merasa sosok yang berdiri di depannya bukanlah Jay si sopir taksi yang lemah. Aura itu terlalu... dominan.

Tapi lamunan itu buyar saat ponsel Angeline di saku blazernya berdering. Panggilan dari ayahnya, Demian Severe.

"Angeline! Apa yang terjadi di lobi?! Kenapa Mr. Harold mengamuk? Bawa suamimu yang tidak berguna itu ke Estate Utama malam ini! Seluruh keluarga besar akan berkumpul!"

Angeline lemas. Masalah satu selesai, masalah lain datang. Dan malam ini... akan menjadi malam penghakiman bagi Jay.

1
Hendra Yana
lanjut
Mamat Stone
/Bomb//Bomb/💥
Mamat Stone
tok tik tok 👊💥👊
MyOne
Ⓜ️🔜⏩🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🆗🆗🆗Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🙄👀🙄Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😡😡😡Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🤬🤬🤬🤬Ⓜ️
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
☮️
Mamat Stone
☯️
Mamat Stone
🐲
Mamat Stone
😈
Mamat Stone
/Toasted/
Mamat Stone
/Gosh/
MyOne
Ⓜ️😵😵‍💫😵Ⓜ️
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
💥☮️💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!