Lin Feng, pendekar tampan berilmu tinggi, menjadi buronan kekaisaran setelah difitnah membunuh seorang pejabat oleh Menteri Wei Zhong. Padahal, pembunuhan itu dilakukan Wei Zhong untuk melenyapkan bukti korupsi besar miliknya. Menjadi kambing hitam dalam konspirasi politik, Lin Feng melarikan diri melintasi samudra hingga ke jantung Kerajaan Majapahit.
Di tanah Jawa, Lin Feng berusaha menyembunyikan identitasnya di bawah bayang-bayang kejayaan Wilwatikta. Namun, kaki tangan Wei Zhong terus memburunya hingga ke Nusantara. Kini, sang "Pedang Pualam" harus bertarung di negeri asing, memadukan ilmu pedang timur dengan kearifan lokal demi membersihkan namanya dan menuntut keadilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbongkarnya Topeng Ra Tanca
Gajah Mada tersentak. Keris pusaka di pinggangnya berdenging, seolah memberi peringatan sesaat sebelum belati itu menghujam meja jati di depannya. Sang Mahapatih segera berdiri, matanya menyapu sekeliling ruangan dengan waspada, namun pengirimnya telah lenyap, hanya menyisakan getaran energi Qì yang samar namun sangat kuat.
Dengan tangan yang masih gemetar karena pemulihan luka dalam, Gajah Mada mencabut belati tersebut. Ia mengenali hulu senjata itu; itu adalah senjata khas kelompok Gagak Hitam, pembunuh bayaran yang seharusnya tidak memiliki urusan di dalam markas Bhayangkara.
Ia membuka lilitan kain yang ternoda bercak darah segar tersebut. Matanya yang tajam membaca baris demi baris tulisan dengan saksama:
"Tuan Patih, naga tidak pernah memburu kijang di tanah asing jika bukan karena bau bangkai di dalam rumah sendiri. Hakim Agung Ra Tanca telah menjual hukum Majapahit kepada emas Kasim Wei. Racun 'Tujuh Langkah' akan mengalir di cawan pesta bulan purnama. Bersihkan lumbungmu dari tikus, atau Majapahit akan runtuh dalam senyap malam besok."
Gajah Mada tertegun. Ia meremas kain itu hingga hancur. "Ra Tanca..." geramnya rendah. Nama itu adalah duri dalam daging yang selama ini sulit ia cabut karena kedudukannya yang tinggi sebagai pejabat hukum.
Gajah Mada segera memanggil komandan pasukan elit Bhayangkara yang paling setia. Suaranya kini kembali menggelegar, penuh wibawa yang mematikan.
"Siapkan pasukan rahasia. Jangan gunakan atribut resmi. Awasi setiap gerak-gerik Ra Tanca dan tamu-tamu dari daratan Tiongkok. Dan satu lagi..." Gajah Mada terdiam sejenak, menatap belati Gagak Hitam di tangannya. "Jika kalian melihat pemuda asing berbaju putih atau pembawa pedang besar yang auranya menggetarkan tanah, jangan serang dia. Dia adalah mata dan telinga kita di kegelapan."
Sementara itu, di sudut pasar yang gelap, Lin Feng memperhatikan reaksi di markas Bhayangkara dari kejauhan. Di sampingnya, Joko sedang sibuk menyemir alu padinya dengan minyak kelapa agar terlihat mengkilap.
"Sudah Mas Lin sampaikan pesannya?" tanya Joko berbisik.
"Sudah. Gajah Mada adalah macan yang bijak. Dia pasti tahu apa yang harus dilakukan," jawab Lin Feng. "Tapi kita tidak bisa hanya mengandalkan dia. Ra Tanca adalah ular yang licin. Jika dia merasa terpojok, dia akan menggigit siapa saja, termasuk Sang Prabu."
Lin Feng meraba punggungnya, menyentuh bungkusan kain yang menutupi Pedang Naga Bumi. Pedang itu terasa hangat, seolah memberikan dukungan moral kepada tuannya.
"Besok malam, saat bulan purnama mencapai puncaknya di langit Trowulan, keadilan akan ditegakkan. Bukan dengan hukum yang dibeli Ra Tanca, tapi dengan kebenaran yang terukir di atas baja," tegas Lin Feng.
Ia menoleh ke arah Joko. "Joko, carikan aku topeng penari Jaran Kepang atau topeng Panji. Aku akan masuk ke pesta itu bukan sebagai buronan, tapi sebagai bagian dari hiburan yang akan membongkar kedok mereka."
Joko menyengir, matanya berbinar. "Siap, Mas Lin! Serahkan padaku. Aku akan buatkan penyamaran yang bahkan ibunya Ra Tanca pun tidak akan mengenali Mas Lin!"
Malam bulan purnama tiba di Trowulan. Langit bersih tanpa awan, membiarkan cahaya perak menerangi pelataran istana yang megah. Alunan gamelan yang mistis dan mendayu-dayu memenuhi udara, menyambut para bangsawan dan utusan asing yang hadir dalam perjamuan agung.
Di singgasana tinggi, Prabu Hayam Wuruk duduk dengan anggun, didampingi oleh Gajah Mada yang berdiri tegak meski wajahnya sedikit pucat. Di sisi lain, Ra Tanca tampak duduk tenang dengan senyum tipis yang penuh muslihat, sesekali melirik ke arah utusan Kasim Wei yang duduk tak jauh darinya.
"Gusti Prabu," ucap Ra Tanca sambil merapat ke arah singgasana. "Malam ini, hamba menghadirkan sekelompok penari topeng terbaik untuk menghibur perjamuan ini. Mereka akan membawakan kisah kemenangan hukum atas pengkhianatan."
Prabu Hayam Wuruk mengangguk pelan. "Mulailah."
Sekelompok penari masuk ke tengah pelataran. Di tengah mereka, seorang penari bertubuh tegap dengan Topeng Panji yang putih bersih bergerak dengan kelenturan yang luar biasa. Gerakannya bukan sekadar tarian; setiap langkahnya seolah-olah menggetarkan lantai batu istana. Itulah Lin Feng, sementara di barisan belakang, Joko menyamar sebagai pemain kendang yang memukul dengan penuh semangat.
Saat tarian mencapai puncaknya, para pelayan mulai membawa nampan berisi cawan emas penuh arak madu. Ra Tanca memberi kode rahasia dengan menyentuh cincin akiknya. Pelayan yang membawa cawan ke arah Gajah Mada dan Sang Prabu diam-diam menjatuhkan serbuk halus dari balik lengan bajunya—Racun Tujuh Langkah.
"Mari kita bersulang untuk kejayaan Majapahit!" seru Ra Tanca sambil mengangkat cawannya sendiri yang tidak beracun.
Gajah Mada sudah hampir menyentuh cawannya, namun tiba-tiba...
WUSH!
Penari bertopeng Panji itu melesat. Dengan gerakan secepat kilat yang memadukan Langkah Awan dan tenaga Naga Bumi, ia menendang nampan emas di tangan pelayan hingga terpelanting. Cawan-cawan itu jatuh ke lantai, dan saat cairan arak mengenai batu marmer, terdengar suara desisan mengerikan disertai asap hijau yang berbau busuk.
"Ada racun!" teriak salah seorang punggawa.
Suasana menjadi gempar. Para pengawal Bhayangkara segera menghunus pedang. Ra Tanca berdiri dengan wajah merah padam. "Siapa penari kurang ajar ini? Tangkap dia! Dia mencoba menyerang Sang Prabu!"
Lin Feng tidak lari. Ia justru berdiri di tengah pelataran, perlahan membuka topengnya. Wajah tampannya yang bersinar di bawah rembulan membuat seisi istana tertegun.
"Aku Lin Feng, orang yang kau fitnah, Ra Tanca," suara Lin Feng menggelegar, bergetar dengan tenaga dalam yang dahsyat. "Cairan di lantai itu adalah bukti kerakusanmu. Kau menjual nyawa bangsamu sendiri demi emas dari daratan utara!"
Ra Tanca tertawa licik, mencoba membalikkan keadaan. "Hanya bualan seorang buronan! Mana buktinya kau tidak menaruh racun itu sendiri?"
Tepat saat itu, Joko yang berada di barisan pemusik melemparkan sebuah bungkusan ke tengah lantai. Bungkusan itu terbuka, menampakkan kepingan emas Ming dan surat perjanjian rahasia yang dicuri Lin Feng dari gedung Ra Tanca kemarin.
"Buktinya ada di sana, Gusti Prabu!" teriak Joko. "Surat itu berstempel pribadi Ra Tanca dan Kasim Wei!"
Gajah Mada melangkah maju, sorot matanya tajam mengunci Ra Tanca. "Aku sudah menunggu saat ini, Tanca. Aku sengaja membiarkanmu merasa menang agar semua tikusmu keluar dari sarangnya."
Menyadari dirinya terpojok, Ra Tanca kehilangan akal sehatnya. Ia mencabut keris panjang di balik jubahnya dan memberi isyarat pada pasukan rahasianya. "Gagak Hitam! Habisi mereka semua!"
Puluhan pembunuh bayaran melompat dari atap-atap istana. Namun, Lin Feng sudah siap. Ia meraih bungkusan kain di punggungnya dan menyentakkan isinya.
KLANG!
Pedang Naga Bumi terhunus. Cahaya kehitaman yang pekat menyelimuti bilahnya. Saat pedang itu muncul, seluruh keris milik pengawal di ruangan itu bergetar hebat, seolah tunduk pada raja segala senjata.
"Ra Tanca," ucap Lin Feng dingin, ujung pedangnya menunjuk tepat ke jantung sang hakim agung. "Hukum manusia mungkin bisa kau beli, tapi hukum bumi tidak akan membiarkanmu pergi."