NovelToon NovelToon
Ayah Apa Salahku?

Ayah Apa Salahku?

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Ketika seorang anak ingin dicintai tapi selalu dijadikan alasan"

Kanaya ditinggalkan ibunya sejak bayi berumur 14 bulan dan tumbuh bersama ayah yang selalu menyalahkannya atas setiap kegagalan hidup.

Saat ayahnya menikah lagi, kasih sayang yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi sumber luka.

Kanaya hanya ingin diakui sebagai anak, bukan beban.
Namun semakin ia berusaha, semakin ia disalahkan.

Sampai akhirnya ia hanya bisa bertanya dalam diam—
Ayah, apa salahku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMAHAMI KEADAAN YANG TAK TERKABUL

Keesokan paginya, suasana di rumah terasa lebih berat dari biasanya. Maya duduk di meja makan, menatap kosong ke arah piringnya, namun telinganya tampak setajam silet. Kanaya bergerak dengan sangat hati-hati, berusaha tidak menimbulkan suara saat menyiapkan sarapan. Setiap denting sendok yang menyentuh piring terasa seperti pemicu bom waktu.

"Kemarin malam kamu belum tidur jam satu," suara Maya memecah keheningan, dingin dan penuh selidik. "Ibu lihat lampu di bawah pintumu masih nyala. Sama siapa kamu bicara?"

Kanaya tertegun. Jantungnya berdegup kencang, namun ia tetap berusaha menampilkan wajah datar yang sudah ia latih selama belasan tahun. "Hanya membaca lowongan kerja, Bu. Kanaya ingin segera dapat penghasilan tetap."

Maya mendengus, matanya menyipit. "Bagus kalau begitu. Jangan sampai kamu pikir masa depanmu ada pada laki-laki. Kamu lihat Ayahmu? Dia cuma pahlawan di depan orang lain, tapi di rumah ini dia cuma penghancur. Jangan sampai ada laki-laki yang masuk ke rumah ini, Naya. Mereka cuma bawa kotoran."

Kanaya hanya mengangguk pelan, menelan pahit di tenggorokannya. Di saku celananya, ponselnya bergetar pelan. Ia tahu itu dari Hendri. Rasanya seperti memegang bara api—hangat namun berbahaya.

Sore harinya, Kanaya memutuskan untuk menemui Hendri di sebuah taman yang jauh dari jangkauan kenalan ibunya. Ia butuh memastikan apakah Hendri benar-benar sadar dengan apa yang ia tawarkan, atau itu hanya rasa kasihan sesaat.

Saat ia sampai, Hendri sudah duduk di sana. Tidak ada senyum berlebihan, hanya tatapan yang teduh—jenis tatapan yang membuat Kanaya merasa "terlihat", bukan sekadar "ada".

"Aku serius dengan apa yang aku tulis semalam, Naya," ucap Hendri langsung, seolah bisa membaca keraguan di mata gadis itu.

"Kak, kamu tidak mengerti," suara Kanaya bergetar. "Ibu tidak hanya trauma, dia bisa sangat... agresif. Jika dia tahu aku dekat denganmu, dia akan menghancurkan segalanya. Dia akan memaki keluargamu, dia akan mempermalukanku di depan rumahmu. Hidupku bukan hanya soal luka lama, tapi ancaman yang masih hidup."

Hendri menggeser duduknya, namun tetap menjaga jarak yang sopan agar Kanaya tidak merasa terdesak. "Lalu, apakah rencanamu adalah mengubur dirimu hidup-hidup di rumah itu selamanya?"

Kanaya terdiam. Pertanyaan itu menghantamnya lebih keras daripada makian ibunya.

"Naya, aku tidak menjanjikan bahwa semuanya akan mudah. Tapi orang tuaku... mereka tahu sedikit tentangmu. Dan kamu tahu apa reaksi Ibu?" Hendri tersenyum tipis. "Dia bilang, 'Bawa dia makan malam kalau dia sudah siap. Kita punya banyak ruang di meja makan'."

Mendengar itu, Kanaya merasa sesak. Ruang di meja makan. Sesuatu yang sangat sederhana, namun terasa seperti kemewahan yang mustahil. Ia teringat meja makannya sendiri yang seringkali menjadi medan perang kata-kata.

"Aku takut merusak mereka, Kak. Keluargamu terlalu... putih," bisik Kanaya.

"Keluargaku bukan kain putih yang mudah kotor, Naya. Kami adalah manusia yang juga punya masalah, meski mungkin tidak seberat milikmu. Kami punya kekuatan untuk merangkulmu. Kamu bukan noda, kamu adalah orang yang selamat dari kebakaran hebat. Tentu saja kamu punya bekas luka, tapi itu yang membuatmu berharga."

Pertemuan itu berakhir dengan sebuah kesepakatan kecil. Mereka akan berjalan perlahan, sangat perlahan. Hendri tidak akan memaksa masuk ke rumah Kanaya, dan Kanaya akan mulai belajar membuka diri untuk keluar dari zona "bertahan hidup"-nya.

Namun, saat Kanaya melangkah masuk ke halaman rumahnya sore itu, firasat buruk langsung menyergap. Pintu depan terbuka lebar. Di ruang tamu, Maya berdiri sambil memegang sebuah buku catatan kecil milik Kanaya yang tertinggal di sofa—buku yang berisi coretan-coretan perasaan Kanaya, termasuk nama Hendri yang ia tulis secara tidak sadar di pojok halaman.

Wajah Maya merah padam. Matanya melotot, persis seperti saat ia mengusir ayahnya dulu.

"Jadi ini alasan kamu pulang telat?" suara Maya melengking, bergetar karena amarah yang meluap. "Sudah mulai gatal dengan laki-laki? Mau jadi seperti Ayahmu? Mau jadi pengkhianat di rumah sendiri?!"

Buku itu dilemparkan ke arah muka Kanaya. Kanaya tidak menghindar. Ia membiarkan ujung buku itu menggores pipinya. Ia menatap ibunya dengan tatapan yang berbeda hari ini—bukan lagi tatapan takut, melainkan tatapan yang penuh dengan kelelahan yang teramat sangat.

"Dia bukan Ayah, Bu. Dan aku bukan penghianat," ucap Kanaya tegas, suaranya rendah namun stabil.

"Berani kamu melawan?!" Maya maju, tangannya sudah terangkat.

"Pukul saja, Bu. Maki saja aku 'anak sampah' lagi," Kanaya berdiri tegak. "Tapi itu tidak akan mengubah fakta bahwa aku punya hak untuk tidak merasa takut setiap kali bangun tidur. Ibu yang terjebak di masa lalu, tolong jangan tarik aku kembali ke sana."

Hening seketika. Maya mematung, tangannya yang terangkat gemetar di udara. Ia belum pernah melihat Kanaya melawan dengan ketenangan seperti itu. Selama ini, Kanaya hanya diam atau menangis.

Kanaya berbalik, masuk ke kamarnya, dan mengunci pintu. Di dalam sunyi, ia mengambil ponselnya. Ada satu pesan dari Hendri: "Pulanglah dengan aman. Ingat, ada tempat di meja makanku untukmu."

Kanaya memejamkan mata. Badai di ruang tamu mungkin belum usai, tapi untuk pertama kalinya, Kanaya tahu ke mana ia harus berlari saat tembok rumah ini benar-benar runtuh.

Kalimat itu menggantung di udara, terasa sangat berat dan sunyi. Kanaya masih berbaring, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam kasur yang tidak seberapa empuk itu. Matanya yang panas menatap lekat garis-garis retakan di langit-langit kamarnya, yang entah sejak kapan menjadi teman setianya setiap kali ia merasa buntu.

"Aku selalu memahami keadaan apa pun yang diharapkan, sekalipun harapanku tidak terkabul."

Ia menertawakan kalimatnya sendiri. Betapa tragis hidupnya; ia adalah "pakar" dalam hal mengerti orang lain. Ia mengerti mengapa Maya menjadi monster yang pahit, ia mengerti mengapa Ayahnya menjadi pengecut, ia mengerti mengapa dunia ini tidak adil. Tapi, siapakah yang mengerti dirinya?

Kanaya membalikkan tubuhnya ke samping, menatap pintu kamar yang masih terkunci. Di luar sana, ia bisa mendengar suara langkah kaki Maya yang kasar, suara denting piring yang sengaja dibanting pelan, sebuah bahasa non-verbal yang artinya: Ibu sedang marah, dan ini salahmu.

"Apa aku salah?" bisiknya pada kegelapan.

Pikiran Kanaya mulai merangkai skenario-skenario buruk yang selama ini menjadi tamengnya:

Skenario Pertama: Jika ia nekat mendekati Hendri, Maya akan semakin hancur. Maya akan merasa dikhianati oleh satu-satunya orang yang tersisa di hidupnya. Kanaya takut menjadi penyebab ibunya benar-benar kehilangan akal sehat.Skenario Kedua: Jika ia masuk ke keluarga Hendri, ia akan selalu merasa seperti "proyek amal". Ia takut setiap kali mereka bersikap baik, batinnya akan berteriak: Kalian baik karena kalian kasihan, bukan karena kalian mencintaiku.Skenario Ketiga: Ia takut suatu hari nanti, sifat meledak-ledak Maya akan menurun padanya. Ia takut tanpa sadar ia akan melukai Hendri dengan cara yang sama seperti Maya melukainya.Di tengah perdebatan batin itu, ponselnya berkedip. Bukan pesan baru, tapi ia membuka kembali pesan Hendri yang tadi.

“Kamu tidak perlu menjadi 'normal' untuk bersamaku.”

Kanaya menyentuh layar itu dengan ujung jarinya. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak memintanya untuk "memahami keadaan". Hendri justru meminta izin untuk memahami keadaan Kanaya.

"Aku selalu mendahulukan orang lain sampai aku lupa bagaimana rasanya punya keinginan," gumam Kanaya.

Ia teringat masa kecilnya saat ia ingin sekali membeli boneka, tapi ia memilih diam karena tahu Maya sedang pusing membayar hutang Ayahnya. Ia teringat saat ia ingin menangis karena dimaki, tapi ia memilih tersenyum karena tidak ingin menambah beban Mbah Akung. Seluruh hidupnya adalah tentang "tidak terkabulnya harapan".

Tiba-tiba, terdengar ketukan pelan di pintunya. Bukan ketukan kasar Maya, melainkan ketukan yang ragu-ragu.

"Naya... Ibu sudah buatkan teh. Keluar dan minumlah," suara Maya terdengar parau, jauh lebih rendah dari teriakan tadi. Ada nada penyesalan yang samar, jenis permintaan maaf yang tidak akan pernah terucap secara verbal dari mulut seorang Maya.

Kanaya menghela napas. Inilah rantai yang mengikatnya. Maya bisa menjadi iblis di satu detik, dan menjadi ibu yang malang di detik berikutnya. Rasa kasihan inilah yang selama ini membunuh harapan Kanaya.

Namun, malam ini, Kanaya tidak ingin menyerah begitu saja. Ia teringat ucapan Hendri tentang "ruang di meja makan". Ia sadar, jika ia terus-menerus "memahami keadaan" Maya, maka ia sedang membiarkan dirinya mati perlahan dalam kebencian yang bukan miliknya.

Kanaya bangkit, ia berjalan menuju cermin kecil di sudut kamar. Ia mengusap sisa air matanya.

"Kali ini saja," bisiknya pada bayangannya sendiri. "Bolehkan aku berharap satu hal ini saja terkabul? Sekali saja aku ingin egois."

Ia meraih ponselnya, jemarinya bergerak cepat mengetik pesan kepada Hendri.

Kanaya: "Kak, hari Sabtu nanti... apakah undangan makan malam itu masih berlaku? Aku ingin datang."

Setelah menekan tombol kirim, Kanaya melempar ponselnya ke kasur seolah benda itu baru saja menyengatnya. Jantungnya berpacu hebat. Ia tahu, dengan mengirim pesan itu, ia baru saja membuka pintu perang baru dengan ibunya. Tapi di saat yang sama, ia merasa satu beban berat baru saja terlepas dari pundaknya.

Ia tidak lagi hanya memahami keadaan orang lain. Malam ini, Kanaya mulai mencoba memahami bahwa dirinya juga berhak untuk bahagia.

Kanaya mematung di lantai dapur yang dingin, menatap ibunya yang masih terisak dengan bahu yang naik turun tidak teratur. Setiap kata yang baru saja dilontarkan Maya terasa seperti belati yang dikuliti perlahan ke kulitnya. Disalahkan atas kelahiran sendiri adalah jenis luka yang tidak memiliki obat. Kanaya menyadari bahwa bagi Maya, ia bukan sekadar anak, melainkan monumen hidup dari kegagalan dan pengkhianatan yang dilakukan ayahnya. Di rumah ini, kebahagiaan Kanaya dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap penderitaan ibunya.

Ia teringat betapa sering ia mengalah. Saat teman-temannya pergi berlibur, ia memilih di rumah karena takut Maya merasa kesepian. Saat ia mendapat beasiswa, ia tidak berani merayakannya terlalu besar karena takut Maya merasa tersaingi oleh kesuksesannya. Seluruh hidup Kanaya dihabiskan untuk mematikan cahayanya sendiri agar Maya tidak merasa kegelapan. Namun pagi ini, ia sadar bahwa sebesar apa pun pengorbanan yang ia berikan, lubang di hati Maya tidak akan pernah penuh. Ibunya tidak butuh kesetiaan Kanaya; ibunya hanya butuh seseorang untuk disalahkan atas segala hal yang salah dalam hidupnya.

Ponsel di saku celananya bergetar pelan. Ia tidak perlu melihat untuk tahu bahwa itu mungkin pesan dari Hendri, mungkin sekadar ucapan selamat pagi atau pengingat tentang rencana mereka. Getaran itu terasa sangat kontras dengan situasi di depannya. Di satu sisi ada tangan yang terulur ingin menariknya keluar, dan di sisi lain ada tangan yang mencengkeram kakinya agar tetap tinggal di dalam lumpur. Kanaya merasa jiwanya terbelah; ia merasa sangat jahat jika meninggalkan ibunya dalam keadaan hancur seperti ini, tapi ia juga merasa akan "mati" jika terus bertahan.

Kanaya bangkit berdiri, tidak lagi mencoba menyentuh Maya yang masih menepisnya. Ia berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang terasa sangat berat, seolah setiap langkahnya menyeret rantai besi yang tak terlihat. Ia duduk di tepi ranjang, menatap tas wisudanya yang masih tergeletak di sudut ruangan. Ia teringat kalimat yang ia ucapkan semalam tentang selalu memahami keadaan yang diharapkan sekalipun tidak terkabul. Mungkin, baginya, memahami keadaan berarti menerima bahwa ibunya memang tidak akan pernah sembuh, dan tinggal di sana hanya akan membuat mereka berdua hancur bersama.

Dengan jemari yang masih gemetar, ia meraih ponselnya. Ia melihat nama Hendri di layar. Keinginan untuk membatalkan semuanya sangat besar, sebuah dorongan untuk kembali menjadi "anak yang patuh" agar Maya berhenti mengamuk. Namun, Kanaya teringat sorot mata Hendri yang mengatakan bahwa ia tidak perlu menjadi normal untuk bersamanya. Untuk pertama kalinya, Kanaya bertanya pada dirinya sendiri: jika ia membatalkan ini sekarang, kapan ia akan benar-benar mulai hidup? Apakah ia harus menunggu sampai Maya tiada, atau sampai dirinya sendiri kehilangan keinginan untuk bahagia?

Suara Maya kembali terdengar dari dapur, kini mulai membanting pintu-pintu lemari sambil terus meracau tentang Bagas dan uang yang tidak pernah cukup. Kanaya memejamkan mata rapat-rapat, mencoba memblokir suara yang selama belasan tahun ini menjadi soundtrack hidupnya. Ia menarik napas panjang, mencoba mencari sisa-sisa keberanian yang masih terselip di antara traumanya. Ia tahu, langkah yang akan ia ambil bukan sekadar pergi makan malam, melainkan sebuah pernyataan bahwa ia bukan lagi milik penderitaan ibunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!