Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari yang kutunggu
Hari yang Ditunggu
Malam pun tiba dengan tenang.
Lampu-lampu rumah menyala satu per satu, menghadirkan kehangatan yang sederhana namun terasa berbeda malam itu. Aku duduk di meja makan bersama ayah dan ibuku. Aroma masakan ibu memenuhi ruangan, membuat suasana terasa akrab—terlalu akrab sampai aku merasa ada sesuatu yang sedang menungguku di balik percakapan biasa.
Ayah membuka obrolan ringan, membahas hal-hal kecil yang biasanya tak pernah kupikirkan dua kali. Tentang cuaca, tentang pekerjaan, tentang tetangga yang baru pindah. Aku mengangguk, menjawab seperlunya, tapi pikiranku sesekali melayang.
Ke besok.
Ibu menatapku dari seberang meja, matanya menyipit sedikit, senyumnya mengembang perlahan. Aku langsung tahu—tatapan itu bukan pertanda baik.
“Zahra,” katanya santai, seolah tidak berniat apa-apa. “Kalau nanti menikah, kamu pengin punya anak berapa?”
Aku tersedak kecil.
“Bu!” seruku refleks, wajahku langsung panas. “Kok ibu tanya begitu sih.”
Ayah tertawa pelan, meletakkan sendoknya. “Lho, wajar dong. Anak ayah sudah besar.”
Aku menunduk, mengaduk nasi di piring meski tidak perlu. “Belum kepikiran ke situ…”
Ibu tertawa kecil. “Ah, masa sih. Pasti sudah kepikiran dikit-dikit.”
Aku menggeleng cepat. “Belum, Bu. Sumpah.”
Ayah menimpali dengan nada bercanda, “Kalau ayah sih, cucu satu dulu juga tidak apa-apa.”
“Ihh, Ayah!” protesku lagi, malu bukan main.
Mereka tertawa bersama, dan aku hanya bisa tersenyum pasrah. Ada rasa malu yang tidak ingin hilang, tapi di saat yang sama ada kehangatan yang membuat dadaku terasa penuh. Aku sadar, godaan mereka bukan ejekan—melainkan tanda penerimaan.
Ibu kembali berkata, “Yang penting kamu bahagia, Zahra. Dan kamu yakin.”
Aku mengangguk pelan. “Iya, Bu.”
Percakapan berlanjut, masih diselingi godaan kecil. Tentang rumah seperti apa yang aku inginkan, tentang apakah aku tipe orang yang rapi atau berantakan, tentang hal-hal sepele yang tiba-tiba terasa serius jika dipikirkan terlalu jauh.
Dan entah kenapa, aku tidak merasa takut.
Setelah makan malam selesai, aku membantu ibu membereskan meja. Ayah sudah lebih dulu ke ruang tamu. Ibu sempat menatapku sekali lagi sebelum aku naik ke kamar.
“Tidur yang nyenyak,” katanya lembut. “Besok hari penting.”
Aku mengangguk.
Di dalam kamar, aku berbaring, memandangi langit-langit yang gelap. Lampu kamar kupadamkan, hanya menyisakan cahaya kecil dari lampu meja. Ponsel tergeletak di samping bantal, diam—tanpa notifikasi, tanpa suara.
Namun pikiranku tidak diam.
Aku memikirkan wajahnya saat tersenyum tipis. Cara bicaranya yang tidak pernah berlebihan. Cara ia memilih diam daripada menjelaskan hal yang belum siap ia ceritakan. Aku memikirkan telepon sore tadi—obrolan ringan yang seharusnya tidak penting, namun justru terasa paling nyata.
Aku membalikkan badan, memeluk bantal.
“Besok,” bisikku pelan.
Ada rasa gugup yang berusaha kutenangkan. Bukan gugup karena takut ditolak, melainkan gugup karena aku tahu—besok, beberapa hal tidak akan sama lagi. Apa pun yang terjadi, kejujuran akan membuka pintu yang tidak bisa ditutup kembali.
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.
Aku tidak berharap jawaban sempurna.
Aku hanya berharap kejujuran.
Kelopak mataku perlahan terasa berat. Di ambang tidur, pikiranku masih memanggil satu nama—tidak dengan gelisah, tidak dengan rindu yang berlebihan, tapi dengan keyakinan yang tenang.
Dan akhirnya, aku tertidur.
Dengan satu kepastian sederhana di dalam hati—
Hari yang kutunggu telah tiba.
..........
Esok pun tiba.
Aku terbangun bahkan sebelum alarm berbunyi. Mataku langsung terbuka, dan tanpa kusadari senyum sudah lebih dulu muncul di wajahku. Ada perasaan ringan yang jarang kurasakan—bukan gelisah, bukan juga cemas, melainkan semangat yang tenang.
Aku bangkit dari tempat tidur, merapikan selimut, lalu keluar kamar dengan langkah ringan. Begitu sampai di ruang makan, ayah dan ibuku sudah lebih dulu duduk sambil menikmati teh pagi.
Begitu melihatku, ayah langsung mengangkat alis, senyum jahilnya muncul tanpa aba-aba.
“Hayo,” katanya sambil tertawa kecil, “mau ketemu suaminya nih.”
Aku terhenti sesaat, lalu tanpa berpikir panjang menjawab spontan,
“Iyaa dongg.”
Kalimat itu baru benar-benar kusadari setelah keluar dari mulutku sendiri.
Ibu langsung tertawa. “Nah lho, sekarang sudah berani ngomong begitu.”
Aku menutup wajah sebentar. “Ibu sama ayah tuh ya…”
Ayah tertawa semakin lepas. “Dari pagi sudah kelihatan bedanya.”
Aku hanya bisa tersenyum, pasrah. Anehnya, godaan mereka tidak membuatku ingin menghindar. Justru membuat hatiku terasa hangat. Aku sarapan dengan lahap, sesekali masih diselingi canda kecil yang membuat pipiku kembali memanas.
Setelah itu, aku keluar rumah.
Udara pagi menyentuh wajahku dengan lembut. Aku berdiri sejenak di halaman, menarik napas panjang, menghirup angin segar seolah ingin menyimpan ketenangan itu di dadaku. Langit cerah, burung-burung berkicau, dan semuanya terasa… tepat.
Aku duduk di teras, memandangi jalan depan rumah. Ponselku ada di tangan, tapi aku tidak membukanya. Aku tidak ingin terburu-buru. Aku ingin hari ini berjalan apa adanya.
Tanpa kusadari, waktu mulai berganti.
Matahari naik semakin tinggi. Siang pun datang.
Aku masuk ke dalam rumah, membantu ibu di dapur. Tanganku sibuk, tapi pikiranku tetap terjaga. Sesekali aku melirik jam dinding. Tidak sering—aku berusaha menahan diri—namun cukup untuk menyadari bahwa waktu berjalan lebih lambat dari biasanya.
Ibu menatapku sambil mengaduk masakan. “Santai saja,” katanya seolah tahu isi pikiranku. “Tidak ada yang perlu dikejar.”
Aku mengangguk. “Iya, Bu.”
Siang berlalu. Rumah kembali tenang. Aku sempat duduk di ruang tamu, membaca, lalu beralih ke jendela, hanya untuk memastikan hari benar-benar berjalan.
Dan perlahan…
sore pun tiba.
Cahaya matahari berubah lembut, bayangan di halaman memanjang. Angin sore membawa rasa yang berbeda—lebih dalam, lebih penuh makna. Dadaku bergetar pelan, bukan karena takut, melainkan karena kesadaran bahwa penantian ini hampir selesai.
Aku berdiri di dekat jendela, menatap ke luar.
Hari ini bukan lagi tentang membayangkan.
Hari ini tentang menghadapi.
Dan di antara pergantian pagi, siang, hingga sore, aku menyadari satu hal—
Aku tidak lagi menunggu dengan hati yang ragu.
Dan akhirnya ia datang.
Mobil sport itu berhenti tepat di depan rumah.
Suara mesinnya pelan, namun cukup untuk membuat jantungku berdetak lebih cepat. Tanpa sadar, kakiku sudah melangkah keluar rumah. Ayah dan ibuku menyusul di belakangku, langkah mereka tenang, seolah ingin memberiku keberanian tanpa harus berkata apa pun.
Ia turun dari mobil dengan rapi, seperti biasa. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya langsung menangkap keberadaanku. Untuk sesaat, dunia terasa mengecil—hanya ada kami dan jarak beberapa langkah di antara kami.
“Assalamu’alaikum,” ucapnya sopan.
“Wa’alaikum salam,” jawab kami hampir bersamaan.
Ayah mempersilakannya masuk. Ia mengangguk hormat, lalu melangkah ke dalam rumah. Kami duduk di ruang tamu, posisi kami berhadapan. Aku bisa merasakan suasana berubah—tidak tegang, tapi penuh kesadaran bahwa percakapan ini bukan percakapan biasa.
Ayah membuka obrolan lebih dulu.
“Bagaimana kabarmu?”
“Baik, Pak,” jawabnya singkat namun jelas.
Ayah mengangguk, lalu menoleh ke arahku. Tatapannya lembut, memberi isyarat tanpa suara.
“Zahra,” katanya. “Silakan.”
Aku menarik napas panjang. Tanganku kembali mengepal di atas paha, tapi kali ini bukan karena ragu—melainkan karena aku ingin tetap berdiri pada apa yang akan kukatakan.
“Sebelumnya,” ucapku pelan, “aku ingin meminta maaf.”
Ia langsung menunduk begitu mendengar kata itu. Bahunya sedikit turun, seolah beban lama kembali disentuh. Aku bisa melihatnya jelas—reaksi yang tidak dibuat-buat.
Aku melanjutkan, suaraku tetap terjaga.
“Maaf jika pertanyaanku… menyentuh hal yang seharusnya tidak aku tanyakan.”
Ia masih menunduk.
Aku menelan ludah, lalu berkata, “Aku ingin bertanya.”
Ia mengangkat wajahnya sedikit. “Langsung saja,” ucapnya pelan. Nada suaranya tidak keras, tapi ada keseriusan di sana. Seolah ia tahu, kata maaf itu bukan sekadar pembuka.
Aku mengangguk.
“Saat kita berbicara di luar gedung waktu itu,” kataku, “apa yang pernah kamu katakan… padaku dan juga pada ayah ibuku?”
Ia terlihat kebingungan. Alisnya sedikit berkerut, matanya berpindah sejenak, berusaha mengingat.
“Apa maksudmu?” tanyanya jujur.
Aku menarik napas sekali lagi.
“Hal yang paling penting,” lanjutku, lebih pelan namun tegas.
Ruangan itu sunyi. Bahkan jam dinding pun seolah berhenti berdetak.
Ia akhirnya menjawab, suaranya lebih dalam dari sebelumnya, “Aku… meminta izin untuk menikahimu.”
Aku mengangguk kecil.
“Iya,” kataku. “Ayah dan ibuku sudah mengizinkanmu.”
Aku menundukkan kepala, membiarkan beberapa detik berlalu sebelum melanjutkan. Tanganku sedikit gemetar, namun aku tidak ingin berhenti sekarang.
“Dan aku…”
aku mengangkat wajahku kembali, menatapnya lurus,
“ingin menikah denganmu.”
Ia terkejut.
Aku bisa melihatnya jelas—mata yang melebar sedikit, napas yang tertahan, lalu perlahan ia menunduk. Bibirnya melengkung membentuk senyum kecil, bukan senyum lega, melainkan senyum yang sarat makna.
Ia tidak langsung menjawab.
Beberapa detik berlalu dalam diam. Ayah dan ibuku tidak menyela. Mereka memberi ruang—ruang yang sangat kubutuhkan.
Akhirnya ia berbicara.
“Aku tidak menyangka,” ucapnya pelan. “Bukan karena aku tidak menginginkannya… tapi karena aku tidak ingin kamu mengucapkannya tanpa benar-benar siap.”
Aku mengangguk. “Aku sudah memikirkannya. Tidak sebentar.”
Ia mengangkat wajahnya, menatap ayah dan ibuku.
“Terima kasih,” katanya tulus. “Karena sudah mempercayaiku.”
Ayah tersenyum tipis. “Yang penting, kamu jujur dan bertanggung jawab.”
Ia kembali menatapku. Tatapannya kini berbeda—lebih lembut, lebih terbuka.
“Aku tidak akan menjanjikan hidup yang selalu mudah,” katanya. “Tapi aku akan berusaha menjaga dan menghormatimu sebaik yang aku bisa.”
Dadaku terasa hangat.
Ia menunduk sekali lagi, lalu berkata dengan suara mantap,
“Aku menerima niatmu.”
Aku tersenyum, kali ini tanpa menahan apa pun.
Dan di ruang tamu itu, tanpa sorak, tanpa janji berlebihan, sebuah keputusan besar lahir dengan tenang—seperti sore yang perlahan berubah menjadi malam.