"Meiji....!" Teriaknya memeluk jenazah putranya.
Pada akhir hidupnya Lily menyadari, semua orang yang ada di sekitarnya adalah pengkhianat. Cinta mereka palsu!
Berakhir dengan kematian tragis.
Karena itu kala mengulangi waktu, dendam seorang ibu yang kehilangan putranya, membuatnya tertawa arogan dan berucap...
"Bukan kamu, tapi aku yang membuangmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Khawatir
"A...aku tidak tau apa-apa." Rini hanya menunduk gemetar, tapi dengan cepat Silvia berusaha menyerangnya.
"Serangan langsung dari Nyi Pelet. Apa yang akan dilakukan oleh Mak Lampir?" Batin Rio mengunyah semakin cepat, sementara Faro juga ikut meraih keripik kentang di tangan putranya. Seolah-olah tidak terganggu dengan drama keluarga ini sama sekali.
Tapi.
Seperti sudah diduga Dilan menghentikan Silvia. Mencengkram jemari tangannya. Kemudian mendorongnya hingga tersungkur di lantai.
"Bukti sudah jelas! Aku tidak menyangka kecemburuanmu sampai ke tahap seperti ini." Gumam Dilan.
"A...apa? Aku tidak melakukan apapun!" Bentak wanita itu.
"Apa? Sudah jelas! Kamu ingin menghentikan pernikahanku dan Lily! Dengan jalan meniduriku saat hari pernikahan. Tapi di luar dugaan kamu mendapatkan tawaran pekerjaan. Sehingga menyuruh pelayan yang mengantarku ke kamar. Rini menjadi korban di sini! Dia dipermalukan di hadapan umum karena tidur denganku, semuanya terlihat oleh media dan tamu undangan!" Suara bentakan yang menggema dari Dilan.
Tapi, Silvia merangkak mendekat, samar dirinya melihat Rini tersenyum mengejeknya."Bohong! Kamu harus percaya padaku! Itu semua bohong! Ini rencana Rini untuk menjebakku. Dengan begitu setelah membuat pernikahanmu batal dan kamu membenciku maka dia akan menjadi nyonya muda di rumah ini." Kalimat yang diucapkan olehnya berharap kekasihnya akan mengerti.
Tapi, pria itu kembali mendorongnya, menatap nyalang."Siapa yang akan percaya dengan kebohongan mu!"
"A...aku tidak berbohong! Aku tidak berbohong!" Bentak Silvia.
"Security! Bawa wanita sial ini pergi! Serahkan dia pada pihak kepolisian." Perintah Lisa pada sang security.
"Ja... jangan bawa aku pada polisi. Aku tidak bersalah! Aku tidak bersalah! Ini perbuatan Rini! Pasti perbuatanya! Dia yang mendapatkan paling banyak keuntungan dari ini!" Teriak Silvia meronta-ronta kala dua orang security menariknya pergi.
Lisa benar! Memang Rini yang mendapatkan banyak keuntungan dari ini. Tapi dalang sesungguhnya bukan Rini. Dua orang yang tengah duduk tenang. Pemuda berkacamata dengan bekas luka di wajahnya itu tengah menikmati teh hangat.
Sedangkan wanita bergaun pengantin masih berpura-pura menangis. Mereka yang mendapatkan paling banyak keuntungan dari perangkap raksasa yang telah disiapkan ini.
"Astaga... mengerikan. Tanpa bukti sama sekali, devide et Ampera (politik adu domba)." Gumam Rio dengan suara kecil.
"Devide et Ampera?" Tanya Faro juga dengan suara kecil, duduk di samping putra kesayangannya."Apa kamu juga berpikir ini ulah Rini?"
"Tidak! Ini bukan ulahnya. Tapi pelakunya tidak memiliki tujuan tertentu. Hal yang lebih menyeramkan daripada yang ayah banyangkan. Karena itu, aku tidak bersedia berada di kursi wakil CEO yang ayah tawarkan. Itu menakutkan dan merepotkan jika mata predator ini sudah melirik ke arahku." Rio menghela napas kasar bergidik ngeri menatap ke arah T-rex yang tidak memperhatikannya. Kakak tertua yang paling menyeramkan.
Sedangkan Faro menghela napas tidak mengerti sama sekali. Kembali menikmati tehnya. Dirinya tidak ingin terlibat urusan internal dalam rumah. Tidak pula terlalu dekat dengan kedua putranya entah kenapa.
Neiji, terlalu cerdas, pintar, tajam dan tidak dapat ditebak. Tapi selalu menuruti apa yang dikatakan Lisa. Sedangkan Dilan, terlalu dimanjakan hingga sulit diatur.
Entah kenapa dirinya begitu sulit untuk dekat dengan kedua putranya. Sedangkan Rio? Putra tengahnya yang lahir karena perangkap rekan bisnisnya, malah mudah akrab dengannya. Ibu kandung Rio meninggal saat melahirkannya. Seorang wanita penghibur yang sempat beberapa bulan dinikahi Faro hanya untuk memberikan Rio yang belum lahir status sebagai putra sah.
Faro menghela napas. Tidak peduli siapapun yang akan menjadi penerus menggantikannya nanti. Toh, ketiganya adalah putranya.
"Karena sudah terlanjur seperti ini. Untuk menyelamatkan citra perusahaan kembali, lebih baik segera adakan pernikahan antara Rini dan Dilan." Itulah keputusan yang diucapkan oleh Braja.
Hal yang membuat Lisa membulatkan matanya."Pernikahan Rini dan Dilan? Tidak bisa seperti itu. Dia hanya anak angkat keluarga Dirgantara. Sama sekali tidak pantas dengan Dilan!"
"Tapi rekaman sudah beredar di sosial media! Harga saham akan terjadi penurunan cepat atau lambat. Pernikahan tetap harus dilakukan!" Keputusan yang diambil oleh Braja. Pria yang menggebrak meja, menbuat Lisa terdiam mengepalkan tangannya. Masih belum menerima segalanya.
Namun Sari dan suaminya terlihat puas dengan segalanya. Dengan begini status Rini akan lebih tinggi dibandingkan dengan Lily. Dan Lily? Hanya akan menikah dengan Neiji yang tidak memiliki apapun.
"Neiji, hapus rekaman yang beredar di media dan internet." Perintah Lisa pada putra tertuanya.
"Aku sudah menghapus rekaman dari kamera wartawan." Kalimat yang diucapkan oleh Neiji. Seperti biasanya putra sulungnya memang bergerak secara efektif, bahkan tanpa disuruh."Tapi... rekaman dari handphone tamu undangan hanya 60% yang berhasil aku hapus. Sisanya milik tamu undangan dengan status sosial yang tidak dapat diganggu. Itu tidak menguntungkan untuk perusahaan dan keluarga kita, jika merampas handphone mereka dan menghapusnya."
Plak!
Lisa membulatkan matanya, menampar putra sulungnya."Pekerjaan seperti ini saja tidak becus! Percuma kamu menjadi anak kesayanganku! Tidak peduli masalah perusahaan! Adikmu yang utama! Utamakan adikmu dalam segala hal!"
Neiji mengepalkan tangannya, tanda merah bekas tamparan dari sang ibu.
Semua orang yang menyaksikannya mengetahui. Anak kesayangan? Bukan! Neiji hanya seperti budak dari ibunya.
Ajaibnya...
"Baik ibu... maafkan aku..." Neiji tersenyum, benar-benar tersenyum. Justru itulah yang mengerikan dari orang ini. Tidak marah, seperti tidak memiliki emosi. Tapi bagaikan dapat meledak kapanpun.
Seperti boneka yang dapat dimanfaatkan Lisa? Tidak! Rio melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Andai saja Lisa bukan ibu kandungnya, sudah pasti kakak tertua akan memusnahkannya. Sampai sekarang T-rex ini masih tersenyum walaupun dipermalukan atau diperlakukan seperti apapun.
Rio menelan ludah ketakutan melihat Neiji masih dapat tersenyum setelah menerima tamparan. Pengendalian emosi orang ini, tidak seperti manusia. Bukan Dilan, tapi orang ini yang ditakuti olehnya. Semakin tersenyum semakin terlihat mengerikan.
"Lisa! Neiji bertindak demi kebaikan keluarga kita! Tapi kamu sebagai ibunya malah memakinya!? Aku tidak mengerti sama sekali dengan jalan pikiranmu!" Braja menghela napas berusaha bersabar menatap ke arah Lisa yang mulai duduk, bagaikan menenangkan dirinya menahan emosi.
"Pernikahan antara Rini dan Dilan akan tetap diadakan selepas Lisa setuju atau tidak dengan pernikahan ini. Karena semuanya akan terendus media cepat atau lambat." Braja berucap dengan nada tenang.
"Faro! Kali ini kamu yang menentukan EO dan persiapan. Jangan mengundang tamu, buat yang sederhana, undang beberapa wartawan agar meredakan isu!" Perintah Braja.
"Dan...Rini, kamu bersedia menikah dengan Dilan?" Tanya Braja beralih menatap ke arah Rini.
Rini mengangguk polos, dalam tangisannya. Seperti seseorang yang tidak memiliki pilihan lain.
"Aku setuju..." Lisa pada akhirnya menghela napas."Tapi Lily harus menjadi istri pertama. Sedangkan Rini menjadi istri kedua. Aku tidak bisa mengecewakan Lily..."
Braja menghela napas belum menyampaikan pada menantunya."Tentang Lily kamu tidak perlu khawatir. Karena Lily sudah...
masa baktinya udah selesai saat kau melukai Lily
selamat menikmati hari hari sedih mu yaa
jadi bayangin lagi muka nelangsa nya
kasiaaan 😜🤣🤣
lepaskan lah...yg harus dilepaskan 😜🤣🤣