Follow IG @Lala_Syalala13
Adrian Arkadia, seorang CEO jenius dan penguasa bisnis yang dingin, menyamar sebagai pria miskin demi memenuhi wasiat kakeknya untuk mencari cinta sejati.
Ia kemudian menikahi Arumi, gadis sederhana berhati emas yang dijadikan "pelayan" dan pemuas ambisi oleh ibu serta adiknya yang materialistis.
Di tengah hinaan keluarga mertua dan ancaman rentenir, Adrian menjalani kehidupan ganda yaitu menjadi kuli panggul yang direndahkan di malam hari, namun tetap menjadi raja bisnis yang menghancurkan musuh-musuhnya secara rahasia di siang hari.
Perlahan tapi pasti, Adrian menggunakan kekuasaannya untuk membalas setiap tetes air mata Arumi dan mengangkat derajat istrinya hingga para penindasnya berlutut memohon ampun.
Bagaimana kelanjutannya???
Jangan lupa mampir baca yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BSB BAB 33_Kartu Nama
Sebelum Haris meninggalkan kontrakan, ia memanggil Hendra yang sedari tadi menunggu di depan gang.
"Hendra," ucap Haris dengan suara yang kini kembali dingin dan berwibawa.
"Pastikan Siska dan Romi tahu bahwa aku sudah mendengarkan rekaman itu, jangan tangkap mereka dulu. Biarkan mereka merasa senang sesaat. Tapi cabut semua akses mereka ke relasi bisnis di Jakarta. Biarkan mereka kelaparan di tengah kota ini tanpa ada satu pun orang yang mau memberi mereka pekerjaan. Aku ingin mereka merasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang benar-benar tidak punya apa-apa sebelum aku memberikan pukulan terakhir." seru kakek Haris.
"Baik Tuan Haris," jawab Hendra patuh.
Haris menoleh ke arah Adrian.
"Adrian, tiga bulan adalah waktu yang singkat. Gunakan waktu ini untuk belajar menjadi pria yang layak bagi Arumi, bukan hanya menjadi pewaris yang layak bagi Arkadia. Jika dalam tiga bulan kau gagal membahagiakannya tanpa uangmu, maka aku sendiri yang akan menjemput Arumi dan menjadikannya anak angkatku, sementara kau akan aku buang ke tambang batu bara di Kalimantan." ucapnya.
Adrian tersenyum masam. "Kakek sangat pilih kasih sekarang."
"Tentu saja. Aku lebih suka cucu menantu yang berbakat daripada cucu yang keras kepala sepertimu," canda Haris.
Setelah helikopter dan rombongan Haris pergi, suasana gang kembali normal, meski kini para tetangga menatap kontrakan nomor 4 dengan rasa hormat yang tak terkatakan.
Mereka tidak tahu siapa kakek tua itu sebenarnya, tapi mereka tahu pria itu bukan orang sembarangan.
Arumi berdiri di pintu, memegang trofinya yang kini ia letakkan di rak kecil yang dibuatkan Adrian.
Ia merasa beban di pundaknya sedikit terangkat, dukungan dari kakek Adrian memberinya kekuatan baru.
"Mas..." panggil Arumi.
Adrian menghampirinya, memeluknya dari belakang.
"Ya?"
"Terima kasih karena tidak menyerah padaku saat rekaman itu diputar." ucapnya.
"Aku tidak akan pernah menyerah padamu Arumi, bahkan jika seluruh dunia membencimu, aku akan tetap berdiri di sampingmu, meski aku harus tetap menjadi kuli bangunan selamanya," bisik Adrian.
Namun di kegelapan malam Siska sedang menunggu di sebuah kafe remang-remang bersama Romi.
Mereka belum tahu bahwa rencana mereka telah menjadi bumerang. Siska sedang menunggu telepon dari Haris Arkadia yang ia harapkan berisi berita pengusiran Arumi.
"Sebentar lagi, Romi. Sebentar lagi Arumi akan menangis di jalanan," ucap Siska sambil meneguk minumannya.
Ia tidak sadar bahwa saat ini, semua rekening banknya telah dibekukan, dan semua hotel di Jakarta telah memasukkan namanya ke dalam daftar hitam atas perintah sang Patriark Arkadia.
Malam ini akan menjadi malam terakhir Siska bisa tidur dengan nyenyak, karena esok hari, ia akan menyadari bahwa ia bukan sedang melawan seorang desainer miskin, melainkan sedang menantang kemurkaan seluruh dinasti Arkadia.
Di kontrakan kecil itu, Adrian dan Arumi tidur dengan tenang, mereka tidak tahu bahwa kakek Haris telah meninggalkan sebuah amplop kecil di bawah kursi plastik tadi.
Amplop itu berisi sebuah kartu nama dari pemilik lahan di ibu kota baru yang sedang mencari desainer untuk proyek istana kepresidenan.
Haris tidak memberi mereka uang, ia memberi Arumi sebuah peluang yang hanya bisa dimenangkan dengan bakat murni.
"Ujian yang sesungguhnya baru saja dimulai, Arumi," gumam Adrian sebelum terlelap.
"Dan kali ini, kita akan menaklukkan dunia bersama-sama."
Pagi itu, udara di gang sempit terasa sedikit berbeda, kehadiran Kakek Haris sehari sebelumnya meninggalkan jejak wibawa yang masih terasa di dinding-dinding kontrakan nomor 4.
Arumi duduk di tepi tempat tidur, memandangi kartu nama yang ditinggalkan sang Patriark di bawah kursi plastik.
Kartu itu berwarna putih gading dengan tekstur kertas linen yang mahal, bertuliskan satu nama yang cukup untuk membuat para arsitek di Asia Tenggara menahan napas yaitu Laksamana Wirayuda, Kepala Otoritas Pembangunan Ibu Kota Baru.
"Mas..." panggil Arumi pelan.
Adrian, yang sedang mengenakan kaos kerjanya yang masih sedikit lembap karena jemuran semalam tidak kering sempurna, menoleh.
"Ya, Sayang? Kau memikirkan kartu nama itu?" seru Adrian menebak kekhawatiran sang istri.
"Kakek memberikan ini padaku bukan sebagai sedekah, kan?" Arumi menatap Adrian dengan ragu.
"Beliau bilang ini peluang. Tapi, apakah aku pantas? Ini proyek Istana. Ribuan desainer senior pasti berebut di sana." ucapnya dengan tidak percaya diri.
Adrian berlutut di depan Arumi, menggenggam kedua tangan istrinya.
Kali ini tatapannya bukan tatapan kuli bangunan yang naif, melainkan tatapan pria yang tahu betul bagaimana dunia kekuasaan bekerja.
"Arumi, Kakek Haris tidak pernah memberikan kartu namanya kepada orang yang menurutnya tidak kompeten. Beliau melihat jiwamu di Singapura. Beliau tahu kau punya visi yang tidak dimiliki orang-orang yang hanya mengejar kemewahan. Ambillah. Ini bukan soal nama Arkadia, ini soal Arumi yang harus membuktikan bahwa desainnya bisa menjadi wajah sebuah bangsa." ucap Adrian.
Arumi menarik napas panjang, menguatkan hati.
"Baiklah aku akan mencoba, tapi kamu... kamu tetap akan ke toko material?" tanyanya.
Adrian tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang putih di tengah wajahnya yang coreng-moreng debu.
"Tentu saja. Pak Haji butuh mandornya hari ini. Kita akan berjuang di jalur kita masing-masing, Arumi. Kau di puncak, aku di dasar. Tapi kita akan bertemu di tengah nanti malam."
Arumi memilih pakaian terbaik yang ia miliki yaitu setelan blazer berwarna abu-abu gelap yang ia beli dengan sisa uang kompetisi Singapura.
Ia tidak naik taksi mewah tapi ia menempuh perjalanan dengan kereta komuter dan ojek daring menuju kantor Otoritas Pembangunan di pusat kota yang sangat megah.
Gedung itu adalah puncak dari kemodernan. Kaca-kaca setinggi langit-langit mencerminkan awan Jakarta yang kelabu.
Arumi merasa sangat kecil saat melangkah masuk ke lobi yang luasnya hampir selapangan bola.
Di sana, ia melihat beberapa desainer ternama yang sering ia lihat di majalah arsitektur.
Mereka berkumpul dengan asisten-asisten yang membawa maket-maket besar yang dibungkus kain beludru.
"Nama saya Arumi Arkadia. Saya ingin bertemu dengan Bapak Laksamana Wirayuda," ucap Arumi kepada resepsionis dengan suara yang sedikit bergetar namun tetap stabil.
Resepsionis itu menatap Arumi dari atas ke bawah.
"Anda punya janji? Pak Laksamana sangat sibuk hari ini untuk seleksi akhir konsultan interior istana." tanya resepsionis tersebut sedikit meremehkan Arumi karena pakaian yang dia pakai tidak mencerminkan bahwa dia bisa berhubungan baik dengan bosnya.
Arumi menyodorkan kartu nama pemberian Kakek Haris.
Begitu melihat kartu itu, raut wajah resepsionis berubah seketika menjadi sangat sopan.
"Mohon maaf, Nyonya. Silakan lewat lift khusus ini. Bapak sudah menunggu di lantai paling atas." ucapnya dengan sopan.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
kpn kau sadar, heran seneng amat lihat suami tersiksa, jd sebel Ama Rumi jdnya sok yes 😡😡