"Menikah tentulah merupakan hal yang sangat didambakan seseorang. Apalagi menikah dengan orang yang kita inginkan dan kita cintai."
" Namun, bagaimana jika kamu menikah atas dasar keterpaksaan? Disisi lain, kamu ingin melihat orang tua mu bahagia, tapi disisi lain kamu masih terjebak dimasa lalu. Seolah cintamu sudah habis dimasa itu."
"Menjalani semuanya tanpa perasaan cinta. Akankah berakhir bahagia? Atau justru malah menambah masalah baru untuk aku... dan juga dia..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Yang Hening
Malam sunyi, sepi. Binatang pun seperti enggan menampakkan diri. Suara kendaraan lewat hanya terdengar sesekali. Desiran angin membuat daun-daun di halaman rumah bergoyang pelan. Berkali-kali Naina menyibak tirai di jendela berharap Dimas akan segera pulang. Tapi, tidak ada tanda-tanda sedikitpun. Sedangkan sekarang sudah menunjukkan pukul satu malam.
Naina masuk ke kamar, ia melirik ponselnya yang terletak di atas meja rias. Ia kemudian duduk disana mengambil ponsel itu dan mencari nomor handphone Dimas untuk mengirimkan pesan. Untuk pertama kali ia melakukan hal itu karena benar-benar merasa khawatir.
[Mas dimana? Kenapa belum pulang?] Pesan yang segera Naina kirimkan.
"Baru saja beberapa hari kemarin Mas bersikap manis padaku, kenapa sekarang seperti ini lagi, Mas? Apa salahku?" Naina tertunduk lesu. Berkali-kali ia melirik ponselnya berharap akan mendapat jawaban, tapi nihil.
Naina menekan tombol hijau pada nomor Dimas. Berdering, lalu kemudian tertera di layar 'Panggilan di tolak'. Naina mendengus, ia menghela nafas berkali-kali.
"Tidak mau di ganggu?" Batin Naina.
Naina membaringkan diri di kasur. Ia menatap langit-langit kamar dengan isi kepala yang seperti berputar. Berbagai pertanyaan seperti akan memecah kepala.
Sementara itu...
"Maaf, Mas. Kita mau tutup." Ucap seorang karyawan cafe kepada Dimas. Dimas melirik jam ditangannya yang sudah menunjukkan pukul satu tiga puluh dini hari. Ia yang asik dalam dunia ponselnya baru menyadari selama itu ia berada di sana.
"Oh, iya." Jawab Dimas kemudian.
Dimas meninggalkan Cafe itu yang ternyata hanya tersisa ia seorang di sana.
Dimas tidak langsung pulang ke rumah. Ia mampir ke sebuah Toko yang memang buka dia puluh empat jam di daerah itu. Terlihat beberapa orang yang asik nongkrong di sana sambil bermain gaple. Dimas masuk dan membeli beberapa minuman. Setelah membayar, ia segera pulang.
***
Suara seperti sesuatu sedang ambruk terdengar dari ruang tamu. Naina yang belum tidur terperanjat mendengar suara itu. Ia lantas bergegas keluar dari kamar dan menuju sumber suara.
"Mas!" Panggil Naina panik, kala mendapati Dimas yang sedang terbaring di lantai. Tidak ada jawaban, yang terdengar hanya lirihan kecil pria itu.
"Apa yang terjadi?" Tanya Naina.
Naina membopong Dimas, membawanya masuk ke dalam kamar.
*
Naina membaringkan Dimas di kasurnya, ia kemudian menyeka baju kemeja Dimas dan hanya meninggalkan baju kaos dalam menutupi tubuh pria itu. Begitu juga celana dan sepatu Dimas ia lepaskan.
Naina duduk di tepi kasur, dengan detail ia memeriksa apakah terdapat luka pada tubuh suaminya itu. Tapi akhirnya Naina lega, karena tidak menemukan goresan apapun. Naina semakin bertanya-tanya, gadis polos itu tidak menyadari Dimas saat ini sedang mabuk berat.
"Apa ada yang sakit, Mas?" Tanya Naina yang masih khawatir.
Dimas menarik tangan Naina dan meletakkan tangan itu pada dadanya. "Di sini..." Lirih Dimas yang membuat Naina menjadi bingung.
Naina diam. Dimas menatapnya sayu.
"Seharusnya kita tidak menikah, Nai. Aku tidak mencintaimu." Suara lembut Dimas justru seperti silet tajam yang merobek hati Naina.
"Mas bicara apa? Kenapa tiba-tiba bicara seperti itu? Sepertinya Mas terlalu kecapean. Mas istirahat saja." Naina mengalihkan pembicaraan.
"Sampai saat ini aku masih mencintai cinta pertama ku, Nai. Aku sudah berusaha membuka hatiku untuk kamu, tapi aku tidak bisa. Semakin aku berusaha, semakin sakit rasanya."
"Kamu mau tau alasan kenapa aku selalu menolak permintaan Ayah untuk menikah? Itu karena aku masih mengharapkan dia, Nai. Aku masih sangat mencintai dia."
"Dan akhirnya aku bertemu kamu. Jangan pernah mengharap lebih pada pernikahan terpaksa ini. Andai waktu bisa di putar, aku tidak akan menikahi mu."
Mata Naina terasa panas. Nafasnya terasa sesak. Ia tidak bisa menjawab perkataan Dimas, hingga ia hanya bisa diam dalam tangisan.
"Maafkan aku. Aku memang egois dan jahat. Dan bahkan sampai saat ini, aku masih tidak tau harus membawa pernikahan ini kemana."
"Sekarang ada dia, itu semakin membuatku dilema."
"Dia? Dia siapa?" Benak Naina.
Hening...
Naina beranjak dari tepi kasur. Ia kemudian menyelimuti Dimas dan membiarkan pria itu terlelap.
Naina keluar dari kamarnya dan memilih untuk duduk di sofa ruang tamu. Ia menutup kedua wajahnya dengan tangan membiarkan tangisannya tumpah.
Malam yang hening itu seperti hatinya ini.
"Padahal aku sudah tau kalau aku hanya cinta sendirian. Tapi kenapa rasanya sangat sakit mendengar kalimat itu lagi."
"Apa sama sekali tidak ada tempat untuk ku, Mas?"
"Aku tau hubungan ini bukan transaksi yang kalau aku berbuat baik, Mas pun harus melakukan hal yang sama. Mas tidak menyakiti ku, tapi aku sakit karena perasaan ku sendiri. Aku yang selalu menaruh harapan, dan akhirnya aku juga yang kecewa karena tidak sesuai dengan yang aku inginkan."
*
"Sarah..." Lirih Dimas disela kesadarannya.