NovelToon NovelToon
Dikira Musibah, Nyatanya Berkah.

Dikira Musibah, Nyatanya Berkah.

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / One Night Stand / Cinta setelah menikah
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: cucu@suliani

Mutiara mengira kalau dikhianati oleh kekasihnya adalah hal yang terburuk di dalam hidupnya, musibah yang akan membuat di hidupnya terpuruk. Namun, ternyata hal itu merupakan berkah di dalam hidupnya.

"Kenapa kamu tega, Fajar? Kenapa aku hanya dijadikan lelucon saja di dalam hubungan kita ini?"

Bagaimana kehidupan Mutiara selanjutnya?

Kuy baca, jangan lupa kasih komen yang baik jika suka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DMNB 24

​Lampu gantung kristal di restoran itu membiaskan cahaya keemasan yang jatuh tepat di wajah Mutiara. Di seberang meja, Arkan menyesap minumannya dengan seringai kemenangan yang sulit disembunyikan.

Baginya, jeruji besi yang kini mengurung Alice adalah kado terbaik. Namun, kepercayaan Mutiara adalah kemenangan yang sesungguhnya.

Setelah mendapat kabar Alice dipenjara, dia merasa senang dan langsung mengajak istrinya untuk makan malam di restoran mewah.

Dia bahkan meminta Sam membelikan hadiah sesuai dengan pesanannya untuk istrinya, awalnya dia pikir akan kehilangan istrinya, tetapi ternyata Mutiara begitu percaya kepada dirinya.

Ini sebagai bentuk terima kasihnya kepada istri kecilnya tersebut, bentuk kasih sayangnya terhadap wanita pertama yang mampu menaklukkan hatinya.

​"Aku pikir kamu akan meragukanku saat Alice menjebakku," suara Arkan sangat rendah, dia menatap istrinya dengan perasaan berbeda.

​Mutiara tersenyum, jemarinya mengusap pinggiran gelas. Lalu, dia menatap Arkan dengan dalam.

"Dia itu hanya wanita malang. Dia pikir obsesi murahan bisa membuat dia memiliki kamu, itu salah. Aku bukan wanita bodoh, aku percaya kamu tidak akan serendah itu."

"Tapi kamu sempat tak percaya loh!"

"Bukan tak percaya, hanya salah paham." Mutiara nyengir kuda.

"Iya iya, pokoknya aku ucapkan terima kasih. Oiya, aku punya hadiah untuk kamu."

"Hadiah apa?" tanya Mutiara biasa saja.

Bagainya hadiah berharga yang diberikan oleh Tuhan adalah Arkan, karena dengan menikah dengan pria itu hidupnya menjadi lebih berarti dan lebih bermakna.

"Biasanya wanita suka hadiah ini, semoga kamu juga suka."

​Arkan mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam. Di dalamnya ada sebuah kalung berlian yang berkilau tajam, kilaunya seolah siap mengiris siapa pun yang berani mengganggu harmoni mereka.

Mutiara tentunya merasa senang mendapatkan hadiah itu, bukan msalah kalungnya atau harganya, tetapi ketulusan pria itu dalam memberikan hadiah untuk dirinya.

"Suka tidak?"

"Lebih suka sama yang ngasihnya," jawab Mutiara.

"Kok aku?" tanya Arkan bingung.

"Karena yang ngasih hadiah lebih berkilau, lebih memukau."

"Kamu tuh perempuan, tapi udah mulai jago gombal."

"Biarin," jawab Mutiara sambil tersenyum bahagia.

Arkan ikut tersenyum, lalu dia bangun dari duduknya dan berdiri tepat di belakang Mutiara.

​"Terima kasih sudah memercayaiku, Sayang," bisik Arkan sembari memakaikan kalung itu.

Dinginnya logam menyentuh kulit Mutiara, disusul kecupan mesra di bibir Mutiara yang membuktikan kepemilikan mutlak.

Mutiara terhanyut, dia membalas kecupan itu. Arkan yang begitu senang malah mencium bibir wanita itu, kecupan itu berubah menjadi ciuman panas karena keduanya saling memagut dan saling menikmati madu cinta.

"Sayang," bisik Arkan di sela ciuman mereka.

Arkan merasa bebas melakukan hal itu karena mereka adalah pasangan halal, selain itu mereka memesan ruangan vip. Namun, walaupun seperti itu, dinding ruangan itu terbuat dari kaca.

Kegiatan yang dilakukan oleh keduanya masih bisa dilihat dari luar, walaupun tak sepenuhnya orang akan sengaja melihat ke arah ruang VIP tersebut.

​Tepat di saat keduanya sedang asik mengecup madu cinta, di ambang pintu restoran langkah Fajar membeku. Dunianya seolah runtuh saat melihat pemandangan di sudut ruangan itu.

Dia baru saja pulang dari luar kota, merasa lapar dan sengaja pergi ke restoran itu untuk mengisi perutnya yang begitu keroncongan.

Namun, dia malah melihat hal yang tak terduga. Mutiara yang dulu jadi kekasihnya, wanita yang dulu ia anggap debu tak berharga, kini bertransformasi menjadi sosok yang begitu elegan, begitu mahal dalam dekapan ayahnya sendiri.

Rasa cemburu langsung menjalar di hatinya, rasa panas terasa membakar tubuhnya. Padahal, tidak ada yang menyalakan api, tetapi Fajar sangat kepanasan.

"Sial! Kenapa setelah kami putus, dia malah terlihat sangat cantik? Kenapa malah terlihat menggoda? Kenapa aku merasa kalau Mutiara lebih pantas untuk aku yang muda?"

​Cemburu itu bukan sekadar rasa sakit, itu adalah api yang membakar harga dirinya. Ia melihat ayahnya mencium wanita yang seharusnya miliknya.

Tanpa sepatah kata yang terucap, Fajar langsung berbalik. Napasnya memburu, dia masuk ke dalam mobil. Tidak ada wangi pengharum ruangan yang dia cium, hanya ada aroma penyesalan yang menyesakkan dada yang dia hirup saat ini.

"Aku menyesal, harusnya Mutiara aku pertahankan. Bukan aku ganti dengan Rena, dia hanya anak manja yang bisanya membuat aku kesal."

Fajar memutuskan untuk pulang saja, dia mandi dan segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Pria itu mencoba memejamkan mata, tetapi tak kunjung masuk ke alam mimpi.

"Vangke!" umpatnya kesal.

Dia bangun dan tanpa sadar mengambil kunci mobil miliknya, dia melajukan mobilnya menuju rumah Arkan.

"Eh? Kenapa ke sini?"

Fajar diam di dalam mobil sambil memperhatikan rumah Arkan, Mutiara bisa melihat kalau lampu di lantai dua masih menyala.

Itu pertanda kalau Arkan dan juga Mutiara masih terjaga, pikiran tentang keduanya yang sedang berpeluh langsung terbayang, Fajar merasa hampir gila m membayangkan hal itu.

"Tak boleh, mereka tal boleh terus bersama. Nanti aku kesulitan merebut Mutiara dari ayah," ujar Fajar.

Fajar segera turun dari mobilnya, dia masuk ke rumah itu setelah dibukakan pintu oleh Lastri.

"Mau nginep di sini, Den?" tanya Bi Lastri.

"Ya, tolong buatkan aku kopi."

"Oke," jawab Bi Lastri.

Setelah dibuatkan kopi oleh bi Lastri, Fajar duduk di ruang keluarga sambil menatap kopi yang ada di cangkir tersebut. Cukup lama dia terdiam di ruangan gelap itu, karena lampunya dia matikan.

Beberapa saat kemudian dia mendengar suara derap langkah. Fajar mendongakkan kepalanya, dia bisa melihat Mutiara yang turun dari lantai 2 menggunakan baju tidur yang sangat tipis.

Dia tersenyum dengan begitu lebar, ketika Mutiara turun dari anak tangga terakhir, Fajar langsung menarik wanita itu menuju tempat yang gelap dan sepi.

"Fajar? Kamu?"

"Ya, ini aku. Aku kangen banget sama kamu," ujar Fajar sambil berusaha untuk memeluk Mutiara.

​"Lepaskan, Fajar! Kamu gila?"

Mutiara berdesis, dia mendorong dada pria itu. Tak senang rasanya melihat dan mendapatkan perlakuan seperti itu dari anak sambungnya itu.

​"Kamu yang gila, Mutiara!" Fajar menatapnya dengan mata merah menahan tangis. "Lihat dirimu. Kamu memakai berlian dari uang ayahku, kamu membiarkan pria tua itu menyentuhmu! Apa ini caramu membalas dendam padaku?"

​Mutiara merapikan gaun tidurnya, dia berusaha menutupi bagian dadanya yang terbuka. Lalu, dia menatap Fajar dengan tatapan yang lebih dingin dari berlian di lehernya.

"Ini bukan tentang dendam. Ini tentang cinta yang tulus, Fajar. Sesuatu yang tidak pernah kamu miliki, sesuatu yang aku dapatkan dari ayah kamu.

" Maaf, itu salahku."

"Aku maafkan, sekarang cepat pergi."

​"No! Kalau kamu udah maafin aku, ceraikan dia," tuntut Fajar, suaranya parau. "Kembalilah padaku. Aku akan memberikan segalanya. Aku tidak bisa tidur memikirkan kamu berada di ranjang yang sama dengan ayahku!"

​Mutiara tertawa kecil, tawa yang tajam dan meremehkan. Ia melangkah maju, memangkas jarak hingga Fajar bisa mencium aroma tubuh wanita itu, wangi sabun bayi yang memabukkan.

​"Kembali padamu? Untuk menjadi mainan yang akan kamu campakkan lagi di saat bosan?"

​Mutiara mengusap kerah kemeja Fajar dengan gerakan menghina.

"Dengarkan aku baik-baik, Fajar. Arkan adalah seorang pria. Sedangkan kamu? Kamu hanyalah anak kecil yang merengek meminta mainan lamanya kembali. Aku tidak akan meninggalkan singgasana ini hanya untuk kembali ke selokan bersamamu."

​"Mutiara, aku mencintaimu!"

​"Sayangnya, aku lebih mencintai posisiku sebagai ibumu sekarang," balas Mutiara dingin. "Sekarang, pergilah sebelum aku kehilangan kesabaran."

"Tapi, aku---"

Fajar tidak meneruskan ucapannya, karena dia mendengar derap langkah yang semakin mendekat.

"Sayang, kamu di mana?"

Terdengar suara Arkan yang mencari istrinya, Mutiara dan juga Fajar saling pandang. Rasa cemas terlihat jelas di mata Fajar dengan bantuan pantulan cahaya dari luar.

1
stela aza
itu pas lagi ngmng di rekam g tue ,,, bisa jadi bukti akurat kalau di rekam
isnaini naini
nah kan ...fjr yg mnghrp kmatian arkan...
stela aza
kenapa g ngawasin si anak pungut udh tau curiga aturan harus bisa lebih hati2 lagi sama si pungut itu ,,, gemes bgt deh ,,, gunakan uangmu biar tau pelaku sebenarnya,,, kurang keren si Arkan ,,,, g kaya CEO2 lain yg tokcer ,, ceritanya trus pinter ya g ketulungan
stela aza
bodoh bgt sie Arkan masa g inget abis di kasih makan sama anak pungut langsung begitu keadaannya masa g g curiga sie ,,, bodohnya g ketulungan,,,🤦
stela aza
kayanya anak pungut yg hilang kendali
isnaini naini
siapa dlng nya thor...fajar ta...emang dsr anak pungut tk tau diri
stela aza
emang di rumah s Arkan g ada cctv lama2 s fajar nggilani ,,, aturan mutiara ngmng sama Arkan kalau dia mau di lecehin sama anak pungutnya biar fajar di kasih pelajaran syukuy2 kasih tau kalau dia cuma anak pungut biar stok terapi 🤦
Wiwi Sukaesih
tenang Arkan it bapak mertua kamu 😁
stela aza
akhirnya bentar lagi ketemu keluarganya
stela aza
dasar bodoh
isnaini naini
nah itu tau...baru nyadar pak..yg km pilih batu kali...
isnaini naini
ksihn amat alice..preman aj gak doyan ...
isnaini naini
jngn2 alice main sm porter kereta...krna gk thn...
Anita Rahayu
Buat alice di penjara da di siksa di sel yg penghuninya korban pelakor thor pasti kena mental👍👍👍👍
isnaini naini
telat pak nyeselnya....
evi solina
pernikahan kok di buat mainan dosa loh
evi solina
move on itu harus elegan bikin goyang perusahaan nya, bukan dgn cara mabok
evi solina
mundu mut harga diri injak kok mau aja, laki pengecut begitu
evi solina
laki pecundang jgn di percaya
sakura
....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!