NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:116.8k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.

Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.

Mampukah ketulusan Citra bertahan dengan pernikahan dingin itu? Simak ceritanya yaa📌❤🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Pesta pernikahan itu benar-benar "wah" dan menjadi buah bibir di mana-mana. Hotel bintang lima di kawasan elit Jakarta disulap menjadi lautan bunga lily putih yang harganya mungkin bisa buat beli rumah subsidi. Makanan enak berlimpah ruah, mulai dari steak wagyu sampai sushi mahal, semuanya ada. Ribuan tamu penting datang silih berganti, mulai dari pejabat berdasi sampai artis ibukota yang biasanya cuma Citra lihat di TV.

Orang-orang bilang Citra Anindya beruntung banget, nasibnya kayak Cinderella yang tiba-tiba ketemu pangeran tampan dan kaya raya.

Tapi kenyataannya? Kaki Citra rasanya mau copot!

Gadis itu dipaksa memakai sepatu hak tinggi yang tingginya benar-benar tidak masuk akal, sekitar dua belas sentimeter selama empat jam non-stop. Tumitnya lecet, betisnya kram, dan punggungnya pegal bukan main. Belum lagi bibirnya yang terasa kaku karena harus memasang senyum palsu terus-menerus ke tamu undangan yang bahkan satu pun tidak ia kenal.

"Senyum," bisik Putra dingin di sebelahnya. Suara pria itu datar, tanpa menoleh sedikit pun ke arah istrinya. "Jangan bikin malu saya. Tahan sakitnya. Kamu sekarang Nyonya Aditama, bukan pelayan restoran yang boleh ngeluh capek cuma karena berdiri sebentar."

Citra hanya bisa menelan ludah, menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk. Jahat banget sih, batin gadis itu perih. Tangan Putra memang melingkar di pinggang rampingnya, tapi rasanya kaku sekali, seolah pria itu sedang memegang karung beras atau patung manekin, bukan memegang seorang istri. Tidak ada kehangatan sama sekali di sana.

Ujian mental Citra makin berat saat sesi foto keluarga inti dimulai. Kedua adik iparnya, Putri dan Kinan, naik ke pelaminan dengan dagu terangkat tinggi. Mereka terlihat sangat cantik memakai gaun seragam berbahan sutra mahal, tapi kelakuan kakak beradik itu... aduh, minta ampun!

Saat fotografer sedang memberi aba-aba untuk merapat agar frame-nya bagus, Kinan sengaja menginjak ujung gaun pengantin Citra yang menjuntai di lantai dengan ujung sepatu runcingnya.

"Aww!" pekik Citra kaget, tubuhnya hampir terhuyung ke depan kalau saja ia tidak berpegangan pada lengan kursi pelaminan.

"Ups, sorry," ucap Kinan santai tanpa rasa bersalah sedikit pun. Gadis modis itu justru melirik sinis. "Gaun lo kepanjangan sih. Ribet banget. Makanya kalau jalan liat-liat, jangan kayak orang kampung baru masuk mall yang jalannya serampangan."

"Sstt, Kinan. Tahan dulu julid-nya," bisik Putri sambil memasang senyum manis banget ke arah kamera, pura-pura akrab layaknya saudara yang baik. "Ayo senyum, Mbak Ipar. Jangan ngerusak foto keluarga kami yang sempurna dengan muka masam begitu."

Cekrek!

Foto itu terabadikan. Di dalam gambar, mereka semua terlihat sebagai keluarga bahagia yang harmonis. Tapi hati Citra rasanya seperti diiris-iris sembilu. Ia sadar, di panggung megah ini, dirinya hanyalah orang asing yang kesepian.

Setelah pesta selesai dan drama tangis-tangisan yang memilukan bersama Ibunya (Citra memeluk Bu Sari kencang sekali, seolah tak mau lepas karena takut menghadapi dunia barunya), Citra akhirnya diboyong ke rumah masa depannya.

Bukan rumah biasa, tapi Mansion Aditama.

Mobil sedan hitam mewah itu memasuki gerbang besi raksasa yang dijaga satpam berseragam lengkap. Halaman depannya luas sekali, mungkin bisa dipakai buat main bola satu kelurahan. Rumah utamanya berdiri megah dengan pilar-pilar tinggi menjulang, mirip istana kerajaan di sinetron-sinetron. Di rumah super besar inilah Citra akan tinggal bersama suaminya (Putra), bapak mertuanya (Pak Aditama), dan dua ipar yang super jutek tadi (Putri dan Kinan).

Begitu melangkah masuk ke ruang tamu yang lantainya terbuat dari marmer mengkilap, Citra langsung disambut hawa dingin. Bukan hanya karena AC sentral yang menyala maksimal, tapi karena tatapan orang-orang di situ yang menusuk tulang.

Pak Aditama, sang kepala keluarga, hanya mengangguk sebentar tanpa ekspresi berarti. "Istirahatlah, kalian pasti capek," ucap pria paruh baya itu singkat, lalu langsung masuk ke ruang kerjanya, meninggalkan menantu barunya begitu saja.

Tinggallah Citra berhadapan dengan "trio macan" alias suami dan dua adiknya yang kini menatapnya seolah ia adalah kuman.

"Duh, rumah kita jadi bau bawang deh," celetuk Kinan tiba-tiba sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan hidung, padahal tubuh Citra wangi parfum mahal. "Mbak, panggil cleaning service gih, semprot ruangan ini pake pewangi ruangan yang banyak."

"Udah, Kinan. Biarin aja dia masuk kamar. Kasian tuh mukanya udah kayak baju belum disetrika, kusut banget dan berminyak," timpal Putri sambil tertawa kecil, tawa yang terdengar meremehkan.

Citra menunduk dalam-dalam, meremas koper butut warisan bapaknya yang roda kirinya agak macet. Gadis itu ingin sekali membalas omongan pedas mereka, tapi nyalinya ciut. Ia merasa kecil sekali di rumah megah ini.

"Ayo naik," perintah Putra singkat, memotong ejekan adik-adiknya.

Citra buru-buru mengikuti langkah lebar Putra menaiki tangga melingkar yang mewah itu. Suara langkah kaki mereka menggema di lorong yang sunyi. Mereka akhirnya masuk ke sebuah kamar di lantai dua yang luasnya mungkin tiga kali lipat rumah kontrakan Citra. Ada kasur king size yang terlihat empuk, TV layar datar super besar, dan balkon yang menghadap ke taman belakang.

Wah, setidaknya tidurnya enak malam ini, pikir Citra polos, sedikit terhibur melihat kemewahan kamar itu.

Tapi harapan sederhana itu langsung hancur berkeping-keping.

Putra menutup pintu kamar dan menguncinya rapat. Pria itu melepaskan jas pengantinnya, melonggarkan dasi dengan kasar, lalu menatap Citra tajam dengan mata elangnya.

"Dengar baik-baik," ucap Putra tegas, nadanya tidak bisa dibantah. "Kita memang tidur sekamar supaya Papa tidak curiga dan bertanya macam-macam. Tapi, jangan harap kamu bisa tidur di kasur saya."

Putra menunjuk ke sebuah sofa panjang berbahan kulit di ujung ruangan, dekat jendela.

"Itu tempat tidur kamu," kata Putra kejam. "Mulai malam ini dan seterusnya, kamu tidur di sofa. Jangan pernah sentuh kasur saya, jangan sentuh lemari pakaian saya, dan jangan ajak saya mengobrol kalau tidak penting. Di depan Papa dan orang lain, kita pura-pura mesra. Tapi di kamar ini, saat pintu terkunci, kita adalah orang asing yang tidak saling kenal."

Mata Citra berkaca-kaca mendengar aturan sadis itu. Ia menatap sofa itu, lalu menatap suaminya. "Tapi Mas... sofanya kan sempit dan pendek... Citra takut jatuh kalau tidur..."

"Itu bukan urusan saya," jawab Putra dingin tanpa belas kasihan. Pria itu mengambil satu bantal dan selimut tipis dari lemari, lalu melemparnya asal ke arah sofa. "Tidur di sana. Dan satu lagi, jangan berisik. Saya benci suara tangisan atau suara dengkuran. Kalau kamu melanggar, kamu tidur di balkon luar."

Malam itu, di rumah mewah yang dihuni banyak orang, Citra merasa kesepian yang luar biasa.

Gadis malang itu memeluk guling butut yang ia bawa dari rumah, meringkuk di sofa kulit yang permukaannya keras dan dingin. Kakinya menekuk karena sofa itu kurang panjang. Ia kangen Ibunya. Ia kangen suara bising motor tetangga yang lewat depan rumah. Ia kangen makan mie instan sambil nonton TV di kasur lantai yang hangat.

Di Mansion Aditama ini semuanya serba mahal dan berkilau, tapi rasanya kosong melompong. Citra sadar, dirinya bukan masuk ke istana Cinderella seperti yang orang-orang bilang, tapi masuk ke kandang singa di mana ia harus bertahan hidup sendirian tanpa ada yang membela.

"Ibu... Citra nggak betah... Citra mau pulang..." isaknya pelan, menahan suara agar tidak dimarahi "Om Dingin" itu, sampai akhirnya ia tertidur karena kelelahan menangis.

1
Samsung
sedih banget citra😭😭
sharvik
jika x in mreka brhasil mnyakiti citra mka bisa dktakan bhwa putra n ayah y hnya bicara omg kosng
Nasyya
mereka yang jahat sudah menerima ganjaranya, akhirnya putra dan citra hidup bahagia selamanya 🥰
Marini Suhendar
Good Job putra💪
Marini Suhendar
oh ...cuma adik tiri udah habisi aj putra jangan kasih ampun
Aysah Meta
woilahh..saudara tiri putra tho sekalinya?Pantes kelakuannya ngeri bgt.Sampai menghalalkan segala cara.
lnjut kak,penasaran putri sama kinan gimana?
Marini Suhendar
Alhamdulilah...Tp takut d celakai sama 2 orang itu
olyv
makan malam aman tampa dua pengauuu
Aysah Meta
Belum rupanya adik kakak satu ini,ingat ya cantik..iblis di usir dr langit krn kesombongannya.
ati² lhoo..pas bukti² di lempar ke khalayak umum sama putra,abis km PuKi (Putri&Kinan).
dahlah..soryy jorok..kelakuan duo ini emang sesuai.
eva
lanjut
Nasyya
lanjut thor 😍
Nasyya
very nice putra 👍🏻
Nasyya
waduh citra ketemu jin dasim 😄
Aysah Meta
T.O.P buat kamu ayanggg putra, Sekali-kali,di bungkam mulutnya biar sadar diri sama kelakuan adek2nya
Marini Suhendar
Smoga kapok kinan sama putri..
Ayo putra jangan kasih peluang mendekati putri
Marini Suhendar
Ayo ini cara pembuktian perlindungan mu terhadap citra
Aysah Meta
boleh gak sih..kasih air banyak²!!Tenggorokan q seret putt..denger kalimat manis mu..panas bahhh!!!🔥🔥🔥terlalu manis dan syahdu kata² mu..belajar dr mana km putraaaa.
Aysah Meta
yaiya dong kakkk!!Lanjut,kita ajj nunggui sampai lumutan😍 kirain udh end..soale bolak balik cekk,g'ada notip🥰🥰🥰
Aysah Meta
Yo ayokkk..gas putraa!!Jangan kasih kendor.
awasi juga adek mu yg kurang ajar itu biar tahu diri.Kalau perlu,masukan ke penjara sekalian.
Aysah Meta
Akhirnya up..setelah sekian lama menunggu.

Masih belum jera sekalinya kinan sama putri.di kasih kesempatan,bukan di gunakan dengan baik..malah bablas,tetep keblinger.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!