Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.
Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.
Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Pesta pernikahan itu benar-benar "wah" dan menjadi buah bibir di mana-mana. Hotel bintang lima di kawasan elit Jakarta disulap menjadi lautan bunga lily putih yang harganya mungkin bisa buat beli rumah subsidi. Makanan enak berlimpah ruah, mulai dari steak wagyu sampai sushi mahal, semuanya ada. Ribuan tamu penting datang silih berganti, mulai dari pejabat berdasi sampai artis ibukota yang biasanya cuma Citra lihat di TV.
Orang-orang bilang Citra Anindya beruntung banget, nasibnya kayak Cinderella yang tiba-tiba ketemu pangeran tampan dan kaya raya.
Tapi kenyataannya? Kaki Citra rasanya mau copot!
Gadis itu dipaksa memakai sepatu hak tinggi yang tingginya benar-benar tidak masuk akal, sekitar dua belas sentimeter selama empat jam non-stop. Tumitnya lecet, betisnya kram, dan punggungnya pegal bukan main. Belum lagi bibirnya yang terasa kaku karena harus memasang senyum palsu terus-menerus ke tamu undangan yang bahkan satu pun tidak ia kenal.
"Senyum," bisik Putra dingin di sebelahnya. Suara pria itu datar, tanpa menoleh sedikit pun ke arah istrinya. "Jangan bikin malu saya. Tahan sakitnya. Kamu sekarang Nyonya Aditama, bukan pelayan restoran yang boleh ngeluh capek cuma karena berdiri sebentar."
Citra hanya bisa menelan ludah, menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk. Jahat banget sih, batin gadis itu perih. Tangan Putra memang melingkar di pinggang rampingnya, tapi rasanya kaku sekali, seolah pria itu sedang memegang karung beras atau patung manekin, bukan memegang seorang istri. Tidak ada kehangatan sama sekali di sana.
Ujian mental Citra makin berat saat sesi foto keluarga inti dimulai. Kedua adik iparnya, Putri dan Kinan, naik ke pelaminan dengan dagu terangkat tinggi. Mereka terlihat sangat cantik memakai gaun seragam berbahan sutra mahal, tapi kelakuan kakak beradik itu... aduh, minta ampun!
Saat fotografer sedang memberi aba-aba untuk merapat agar frame-nya bagus, Kinan sengaja menginjak ujung gaun pengantin Citra yang menjuntai di lantai dengan ujung sepatu runcingnya.
"Aww!" pekik Citra kaget, tubuhnya hampir terhuyung ke depan kalau saja ia tidak berpegangan pada lengan kursi pelaminan.
"Ups, sorry," ucap Kinan santai tanpa rasa bersalah sedikit pun. Gadis modis itu justru melirik sinis. "Gaun lo kepanjangan sih. Ribet banget. Makanya kalau jalan liat-liat, jangan kayak orang kampung baru masuk mall yang jalannya serampangan."
"Sstt, Kinan. Tahan dulu julid-nya," bisik Putri sambil memasang senyum manis banget ke arah kamera, pura-pura akrab layaknya saudara yang baik. "Ayo senyum, Mbak Ipar. Jangan ngerusak foto keluarga kami yang sempurna dengan muka masam begitu."
Cekrek!
Foto itu terabadikan. Di dalam gambar, mereka semua terlihat sebagai keluarga bahagia yang harmonis. Tapi hati Citra rasanya seperti diiris-iris sembilu. Ia sadar, di panggung megah ini, dirinya hanyalah orang asing yang kesepian.
Setelah pesta selesai dan drama tangis-tangisan yang memilukan bersama Ibunya (Citra memeluk Bu Sari kencang sekali, seolah tak mau lepas karena takut menghadapi dunia barunya), Citra akhirnya diboyong ke rumah masa depannya.
Bukan rumah biasa, tapi Mansion Aditama.
Mobil sedan hitam mewah itu memasuki gerbang besi raksasa yang dijaga satpam berseragam lengkap. Halaman depannya luas sekali, mungkin bisa dipakai buat main bola satu kelurahan. Rumah utamanya berdiri megah dengan pilar-pilar tinggi menjulang, mirip istana kerajaan di sinetron-sinetron. Di rumah super besar inilah Citra akan tinggal bersama suaminya (Putra), bapak mertuanya (Pak Aditama), dan dua ipar yang super jutek tadi (Putri dan Kinan).
Begitu melangkah masuk ke ruang tamu yang lantainya terbuat dari marmer mengkilap, Citra langsung disambut hawa dingin. Bukan hanya karena AC sentral yang menyala maksimal, tapi karena tatapan orang-orang di situ yang menusuk tulang.
Pak Aditama, sang kepala keluarga, hanya mengangguk sebentar tanpa ekspresi berarti. "Istirahatlah, kalian pasti capek," ucap pria paruh baya itu singkat, lalu langsung masuk ke ruang kerjanya, meninggalkan menantu barunya begitu saja.
Tinggallah Citra berhadapan dengan "trio macan" alias suami dan dua adiknya yang kini menatapnya seolah ia adalah kuman.
"Duh, rumah kita jadi bau bawang deh," celetuk Kinan tiba-tiba sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan hidung, padahal tubuh Citra wangi parfum mahal. "Mbak, panggil cleaning service gih, semprot ruangan ini pake pewangi ruangan yang banyak."
"Udah, Kinan. Biarin aja dia masuk kamar. Kasian tuh mukanya udah kayak baju belum disetrika, kusut banget dan berminyak," timpal Putri sambil tertawa kecil, tawa yang terdengar meremehkan.
Citra menunduk dalam-dalam, meremas koper butut warisan bapaknya yang roda kirinya agak macet. Gadis itu ingin sekali membalas omongan pedas mereka, tapi nyalinya ciut. Ia merasa kecil sekali di rumah megah ini.
"Ayo naik," perintah Putra singkat, memotong ejekan adik-adiknya.
Citra buru-buru mengikuti langkah lebar Putra menaiki tangga melingkar yang mewah itu. Suara langkah kaki mereka menggema di lorong yang sunyi. Mereka akhirnya masuk ke sebuah kamar di lantai dua yang luasnya mungkin tiga kali lipat rumah kontrakan Citra. Ada kasur king size yang terlihat empuk, TV layar datar super besar, dan balkon yang menghadap ke taman belakang.
Wah, setidaknya tidurnya enak malam ini, pikir Citra polos, sedikit terhibur melihat kemewahan kamar itu.
Tapi harapan sederhana itu langsung hancur berkeping-keping.
Putra menutup pintu kamar dan menguncinya rapat. Pria itu melepaskan jas pengantinnya, melonggarkan dasi dengan kasar, lalu menatap Citra tajam dengan mata elangnya.
"Dengar baik-baik," ucap Putra tegas, nadanya tidak bisa dibantah. "Kita memang tidur sekamar supaya Papa tidak curiga dan bertanya macam-macam. Tapi, jangan harap kamu bisa tidur di kasur saya."
Putra menunjuk ke sebuah sofa panjang berbahan kulit di ujung ruangan, dekat jendela.
"Itu tempat tidur kamu," kata Putra kejam. "Mulai malam ini dan seterusnya, kamu tidur di sofa. Jangan pernah sentuh kasur saya, jangan sentuh lemari pakaian saya, dan jangan ajak saya mengobrol kalau tidak penting. Di depan Papa dan orang lain, kita pura-pura mesra. Tapi di kamar ini, saat pintu terkunci, kita adalah orang asing yang tidak saling kenal."
Mata Citra berkaca-kaca mendengar aturan sadis itu. Ia menatap sofa itu, lalu menatap suaminya. "Tapi Mas... sofanya kan sempit dan pendek... Citra takut jatuh kalau tidur..."
"Itu bukan urusan saya," jawab Putra dingin tanpa belas kasihan. Pria itu mengambil satu bantal dan selimut tipis dari lemari, lalu melemparnya asal ke arah sofa. "Tidur di sana. Dan satu lagi, jangan berisik. Saya benci suara tangisan atau suara dengkuran. Kalau kamu melanggar, kamu tidur di balkon luar."
Malam itu, di rumah mewah yang dihuni banyak orang, Citra merasa kesepian yang luar biasa.
Gadis malang itu memeluk guling butut yang ia bawa dari rumah, meringkuk di sofa kulit yang permukaannya keras dan dingin. Kakinya menekuk karena sofa itu kurang panjang. Ia kangen Ibunya. Ia kangen suara bising motor tetangga yang lewat depan rumah. Ia kangen makan mie instan sambil nonton TV di kasur lantai yang hangat.
Di Mansion Aditama ini semuanya serba mahal dan berkilau, tapi rasanya kosong melompong. Citra sadar, dirinya bukan masuk ke istana Cinderella seperti yang orang-orang bilang, tapi masuk ke kandang singa di mana ia harus bertahan hidup sendirian tanpa ada yang membela.
"Ibu... Citra nggak betah... Citra mau pulang..." isaknya pelan, menahan suara agar tidak dimarahi "Om Dingin" itu, sampai akhirnya ia tertidur karena kelelahan menangis.
suaminya bikin dia menyesal kalau bisa sih