Elara mengira pernikahannya adalah akhir dari semua penderitaan.
Namun malam itu, ia justru menemui akhir hidupnya—dikhianati, dijebak, lalu dibunuh oleh suaminya sendiri dan wanita yang ia percayai sebagai sahabat.
Saat membuka mata, Elara kembali hidup.
Ia terlahir kembali ke masa sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Rambut putihnya menjadi saksi kelahirannya yang kedua.
Mata pink-nya menyimpan dendam yang tak lagi bisa dipadamkan.
Kali ini, Elara bukan wanita polos yang mudah diinjak.
Ia mengingat setiap pengkhianatan, setiap rencana keji, dan setiap kebohongan yang pernah merenggut nyawanya.
Bukan untuk memohon keadilan.
Bukan untuk meminta belas kasihan.
Elara kembali…
untuk membalas semuanya, satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 10: Dansa Maut di Pesta Musim Dingin
Salju pertama turun menyelimuti ibu kota dengan selimut putih yang dingin, namun suasana di Istana Aurora justru membara. Ribuan lampu kristal yang digantung di langit-langit aula besar memantulkan cahaya kuning keemasan, menerangi lantai marmer yang dipoles hingga menyerupai cermin. Malam ini adalah malam Pesta Musim Dingin Kekaisaran—panggung tertinggi bagi drama politik, pengkhianatan, dan pembalasan dendam.
Di depan gerbang istana, deretan kereta kuda mewah mengantre. Para bangsawan turun dengan pakaian terbaik mereka, mencoba memamerkan kekayaan dan pengaruh. Namun, semua percakapan terhenti saat sebuah kereta kuda hitam legam tanpa hiasan berlebihan, kecuali lambang perak keluarga Lane dan Ravenhurst di pintunya, berhenti tepat di depan tangga utama.
Pintu terbuka. Sosok pertama yang turun adalah Grand Duke Alaric von Ravenhurst. Ia mengenakan seragam militer hitam pekat dengan aksen emas, jubah panjangnya menyapu salju dengan gagah. Namun, yang menarik perhatian bukanlah kegagahannya, melainkan cara ia mengulurkan tangannya yang bersarung tangan hitam dengan penuh hormat ke dalam kereta.
Lalu, Elara Lane muncul.
Aula istana mendadak sunyi. Di kehidupan sebelumnya, Elara selalu datang dengan gaun warna-warna pastel yang cerah, mencoba terlihat manis demi menyenangkan Adrian. Namun kali ini, ia adalah perwujudan dari malam yang dingin. Gaun merah marun gelapnya tampak begitu berat dan mahal, dengan sulaman duri-duri perak yang melilit pinggangnya, menunjukkan lekuk tubuhnya yang anggun namun tangguh. Rambut putih panjangnya dihiasi dengan mahkota kecil dari berlian hitam yang berkilau di bawah cahaya lampu.
"Jangan lepaskan lenganku, Elara," bisik Alaric di sampingnya. Suaranya rendah, memberikan perlindungan instan di tengah tatapan mata yang penuh rasa ingin tahu dan dengki.
"Aku tidak akan melepaskannya, Alaric. Aku ingin mereka semua melihat siapa yang berdiri di belakangku saat aku menghancurkan Mawar Hitam itu," jawab Elara dengan nada yang stabil.
Saat mereka memasuki aula utama, musik orkestra sedang memainkan lagu pengiring yang megah. Di ujung aula, di atas tahta kecil untuk para bangsawan tinggi, duduklah Isabella von Ravenstein bersama Julian. Isabella mengenakan gaun sutra hitam dengan tudung jaring yang menutupi sebagian matanya, membuatnya tampak seperti janda abadi yang penuh rahasia.
Isabella berdiri, memberikan senyum tipis yang tidak mencapai matanya saat Elara dan Alaric mendekat untuk memberikan salam formal kepada Kaisar yang duduk di tahta pusat.
"Nona Elara Lane," sapa Kaisar dengan suara serak namun berwibawa. "Berita tentang keberanianmu menyelamatkan Bank Miller dari kebangkrutan—dengan caramu sendiri—telah sampai ke telingaku. Kau adalah wanita yang sangat... menarik."
"Terima kasih, Yang Mulia," Elara membungkuk dengan sempurna. "Saya hanya melakukan apa yang harus dilakukan untuk melindungi integritas keluarga Lane."
"Dan Grand Duke Alaric," Kaisar melirik Alaric. "Kau tampak sangat setia mendampinginya. Apakah ada berita besar yang belum sampai ke telingaku?"
Alaric menatap Kaisar tanpa ragu. "Yang Mulia, Elara Lane adalah masa depan saya. Siapa pun yang menjadi musuhnya, adalah musuh dari seluruh pasukan Ravenhurst."
Pernyataan itu seperti ledakan bom di tengah aula. Secara tidak langsung, Alaric telah menyatakan perang kepada siapa pun yang berani mengusik Elara. Isabella, yang berdiri tak jauh dari sana, mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih.
Pesta berlanjut ke sesi dansa. Saat musik waltz yang cepat mulai bergema, Alaric menarik Elara ke tengah lantai dansa. Gerakan mereka begitu sinkron, seolah mereka telah berdansa bersama selama berabad-abad.
Namun, di tengah-tengah putaran dansa, Elara merasakan udara di sekitarnya berubah. Aroma melati yang kuat mulai tercium, namun ada bau kimia yang tajam di baliknya. Ia melirik ke arah jeruji pemanas di dinding aula. Gas tipis yang nyaris tak terlihat mulai merambat keluar.
"Alaric, gasnya," bisik Elara.
Alaric mengangguk kecil. Ia sudah meminum penawar racun yang ia siapkan, dan ia memastikan Elara juga memakainya dalam bentuk parfum khusus di pergelangan tangannya. "Tetaplah berdansa. Jangan tunjukkan bahwa kau tahu. Isabella sedang menunggu kita jatuh pingsan agar dia bisa membuat pengumuman darurat."
Tiba-tiba, Isabella melangkah ke tengah aula, menghentikan musik dengan lambaian tangannya.
"Yang Mulia, mohon maaf atas interupsi ini," suara Isabella bergema, terdengar sangat cemas. "Namun, saya merasa tidak enak badan. Sepertinya ada kebocoran gas di aula ini. Saya khawatir kesehatan Yang Mulia dan para tamu terancam."
Beberapa bangsawan mulai merasa pening dan batuk-batuk. Panik mulai menyebar. Julian segera mendekat ke arah Kaisar, berpura-pura ingin mengawal.
"Ini adalah rencana yang sangat kuno, Isabella," suara Elara memotong keriuhan. Ia berdiri tegak di tengah lantai dansa, sama sekali tidak terpengaruh oleh gas tersebut.
Isabella menatap Elara dengan kaget. "Nona Lane, kau... kau tidak apa-apa? Seharusnya kau sudah sulit bernapas sekarang."
"Kenapa? Karena kau menghitung dosis racun gas ini hanya berdasarkan berat badan wanita biasa?" Elara melangkah maju, mengeluarkan botol kecil dari balik gaunnya—botol berisi sisa racun yang sama yang membunuhnya di masa lalu. "Atau kau terkejut karena racun gas saraf buatan laboratorium Ravenstein ini tidak bekerja padaku?"
Kaisar menyipitkan mata. "Nyonya Isabella, apa maksud semua ini?"
"Jangan dengarkan dia, Yang Mulia! Dia pasti sudah gila karena pengaruh gas!" teriak Julian.
"Kael!" Alaric memanggil tangan kanannya.
Dalam sekejap, Kael masuk membawa seorang pria dengan tangan terikat. Pria itu adalah kepala teknisi istana yang bertugas merawat sistem pemanas. "Dia telah mengaku, Yang Mulia. Dia diperintah oleh Nyonya Isabella untuk memasukkan zat beracun ke dalam saluran udara malam ini."
Isabella mencoba mundur, namun ia menyadari bahwa seluruh pintu aula telah dijaga oleh ksatria bayangan Alaric.
"Kau ingin menunjukkan pada dunia bahwa keluarga Lane dan Grand Duke Alaric tidak stabil secara fisik di depan Kaisar, lalu kau akan menggunakan kesempatan itu untuk mengambil alih otoritas Pelabuhan Utara," ucap Elara, suaranya dingin dan menusuk. "Tapi kau lupa satu hal, Isabella. Aku sudah pernah mati sekali. Dan seseorang yang sudah kembali dari kematian, tidak akan pernah bisa kau bunuh dengan cara yang sama."
Elara mendekati Isabella, lalu berbisik tepat di telinganya sehingga hanya wanita itu yang bisa mendengar. "Aku tahu tentang mawar hitam, aku tahu tentang ibuku, dan aku tahu tentang setiap detak jantung busukmu. Hari ini, bukan aku yang akan pergi dari istana ini dengan tandu. Tapi kau."
Isabella gemetar hebat. Ia menatap ke arah kerumunan bangsawan yang dulu ia tekan dengan ketakutan. Kini, mereka menatapnya dengan pandangan penuh tuntutan dan kemarahan. Terutama para istri bangsawan yang sebelumnya sudah ditemui Elara.
"Pengawal!" Kaisar berdiri dengan wajah murka. "Amankan Isabella dan Julian von Ravenstein. Kita akan mengadakan pengadilan terbuka besok pagi. Dan Grand Duke Alaric... bawa Nona Elara ke tempat yang lebih segar. Aku berhutang penjelasan padanya."
Di balkon luar yang tertutup salju, Elara menghirup udara dingin dengan lega. Seluruh tubuhnya terasa lemas sekarang setelah adrenalinnya menurun.
Alaric melepaskan jubahnya dan menyampirkannya ke bahu Elara. "Kau melakukannya, Elara. Kau baru saja meruntuhkan kekuasaan puluhan tahun Ravenstein hanya dalam satu malam."
Elara menoleh ke arah Alaric, matanya berkaca-kaca. "Ini belum benar-benar berakhir, Alaric. Masih banyak yang harus dibersihkan. Tapi... untuk malam ini, bisakah kita berhenti menjadi prajurit?"
Alaric tersenyum, senyuman yang sangat tulus dan penuh kasih sayang. Ia memeluk Elara dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu Elara. Di kejauhan, kembang api musim dingin mulai meledak di langit, mewarnai salju dengan warna-warni yang indah.
"Apapun yang kau inginkan, Ratuku," bisik Alaric. "Kita sudah menang melawan takdir malam ini. Dan besok, kita akan mulai membangun dunia yang tidak akan pernah bisa menyakitimu lagi."
Elara memejamkan matanya, merasakan detak jantung Alaric yang hangat. Di kehidupan pertamanya, ia mati sendirian di kegelapan. Di kehidupan keduanya, ia berdiri di puncak kemenangan dengan seorang pria yang mencintainya lebih dari nyawanya sendiri.
Dendam itu telah terbayar sebagian, namun perjalanan mereka yang sebenarnya baru saja dimulai.
qu membayangkan opa"😂
lanjuuut
ini 2024 tp msh ada kereta kuda yaa🤔