"menikah, atau kamu kami coret dari daftar pewaris?"
"tapi dia gila mah,"
.........
Narendra meradang saat jalinan kasihnya selama bertahun-tahun harus kandas dan berakhir dengan menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Reyna, putri konglomerat yang beberapa tahun belakangan di isukan mengidap gangguan jiwa karena gagal menikah adalah perempuan yang menjadi istri Narendra.
tak ada kata indah dalam pernikahan keduanya, Naren yang belum bisa melepas masa lalunya dan Rayna yang ingin membahagiakan keluarga nya di tengah kondisi jiwanya, saling beradu antara menghancurkan atau mempertahankan pernikahan.
apakah Naren akhirnya luluh?
apakah Rayna akhirnya menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyky Pamella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MPG_12
“Papah itu sangat pandai menilai orang, bahkan hanya dari ekspresi wajah dan sorot mata,” suara Narendra terdengar rendah tapi tegas, nyaris seperti peringatan. “Jadi jangan lakukan apa pun yang bisa bikin papah curiga. Jangan bikin topik pembicaraan baru. Cukup diam, dengarkan, dan iyakan apa pun yang aku katakan. Mengerti?”
Ia langsung mengultiku begitu mamah Farah meninggalkan ruangan.
Aku memutar bola mata, menatapnya dengan ekspresi sebal setengah menantang.
“Siap, Pak Sutradara,” jawabku sengaja, lengkap dengan nada sarkas yang kubuat setipis mungkin agar tidak terdengar kelewat kurang ajar.
Narendra hanya mengangkat kedua alisnya, seperti biasa. Tidak membalas, tidak tersinggung, hanya menatapku sekilas seolah berkata: *aku serius*.
Tak butuh waktu lama, langkah kaki kembali terdengar mendekat. Mamah Farah muncul lebih dulu, diikuti oleh papah Toro di belakangnya.
Sejujurnya, sejak tadi aku membayangkan sosok papah Toro akan tampil dengan aura intimidating—jas rapi, sepatu pantofel mengilap, wajah kaku khas pimpinan perusahaan besar. Tapi semua bayangan itu runtuh begitu aku melihat penampilannya.
Papah Toro mengenakan celana selutut santai, kaus oblong polos, dan sandal jepit. Yap. Sandal jepit.
Meski begitu, entah kenapa auranya tetap terasa berwibawa. Mungkin karena cara jalannya yang tenang, atau tatapan matanya yang tajam tapi hangat. Dan ya, aku yakin satu set outfit santainya itu harganya sama sekali tak santai.
“Assalamu’alaikum, anak-anak papah.”
Aku dan Narendra kompak menjawab salamnya.
Papah langsung mendekat. Tangannya terulur, dan aku refleks mencium punggung tangannya dengan penuh hormat.
“Selamat datang, baby angel,” ucapnya sambil mengelus lembut pucuk kepalaku.
Aku tertegun sejenak. Panggilan itu terasa… hangat. Terlalu hangat untuk seseorang yang baru kutemui hari ini.
“Papah akhirnya ketemu juga sama kamu,” lanjutnya. “Tapi papah jadi curiga… foto yang mamah kirim itu pasti pakai filter, ya?” Papah melirik ke arah mamah Farah.
Mamah hanya menggulum senyum, seolah ikut menikmati kejutan kecil ini.
“Emang kenapa, pah?” tanya Narendra, nada suaranya terdengar bingung.
Aku? Jangan ditanya. Otakku langsung berlari ke mana-mana. Insecure-ku bangkit tanpa aba-aba.
“Di foto itu mantu papah kelihatan cantik,” ujar papah Toro santai, lalu menatapku lebih saksama. “Tapi ternyata… mantu papah ini bukan cuma cantik.”
Beliau berhenti sejenak, seolah sengaja menggantung kata-katanya.
“…tapi sangat, sangat cantik.”
Tawa papah langsung tergelak renyah, diikuti kekehan kecil mamah Farah. Aku menelan ludah, pipiku terasa panas.
“Kenapa?” tanya papah lagi, masih dengan senyum lebarnya. “Kamu pikir papah bakal bilang kamu jelek, ya?”
Aku hanya tersenyum kikuk, tak sanggup menjawab.
“Jangan terlalu memuji, pah,” sela Narendra sambil melingkarkan tangannya di pinggangku. “Nanti aku cemburu.”
Sentuhan itu membuatku sedikit menggeliat. Bukan karena tidak nyaman—justru sebaliknya. Ada desiran aneh yang menjalar di dadaku, sesuatu yang sulit kujelaskan.
“Sudah, yuk kita makan siang,” kata mamah Farah akhirnya. “Mamah sudah lapar banget.”
Kami semua bergerak menuju ruang makan, beriringan. Aroma masakan langsung menyambut, membuat perutku yang sejak tadi tegang mendadak ikut berteriak minta diisi.
Di atas meja makan, tersaji berbagai menu: sayur mayur segar, aneka olahan seafood, lauk rumahan yang terlihat sederhana tapi menggugah selera.
Papah Toro duduk di ujung kanan meja. Di sana hanya ada satu kursi—seolah memang singgasana khusus kepala keluarga.
Mamah Farah duduk di samping kanannya.
Aku dan Narendra duduk di sisi kiri papah.
Setelah semua siap, papah mengangkat tangan, memimpin doa sebelum makan. Suara beliau tenang, berat, dan penuh penghayatan.
Entah kenapa, dadaku tiba-tiba terasa sesak. Kalimat demi kalimat doa yang terlafalkan begitu khidmat menusuk sesuatu yang lama terkubur di hatiku. Tanpa kusadari, air mataku luruh.
“Sayang… kamu kenapa?” suara mamah Farah terdengar khawatir.
Pertanyaan itu langsung membuat papah dan Narendra menoleh ke arahku.
“Kamu kenapa, sayang?” Narendra buru-buru mengusap air mataku dengan ibu jarinya.
Papah bahkan berdiri dari kursinya, mendekat.
“Kenapa, Nak?” tanya papah lembut. “Apa kamu nggak nyaman di sini? Atau doa papah tadi ada yang menyinggung perasaan kamu?”
Beliau mengusap pucuk kepalaku dengan penuh kehati-hatian. “Papah minta maaf kalau begitu.”
Aku menggeleng cepat.
“Enggak, pah,” jawabku dengan suara bergetar. “Justru… aku kangen suasana seperti ini.” Air mataku kembali jatuh.
“Dulu, sebelum papah Daru meninggal,” lanjutku terisak, “beliau selalu melakukan hal yang sama. Memimpin doa dengan sangat khidmat. Setelah itu kami makan sambil bercengkerama.”
Dadaku naik turun, napasku tersendat.
Narendra langsung mendekapku erat, mengelus punggungku perlahan. Aku menyandarkan kepalaku ke dadanya tanpa ragu. Saat ini, aku tidak peduli apakah ia hanya sedang berakting atau tidak. Aku hanya butuh sandaran.
“Sekarang kamu nggak perlu kangen lagi,” ucap Narendra pelan. “Karena kapan pun kamu mau suasana seperti ini, kita tinggal nyusul mamah dan papah ke sini. Kita makan bareng.”
Mamah dan papah mengiyakan dengan hangat.
Aroma parfum Narendra menyeruak, menenangkan seperti aromaterapi. Pelukannya terasa hangat, mengisi ruang kosong di hatiku. Aku benci mengakuinya, tapi mungkin… aku memang mulai mencintainya. Aku tak tahu sejak kapan, atau karena apa. Yang jelas, aku ingin Narendra menjadi milikku sepenuhnya.
“Maaf ya, pah, mah,” kataku akhirnya sambil menyeka air mata. “Karena lebay-nya Rayna, acara makan siang kita jadi ketunda. Pasti mamah makin lapar.”
Mamah Farah langsung tergelak.
“Iya. Padahal tadi mamah sudah niat pura-pura pingsan kalau lima menit lagi kamu belum selesai nangis.”
Papah ikut tertawa.
*Astaga, receh sekali keluarga baruku ini,* batinku sambil ikut terkekeh.
Narendra tersenyum. Bukan senyum dramatis yang biasa ia tunjukkan, tapi senyum tulus—yang entah kenapa terasa jauh lebih mematikan.
Kami mulai mengambil makanan. Mamah menyiapkan piring untuk papah. Aku menyiapkan piring untuk Narendra.
“Mau pakai udang, Mas?” tanyaku sambil mengangkat sendok.
Mamah Farah mendadak menatap kami bergantian.
“Kamu belum tahu, sayang?” tanyanya.
“Tahu apa, mah?” aku bingung.
Narendra menunduk, menggaruk tengkuknya yang jelas tidak gatal.
“Naren, kamu belum bilang ke istrimu?” tanya mamah lagi.
*Astaga. Balada apa lagi ini,* batinku panik.
“Narendra itu alergi udang sayang,” jelas mamah. “Kalau kambuh, perutnya bisa sakit parah disertai mual hebat. Terakhir sampai harus opname seminggu.”
Aku terdiam sejenak.
“Eum… iya,” kata Narendra sambil nyengir. “Aku alergi udang dan seluruh sanak keluarganya sayang.”
Aku menatapnya tajam.
“Sayang,” ucapku akhirnya, menahan nada. “Hal sebesar ini kenapa kamu nggak bilang ke aku?”
Narendra menendang kecil kakiku di bawah meja, memberi kode.
“Untung selama ini aku nggak pernah masak pakai bumbu udang,” lanjutku. “Kalau sampai aku masak dan kamu makan, gimana?”
“Ya tetap aku makan,” jawabnya cepat. “Masakan kamu itu obat.”
Ia mengelus kepalaku, puas.
“Sepertinya papah yang sebentar lagi bakal pingsan karena kelaparan,” sela papah.
Kami semua tertawa, baru sadar waktu makan siang sudah berubah jadi makan sore.
Kami makan sambil bercengkerama, tertawa mendengar cerita papah Toro tentang pengalamannya sebulan di Jepang tanpa mamah Farah.
Hari itu hangat. Tidak kaku. Tidak formal.
Dan untuk pertama kalinya, aku merasa… pulang.
plisss dong kk author tambah 1 lagi