Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"
Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sama Arven
Aku mengiyakan ajakan Arven tanpa banyak berpikir lagi.
Kami menghabiskan sisa waktu di mall dengan hal-hal kecil yang entah kenapa terasa hangat. Jalan pelan menyusuri lorong, berhenti di toko yang sebenarnya tidak kami butuhkan, duduk lama hanya untuk minum dan melihat orang lalu-lalang.
Arven sesekali bercanda ringan, nada suaranya dibuat santai, seolah memastikan aku tidak terus menunggu sesuatu yang tak kunjung datang.
Beberapa kali aku menoleh ke pintu masuk mall. Refleks. Kebiasaan.
Setiap kali itu juga Arven menyadarinya, tapi dia tidak pernah menegur. Hanya sedikit mendekat, seperti berkata tanpa suara, aku di sini.
Langit di luar mulai menggelap. Lampu-lampu mall terasa lebih terang dari sebelumnya. Aku kembali melirik jam di pergelangan tangannya malam hampir tiba.
"Sepertinya dia nggak datang," kataku akhirnya.
Arven berhenti melangkah. Menatapku sebentar, lalu mengangguk pelan.
"Kita pulang aja ya," katanya lembut.
Kali ini aku tidak ragu. "Iya."
Di perjalanan pulang, mobil terasa sunyi tapi tidak canggung. Aku menyandarkan kepala ke kursi, menatap lampu jalan yang lewat satu per satu. Ada sedikit rasa kosong, tapi juga lelah yang akhirnya terasa.
Sesampainya di apartemen, setelah berganti pakaian dan membersihkan diri, aku baru teringat sesuatu yang sejak pagi menggangguku.
Ponselku.
Aku mencarinya ke sana kemari. Meja, tas, sofa. Sampai akhirnya aku menemukannya tersambung ke charger, layar menyala menunjukkan baterai penuh.
Aku terdiam.
Aku benar-benar tidak ingat pernah mengecasnya.
"Ven," panggilku pelan. "Hp aku ternyata di-charge."
Arven menoleh dari laptopnya. "Oh ya?"
"Iya penuh." Aku tertawa kecil, lebih ke arah bingung. "Aku nggak inget kapan."
"Mungkin kamu capek," katanya ringan. "Kadang suka lupa."
Aku mengambil ponsel itu, lalu membuka layar. Ada satu notifikasi pesan lama jamnya jauh sebelum aku berangkat ke mall.
Dari Maya. Aku membukanya.
Pesannya berantakan. Seperti diketik terburu-buru, atau mungkin dengan tangan yang tidak benar-benar fokus. Pesan itu masuk pukul 4 pagi.
Maya:
seren kseu
atcwb nagsa
Aku mengerutkan kening, lalu menggulir ke bawah.
Di bagian paling akhir, pesannya lebih jelas.
Maya:
Maaf ya ren
Aku ga bisa dtg hari ini
Mndadak ada urusan
Aku takut kamu nunggu
Maaf bgt🙏🏻
Jam di samping pesan itu menunjukkan sudah hampir jam 5 subuh.
Aku menatap layar lama.
Dadaku terasa aneh.
Jadi sebenarnya aku sudah tahu. Atau setidaknya, seharusnya tahu.
Aku tertawa kecil, hambar. "Pantesan," gumamku pelan. "Pantesan nggak datang."
Aku tertawa.
"Dasar," gumamku pelan. "Kamu ngetik setengah tidur ya."
Dadaku terasa hangat. Bukan karena Maya membatalkan janji, tapi karena satu hal sederhana dia sempat memikirkan aku. Bahkan sebelum benar-benar tidak datang.
Aku tidak merasa ditinggalkan. Tidak juga merasa dibohongi.
Hanya sedikit disayangkan.
Kalau saja aku baca ini lebih cepat, aku tidak perlu menunggu selama itu.
Aku mematikan layar, meletakkan ponsel di samping kasur. Rasa kantuk akhirnya datang. Aku memejamkan mata dengan senyum kecil yang masih tersisa.
Aku mematikan layar ponsel dan meletakkannya di samping kasur. Senyum kecil masih tersisa di bibirku. Maya benar-benar aneh, tapi justru itu yang membuatku merasa diingat sama dia.
Aku menarik selimut dan memejamkan mata.
Kali ini aku benar-benar tertidur.
Saat aku terbangun, kamar sudah remang. Lampu tidur menyala redup, dan udara terasa hangat. Aku bergerak sedikit, lalu berhenti.
Ada berat di kasur.
Aku menoleh ke samping.
Arven tidur di sebelahku.
Aku membeku sesaat.
Biasanya ia tidur di sofa atau di kamar lain, selalu dengan alasan agar aku bisa istirahat lebih nyaman. Bahkan saat aku memintanya tetap tinggal, ia sering hanya duduk sampai aku tertidur, lalu pergi pelan-pelan.
Tapi sekarang, ia ada di sini.
Tubuhnya miring menghadapku, jaraknya, satu lengannya tertekuk di atas bantal, napasnya teratur. Wajahnya terlihat lebih tenang dari biasanya, tapi ada garis lelah yang jelas di antara alisnya.
Aku menatapnya lama.
Aku mengingat siang tadi. Wajahnya di mall. Cara ia menungguku tanpa mengeluh. Cara ia mengajakku bermain hanya untuk mengisi waktu. Cara ia tersenyum setiap kali aku terlihat senang.
Aku menatap Arven beberapa detik lebih lama lalu beberapa detik lagi.
Dadaku terasa ringan dan hangat. Ada rasa senang yang aneh. Ternyata rasanya begini ya, bangun dan melihat dia di sampingku.
Aku tersenyum kecil tanpa sadar. Mataku mengikuti setiap detail wajahnya. Bulu matanya yang panjang, rahang yang biasanya tegas tapi sekarang terlihat santai, napasnya yang teratur.
Aku merasa lebih dekat sama dia, lebih dari biasanya.
Aku terlalu lama menatap.
Aku sadar itu saat alis Arven bergerak sedikit. Kelopak matanya bergetar, lalu perlahan terbuka. Tatapannya masih kabur, tapi langsung mengarah padaku.
Aku refleks menahan napas.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
"Wajah aku ganteng banget ya," katanya dengan suara berat khas orang baru bangun tidur, serak dan rendah, "sampai diliat segitunya?"
Aku tertawa pelan, spontan. Pipiku terasa hangat.
"Kamu bangun," kataku, hampir berbisik.
Arven menghela napas kecil, lalu tersenyum malas. "Udah dari tadi."
Aku mengernyit. "Hah?"
"Iya," katanya sambil memiringkan kepala sedikit ke arahku. "Cuma karena kamu liatin terus, aku sengaja pura-pura tidur."
Aku terdiam satu detik.
"Arven!" reflek aku memukul dadanya pelan, bercanda. "Ngapain sih!"
Ia tertawa pelan, suaranya rendah dan hangat, tangannya langsung menahan lenganku agar pukulanku tidak berlanjut. Cukup sampai aku akhirnya berhenti sendiri.
"Seru," katanya santai. "Jarang-jarang aku diliatin segitunya."
Pipiku terasa panas. "Aku cuma..ya-"
"Cuma apa?" potongnya lembut, matanya menatapku dekat sekali sekarang.
Aku kehabisan kata. Jadi aku memukul dadanya sekali lagi, lebih pelan, lalu tanpa sadar lenganku berhenti di sana. Tanganku menempel di kausnya, aku bisa merasakan hangat tubuhnya.
Arven menghela napas pelan, lalu menarikku sedikit lebih dekat. Gerakannya pelan, seolah menungguku mundur kalau aku mau.
Aku tidak mundur
Kepalaku akhirnya setengah bersandar di dadanya. Detak jantungnya terdengar samar.
"Kalau kamu seneng," katanya lirih, hampir berbisik, "aku nggak keberatan pura-pura tidur lebih lama."
Aku tertawa kecil. "Jangan ih."
"Hmm," balasnya, suaranya hangat. "Tergantung. Kamu masih mau liatin aku apa enggak?"
Aku mendongak sedikit, menatapnya. Ia tersenyum, kali ini senyumnya sampai ke mata.
"Ih," kataku pelan, lalu memeluknya lebih erat. "Pede banget sih."
"Tapi kamu peluk," jawabnya santai.
Aku tidak langsung menjawab.
Kepalaku benar-benar sudah bersandar di dadanya sekarang. Bukan setengah lagi. Berat kepalaku kutitipkan sepenuhnya di sana, dan detak jantungnya menyambutku tanpa bisa disembunyikan lagi.
Deg.
Deg.
Deg.
'Cepat banget' pikirku saat itu.
Aku tersenyum kecil tanpa sadar.
Arven pasti merasakannya, karena dadanya naik turun sedikit lebih dalam dari sebelumnya. Tangannya di punggungku mengencang sepersekian detik, lalu mengendur lagi.
Lalu suaranya turun, dekat sekali dengan telingaku.
"Suka ya," katanya pelan, hampir seperti bisikan, "bersandar di dada aku?"
Darahku langsung naik ke wajah.
Aku salting. Benar-benar salting.
"Ven," aku menggerutu pelan, malu sendiri. "Ngapain sih ngomong gitu."
Ia tertawa kecil. Bukan tawa keras, tapi getaran halus dari dadanya yang justru membuatku makin sadar betapa cepat jantungnya berdetak. Tangannya kini mengusap rambutku, perlahan, penuh perhatian.
"Jantung aku jadi nggak bisa bohong," katanya sambil tersenyum. "Padahal aku udah berusaha tenang."
Aku mengangkat wajah sedikit, menatapnya. Matanya lembut, hangat, tapi ada kilau gugup di sana.
"Kamu deg-degannya parah," ucapku jujur, nyaris tertawa kecil.
"Karena kamu lah. Dadaku semenarik itu ya?, " ucapnya tanpa ragu.
Aku tertawa kecil, masih bersandar di dadanya.
"Kalau aku bilang iya gimana?" tanyaku, suaraku nyaris tenggelam oleh detak jantungnya sendiri.
Arven mendengus pelan, ada senyum malas di suaranya. "Ya aku tambah deg-degan."
Seakan menanggapi ucapannya, dadanya bergetar lebih cepat di bawah pipiku. Aku bisa merasakannya dengan jelas. Terlalu jelas. Aku refleks menggeser kepala sedikit, dan anehnya detaknya sempat melambat. Hanya sepersekian detik. Lalu kembali cepat saat aku berhenti bergerak.
Aku terdiam.
Arven tertawa kecil, rendah. "Kamu bikin aku susah kontrol diri."
Nada suaranya tetap lembut, tapi ada sesuatu yang tertahan. Sesuatu yang tidak ia jelaskan, dan entah kenapa aku tidak menanyakannya. Rasanya malah hangat, bukan menakutkan.
Aku menepuk dadanya pelan, bercanda. "Salah sendiri."
Ia membalas dengan mengusap punggungku perlahan, lalu menarik selimut, menutup kami berdua.
"Tidur lagi ya," katanya.
Aku mengangguk kecil, memejamkan mata. Kepalaku kembali menemukan tempatnya di dadanya. Detak jantungnya masih cepat, setia, seolah memastikan aku benar-benar tertidur.
Aku tersenyum tipis.