"Di dunia yang dibangun di atas emas dan darah, cinta adalah kelemahan yang mematikan."
Kenzo Matsuda adalah kesempurnaan yang dingin—seorang diktator korporat yang tidak mengenal ampun. Namun, satu malam penuh kegilaan di bawah pengaruh alkohol dan bayang-bayang masa lalu mengubah segalanya. Ia melakukan dosa tak termaafkan kepada Hana Sato, putri dari wanita yang pernah menghancurkan hatinya.
Hana, yang selama ini hidup dalam kehampaan emosi keluarga Aishi, kini membawa pewaris takhta Matsuda di rahimnya. Ia terjebak dalam sangkar emas milik pria yang paling ia benci. Namun, saat dinasti lama mencoba meruntuhkan mereka, Hana menyadari bahwa ia bukan sekadar tawanan. Ia adalah pemangsa yang sedang menunggu waktu untuk merebut mahkota.
Antara dendam yang membara dan hasrat yang terlarang, mampukah mereka bersatu demi bayi yang akan mengguncang dunia? Ataukah mahkota duri ini akan menghancurkan mereka sebelum fajar dinasti baru menyingsing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: PEMBALASAN SANG RATU SATO
Januari 2026 menjadi saksi sejarah baru bagi Matsuda Corp. Di bawah kepemimpinan Hana Sato—yang kini secara resmi menyandang gelar Executive Chairwoman—kekayaan keluarga Matsuda melesat hingga ke titik yang tak terbayangkan. Hana bukan sekadar mengelola perusahaan; ia memanipulasi pasar global dengan kedinginan seorang predator Sato.
Di kantor pusat yang kini didesain ulang dengan marmer hitam dan aksen emas murni, Hana duduk di kursi kebesarannya. Di depannya, layar hologram menampilkan grafik kekayaan pribadinya yang terus menanjak, sementara di sudut lain, ia memantau "proyek sampingan"-nya: penghancuran hidup lawan-lawannya.
"Laporannya, Hana?" suara Kenzo terdengar lembut. Pria itu masuk, menyerahkan sebuah tablet yang berisi data penyitaan terbaru.
Hana tersenyum puas. "Shizuka Matsuda telah diusir dari apartemen kumuhnya pagi ini karena gagal membayar sewa. Perhiasan terakhirnya—anting pertunangan yang kau berikan dulu—telah aku beli lewat balai lelang dengan harga murah. Aku akan menjadikannya mainan untuk anjing kita."
Sementara Hana menyesap anggur seharga ratusan juta rupiah, di pinggiran distrik kumuh Kamagasaki, Shizuka Matsuda meringkuk di balik tumpukan kardus. Wajahnya yang dulu cantik kini kusam, tangannya yang terbiasa dengan perawatan spa kini pecah-pecah karena kedinginan. Ia harus mengais sisa makanan hanya untuk bertahan hidup.
Tidak jauh dari sana, Renzo, anak kedua Kenzo yang dulu angkuh, kini bekerja sebagai kuli panggul di pelabuhan ilegal. Hana telah memastikan setiap bank menutup pintunya bagi Renzo. Setiap kali Renzo mencoba membangun bisnis kecil, Hana akan menghancurkannya dalam semalam.
"Kakak... Ayah ... tolong aku," isak Renzo saat ia dipukuli oleh penagih hutang yang dikirim secara anonim oleh Hana. Ia tidak tahu bahwa setiap tetes darahnya adalah hiburan bagi wanita yang dulu ia sebut 'selir'.
Miyu Matsuda berada dalam kondisi yang lebih buruk. Ia bekerja di bar malam kelas bawah, melayani pria-pria kasar yang tidak tahu bahwa ia pernah menjadi putri mahkota. Hana sengaja membiarkan Miyu hidup, namun dalam kondisi yang membuatnya setiap hari memohon untuk mati.
Di kantornya yang kedap suara, Hana melihat rekaman penderitaan mereka melalui kamera satelit pribadi. Kenzo berdiri di belakangnya, memijat bahu Hana dengan penuh pengabdian.
"Kau sangat kejam, Hana," bisik Kenzo, namun nadanya penuh kekaguman, bukan kecaman. "Kau membuat mereka merasakan neraka di dunia."
"Ini bukan kekejaman, Kenzo. Ini adalah keadilan," sahut Hana, memutar kursinya untuk menatap pria itu. "Mereka merendahkanku, mereka mengancam anak kita, dan mereka menganggap darah Aishi sebagai noda. Sekarang, mereka hanyalah debu di bawah sepatu mahalku."
Hana berdiri, berjalan menuju jendela besar yang menampilkan gemerlap Tokyo. "Lihat kota ini, Kenzo. Semuanya milik kita. Renji akan tumbuh di dunia di mana tidak ada satu pun orang yang berani menatap matanya tanpa gemetar."
Kenzo menatap Hana dengan gairah yang tak tertahankan. Sejak Hana mengambil alih kekuasaan, aura dominasinya membuat Kenzo semakin terobsesi. Baginya, Hana bukan lagi mangsa yang ia nodai, melainkan dewi yang ia puja.
Kenzo melangkah maju, memeluk pinggang Hana dari belakang. "Hana... lupakan sejenak tentang angka-angka dan balas dendam itu. Aku ingin merasakanmu. Di sini. Sekarang."
Hana berbalik, menyentuh dasi Kenzo yang sempurna. "Di kantor, Kenzo? Bagaimana jika sekretarismu masuk?"
"Pintu sudah terkunci secara elektronik. Seluruh sistem keamanan ada di bawah kendaliku," desis Kenzo, suaranya parau oleh hasrat. "Aku ingin mengklaim ratuku di atas meja yang ia gunakan untuk menghancurkan musuh-musuhnya."
Hana tersenyum menantang. Ia menikmati bagaimana pria yang dulu begitu berkuasa kini berlutut di bawah pengaruhnya. Hana menarik dasi Kenzo, membawanya menuju meja obsidian besar di tengah ruangan.
Di bawah cahaya remang lampu ruangan eksekutif, kemesraan itu pecah. Kenzo mencium Hana dengan intensitas yang luar biasa, seolah ingin menyerap seluruh kekuatan wanita itu ke dalam dirinya. Hana membalasnya dengan gairah yang sama, melepaskan semua ketegangan dari intrik politik yang ia jalani seharian.
Sentuhan Kenzo terasa sangat lembut namun penuh tuntutan di atas permukaan meja yang dingin. Kontras antara dinginnya marmer dan panasnya tubuh mereka menciptakan sensasi yang membakar. Di ruangan yang menjadi pusat kekuasaan dunia itu, mereka melepaskan segalanya.
"Hanya aku... katakan bahwa hanya aku yang memilikimu," bisik Kenzo di tengah napas yang memburu.
"Kau adalah milikku, Kenzo. Dan aku adalah pemilik dari setiap inci jiwamu," sahut Hana, mencengkeram bahu Kenzo saat mereka mencapai puncak penyatuan yang intim.
Adegan itu bukan sekadar nafsu; itu adalah perayaan kemenangan mereka atas dunia yang mencoba memisahkan mereka. Di atas meja di mana keputusan-keputusan besar yang menghancurkan Miyu dan Shizuka ditandatangani, mereka mengukuhkan ikatan darah dan hasrat mereka.
Setelah badai hasrat mereda, Hana bersandar di dada Kenzo, menatap langit malam Tokyo yang mulai memudar. Kenzo menyelimuti tubuh Hana dengan jas mahalnya, mengecup keningnya dengan penuh pengabdian.
"Besok, aku akan membeli sisa saham yang dimiliki keluarga Shizuka," kata Hana tenang, seolah adegan intim tadi tidak pernah terjadi. "Aku ingin mereka benar-benar tidak punya tempat untuk berpijak."
Kenzo tersenyum. "Lakukan sesukamu, Hana. Dunia ini adalah taman bermainmu."
Di luar sana, di jalanan yang gelap dan dingin, Miyu Saikou menatap menara Saikou yang bercahaya terang. Ia lapar, kedinginan, dan hancur. Ia tidak tahu bahwa tepat di atas sana, wanita yang ia benci sedang merayakan kemenangannya dalam pelukan ayahnya sendiri, bergelimang harta yang seharusnya menjadi miliknya.
Hana Sato, sang Ratu Sato, telah menyelesaikan pembalasannya. Ia kaya, ia berkuasa, dan ia dicintai oleh pria yang dulu menghancurkannya. Sedangkan mereka yang sombong, kini hanya menjadi catatan kaki yang menyedihkan dalam sejarah kejayaannya.
BERSAMBUNG...