Shen Yi, tabib desa yang bajunya penuh tambalan, berlutut di sampingnya.
Tanpa ragu, ia pegang pergelangan tangan itu
dan racun dingin yang seharusnya membunuh siapa pun... tak menyentuhnya sama sekali.
Wanita itu membuka mata indahnya, suaranya dingin bagai embun pagi
"Beraninya kau menyentuh Dewi Teratai?"
Shen Yi garuk kepala, polos seperti biasa.
"Maaf, Nona Lian'er. Kalau nggak dicek nadi, bisa mati kedinginan.
Ini ramuan penghangat dulu, ya? Gratis kok."
Dia tak tahu...
sentuhannya adalah satu-satunya harapan Lian'er untuk mencairkan kutukan abadi yang menggerogoti tubuhnya.
Dan juga satu-satunya yang bisa menghancurkannya selamanya.
Dari gubuk reyot di lereng gunung terpencil, hingga dunia jianghu penuh darah dan rahasia,
seorang tabib miskin dan dewi teratai terikat oleh takdir yang tak terucap.
Apa yang terjadi ketika manusia biasa jatuh cinta pada dewi yang terlarang disentuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kombinasi di Meja Kayu
Shen Yi duduk di meja kayu kecil di dalam gubuk, cahaya pagi yang menyelinap lewat celah dinding bambu menerangi tumpukan daun, akar, dan bunga yang tersebar rapi di atasnya. Meja itu sudah penuh bekas lingkaran dari mangkuk ramuan lama, tapi hari ini permukaannya tertutup kain putih bersih yang Lian'er bentangkan tadi pagi. Di sampingnya, lesung batu kecil, pisau bambu, dan beberapa botol kaca kosong sudah siap menunggu.
Lian'er masuk dari luar membawa keranjang anyaman berisi tanaman segar yang baru dipetik. Wajahnya sedikit merah karena angin pagi, tapi matanya berbinar penuh semangat.
“Aku bawa yang kau minta: daun dewa segar dari sisi utara danau, akar kunyit hitam yang sudah cukup umur, dan tiga helai bunga bulan salju yang mekar semalam. Masih ada embun di kelopaknya.”
Shen Yi tersenyum sambil mengambil keranjang itu. “Terima kasih. Embun pagi ini bagus—energinya masih murni. Kita coba kombinasi baru hari ini. Aku mau lihat apa yang terjadi kalau kita gabungkan daun dewa dengan kunyit hitam dan sedikit ekstrak bunga bulan salju.”
Lian'er duduk di seberangnya, mengeluarkan buku catatan kecil dari laci meja. Buku itu sudah penuh coretan resep, gambar daun, dan catatan kecil tentang efek yang mereka amati selama beberapa minggu terakhir.
“Kombinasi kemarin—daun dewa + jahe merah—berhasil bikin ramuan penghangat yang lebih tahan lama, efeknya sampai enam jam tanpa bikin jantung berdebar. Hari ini kita tambah kunyit hitam untuk anti-inflamasi lebih kuat, dan bunga bulan salju untuk efek menenangkan pikiran. Kau mau mulai dari proporsi berapa?”
Shen Yi memikirkan sejenak sambil memotong akar kunyit hitam menjadi irisan tipis. “Aku mulai dari rasio 3:2:1—tiga bagian daun dewa, dua bagian kunyit hitam, satu bagian bunga bulan salju. Daun dewa punya energi hangat yang stabil, kunyit hitam punya kurkuminoid yang kuat tapi agak panas, bunga bulan salju dingin lembut dan menenangkan. Kita lihat apakah mereka bisa saling seimbang.”
Lian'er mengangguk sambil mencatat. “Kalau terlalu panas, kita tambah daun mint gunung untuk pendingin. Kalau terlalu dingin, kita tambah jahe merah lagi.”
Mereka mulai bekerja. Shen Yi menggiling daun dewa segar di lesung batu sampai jadi pasta hijau keemasan yang mengeluarkan aroma seperti campuran mint dan kayu manis hangat. Lian'er memarut akar kunyit hitam dengan hati-hati—warna ungu kehitaman mengalir seperti tinta, baunya pedas dan tanah. Bunga bulan salju dia petik kelopaknya satu per satu, lalu hancurkan dengan jari sampai mengeluarkan cairan bening yang harum seperti embun malam.
Shen Yi mencampur pasta daun dewa dengan bubuk kunyit hitam terlebih dulu. Warnanya berubah jadi hijau tua keunguan, teksturnya kental seperti madu. Dia menambahkan setetes air dari danau teratai—air yang sudah terkena cahaya teratai selama berbulan-bulan, membuat campuran itu berpendar samar.
“Tambahkan bunga bulan salju sekarang,” kata Shen Yi.
Lian'er menaburkan serpihan kelopak ke dalam mangkuk. Saat bersentuhan, campuran itu bergetar pelan—seperti ada aliran energi kecil yang berputar di dalamnya. Aroma berubah lagi: hangatnya kunyit dan daun dewa bertemu dengan aroma dingin lembut bunga bulan salju, menciptakan wangi yang seimbang, seperti hutan setelah hujan di malam bulan purnama.
Shen Yi mengaduk perlahan dengan tongkat bambu. “Lihat warnanya… hijau keemasan dengan kilau ungu samar. Ini bagus. Sekarang kita tes efeknya.”
Lian'er mengambil sejumput kecil campuran itu, menciumnya dulu. “Baunya… tenang sekali. Seperti bisa bikin pikiran diam.”
Shen Yi mengambil setitik lagi, meletakkannya di lidahnya. Rasa pertama pedas hangat dari kunyit dan daun dewa, lalu dingin lembut dari bunga bulan salju menyusul, dan akhirnya rasa manis samar yang menenangkan. Dalam hitungan detik, dada Shen Yi terasa hangat, tapi pikirannya tiba-tiba tenang—seperti semua kekhawatiran tentang pasien di kota, tentang noda hitam yang pernah ada, tentang masa depan… semuanya mereda sejenak.
“Ini… luar biasa,” kata Shen Yi pelan. “Hangatnya tetap ada, tapi pikiran jadi jernih. Seperti meditasi singkat tanpa harus duduk diam lama. Efeknya langsung, tapi tak bikin mengantuk.”
Lian'er mencoba setitik juga. Matanya membesar. “Aku merasa… ringan. Dingin di paru-paru yang masih sisa dari wabah kemarin… seperti hilang seketika. Dan pikiranku… seperti danau yang tenang, tak ada riak.”
Shen Yi mencatat di buku kecil Lian'er. “Rasio 3:2:1 berhasil. Efek: penghangat tubuh + anti-inflamasi kuat + penenang pikiran dan saraf. Durasi… sekitar 4–6 jam. Efek samping sementara: sedikit rasa manis di mulut setelahnya.”
Lian'er menambahkan catatan sendiri. “Bisa untuk pasien yang stres berat, insomnia karena pikiran gelisah, atau pemulihan setelah sakit berat. Juga bisa untuk kita berdua kalau malam susah tidur karena mikirin pasien.”
Shen Yi mengangguk. “Kita buat versi cairnya juga. Campur dengan air teratai dan sedikit madu gunung biar lebih mudah diminum. Kita namai… ‘Ramuan Teratai Tenang’.”
Lian'er tersenyum. “Bagus. Nanti kita tes lagi dengan proporsi berbeda. Mungkin tambah kumis kucing untuk efek diuretik, atau sereh wangi gunung untuk tambah aroma dan efek anti-mual.”
Shen Yi memandang Lian'er dengan mata penuh rasa syukur. “Aku suka momen seperti ini. Kita berdua, di meja kayu kecil ini, mencoba-coba kombinasi tanaman… seperti anak kecil yang main ramuan, tapi sebenarnya sedang selamatkan orang.”
Lian'er memegang tangan Shen Yi di atas meja. “Ini yang aku suka dari hidup kita sekarang. Tak ada sekte besar, tak ada ritual keabadian, tak ada wabah yang mengancam kota. Cuma kita, tanaman, dan harapan kecil yang kita tanam setiap hari.”
Shen Yi menarik Lian'er ke pelukannya. “Dan kau. Yang paling penting.”
Mereka diam sejenak, mendengar suara angin menyentuh teratai di danau, suara daun bergesekan, dan suara jantung masing-masing yang berdetak pelan.
Di luar, burung kecil mendarat di tepi danau, minum air sambil memandang mereka berdua. Seolah alam sendiri ikut menikmati kedamaian kecil ini.
Shen Yi akhirnya bicara pelan. “Besok kita coba kombinasi baru lagi. Daun dewa + bunga bulan salju + akar ginseng gunung. Aku mau lihat apakah bisa jadi ramuan untuk orang yang baru pulih dari sakit berat—bantu pulihkan energi tanpa bikin terlalu panas.”
Lian'er mengangguk antusias. “Aku setuju. Dan aku mau tambah madu hutan liar yang Pak Li kasih kemarin. Biar rasanya lebih enak.”
Shen Yi tertawa kecil. “Kau mulai suka bagian rasanya ya?”
Lian'er mencubit pipi Shen Yi pelan. “Karena kau yang minum pertama. Aku mau bikin yang enak buat kau.”
Shen Yi memeluknya lebih erat. “Kau sudah bikin semuanya enak… sejak hari pertama kau masuk ke gubuk ini.”
Mereka kembali ke meja kayu. Tangan mereka mulai bekerja lagi—menggiling, mencampur, mencatat, mencoba. Di luar, teratai terus mekar, tanaman obat terus tumbuh, dan hari-hari mereka terus berjalan—sederhana, damai, dan penuh makna.
Di antara aroma jahe, kunyit, mint, dan teratai, Shen Yi dan Lian'er menemukan sesuatu yang lebih berharga dari segala ramuan: kehidupan yang mereka ciptakan bersama, satu daun dan satu akar pada satu waktu.