NovelToon NovelToon
Algoritma Jodoh Di Ruang Sidang

Algoritma Jodoh Di Ruang Sidang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:20
Nilai: 5
Nama Author: Fatin fatin

"Mencintai Pak Alkan itu ibarat looping tanpa break condition. Melelahkan, tapi nggak bisa berhenti"
Sasya tahu, secara statistik, peluang mahasiswi "random" sepertinya untuk bersanding dengan Alkan Malik Al-Azhar—dosen jenius dengan standar moral setinggi menara BTS—adalah mendekati nol. Aris adalah definisi green flag berjalan yang terbungkus kemeja rapi dan bahasa yang sangat formal. Bagi Aris, cinta itu harus logis; dan jatuh cinta pada mahasiswa sendiri sama sekali tidak logis.
Tapi, bagaimana jika "jalur langit" mulai mengintervensi logika?
Akankah hubungan ini berakhir di pelaminan, atau justru terhenti di meja sidang sebagai skandal kampus paling memilukan? Saat doa dua pertiga malam beradu dengan aturan dunia nyata, siapa yang akan menang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatin fatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 13

Jika ada satu hal yang dipelajari Sasya dari dunia pemrograman, itu adalah: Selalu siapkan rencana backup. Namun, dalam urusan katering pernikahan, siapa yang mengira gudang vendor utama akan ludes terbakar tepat empat belas hari sebelum hari-H?

"Sya, tarik napas. Jangan pingsan dulu," suara Putri terdengar panik di seberang telepon.

"Put, ini bukan cuma soal makanan! DP sudah masuk, menu sudah di-lock, dan semua vendor katering lain di kota ini pasti sudah fully booked untuk tanggal cantik itu!" Sasya terduduk di lantai kamarnya, menatap tumpukan undangan yang baru saja selesai dicetak.

Sasya segera menghubungi Alkan. Suaranya sudah serak karena menahan tangis. "Mas... sistem kita crash total. Kateringnya batal. Ibu pasti bakal marah besar kalau tahu ini."

Di seberang sana, terdengar suara ketikan keyboard yang cepat—irama yang biasanya menenangkan Sasya, pertanda Alkan sedang bekerja mencari solusi.

"Sasya, dengar saya. Tenang. Ini adalah variabel tak terduga, tapi bukan berarti tanpa solusi. Saya akan aktivasi 'Prosedur Darurat'. Kamu jangan bicara dulu ke Ibu, biarkan saya yang urus."

Alkan tidak panik. Baginya, masalah adalah algoritma yang butuh logika baru. Ia langsung membuka grup WhatsApp "Ikatan Alumni Informatika" dan "Himpunan Mahasiswa".

Alkan:

"Panggilan darurat. Saya butuh bantuan informasi atau akses ke penyedia jasa boga/restoran besar yang bisa menghandle 1000 porsi dalam dua minggu. Vendor utama saya baru saja kena musibah kebakaran. Ada yang punya jalur?"

Dalam hitungan menit, grup itu meledak. Ribuan alumni yang dulu pernah dibantu Alkan dalam urusan skripsi maupun karier mulai bergerak.

"Pak Alkan, kakak saya manajer hotel bintang lima, saya coba cek ketersediaan dapur mereka!"

"Pak, ibu saya punya usaha katering di kota sebelah, kami siap kirim armada kalau Bapak mau!"

"Mas Alkan, saya punya startup logistik makanan, saya bisa bantu distribusi kalau vendornya jauh!"

Dukungan mengalir deras. Ternyata, kebaikan Alkan selama bertahun-tahun menjadi "aset" yang kini kembali padanya di saat genting.

Sore harinya, Alkan menjemput Sasya. Wajahnya tidak terlihat lelah, justru tampak penuh semangat.

"Kita ke mana, Mas?" tanya Sasya lesu.

"Ke kampus," jawab Alkan singkat.

Mereka menuju kantin pusat kampus yang baru saja direnovasi. Di sana, sudah berdiri beberapa orang, termasuk Ibu Kantin legendaris yang sudah dianggap ibu sendiri oleh para mahasiswa, serta beberapa koki dari restoran ternama milik salah satu alumni sukses Alkan.

"Sya, kenalkan, ini tim 'Katering Darurat' kita," Alkan tersenyum. "Alumni kita yang punya restoran besar setuju untuk menyediakan bahan baku dan koki utama, sementara Ibu Kantin dan stafnya akan membantu operasional di area kampus. Kita akan pakai konsep Fresh from the Kitchen. Makanannya dimasak langsung di area terbuka dekat lokasi pernikahan."

Sasya melongo. "Tapi, Mas... apa ini nggak terlalu berisiko?"

"Justru ini lebih aman. Kita pegang kendali penuh atas supply chain-nya. Dan bonusnya, biayanya jauh lebih efisien. Kita bisa pakai sisa anggarannya untuk santunan tambahan yang tadi kamu inginkan," jelas Alkan.

Ibu Kantin mendekat dan memeluk Sasya. "Nduk, Pak Alkan itu dulu sering bantu bayarin makan mahasiswa yang nggak punya uang. Sekarang giliran kami yang bantu Bapak. Jangan nangis lagi ya, pengantin harus cantik."

Masalah teknis selesai, tapi masalah "birokrasi" keluarga masih ada. Alkan harus menjelaskan perubahan ini pada ibunya.

Malam itu, di rumah Ibu Aminah, Alkan memaparkan rencananya dengan presentasi di tablet, lengkap dengan diagram alur dan testimoni koki.

"Bu," ujar Alkan lembut. "Gudang vendor lama terbakar. Tapi Allah kasih jalan lain melalui tangan orang-orang yang pernah Alkan bantu. Pernikahan ini bukan cuma soal kita, tapi soal berbagi kebahagiaan dengan orang-orang di sekitar kita. Katering kali ini bukan dari vendor komersial, tapi dari hati para alumni."

Ibu Aminah terdiam lama. Beliau melihat foto-foto persiapan di kampus. "Alkan... Ibu nggak tahu kalau kamu sebegitu dihormati oleh mahasiswa-mahasiswamu."

"Itu karena doa Ibu juga," Alkan mencium tangan ibunya. "Boleh ya, Bu, kita pakai cara ini? Rasanya lebih berkah."

Ibu Aminah akhirnya mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Ya sudah. Ibu percaya sama kamu. Ternyata benar, 'algoritma' kejujuran dan kebaikan itu nggak pernah salah hitung."

H-3 pernikahan. Sasya duduk di depan laptopnya untuk terakhir kali sebelum masa "cuti" nikah. Ia membuka file berjudul Logika_Cinta.txt.

Ia menambahkan satu paragraf: “Dulu aku pikir cinta itu adalah perasaan yang statis. Tapi dari Mas Alkan aku belajar, cinta itu dinamis. Dia adalah sistem yang terus belajar (machine learning) dari setiap masalah. Masalah katering ini bukan bencana, tapi 'stress test' untuk membuktikan bahwa kita adalah tim yang hebat.”

Tiba-tiba, sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor yang tidak dikenal. "Selamat, Sasya. Kamu menang kali ini. Saya dengar soal kateringnya. Ternyata pengaruh Alkan jauh lebih besar dari yang saya kira. Saya menyerah." — Sarah.

Sasya tersenyum. Kali ini dia tidak merasa takut atau cemburu. Ia hanya merasa kasihan, karena Sarah tidak pernah mengerti bahwa kekuatan Alkan bukan pada jabatan atau kekuasaan, tapi pada ketulusan.

Sasya menutup laptopnya. Ia siap untuk go-live.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!