NovelToon NovelToon
Maximilien

Maximilien

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dikelilingi wanita cantik / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Kisah Pencinta Yang Asing

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Yang nyaris Terbongkar

Persahabatan antara Delisa Guzzalie Dante dan Kitty Valencia adalah salah satu hal yang paling murni di dunia kampus Columbia yang penuh intrik. Kitty, dengan rambut pirang ikal dan tawa renyah, adalah antitesis dari Guzzel yang kalem. Namun, di balik keceriaannya, Kitty memendam rahasia yang sama dengan banyak gadis lain di kampus, ia juga jatuh hati pada Maximilien Vance.

​"Demi Tuhan, Guzzel, apa kau tidak lihat betapa sempurna pria itu?" Kitty menunjuk ke arah Max yang sedang melewati koridor, seperti patung marmer yang bernapas. "Tatapan dinginnya itu, auranya yang misterius... astaga, dia seperti karakter dari novel gelap yang sangat aku suka."

​Guzzel hanya tersenyum tipis, menyesap kopinya. "Dia tampan, Kit. Tapi kau tahu reputasinya."

​"Aku tahu! Itu yang membuatnya makin menarik!" Kitty berfantasi. "Seandainya aku bisa mencairkan es di hatinya itu. Dia butuh seseorang yang bisa melihat di balik topengnya."

​Guzzel merasakan desiran sakit di dadanya. Kitty tidak tahu, ia sudah melihat di balik topeng itu. Ia sudah mencairkan sebagian kecil es di hati Max. Dan rasa bersalah itu makin besar, membebani rahasianya.

​Suatu sore, saat Guzzel dan Kitty belajar bersama di perpustakaan, Guzzel bangkit sebentar untuk mengambil buku di rak lain. Ponselnya tertinggal di meja, layarnya menyala karena sebuah notifikasi baru masuk.

​Kitty, yang sedang menulis catatan, tak sengaja melirik layar ponsel Guzzel. Sebuah pesan dari aplikasi Veloce menarik perhatiannya.

​V: Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan tanpamu, Lia. Kau satu-satunya cahaya di kegelapan ini. Aku ingin memelukmu sekarang, Lia. Aku ingin kau ada di sini.

​Mata Kitty membelalak. "Lia?" Veloce? Kitty tidak tahu Guzzel menggunakan aplikasi aneh itu. Dan pesan itu... begitu intim, begitu romantis. Siapa "V"? Dan siapa "Lia"? Apakah Guzzel punya rahasia kekasih online yang tidak ia ceritakan?

​Saat Guzzel kembali, Kitty berusaha keras menyembunyikan keterkejutannya. "Guzzel," katanya, mencoba terdengar santai, "kau punya kekasih baru? Kok tidak cerita?"

​Guzzel tersentak. Ia segera meraih ponselnya. "Oh, itu... itu hanya... temanku," ia tergagap, wajahnya memerah. "Teman lama yang tinggal jauh."

​Kitty mengernyit. "Tapi pesannya... sangat romantis, Guzzel. 'Cahaya di kegelapan ini', 'ingin memelukmu'... Astaga, siapa pria ini? Jangan bilang kau merahasiakannya dariku!"

​Guzzel tergagap lagi. "Bukan, Kit, serius. Itu hanya... dia sering bercanda seperti itu." Ia berharap Kitty percaya, tapi sorot mata Kitty yang menyelidik membuatnya merasa tidak nyaman.

​Kitty memicingkan matanya, namun memutuskan untuk tidak mendesak lebih jauh. Ada sesuatu yang janggal, tapi ia tidak ingin merusak persahabatan mereka. Namun, di benaknya, sebuah teka-teki baru telah muncul: Siapa "V," dan mengapa Guzzel menyembunyikannya? Tanpa ia sadari, ia baru saja sedikit mengintip ke dalam dunia rahasia Max.

​Malam itu, Pesta Tahunan Pengusaha Elit New York digelar di sebuah ballroom mewah di Waldorf Astoria. Guzzel hadir bersama ayahnya, Mr. Dante, dengan gaun malam sutra berwarna emerald yang anggun. Ia merasa tidak nyaman di tengah keramaian para konglomerat yang sibuk berjejaring.

​"Guzzel, sayang, perkenalkan ini Mr. Vance," suara ayahnya memecah lamunannya. "Dan ini putra tunggalnya, Maximilien."

​Jantung Guzzel mencelos. Di hadapannya, berdiri Max, mengenakan setelan tuksedo hitam yang sempurna, dengan aura dingin yang lebih pekat dari biasanya. Lampu-lampir kristal memantul di rambut hitamnya, membuatnya tampak seperti pangeran dari kisah gelap.

​Mata Max bertemu dengan mata Guzzel. Tatapan dingin dan hampa itu. Guzzel merasakan semburat rasa sakit. Pria yang semalam merindukan sentuhannya, kini menatapnya seolah ia adalah hama pengganggu.

​Max mengangguk kaku, tanpa senyum, tanpa sapaan. Wajahnya menunjukkan ekspresi muak yang samar. Ia membenci keramaian, membenci acara sosial ini, dan terutama membenci para wanita yang berusaha menarik perhatiannya dengan segala cara.

​Mr. Vance, seorang pria tua dengan wajah keriput dan tatapan tajam, menatap Max dengan tatapan menegur. "Max, tunjukkan sopan santunmu."

​Max hanya mendengus pelan, lalu memalingkan wajahnya, seolah keberadaan Guzzel adalah sesuatu yang menjijikkan. Guzzel merasakan pipinya memanas, harga dirinya terinjak. Meskipun ia tahu alasan Max, rasa sakit itu tetap ada.

​Sepanjang pesta, Guzzel sering kali memergoki Max menatapnya dari jauh, namun tatapan itu selalu diakhiri dengan Max yang memalingkan muka, atau bahkan berbalik badan, menunjukkan penolakan. Beberapa kali, ketika mereka berpapasan di antara keramaian, Max selalu menghindar, menciptakan jarak di antara mereka secepat mungkin.

Seolah sentuhan Guzzel adalah racun yang mematikan.

​Guzzel tahu bahwa ini adalah Max yang sesungguhnya di dunia nyata. Dingin, kasar, membenci semua wanita. Kecuali Lia. Dan ia adalah Lia. Dilema itu terasa seperti beban yang menghimpitnya.

​Beberapa minggu berlalu, pertemuan "tak disengaja" antara Max dan Guzzel semakin sering terjadi. Di kampus, di kafe dekat perpustakaan, bahkan di galeri seni di Chelsea tempat Guzzel magang paruh waktu. Seolah takdir sengaja mempertemukan mereka, menguji batas kesabaran Max dan hati Guzzel.

​Suatu siang, Guzzel sedang makan siang sendirian di kafe kampus. Ia melihat Max duduk di meja sudut, jauh dari keramaian, membaca buku tebal. Saat ia hendak pergi, kakinya tersandung sebuah tas yang tergeletak di lantai. Ia hampir jatuh, namun dengan refleks cepat, tangannya berpegangan pada meja terdekat.

Meja Max.​ Cangkir kopi Max bergeser, dan isinya tumpah sedikit ke buku yang sedang dibacanya.

​"Astaga! Max, aku minta maaf!" Guzzel panik.

​Max mengangkat kepalanya, tatapan matanya tajam dan dipenuhi amarah. "Apa yang kau lakukan?!" suaranya rendah dan penuh ancaman.

​"Aku... aku tidak sengaja," Guzzel tergagap. "Tas itu... aku tersandung."

​Max menatap Guzzel dengan ekspresi jijik yang nyata. Ia mengambil buku yang basah, lalu membersihkannya dengan serbet kasar. "Jauhkan tanganmu," katanya dingin, saat Guzzel mencoba membantu membersihkan. "Aku tidak butuh bantuanmu."

​Max bangkit dari tempat duduknya, meninggalkan buku dan cangkir kopi yang belum habis. Ia berjalan pergi tanpa menoleh sedikitpun, meninggalkan Guzzel yang terdiam membatu, dipermalukan di tengah kafe yang ramai.

​Air mata Guzzel menggenang. Di satu sisi, ia adalah wanita yang paling dicari Max di dunia maya, wanita yang didambakan Max, yang menjadi tempat Max mencurahkan segalanya. Di sisi lain, ia adalah wanita yang paling dibenci Max di dunia nyata, bahkan sentuhan tak sengaja pun bisa memicu kemarahan pria itu.

​Malam itu, Max langsung menghubungi Lia.

​V: Lia, hari ini sangat buruk. Ada wanita bodoh yang mencoba mendekatiku di kafe. Dia menumpahkan kopi ke bukuku. Aku sangat membenci mereka semua, Lia. Aku benci sentuhan mereka, tatapan genit mereka. Mereka semua hanya mencari perhatian. Kecuali kau, Lia. Hanya kau yang membuatku merasa... tidak terancam.

​Guzzel membaca pesan itu di tempat tidurnya, air mata membasahi bantalnya. Hatinya hancur berkeping-keping. Max baru saja menghinanya di kafe, dan sekarang Max mengadu padanya. Ia merasa seperti hidup dalam dua dunia yang saling bertolak belakang, dan kebohongan ini semakin lama semakin menyakitinya.

​Lia: Aku turut sedih mendengarnya, V. Aku tahu itu pasti sulit untukmu. Tapi percayalah, tidak semua wanita seperti itu. Ada yang tulus, ada yang hanya ingin berteman. Dan aku... aku selalu ada untukmu, V. Kau tidak akan pernah sendirian.

​Max membalas pesannya dengan panjang lebar, mencurahkan segala emosinya. Ia mengulangi lagi betapa ia membenci wanita, betapa ia membenci sentuhan, betapa ia membenci segala sesuatu yang berhubungan dengan masa lalunya. Namun, di setiap kalimat, ada satu pengecualian yang selalu ia sebut: Lia.

​V: Lia, aku tidak tahu harus bagaimana tanpamu. Kau adalah satu-satunya yang membuatku tetap waras. Aku ingin sekali bertemu denganmu. Aku ingin melihatmu. Aku ingin memegang tanganmu. Aku ingin kau ada di sini bersamaku, sekarang. Aku sangat merindukanmu, Lia. Sangat.

​Maximedian mengetik kalimat terakhir itu, matanya terpejam, membayangkan wajah Lia, suaranya, senyumnya. Ia mendambakan kehadiran Lia lebih dari apapun. Ia tidak tahu, gadis yang ia bayangkan itu, gadis yang ia rindukan, sedang menangis di kamarnya, hatinya remuk karena kebohongan yang ia ciptakan sendiri.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading 😍😍

1
ren_iren
pliss jangan rusak aurelia dgn dendam ke saudaranya kak....
iluh asrini
cerita yang sangat menarik terimakasih thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!