NovelToon NovelToon
My Annoying Step-Brother

My Annoying Step-Brother

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Pernikahan Kilat / Hamil di luar nikah / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama / Tamat
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Sinar matahari sore menembus jendela ruang tengah, menyinari Araluna yang sedang sibuk dengan palet dan kanvasnya. Di depannya, Arsen duduk bersandar di sofa sambil membaca buku referensi kuliah. Arsen sebenarnya enggan menjadi model dadakan, tapi Luna memaksa dengan alasan "tugas sketsa wajah" yang sebenarnya hanya karangannya saja agar bisa menatap wajah Arsen selama berjam-jam tanpa diprotes.

Luna memegang kuas dengan tangan gemetar. Bukannya menggambar anatomi wajah dengan benar, matanya malah terus meluncur ke arah rahang tegas Arsen, bulu mata cowok itu, hingga ke bibir tipis yang selalu mengeluarkan kata-kata pedas namun ia rindukan.

Ganteng banget sih, jodoh orang—eh, jodoh gue maksudnya, batin Luna meronta.

Karena terlalu asyik melamunkan masa depan pernikahan mereka, Luna tidak sadar tangannya menyenggol botol cat air yang terbuka lebar di samping kanvas.

BRAK!

"Ehh! Aduhh!" Luna memekik saat cairan berwarna biru pekat tumpah ruah, mengotori lantai marmer putih dan mengenai ujung sepatu putih milik Arsen.

Arsen tersentak, ia menutup bukunya dan menatap tumpahan cat itu dengan dahi berkerut dalam. "Araluna! Lo kalau kerja itu pake mata, jangan pake lamunan!"

"Gara-gara lo nih, Kak!" tuduh Luna cepat, menunjuk hidung Arsen dengan kuas yang masih basah. "Lo kenapa harus duduk di situ sambil pasang muka kayak gitu? Gue jadi nggak fokus, tau!"

Arsen melongo, tidak percaya dengan logika "cegil" di depannya. "Lho? Kok gue? Gue dari tadi diem, nggak gerak, bahkan napas aja gue atur biar lo nggak keganggu. Sekarang malah gue yang disalahin?"

"Ya salah lo karena lo ganteng banget sore ini! Mata gue kan jadi nggak bisa liat kanvas, maunya liat lo terus!" Luna mengomel sambil sibuk mengelap lantai dengan tisu seadanya, wajahnya memerah antara malu dan kesal.

Arsen mendengus, mencoba menyembunyikan senyum tipis yang hampir lolos. "Dasar stres. Bersihin yang bener, awas kalau masih lengket."

Kedatangan Sang Pengganggu

Tepat saat suasana mulai mereda, suara klakson motor terdengar dari depan pagar. Tak lama kemudian, bel rumah berbunyi. Arsen bangkit untuk membuka pintu, dan raut wajahnya langsung berubah drastis saat melihat siapa yang berdiri di sana.

"Galaksi? Ngapain lo ke sini?" tanya Arsen dengan nada yang sangat tidak bersahabat.

Galaksi tersenyum lebar, ia membawa satu buket bunga kecil yang terlihat manis. "Eh, Sen. Ada Luna? Gue mau ngajak dia liat pameran seni yang kemarin gue omongin."

Arsen baru saja ingin menjawab "Luna sibuk", tapi tiba-tiba Luna muncul dari balik punggungnya. Gadis itu sudah mengganti kaos belelnya dengan dress hitam selutut yang pas di tubuhnya, memperlihatkan sisi dewasanya yang jarang ia tunjukkan. Rambutnya terurai indah, dan ia memakai parfum yang wanginya memenuhi teras.

"Eh, Kak Galaksi! Udah nyampe ya?" ucap Luna dengan suara yang dibuat selembut mungkin.

Arsen menoleh ke arah Luna dengan tatapan tidak percaya. "Lo... mau pergi sama dia?"

Luna melirik Arsen sekilas, melihat rahang kakaknya yang mengeras adalah pemandangan paling memuaskan hari ini. "Iya dong. Kak Galaksi kan baik, nggak jahil kayak seseorang yang hobi panggil gue bocil."

Luna mendekat ke arah Galaksi, sengaja berdiri sangat dekat hingga lengan mereka bersentuhan. "Yuk, Kak, kita pergi sekarang. Keburu sore."

"Bentar," potong Arsen, suaranya terdengar lebih rendah dan mengancam. "Bunda nggak bakal ijinin lo pergi sama cowok nggak jelas kayak dia."

"Galaksi temen lo sendiri, Kak. Berarti dia jelas dong?" Luna membalas dengan senyum kemenangan. Ia kemudian menatap Galaksi dengan tatapan 'cegil' yang sudah dimodifikasi menjadi tatapan manis. "Ayo, Kak!"

Arsen hanya bisa berdiri mematung di teras, memperhatikan Luna yang dengan ringannya naik ke atas motor Galaksi. Ia melihat bagaimana tangan Luna—yang biasanya hanya memeluk pinggangnya—kini memegang pundak Galaksi untuk menjaga keseimbangan.

"Balik sebelum jam tujuh! Kalau nggak, gue kunciin pintu depan!" teriak Arsen dari kejauhan.

"Cieee, Kakak Tiri cemburu yaaa?" Luna balas berteriak sambil melambaikan tangan, tawanya pecah saat melihat Arsen menendang pot bunga kecil di dekat pagar karena kesal.

Sepanjang perjalanan, Luna sebenarnya tidak peduli dengan apa yang dikatakan Galaksi. Pikirannya hanya satu: Gimana muka Kak Arsen sekarang? Pasti dia lagi mondar-mandir di ruang tamu kayak setrikaan.

Luna tahu, Arsen adalah sosok yang kaku dan jarang menunjukkan perasaan sebenarnya. Tapi sebagai "cegil" profesional, Luna paham betul bahwa cara paling ampuh meruntuhkan kekakuan itu adalah dengan menghadirkan saingan.

Di sisi lain, Arsen di rumah benar-benar tidak bisa tenang. Ia mencoba lanjut membaca buku, tapi setiap kata yang ia baca berubah menjadi bayangan Luna yang sedang tertawa bersama Galaksi. Ia membuka ponselnya berkali-kali, melihat jam yang terasa berjalan sangat lambat.

"Bocil itu... beneran mau nyari mati ya," gumam Arsen sambil melempar ponselnya ke sofa. "Gue kasih hati, malah minta Galaksi. Liat aja nanti pas lo balik."

Malam ini, Araluna mungkin sedang pergi dengan cowok lain, tapi ia tahu pemenang sebenarnya adalah dia, karena saat ini, pikiran Arsen Sergio sepenuhnya telah ia jajah tanpa sisa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!