NovelToon NovelToon
Santet Kelamin

Santet Kelamin

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Duniahiburan / Selingkuh / Dendam Kesumat / PSK / Playboy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...

Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?

Baca ceritanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teguh

Pagi di desa disambut dengan kabut tipis yang menyelimuti rumpun bambu, namun bagi Bimo, fajar itu tidak membawa kesegaran. Ia terbangun di atas tumpukan jerami gudang kayu dengan tubuh yang kaku dan napas yang terasa berat. Bau busuk itu masih di sana, setia seperti bayangan, namun kini bercampur dengan bau apak kayu tua.

Ibu tirinya bahkan tidak sudi memberinya air hangat untuk sekadar membasuh muka. Dari balik dinding papan, Bimo hanya mendengar makian wanita itu yang sedang menyapu halaman, mengutuk-ngutuk "nasib sial" karena kedatangan anak tiri yang berpenyakit.

Dengan sisa harga diri yang sudah remuk, Bimo memutuskan keluar dari persembunyiannya. Ia tidak tahan lagi jika harus berdiam diri di gudang itu . Ia teringat satu nama: Teguh.

Teguh adalah sahabat sepermainannya sejak kecil. Dulu, mereka sering mandi di sungai dan mencuri mangga bersama. Saat Bimo sukses di Jakarta dan pulang dengan mobil sewaan, ia sering memamerkan kekayaannya di depan Teguh, sementara Teguh hanya tersenyum tulus sambil tetap setia bertani di lahan sempit peninggalan orang tuanya. Bimo sering meremehkan Teguh sebagai "orang desa yang ketinggalan zaman", namun kini, kaki Bimo justru melangkah menuju rumah kecil di pinggir sawah itu.

Pelukan yang Tak Menolak

Perjalanan Bimo menuju rumah Teguh adalah sebuah siksaan mental. Orang-orang desa yang sedang berangkat ke sawah atau mencuci di sungai langsung menoleh dengan wajah ngeri. Bau busuk yang dibawa angin seolah memberi peringatan sebelum sosok Bimo terlihat.

"Heh, itu si Bimo anaknya Pak Darmo, kan?" bisik seorang warga sambil menutup hidung dengan caping. "Kena azab itu pasti. Baunya seperti bangkai yang lewat."

Hinaan itu masuk ke telinga Bimo seperti tetesan cuka di atas luka. Namun, langkahnya terhenti saat ia sampai di depan sebuah gubuk bambu sederhana yang bersih. Di depan teras, seorang pria dengan sarung kumal dan kaos oblong sedang mengasah sabit. Itu Teguh.

Teguh mendongak. Matanya yang teduh menatap sosok pria lusuh yang berdiri gemetar di depan pagarnya. Teguh mengendus udara, ia merasakannya—sebuah aroma kematian yang amat sangat tajam. Namun, reaksi Teguh sungguh di luar dugaan Bimo.

Teguh meletakkan sabitnya, berdiri, dan berjalan mendekat.

"Bimo? Ini kamu, Bim?" tanya Teguh lembut.

"Gue... gue hancur, Guh..." suara Bimo pecah dalam tangis.

Tanpa ragu, tanpa menutup hidung, dan tanpa rasa jijik yang dibuat-buat, Teguh melangkah maju dan memeluk Bimo dengan erat. Pelukan seorang sahabat sejati. Bimo terisak hebat di bahu Teguh. Selama berminggu-minggu, semua orang menjauhinya, menghinanya, dan menganggapnya sampah. Namun di sini, di pelukan pria yang sering ia remehkan ini, Bimo merasa kembali menjadi manusia.

"Sudah, Bim. Sudah. Ayo masuk. Jangan dengarkan omongan orang," ajak Teguh sambil membimbing langkah Bimo yang pincang masuk ke dalam rumahnya yang sempit namun terasa sangat luas karena kerelaan hatinya.

Perawatan dari Hati yang Tulus

Di dalam rumahnya, Teguh tidak bertanya banyak di awal. Ia tahu sahabatnya butuh kenyamanan, bukan interogasi. Ia segera menyalakan tungku di dapur, merebus air dalam kuali besar.

"Gue ceritain semuanya, Guh... Gue jahat sama orang. Gue kena santet," bisik Bimo sambil duduk di kursi bambu.

Teguh hanya mengangguk pelan sambil memasukkan serai, daun sirih, dan serutan kayu secang ke dalam air mendidih. "Setiap orang punya masa lalu yang kelam, Bim. Tapi Tuhan selalu kasih jalan buat yang mau pulang. Kamu sudah sampai di sini, berarti kamu sudah mau pulang."

Teguh dengan cekatan menyiapkan bak mandi kayu di belakang rumah. Ia mencampur air panas itu dengan berbagai rempah-rempah yang aromanya sangat kuat untuk menutupi bau busuk dari tubuh Bimo.

"Mandilah, Bim. Biar air ini menenangkan sarafmu," ujar Teguh.

Saat Bimo mandi, Teguh duduk di depan pintu kamar mandi, memegang tasbih kayu yang sudah menghitam. Ia mulai membacakan ayat-ayat suci dengan suara rendah yang merdu. Teguh bukan ustadz besar, ia hanya orang desa yang taat, namun setiap huruf yang keluar dari mulutnya terasa seperti obat bagi Bimo.

Anehnya, saat lantunan doa itu terdengar, ulat-ulat di dalam tubuh Bimo tidak lagi mengamuk. Mereka seolah "terbius" oleh ketulusan doa Teguh. Rasa panas di selangkangan Bimo mereda untuk pertama kalinya sejak berminggu-minggu. Air rebusan rempah itu perlahan melunturkan lendir-lendir amis di kulit Bimo, meski ia tahu ulat itu masih ada di dalam, setidaknya secara fisik ia merasa sedikit segar.

Jamuan Sederhana di Tengah Penderitaan

Selesai mandi, Teguh meminjami Bimo sarung dan baju bersih miliknya. Meski baju itu sudah tipis karena sering dicuci, Bimo merasa baju itu jauh lebih mewah daripada kemeja kantornya yang dulu.

Teguh menyuguhkan sepiring nasi hangat dengan sambal korek dan tahu goreng. "Makan, Bim. Badanmu butuh tenaga."

Bimo makan dengan lahap, air matanya sesekali jatuh ke atas nasi. Di rumah bapaknya sendiri ia diusir ke gudang, namun di rumah Teguh yang lantainya masih tanah, ia dijamu seperti tamu agung.

"Guh... kenapa lu masih mau terima gue? Gue bau bangkai, Guh. Orang-orang bilang gue terkutuk," tanya Bimo di sela makannya.

Teguh tersenyum tipis, matanya menatap sawah di luar jendela. "Bim, bau itu cuma di kulit. Kalau hati kita masih mau bersujud, Tuhan nggak liat seberapa busuk raga kita. Gue temen lu dari kecil. Gue nggak liat lu sebagai 'Bimo yang sukses' atau 'Bimo yang busuk'. Gue cuma liat Bimo, temen main gue yang lagi kesasar."

Bimo terdiam. Kalimat Teguh menghantam hatinya lebih keras daripada kutukan Ratih. Ia menyadari betapa dangkalnya hidupnya selama ini, mengejar kemewahan dan wanita dengan cara yang kotor, sementara kebahagiaan sejati justru ada pada kesederhanaan dan ketulusan seperti yang dimiliki Teguh.

Malam Penjagaan

Malam harinya, Teguh bersikeras agar Bimo tidur di dalam rumah, di atas kasur kapuk satu-satunya miliknya. Teguh sendiri memilih tidur di atas tikar pandan di lantai tanah di samping Bimo.

"Lu tidur di sini, Bim. Biar gue yang jaga di bawah," kata Teguh.

Teguh tidak langsung tidur. Ia menyalakan lampu minyak kecil dan kembali memutar tasbihnya. Ia membacakan doa-doa perlindungan, meminta agar sahabatnya diberikan kekuatan menghadapi cobaan ini. Doa Teguh bukan doa yang meminta agar santet itu segera hilang, melainkan doa agar hati Bimo diberikan keikhlasan untuk meminta maaf pada orang yang telah ia sakiti.

Di dalam tidurnya, Bimo merasa sangat tenang. Untuk pertama kalinya, ia tidak bermimpi buruk tentang ulat atau belatung. Suara doa Teguh yang konsisten menjadi penawar racun di telinganya.

Kesadaran Bimo

Tengah malam, Bimo terbangun sejenak. Ia melihat Teguh yang tertidur dalam posisi duduk bersandar ke dinding, dengan tasbih masih di tangannya. Bau busuk dari tubuh Bimo memang masih ada, namun aroma rempah-rempah yang disediakan Teguh memberikan sedikit harapan.

Bimo menatap sahabatnya itu dengan rasa bersalah yang teramat dalam. Kenapa gue nggak dari dulu kayak Teguh? Kenapa gue harus menyakiti Ratih? pikirnya.

Untuk pertama kalinya, Bimo tidak menyalahkan Ratih. Ia mulai menyalahkan dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa bau busuk ini adalah cerminan dari jiwanya yang selama ini memang sudah busuk sebelum santet itu datang. Di rumah kecil inilah, di bawah penjagaan seorang sahabat miskin yang taat, Bimo mulai memahami bahwa perjalanan menuju kesembuhan bukan tentang dukun atau obat, melainkan tentang pengakuan dosa.

1
Bp. Juenk
Bagus kisah nya. cinta ya g tulis dari seorang gadis desa berubah menjadi pembunuh. karena dikhianati.
Halwah 4g
iya ka..ada lanjutannya kok
Rembulan menangis
gantung
Bp. Juenk
ooh masih dalam bentuk ghaib toh. belum sampe ke media
Bp. Juenk
pantesan. Ratih nya terlalu lugu
Halwah 4g: hehehehe..maklum dari kampung ka 🤭
total 1 replies
Bp. Juenk
sadis ya si ratih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!