NovelToon NovelToon
Kontrak Dua Minggu

Kontrak Dua Minggu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Wanita Karir
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Marisa Sartika Asih sedang berada di titik terendah hidupnya. Dalan satu hari, ia kehilangan pekerjaan dan batal menikah karena tunangannya, Bara, berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Ditengah keputusasaan dan jeratan kebutuhan biaya rumah sakit ibunya di kampung, Marisa bertemu dengan Dalend, seorang Pria asing yang misterius.

Dalend menawarkan sebuah kesepakatan tak terduga. Marisa cukup berpura-pura menjadi pasangannya di depan keluarganya selama dua minggu hingga satu bulan. Imbalannya adalah uang tunai sebesar 50 juta rupiah. Terdesak oleh gengsi dan kebutuhan ekonomi, Marisa pun dihadapkan pada pilihan sulit antara harga diri atau jalan keluar instan dari keterpurukannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Pesta Pertunangan, Kehancuran yang Dipaksakan, dan Janji yang Sejati.

Sepuluh hari berlalu dalam kabut persiapan yang intensif. Dalend dan Marisa menghabiskan hampir setiap jam bersama, memilih venue, mencicipi katering, dan yang paling sulit, berlatih menjadi pasangan sempurna.

Jarak fisik di antara mereka-yang dipaksakan oleh Marisa-kian menyempit oleh keintiman emosional. Dalend, dengan perhatian kecilnya, dan Marisa, dengan ketulusan dan kecerdasannya, telah membangun fondasi hubungan yang jauh melampaui kontrak $100 juta.

Hari itu tiba. Pesta pertunangan Dalend Angkasarapu dan Marisa Sartika Asih diadakan di ballroom salah satu hotel bintang tujuh di Jakarta,  atas desakan Nyonya Elvira.  Aula itu dipenuhi Karangan bunga mawar putih dan lampu kristal,  sebuah panggung kemewahan yang dirancang untuk memamerkan status keluarga Angkasa Raya.

Marisa, dalam balutan gaun malam rancangan Dalend-warna champagne yang ramping dan elegan-tampak menakjubkan. Rambutnya disanggul, wajahnya dirias sempurna, dan di lehernya, ia mengenakan kalung berlian biru safir milik Nyonya Elvira yang ia pinjam lagi.

Dalend, mengenakan tuksedo yang dibuat khusus, berdiri di sampingnya di atas panggung, tangannya merangkul pinggang Marisa dengan posesif yang kini terasa alami. Dalend terlihat lebih serius dan dewasa dari sebelumnya, ia tampak seperti pewaris yang siap mengambil alih dunia.

"Lo gugup, Tunangan?" Bisik Dalend, bibirnya hampir menyentuh telinga Marisa. 

Marisa menarik napas. Ia tidak gugup karena akting, melainkan karena perpisahan yang akan datang. "Gue gugup karena ini adalah babak terakhir sandiwara kita. Setelah ini, gue harus pergi."

Dalend meremas pinggang Marisa, senyumnya menghilang sesaat. "Kita akan bicarakan itu nanti. Sekarang, berikan mereka pertunjukan terbalik dalam hidup kita."

...

Seluruh ballroom itu adalah mata yang mengamati. Nyonya Elvira dan Tuan Wijaya berdiri di dekat panggung,  wajah mereka campuran antara kebanggaan  (terhadap kesuksesan acara) dan kecurigaan (terhadap  Marisa). Keluarga Tirtayasa juga hadir, dan Aurelia terlihat cantik namun muram.

Marisa dan Dalend harus berjalan di antara tamu, menyapa, dan menerima ucapan selamat.  Mereka tampil sempurna, Dalend penuh canda, dan Marisa memberikan tatapan cinta yang meyakinkan. Saat mereka berhadapan dengan Nyonya Elvira, ibu Dalend memberikan senyum sinis.

"Marisa, kamu terlihat pantas mengenakan safir itu. Sayangnya, berlian itu tidak bisa dibeli dengan uang, dan tidak akan bertahan lama di tangan orang yang hanya berniat menipu," bisik Nyonya Elvira.

Hampir tercekat. Nyonya Elvira tahu sesuatu? Marisa tersenyum lembut. "Saya menghargai kekhawatiran Anda, Nyonya. Tapi, saya tidak menipu. Saya menepati janji saya pada Dalend."

Nyonya Elvira terdiam, terkejut dengan ketenangan Marisa.

Tiba saatnya puncak acara, pertukaran cincin. Di atas nampan beludru, terletak cincin berlian safir biru yang Dalend desain khusus. Cincin itu sederhana namun elegan, batu safirnya menonjol diapit berlian kecil. Dalend mengambil cincin itu, tatapannya terkunci pada mata Marisa. Di depan ratusan pasang mata, ia berlutut satu lutut.

Ini adalah momen akting. Tapi tindakan Dalend ini adalah kejutan yang nyata, bahkan bagi Marisa.

"Marisa Sartika Asih," Dalend memulai, suaranya lantang dan tulus. "Gue mungkin adalah pewaris paling berantakan yang pernah Lo temui. Gue lari dari tanggung jawab, lari dari keluarga gue, dan bahkan lari dari diri gue sendiri. Tapi saat Lo datang, Lo enggak lari. Lo menghadapi gue, Lo membangunkan gue, dan Lo memberi gue anchor yang gue butuhkan."

Air mata mulai menggenang di mata Marisa. Marisa rasa, Dalend tidak mengucapkan dialog akting. Dalend mengucapkan perasaan yang sesungguhnya.  "Lo membuat gue sadar, kehormatan dan janji lebih mahal dari uang warisan. Gue janji, di detik ini, gue akan jadi pria yang layak untuk Lo. Bukan cuma pewaris Angkasa Raya, tapi Dalend yang Lo kenal. Maukah Lo menerima cincin ini, sebagai janji bahwa gue akan selalu memperjuangkan Lo, apapun yang terjadi?"

Marisa tidak bisa berkata-kata. Dalend telah mengubah klimaks sandiwara mereka menjadi pengakuan cinta yang menghancurkan. 

Dalend tidak menunggu jawaban. Ia menyelipkan cincin safir biru itu ke jari manis Marisa. Cincin itu pas sempurna. 

Marisa, menangis bahagia (sekaligus pahit), hanya bisa mengangguk. Saat ia mengangguk,  ia melihat di sudut ruangan, di antar kerumunan,  Bima tersenyum dingin, memegang ponselnya.  Ia tahu. Bima telah mengambil gambar atau video adegan itu, dan kini, saat Dalend sedang rentan, Bima akan menyerang.

...

Sesi pemotongan kue dimulai. Dalend berdiri, memeluk Marisa, dan berbisik di telinganya.  "Gue enggak bercanda soal janji gue, Marisa." 

"Emm," bisik Marisa kembali. "Tapi, kita harus mengakhirinya sekarang." Marisa mendorong Dalend pelan, melangkah ke tepi panggung, dan mengambil mikrofon.

"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua tamu, terutama Nyonya Elvira dan Tuan Wijaya, atas acara yang indah ini," Marisa memulai, suaranya manis namun ada nada tegas yang tak terhindarkan.

Nyonya Elvira tersenyum penuh kemenangan Marisa akan memberikan pidato terima kasih yang emosional. 

"Pertunangan ini sangat berarti bagi saya. Ini adalah bukti bahwa cinta sejati dapat ditemukan di tempat yang paling tidak terduga,"

Marisa menoleh ke Dalend. Dalend menatapnya, bingung, tapi tersenyum bangga. Ia memutar cincin safir biru di jarinya. "Malam ini adalah malam yang indah,"  senyumannya tulus. Kedua matanya mulai berkaca-kaca.

Suara riuh memenuhi ballroom.

Saat itu, Bima, yang sedari tadi menunggu, mengambil langkah ke tengah ballroom. 

"Nona Marisa!" Bima bersuara lantang. "Dia adalah seorang penipu!"

.

Bima memproyeksikan sebuah gambar di layar besar di samping panggung. Itu adalag video transfer bank-bukti bahwa Dalend mentransfer $50 juta dua kali ke rekening Marisa. Di bawahnya, Bima memproyeksikan foto selfie Marisa di depan kafe mantan tempat ia bekerja, dan foto ibunya di rumah sakit kecil di Surabaya. 

"Marisa Sartika Asih hanya datang ke Jakarta untuk memeras uang Tuan Dalend. Menjadi kekasih palsu Dalend, dan Dia menggunakan ibunya yang sakit sebagai alasan untuk mendapatkan $100 juta. Tidak ada cinta, hanya kontrak bisnis kotor!" Bima berteriak, menunjukkan bukti yang ia kumpulkan.

Ballroom menjadi riuh. Semua mata tertuju pada Marisa. Nyonya Elvira memucat karena marah. Aurelia tersenyum puas.

Marisa yang pucat melihat Dalend di sampingnya. Wajahnya tidak marah. Wajahnya hancur namun karena kepercayaan mereka dikhianati oleh Bima, dan karena Bima telah merusak perpisahan mereka.

...

Dalend melangkah maju, menghadap Bima, matanya memancarkan amanah yang dingin. "Bima," desis Dalend. "Hentikan. Sekarang."

"Tidak, tuan Dalend. Keluarga ini harus tahu! Dia bukan tunangan Anda, dia hanya..."

"Dia adalah wanita yang gue cintai!" Teriak Dalend, memotong ucapan Bima.

Dalend menoleh ke semua tamu, suaranya lantang menembus riuh.

"Ya! Bima benar! Ini dimulai dari kontrak! Gue membayar Marisa untuk jadi tunangan gue, tapi sekarang gue ingin lihat di sini malam ini bukanlah akting! Itu adalah cinta yang tumbuh di tengah kontrak yang kotor!"

Ia meraih tangan Marisa. "Gue membayar dia untuk tinggal. dia menolak cek $200 juta dari Mama,  karena dia memilih janji pada gue! Dia membuat gue memilih untuk tetap di sini dan bertanggung jawab! Uang itu... itu adalah hadiah, bukan bayaran! Dia sudah membayar semua biaya ibunya, dan dia bilang akan pergi setelah malam ini! Sesuai janji yang kami buat awal itu," lirih diakhir.

Dalend berbalik, menatap Tuan Wijaya. "Papa, gue mungkin bodoh, tapi gue belajar berharga dari wanita ini. Gue belajar value dari dia. Dan jika mencintai Marisa adalah kesalahan, maka gue rela jadi pewaris yang salah!"

Air mata Marisa mengalir deras. Dalend sedang mengorbankan segalanya untuk melindungi Marisa, bahkan setelah Bima mengungkap kebenaran. Marisa tahu, ia harus pergi, sekarang. Jika ia tetap tinggal, ia tidak hanya akan menghancurkan karir Dalend di Angkasa Raya, tetapi juga kehormatan terakhir Dalend  di mata ayahnya. 

Marisa menarik tangan Dalend. Ia melepas cincin safir biru itu, dan meletakkannya di telapak tangan Dalend. "Gue enggak akan menghancurkan hidup Lo, Dalend," bisik Marisa, tatapannya penuh rasa sakit. "Lo sudah punya kekuatan untuk jadi pria yang hebat. Lo enggak butuh gue lagi." Ia menoleh ke Tuan Wijaya. "Tuan Wijaya, saya minta maaf. Saya memang hanya orang asing yang memanfaatkan keadaan.  Cinta Dalend itu nyata. Dia berhak bahagia. Saya harap Anda memaafkan putra Anda."

kemudian Marisa melangkah turun dari panggung, mengabaikan teriakan Nyonya Elvira.  Ia berjalan lurus ke arah Bima. "Selamat, Tuan Bima. Lo menang," Marisa berkata, suaranya rendah. "Lo mendapatkan kembali rutinitas Lo. Dan sekarang, gue bebas."

Marisa berjalan cepat menuju pintu keluar ballroom. Ia tidak menoleh ke belakang,  tetapi ia mendengar Dalend memanggil namanya di tengah kerumunan yang berbisik.

...

Marisa berlari keluar, air matanya tak terbendung. Ia melepas high heels di lobi hotel dan berjalan cepat ke jalanan. Ia harus Segera pergi sebelum keluarga Angkasa Raya mengirim pengawal.

Tiba-tiba, ia merasakan sebuah tangan meraih lengannya.

"Marisa!" Dalend, terengah-engah, mengejarnya.  Ia masih mengenakan tuksedo, rambutnya sedikit berantakan. 

"Lo gila, Dalend! Balik! Lo akan kehilangan semua yang Lo perjuangkan!" Marisa berteriak.

"Gue enggak peduli!" Dalend menahannya, memegang kedua bahu Marisa. "Lo enggak boleh pergi seperti ini!"

"Gue harus pergi! Bima sudah membongkar semuanya! Gue sudah dapat uang gue! Gue harus menepati janji gue untuk menghilang!"

Dalend menatapnya, matanya penuh air mata, tetapi juga penuh dengan api baru.

"Lo memang menepati janji Lo, Marisa," Dalend berkata, suaranya parah. "Tapi gue juga punya janji. Janji bahwa gue akan memperjuangkan Lo, apapun yang terjadi." Dalend menatapnya, matanya penuh air mata, tetapi juga penuh dengan api baru.

"Itu hanya akting!"

"Tidak, itu bukan lagi akting!" Dalend membantah. Dalend tidak lagi meminta izin. Ia mencium Marisa. Bukan pura-pura ciuman yang dipertontonkan. Bukan ciuman hormat di kening.

Ini adalah ciuman nyata yang lama terpendam-putus asa, manis, dan dipenuhi perpisahan yang menyakitkan. Bibirnya menekan Marisa, membuktikan bahwa semua yang ia rasakan sejak di halte, di gerbong kereta, hingga di panggung, adalah nyata. Marisa membalas ciuman itu, melepaskan semua perasaan yang ia tahan selama ini.

Setelah beberapa detik, Dalend melepaskan ciumannya. "Gue enggak akan bilang bye, Marisa," Dalend berbisik, kening mereka masih bersentuhan. "Lo sudah mengurus ibu Lo. Sekarang, biarkan gue mengurus masalah gue. Lo pergi. Ambil semua uang Lo. Jaga diri Lo."

Dalend menyelipkan cincin safir biru itu kembali ke jari manis Marisa.

"Gue akan buktikan pada Papa dan Mama bahwa gue layak dipercaya. Gue akan buktikan pada Bima bahwa gue enggak akan bisa dibeli. Tapi yang paling penting, gue akan buktikan pada Lo bahwa Dalend Angkasarapu akan mencari Lo. Seberapa jauh pun Lo bersembunyi. "

"Jangan cari gue, Dalend," Marisa memohon, air matanya membasahi pipi Dalend.

"Gue harus, Tunangan, "Dalend tersenyum pahit. "Karena kontak $100 juta itu sudah berakhir, dan sekarang, gue ingin memulai kontrak baru: Kontrak seumur Hidup."

Dalend melepaskan Marisa, berbalik, dan berlari kembali ke hotel, kembali ke kehancuran yang ia tinggalkan.

Marisa berdiri sendirian di jalanan, merasakan dinginnya angin malam dan hangatnya cincin safir di jarinya. Marisa tahu, ia baru saja menyelamatkan Dalend, tetapi ia telah kehilangan dirinya sendiri. Ia memanggil taksi, siap untuk melarikan diri, siap untuk menunggu Dalend Angkasarapu menepati janji gilanya.

...

1
Sherlys01
Semangat yaa😁💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!