"Kau tahu apa masalahmu, Salena? Kau terlalu sibuk menjadi sempurna sampai lupa caranya menjadi manusia." — Zane Vance.
"Dan kau tahu apa masalahmu, Vance? Kau pikir dunia ini panggung sirkusmu hanya karena teman-teman bodohku memanggilmu Dewa. Dasar alay." — Salena Ashford
Zane Vance (21) pindah ke Islandia bukan untuk mencari musuh. Tapi saat di hari pertama dia sudah mendebat Salena Ashford—si putri konglomerat kampus yang kaku dan perfeksionis—perang dunia ketiga resmi dimulai.
Semua orang memuja Zane. Mereka memanggilnya "Dewa dari New York" karena pesonanya yang bad boy, dingin, dan Urakan Ganteng (ini kata teman Selena), kecuali Salena.
Namun, semakin keras Salena berusaha menendang Zane dari tahtanya, semakin ia terseret masuk ke dalam rahasia hidup cowok itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Momen Intim
Malam itu, setelah hari yang panjang dan penuh drama di kampus, Salena mencoba menenangkan pikirannya dengan mandi air hangat yang lama.
Begitu ia keluar dan merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk, ponselnya berdenting. Sebuah notifikasi muncul: Zane.S.Vance baru saja membagikan kiriman.
Salena segera membukanya. Itu adalah foto Zane yang berdiri di samping sebuah mobil balap modifikasi yang tampak gahar di bawah lampu-lampu sirkuit yang terang.
Latar belakangnya adalah Arena Balap. Salena mengernyitkan dahi, ia tahu Zane suka kecepatan, tapi ia mengira foto ini adalah kenangan lama dari New York.
Namun, saat ia memperbesar foto itu, matanya tertuju pada tato kupu-kupu yang baru saja terlihat jelas di leher Zane. Itu foto baru, batin Salena.
Tepat saat ia hendak menutup aplikasi, ponselnya bergetar hebat.
Panggilan video masuk: Zane 😈.
Salena menekan tombol hijau tanpa berpikir panjang. Layar ponselnya langsung menampilkan wajah Zane yang masih berada di dalam mobil balapnya. Rambutnya sedikit acak-acakan karena baru melepas helm, dan keringat tipis membasahi keningnya.
"Kau belum tidur, Nona?" suara Zane terdengar serak, bercampur dengan raungan mesin mobil lain di latar belakang.
Salena menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, menyangga ponselnya dengan bantal. Ia lupa bahwa ia hanya mengenakan tank top sutra dengan tali satu jari, pakaian tidur yang sangat minim yang biasa ia kenakan saat sendirian. "Aku baru saja melihat fotomu. Sejak kapan kau ada di arena balap?"
Zane tidak langsung menjawab. Matanya yang tajam terpaku pada layar, menatap Salena yang tampak begitu polos namun sangat menggoda dengan rambut basah yang tergerai.
Posisi Salena yang setengah berbaring membuat pakaian tidurnya sedikit melonggar, memperlihatkan belahan dadanya yang indah di depan kamera.
Zane terdiam, jakunnya naik-turun saat ia menelan ludah dengan susah payah. Ia merasa udara di dalam mobil balapnya mendadak menjadi sangat panas, jauh lebih panas dari suhu mesin yang baru saja ia pacu.
"Zane? Kau melamun?" tanya Salena, masih tidak sadar bahwa posisinya sedang diuji oleh tatapan lapar sang Dewa New York.
Zane berdehem, berusaha keras mengalihkan fokusnya kembali ke jalan pikiran yang benar, meski tangannya mencengkeram kemudi dengan erat. "Ah, ya. Aku butuh sedikit adrenalin untuk membakar sisa-sisa kemarahan karena Kharel tadi pagi. Arena ini tempat terbaik untuk itu."
Zane mencoba bicara tentang spesifikasi mesin mobilnya, menceritakan betapa cepatnya ia melahap tikungan terakhir, namun matanya terus-menerus tercuri oleh pemandangan di layar ponselnya.
Salena yang tampak nyaman dan hangat di kamarnya sendiri adalah kontras yang sangat menyiksa bagi Zane yang sedang berada di tengah dinginnya sirkuit.
"Kau tahu, Sal..." Zane menjeda kalimatnya, suaranya kini terdengar lebih rendah dari sebelumnya.
"Mesin mobil ini mungkin cepat, tapi jantungku berdetak jauh lebih cepat hanya dengan melihatmu lewat layar ini."
Salena tertawa kecil, mengira itu hanya gombalan konyol Zane yang biasa.
"Konyol sekali. Fokuslah pada balapanmu, Zane."
"Aku serius," bisik Zane, matanya menggelap. "Dan Salena... tolong perbaiki posisi dudukmu atau matikan kameranya sekarang juga sebelum aku benar-benar memacu mobil ini kembali ke rumahmu dalam waktu lima menit."
Salena baru menyadari arah pandangan Zane. Ia menunduk dan tersentak saat melihat betapa rendahnya potongan baju tidurnya dari sudut pandang kamera. Wajahnya langsung memerah padam hingga ke telinga. Ia segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Zane! Mesum!" pekik Salena malu.
Zane tertawa lepas, tawa yang terdengar sangat puas dan maskulin. "Jangan salahkan aku. Kau sendiri yang tampil begitu... seksi, Salena. Aku hampir lupa bagaimana caranya bernapas."
Zane menatap Salena dengan binar jenaka namun penuh kerinduan. "Tidurlah. Aku akan menyelesaikan satu putaran lagi lalu pulang. Mimpi indah, Sayang-ku yang sangat seksi."
Salena mematikan panggilan itu dengan jantung yang berdebar kencang. Ia membenamkan wajahnya di bantal, merasa malu sekaligus senang.
Di sisi lain, di arena balap, Zane menyandarkan kepalanya di setir, mencoba mendinginkan pikirannya yang baru saja meledak karena kecantikan Salena yang tak terduga.
🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 🥰