NovelToon NovelToon
Terjerat Sumpah Tuan Muda

Terjerat Sumpah Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Murni
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hazard111

Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.

Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.

Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.

Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.

"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Puing Harapan di Cakrawala Kelabu

​Dinginnya angin malam di lantai tiga puluh bangunan yang belum selesai itu terasa seperti pisau yang menguliti kulit. Nala merasakan tubuhnya mati rasa. Ia terikat di sebuah kursi kayu yang diletakkan tepat di bibir lantai beton yang kasar. Di bawah kakinya, kegelapan Jakarta hanya dihiasi oleh kerlip lampu jalanan yang tampak sekecil ujung jarum. Setiap kali embusan angin kencang datang, kursi itu bergeser beberapa milimeter, menciptakan bunyi gesekan pasir dan beton yang membuat jantung Nala seolah berhenti berdetak.

​Nala mencoba mengatur napasnya yang tersengal. Ia bisa merasakan perih di pergelangan tangannya akibat jeratan tali tambang yang kasar. Namun, rasa perih itu tidak sebanding dengan kengerian saat ia melirik ke arah kirinya. Di sana, Burhan Prasetya berdiri dengan tongkat kayu yang ia genggam erat. Wajah pria tua itu tidak lagi menunjukkan sisa-sisa kemanusiaan. Matanya cekung, memantulkan cahaya bulan yang pucat dengan pancaran kegilaan yang murni.

​"Jangan menatap ke bawah, Nala," suara Burhan terdengar serak, terbawa angin yang menderu. "Sesaat lagi, kau akan menjadi bagian dari kegelapan itu. Kau adalah harga yang harus dibayar suamimu atas keangkuhannya."

​Nala menelan ludah dengan susah payah. "Anda tidak akan mendapatkan apa pun dengan membunuh saya, Tuan Burhan. Mas Raga akan menghancurkan Anda lebih kejam dari ini."

​Burhan tertawa, sebuah tawa kering yang terdengar sangat memuakkan. "Dia sudah menghancurkanku, Nak. Aku tidak punya apa-apa lagi. Tapi dia? Dia memiliki segalanya. Dan aku ingin melihat bagaimana rasanya memiliki segalanya namun tidak bisa menyelamatkan satu-satunya wanita yang ia cintai karena kakinya yang lumpuh itu."

​Suara lift konstruksi yang berderit memecah ketegangan. Pintu besi yang berkarat itu terbuka, menyingkap sosok Raga yang duduk di kursi rodanya.

​Raga menggerakkan kursi rodanya perlahan ke area terbuka. Wajahnya yang tidak lagi tertutup topeng tampak sepucat kertas, namun matanya memancarkan amarah yang sangat pekat. Ia berhenti sekitar lima meter dari Burhan, di tempat di mana tidak ada dinding yang melindungi mereka dari jurang di belakang.

​"Aku sudah di sini, Burhan," ucap Raga. Suaranya rendah, bergetar oleh amarah yang ia tekan sekuat tenaga. "Lepaskan Nala. Ambil semua sahamku, ambil semua asetku. Aku akan menandatangani apa pun yang kau mau."

​Burhan menggeleng perlahan, sebuah senyum sinis tersungging di bibirnya. "Uang sudah tidak ada gunanya bagiku, Raga. Aku ingin sesuatu yang lebih puitis. Aku ingin melihatmu duduk di sana, terpaku pada kursimu yang mewah, saat aku mendorong istrimu ke pelukan maut. Aku ingin kau hidup selamanya dengan ingatan bahwa kakimu yang tidak berguna itulah yang membunuh istrimu."

​"Jangan lakukan itu," pinta Raga. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pria yang dikenal dingin ini memohon dengan suara yang nyaris pecah. "Dia tidak bersalah. Kesalahanmu adalah denganku, bukan dengannya."

​"Kesalahanku adalah membiarkanmu tetap hidup lima tahun lalu!" teriak Burhan, suaranya melengking tinggi, menyaingi suara angin. "Kau menghina kesetiaanku! Kau membuangku seperti sampah setelah semua yang kulakukan untuk kakekmu! Sekarang, biarlah kau merasakan bagaimana rasanya dibuang oleh takdir."

​Burhan melangkah mendekati kursi Nala. Ia meletakkan tangannya di sandaran kursi tersebut. Nala memejamkan mata, air matanya jatuh membasahi pipi yang pucat. Ia menatap Raga untuk terakhir kalinya, memberikan sebuah senyum lemah yang sarat akan perpisahan.

​"Mas Raga, terima kasih untuk segalanya," bisik Nala pelan.

​"Jangan bicara seolah ini akhir, Nala!" seru Raga, tangannya mencengkeram erat sandaran kursi rodanya hingga kuku jarinya memutih.

​Burhan menatap Raga dengan pandangan penuh kemenangan. "Lihatlah dia, Raga. Tatap matanya. Karena ini adalah detik terakhir kau bisa melihatnya dalam keadaan bernapas."

​"Burhan, aku peringatkan kau!" Raga mencoba memajukan kursi rodanya, namun Burhan menendang kaki kursi Nala hingga kursi itu miring ke belakang, tertahan hanya oleh satu kaki kayu yang masih berpijak di beton.

​"Catur ini berakhir di sini, keponakanku," ucap Burhan dingin.

​Dengan satu dorongan yang tegas dan tanpa ragu, Burhan melepaskan kursi itu ke arah jurang.

​Dunia seakan membeku bagi Raga. Ia melihat Nala jatuh ke belakang, matanya yang terbelalak penuh ketakutan adalah hal terakhir yang ia lihat sebelum tubuh istrinya ditelan kegelapan. Raungan yang bukan lagi suara manusia keluar dari tenggorokan Raga. Itu adalah suara dari sesuatu yang hancur, namun sekaligus bangkit.

​Pada detik yang sangat krusial itu, sandiwara lima tahun Raga Adhitama runtuh. Tidak ada pengakuan, tidak ada perintah. Tubuhnya bergerak melampaui logika medis mana pun. Ia bangkit dari kursi rodanya dengan kekuatan yang eksplosif. Kaki yang selama ini ia sembunyikan kekuatannya kini menapak dengan sangat kokoh di atas beton.

​Raga berlari. Langkahnya begitu cepat, menghantam lantai gedung dengan kekuatan yang meninggalkan jejak debu. Ia tidak berhenti di tepi gedung. Ia melompat.

​Keheningan seketika menyelimuti mereka saat gravitasi mengambil alih. Dalam jatuh bebas yang mematikan itu, Raga melihat kain gaun Nala yang melambai liar. Ia memaksakan tubuhnya untuk menukik, merobek hambatan udara. Tangannya yang besar berhasil meraih pinggang Nala dan menariknya masuk ke dalam pelukan.

​Raga memutar posisinya di udara. Ia melihat sebuah bangunan di sisi kanan yang pembangunannya baru mencapai setengah jalan. Struktur itu memiliki lantai yang menjorok keluar dengan lapisan kaca yang belum sepenuhnya terpasang.

​"Pegang aku, Nala!" Raga mendekap kepala Nala ke dadanya, menjadikan dirinya sendiri sebagai perisai daging.

​Detik berikutnya, suara kaca yang pecah menggelegar di tengah malam. Punggung Raga menghantam lapisan kaca tebal di lantai sepuluh gedung sebelah. Guncangan itu sangat hebat, ribuan serpihan kaca tajam menyayat kulit dan pakaian Raga saat mereka menembus penghalang tersebut. Momentum jatuh mereka belum berhenti. Tubuh mereka terlempar masuk ke dalam area konstruksi, terseret di atas lantai semen yang masih kasar dan berdebu.

​Dunia Nala serasa meledak oleh rasa sakit dan kebingungan. Namun, di tengah semua itu, ia merasa hangat. Ia tidak merasakan dinginnya lantai atau tajamnya kaca, karena tubuh Raga mendekapnya dengan sangat posesif, menanggung setiap benturan yang seharusnya menghancurkan tubuh Nala.

​Akhirnya, tubuh mereka terhenti setelah menghantam tumpukan semen basah dan tumpukan karung pasir di pojok ruangan. Bau semen yang tajam dan debu konstruksi yang menyesakkan segera memenuhi indra penciuman.

​Hening. Sunyi yang mematikan merayap.

​Nala perlahan membuka matanya yang berat. Ia merasakan cairan hangat merembes di gaun hijaunya. Ia mendongak dan melihat wajah Raga yang sangat dekat. Mata suaminya terpejam, wajahnya dihiasi goresan luka dari serpihan kaca, dan darah segar mengalir dari sudut bibirnya.

​"Mas... Mas Raga?" Nala memanggil dengan suara yang sangat parau, nyaris tidak terdengar.

​Tidak ada jawaban. Raga tidak bergerak sedikit pun. Punggung pria itu, yang menjadi tumpuan benturan kaca dan beton, tampak hancur dan berdarah-darah. Nala mencoba melepaskan tangannya yang terikat, namun tubuh Raga yang berat menindihnya, memberikannya perlindungan terakhir bahkan dalam keadaan tidak sadar.

​Dunia di sekitar Nala perlahan mulai memudar. Rasa sakit di kepalanya dan syok yang luar biasa mulai menarik kesadarannya ke dalam kegelapan. Hal terakhir yang ia ingat adalah detak jantung Raga yang terasa sangat lemah di bawah telinganya, sebelum akhirnya semuanya menjadi hitam dan sunyi.

1
ren_iren
bagus ceritanya 🤗
Almahara Ara
keren bgt cerita nya... ga bertele tele... best thor
Risma Hye Chan
kalimatnya sngat indah perpaduan mkna kiasan dan sesungguhnya ak suka baca novel yg sprti ini kalimat ny tidak membosankan mksih kak
Bunga
lanjut Thor
ceritanya bagu😍
Hazard: bagus mbak bunga🤭
total 1 replies
Ayu Rahayu
lajuttt kak .Hem suka bgettt crityaa😢
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjut thor
𝐈𝐬𝐭𝐲
Luar biasa
Bunga
semangat Thor
Bunga
salam kenal thor😍
Hazard: salam kenal🙏
total 1 replies
moon
karyanya menarik, suka dengan cerita yang taak bertele-tele
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!