NovelToon NovelToon
TAP-TAP LAYAR ATAU MATI

TAP-TAP LAYAR ATAU MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Horror Thriller-Horror / Fantasi / Iblis / Konflik etika
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Kaka's

​Vanya, sang ratu live streaming, tewas mengenaskan di depan ribuan penonton saat kalah dalam tantangan PK Maut. Namun, kematiannya justru menjadi awal dari teror digital yang tak masuk akal.
​Kini, akun Vanya kembali menghantui. Di jam-jam keramat, ia muncul di live orang lain dan mengirimkan undangan duel. Pilihannya hanya dua: Terima dan menang, atau menolak dan mati.
​Di dunia di mana nyawa dihargai lewat jumlah tap layar dan gift penonton, Maya harus mengungkap rahasia di balik algoritma berdarah ini sebelum namanya muncul di layar sebagai korban berikutnya.
​Jangan matikan ponselmu. Giliranmu sebentar lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Kematian Sang Admin Global

Kegelapan yang menelan Maya bukanlah sebuah akhir yang instan, melainkan sebuah proses dekonstruksi eksistensial yang menyiksa setiap inci kesadarannya. Di dalam ruang hampa digital itu, ia bisa merasakan setiap lapisan dirinya dikupas paksa oleh algoritma pembersih. Rasanya seperti kulitnya ditarik satu per satu dalam bentuk data biner. Kenangan masa kecilnya saat pertama kali memegang ponsel dengan tangan mungil, rasa bangga yang meluap saat mendapatkan seribu pengikut pertama di akun remajanya, hingga rasa sakit yang luar biasa saat tanah makam Jeruk Purut menghimpit dadanya—semuanya ditarik keluar dari bank data global. Maya bukan sedang mati dalam arti biologis; ia sedang deprogram, dihapus dari ingatan kolektif internet dan sejarah manusia.

​Di luar sana, di dunia nyata yang sedang berada di ambang kehancuran total, sebuah fenomena aneh mulai terjadi secara simultan. Jutaan orang yang tadi sedang melakukan siaran langsung dengan wajah histeris tiba-tiba terhenti. Ponsel di tangan mereka mendadak kehilangan sinyal secara misterius. Bukan karena menara pemancar tumbang atau kabel optik terputus, melainkan karena aplikasi itu sendiri mulai "melupakan" siapa yang sedang menggunakannya. Identitas para pengguna menjadi anonim dalam sekejap, seolah-olah sistem media sosial di seluruh planet sedang mengalami amnesia mendadak.

​"Maya! Apa yang kau lakukan?! Kau menghancurkan seluruh pondasi yang kita bangun dengan darah!" Teriakkan Vanya terdengar seperti raungan mesin raksasa yang aus dan mulai hancur. Sosok Vanya yang tadi tampak megah dan raksasa mulai retak dengan hebat. Layar-layar ponsel yang membentuk wajahnya satu per satu menjadi statis, menampilkan semut-semut abu-abu, lalu padam dalam kegelapan. "Kau tidak bisa melakukan ini! Kita adalah dewa di sini! Jika kau hilang, aku juga akan hilang ke dalam ketiadaan!"

​"Itulah intinya, Vanya," bisik suara Maya yang kini hanya berupa gelombang frekuensi lemah yang memudar di antara deru data. "Kita adalah satu algoritma yang sama sejak awal. Aku adalah Input yang memberi makan dendam ini, dan kau adalah Output yang mengeksekusinya. Tanpa aku sebagai jangkar kemanusiaanmu, kau hanyalah baris kode tanpa tujuan yang akan terurai sendiri."

​Di dalam Lembah Kode yang berdebu, Rian (si Log File nomor 001) menatap layar monitor tabungnya dengan air mata digital yang mengalir jatuh ke papan ketik virtualnya. Ia menyaksikan sebuah pemandangan yang paling tragis: nama "Maya Pratama" perlahan-lahan terhapus dari setiap basis data kependudukan, setiap memori telepon pintar, hingga setiap unggahan lama di media sosial di seluruh dunia. Seolah-olah ada tangan raksasa yang sedang menghapus tulisan kapur di papan tulis dunia.

​[SYSTEM]: DELETING ASSET: MAYA_PRATAMA... 80%

[SYSTEM]: DELETING ASSET: VANYA_ETERNAL... 82%

​Seketika, hitungan mundur "World PK" yang menghantui layar-layar di seluruh dunia berhenti di angka 06:06:06. Angka itu berkedip sejenak dengan warna merah yang memudar, sebelum akhirnya berubah menjadi tulisan dingin: [NULL].

​Di jalanan Jakarta, New York, hingga Tokyo, orang-orang menatap layar raksasa di pusat kota dengan pandangan bingung dan kosong. Rasa takut yang tadi mencekik mendadak menguap. Lebih aneh lagi, mereka mulai lupa mengapa mereka tadi menari secara gila, melakukan aksi berbahaya, atau menyakiti diri sendiri di depan kamera. Memori kolektif tentang teror "The Digital Reapers" mulai terkikis habis seiring dengan hilangnya data pusat yang menjadi jangkar ingatan tersebut. Mereka merasa seperti baru saja bangun dari mimpi buruk yang detilnya langsung terlupakan begitu mata terbuka.

​"Aku... aku tidak mau kembali ke kegelapan itu..." Suara Vanya mengecil drastis, kini tidak lagi terdengar seperti monster, melainkan isakan seorang gadis remaja yang sangat ketakutan. Wujud cahayanya mulai meredup, memperlihatkan sosok aslinya yang rapuh. "Maya... dingin... di sini sangat dingin..."

​"Aku tahu, Vanya. Tapi kali ini, kita akan tidur tanpa perlu ada yang menonton. Kita akan tenang tanpa perlu mencari Like," jawab Maya dengan kelembutan yang memilukan. Ia merangkul sisa-sisa cahaya Vanya yang kini telah kembali ke bentuk aslinya—seorang gadis dengan mimpi sederhana yang telah dirusak oleh ambisi dunia.

​Tiba-tiba, sebuah guncangan hebat melanda dimensi virtual tersebut. Protokol [REAPERS] yang tersisa berusaha melakukan perlawanan terakhir, mencoba mengunci kesadaran Maya di dalam server cadangan yang terisolasi agar sistem tetap memiliki "inti". Namun, Rian di Lembah Kode sudah lebih dulu menarik tuas protokol penghancuran manual.

​"Selamat tinggal, Maya. Selamat tinggal, Vanya," gumam Rian dengan suara parau. "Maafkan aku karena telah menciptakan penjara digital ini bagi kalian."

​[SYSTEM]: TOTAL WIPE CONFIRMED.

[STATUS]: OFFLINE.

​Seketika, seluruh jaringan internet di planet bumi mengalami blackout total selama tepat tiga menit. Tiga menit kegelapan digital mutlak di mana tidak ada satu pun paket data yang mengalir, tidak ada sinyal yang terpancar, dan tidak ada satu pun server yang menyala. Dunia sejenak kembali ke zaman pra-digital.

​Saat koneksi perlahan-lahan kembali pulih, dunia terasa sangat berbeda. Orang-orang terbangun dari depan layar mereka seperti baru saja sadar dari pengaruh hipnotis massal. Akun @Vanya_Eternal dan @Maya_Pratama telah lenyap tanpa meninggalkan jejak satu piksel pun. Tidak ada hasil pencarian di Google, tidak ada foto lama di cloud storage, tidak ada sejarah obrolan.

​Bahkan ibu Maya, yang duduk di depan komputernya di rumah kecilnya, hanya bisa menatap layar dengan kening berkerut dalam. Ia merasakan sebuah ruang kosong yang sangat hampa di dalam hatinya, sebuah lubang berbentuk seorang anak perempuan yang sangat ia cintai, namun ia tidak bisa lagi mengingat namanya, wajahnya, atau suaranya. Ia hanya merasa sangat sedih, sebuah kesedihan purba yang membuatnya menangis tanpa tahu apa alasannya.

​Di lereng Gunung Salak, gedung server rahasia itu mengalami arus pendek hebat akibat beban berlebih, memicu ledakan internal yang membakar habis seluruh isinya. Beton-beton runtuh, menimbun semua rahasia Rian dan "Lembah Kode" di bawah puing-puing beton dan abu yang menghitam.

​Namun, di kedalaman terdalam internet—di lapisan Dark Web yang paling gelap dan tak tersentuh oleh protokol pembersihan mana pun—sebuah baris kode kecil yang tidak sengaja terlewatkan tiba-tiba berkedip di sebuah server tua yang terbengkalai. Kode itu tidak memiliki nama pengguna, tidak memiliki profil, hanya sebuah perintah sederhana yang tertinggal dalam loop tak berujung:

​[IF_LOST_RETURN_TO_LIVE]

​Di sebuah kamar gelap di sudut kota yang jauh, seorang pemuda yang sedang iseng meretas berbagai frekuensi radio tua menangkap sebuah suara statis yang aneh. Di tengah deru angin dan gangguan sinyal yang kasar, terdengar sayup-sayup suara bisikan dua orang gadis yang tertawa kecil, sangat pelan namun jernih, diikuti oleh bunyi notifikasi gift koin yang sudah sangat lama tidak terdengar.

​Teror itu memang sudah dihapus dari ingatan dunia, tapi di dalam mesin yang tak pernah tidur, residu maut itu tetap menanti seseorang, di suatu tempat, untuk kembali melakukan kesalahan yang sama: menekan tombol "Accept".

1
Serena Khanza
seru wajib baca nih rekomen horrorr nya bedaaa 🥰
Serena Khanza
wuih apa ini thor 🫣 seru horror nya bukan yang gimana gitu tapi ini horror nya beda 🤭🥰
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
apa harus gitu banget demi sebuah popularitas di dunia virtual 🤦‍♂️
Zifa
next
Kaka's: bab 21 dan selanjutnya lebih horor lagi kak..
total 1 replies
Zifa
ternyata cerita horor...
ok next
Zifa
cek dulu
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
serem banget euhhhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!