Hidup Almira dan Debo nyaris sempurna. Tumbuh besar di Washington D.C. dengan fasilitas diplomat, mereka melihat ayah mereka, Pak Baskoro, sebagai pahlawan tanpa celah. Namun, impian itu hancur berkeping-keping dalam satu malam di Bandara Soekarno-Hatta.
Koper yang seharusnya berisi oleh-oleh dari Amerika, berubah menjadi maut saat petugas menemukan bungkusan kristal putih seberat 5 kilogram di dalamnya. Ayah mereka dituduh sebagai kurir narkoba internasional.
Di tengah keputusasaan, teman-teman berkhianat dan harta benda disita. Almira dan Debo dipaksa menghadapi realita pahit: mereka kini adalah anak seorang "kriminal". Di tengah badai tersebut, muncul Risky, seorang pengacara muda yang dingin dan misterius. Risky setuju membantu, namun ia memperingatkan satu hal:
"Kebenaran terkadang lebih menyakitkan daripada kebohongan. Apakah kalian siap menemukan jawaban yang sebenarnya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Aroma antiseptik di rumah sakit kepolisian di Batam biasanya akan membuat Almira merasa sesak, namun hari ini, udara yang masuk ke paru-parunya terasa begitu bersih. Di luar jendela kamar perawatan, matahari pagi memantul di permukaan laut Kepulauan Riau, menciptakan kerlipan perak yang tenang—sangat kontras dengan kegelapan gua karang yang hampir merenggut nyawa mereka dua hari lalu.
Risky terbaring di ranjang dengan perban yang melilit kepala dan bahu kirinya. Wajahnya masih pucat, dan ada beberapa lebam ungu di pipinya, tapi matanya yang tajam kini tampak lebih teduh. Ia tidak lagi menatap dunia dengan kecurigaan seorang pengacara yang selalu mencari celah; ia menatap Almira yang sedang mengupas buah apel di samping ranjangnya.
"Kau seharusnya tidur, Al," suara Risky masih parau. "Kau sudah terjaga sejak kita dipindahkan dari dermaga."
Almira hanya tersenyum tipis, matanya tetap fokus pada pisau kecil di tangannya. "Aku sudah cukup banyak tidur selama setahun terakhir karena tidak berani menghadapi kenyataan. Sekarang, aku tidak ingin melewatkan satu detik pun saat kenyataan itu akhirnya memihak pada kita."
Ia menyerahkan sepotong apel pada Risky. Risky menerimanya, namun alih-alih memakannya, ia justru menggenggam tangan Almira.
"Panji baru saja dari sini," kata Risky pelan. "Sekjen sudah resmi ditahan. Bersama dengannya, ada tujuh pejabat tinggi lainnya yang terlibat dalam laporan 'Arus Biru' milik ibumu. Mereka tidak bisa berkutik karena data di hardisk itu memiliki bukti aliran dana yang sangat detail."
Almira menghela napas panjang. Ada rasa lega yang luar biasa, namun juga ada sedikit kekosongan. "Jadi, semuanya sudah selesai?"
"Secara hukum, ya. Tapi secara hidup..." Risky menatap jari-jari Almira yang saling bertaut dengan jarinya. "Ayahmu berencana kembali ke Washington? Panji bilang kementerian menawarkan restorasi posisi diplomatiknya."
Almira menggeleng perlahan. "Ayah sudah memutuskan untuk benar-benar pensiun. Dia ingin menghabiskan sisa waktunya di Bandung, mengurus kebun mawar dan mungkin menulis memoar—bukan tentang politik, tapi tentang Ibu. Dia ingin Debo punya sesuatu untuk diingat selain rasa takut."
"Dan kau?" tanya Risky, matanya mengunci pandangan Almira. "Apa kau akan kembali ke D.C.?"
Almira terdiam sejenak. Pertanyaan itu adalah sesuatu yang ia hindari sejak mereka mendarat di Singapura. Kehidupannya yang dulu ada di sana—teman-temannya, impian diplomasi, dan kenyamanan yang ia kenal. Namun, di hadapannya sekarang ada pria yang telah menjadi jangkar baginya di tengah badai paling hebat dalam hidupnya.
"Aku punya tawaran magang di sebuah firma hukum di Jakarta," jawab Almira dengan nada menggoda. "Katanya pemilik firmanya adalah seorang pengacara muda yang sangat berbakat, sedikit sombong, dan punya kebiasaan buruk melompat dari jendela lantai tiga."
Risky terkekeh, meski gerakan itu membuat bahunya yang diperban terasa nyeri. "Firma itu sedang tidak punya kantor sekarang. Kantor lamaku pasti sudah disegel atau dihancurkan oleh orang-orang Sekjen."
"Kalau begitu, kita bangun yang baru," ucap Almira mantap. "Bukan firma hukum yang hanya bicara soal pasal, tapi firma yang mencari jawaban untuk orang-orang seperti Ayah. Orang-orang yang suaranya hilang di telan sistem."
Risky menarik tangan Almira, mencium punggung tangannya dengan lembut. "Itu jawaban yang paling indah yang pernah kudengar."
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Debo masuk dengan kamera tergantung di lehernya, wajahnya berseri-seri. Di belakangnya, Pak Baskoro berjalan dengan langkah yang lebih tegak, tidak lagi membawa beban berat di bahunya.
"Kak! Risky! Kalian harus lihat berita!" Debo menunjukkan layar ponselnya. "Masyarakat berkumpul di depan kantor kementerian. Mereka meletakkan bunga mawar putih untuk mengenang Ibu. Mereka menyebutnya 'Gerakan Ratna'. Kebenaran benar-benar menang, Kak!"
Pak Baskoro mendekati ranjang Risky, lalu meletakkan tangannya di kaki Risky yang tertutup selimut. "Terima kasih, Risky. Aku tahu Adiwangsa akan sangat bangga melihat anaknya telah memutus rantai itu dengan cara yang paling mulia."
Risky mengangguk perlahan, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Om. Untuk tetap percaya padaku."
Sore itu, saat sinar matahari mulai melunak, mereka semua berkumpul di balkon kamar rumah sakit yang menghadap ke laut. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi ketakutan akan langkah kaki yang mengejar di kegelapan. Untuk pertama kalinya, jawaban yang mereka temukan bukan lagi sebuah beban, melainkan sebuah sayap.
Almira bersandar pada bahu Risky yang sehat, menatap garis cakrawala yang tak terbatas. Perjalanan mereka mungkin dimulai dari sebuah koper hitam yang penuh kebohongan, namun berakhir di sebuah senja yang penuh dengan kebenaran. Dan saat ia merasakan remasan lembut tangan Risky di bahunya, Almira tahu bahwa jawaban yang sesungguhnya adalah ini: keberanian untuk mencintai di tengah reruntuhan.
TAMAT