cerita kehidupan sehari-hari (slice of life) yang menyentuh hati, tentang bagaimana tiga sahabat dengan karakter berbeda saling mendukung satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kelembutan
Dewi yang melihat ekspresi Rohita yang tampak sedih dan iri langsung merasa kasihan padanya. Dia mengangguk cepat dan kemudian mengambil ember untuk menyiram tanaman dari sumur di belakang kost. “Iya Kak Rohita, mari kita bersihkan kebun ini agar kembali cantik seperti dulu,” ucapnya dengan suara lembut namun penuh semangat.
Mereka berdua pergi ke kebun yang sudah penuh dengan rumput liar dan tanaman yang mulai layu. Rohita mulai membersihkan rumput liar dengan tangan nya, sementara Dewi mengambil sekop kecil untuk menggemburkan tanah di sekitar tanaman. Dewi seringkali melihat ke arah Rohita yang bekerja dengan wajah murung, lalu mencoba membicarakan hal-hal yang bisa membuat nya lebih bahagia.
“Kak Rohita, nanti kita bisa menanam bunga kesukaan Kak ya? Bunga mawar atau melati mungkin?” tanya Dewi dengan senyum lembut. Rohita hanya mengangguk tanpa melihatnya. “Kalau kamu mau aja Dewi,” jawabnya dengan suara singkat. Namun Dewi tidak menyerah dan terus berbicara tentang rencana mereka untuk merawat kebun, seperti bagaimana mereka bisa membuat taman kecil yang indah di sana.
Saat mereka sedang bekerja, Dewi melihat bahwa Rohita kesulitan untuk menggali tanah di sekitar pohon kecil yang sudah mulai miring. Dia segera mendekati nya dan membantu menggali tanah dengan hati-hati. “Biarkan saya bantu Kak,” ucapnya dengan suara lembut, kemudian mulai bekerja dengan sabar. Rohita melihatnya dengan tatapan yang penuh rasa terima kasih, lalu mulai membantu nya dengan lebih santai.
Dewi juga mulai bercerita tentang kehidupan nya bersama Bintang, bagaimana Bintang selalu merawat nya dengan baik dan selalu menghargai rasa malu nya. Namun dia tidak terlalu banyak berbicara tentang hal itu karena dia tidak ingin membuat Rohita merasa lebih iri. Sebaliknya, dia mencoba mengubah pembicaraan ke hal-hal yang menyenangkan tentang masa lalu mereka berdua bersama Devi di kost.
“Kak masih ingat tidak ketika kita pertama kali bertemu? Devi langsung mengganggu Kak dengan suara nya yang keras, lalu Kak marah besar,” ucap Dewi dengan sedikit tertawa. Rohita juga mulai tersenyum sedikit saat mengingatnya. “Ya dong, aku hampir mau mengusir dia dari kost saat itu,” jawabnya dengan suara yang lebih ringan.
Setelah beberapa jam bekerja, kebun mulai terlihat lebih rapi dan bersih. Tanaman-tanamannya yang dulu layu mulai terlihat lebih segar setelah disiram oleh Dewi. Rohita berdiri tegak dan melihat hasil kerja mereka dengan senyum puas. “Terima kasih ya Dewi, kalau bukan karena kamu aku tidak akan punya semangat untuk merawat kebun ini,” ucapnya dengan suara penuh rasa terima kasih. Dewi hanya tersenyum lembut dan mengangguk. “Tidak apa-apa Kak, ini juga kebun kita kan?” jawabnya dengan senyum hangat.
Malam itu, setelah mereka selesai makan malam yang dimasak bersama, Rohita dan Dewi duduk di ruang tamu kost sambil menonton acara televisi dengan suara kecil. Suasana kamar terasa hangat dan nyaman setelah beberapa hari yang sepi dan sunyi.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang lembut. Dewi langsung mengenali suara nya dan berdiri dengan cepat untuk membuka pintu. Bintang berdiri di luar dengan wajah yang tampan dan tersenyum ramah. “Halo sayang, aku datang menjemput kamu untuk tinggal di rumah aku seperti biasa,” ucapnya dengan suara lembut, kemudian memberikan ciuman lembut di dahi Dewi.
Dewi melihat ke arah Rohita yang sedang menatap mereka dengan wajah yang sedikit murung. Dia merasa kasihan dan kemudian menghadap Bintang dengan ekspresi yang sedikit ragu. “Bintang, maaf ya… aku tidak bisa pergi malam ini. Aku ingin menemani Kak Rohita saja,” ucapnya dengan suara pelan namun tegas. Bintang sedikit terkejut namun segera memahami alasan nya.
“Tidak apa-apa sayang, aku mengerti. Kamu bisa tinggal di sini saja malam ini ya. Kalau ada apa-apa hubungi aku ya,” ucapnya dengan senyum lembut, kemudian memberikan ciuman lagi di dahi nya sebelum berpamitan dan pergi. Setelah pintu kost ditutup, Dewi kembali duduk di sebelah Rohita dengan wajah yang penuh perhatian.
“Kenapa kamu tidak pergi sama dia Dewi? Aku tidak apa-apa kok sendirian,” kata Rohita dengan suara yang sedikit kesal dengan dirinya sendiri karena membuat Dewi harus tinggal. “Tidak apa-apa Kak, aku juga ingin menemani Kak. Kamu sudah sendirian terlalu lama,” jawab Dewi dengan suara lembut, kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Rohita dengan lembut.
Rohita merasa kehangatan dari tubuh Dewi dan mulai merasa sedikit lebih baik. Dia menyandarkan tangan nya di pundak Dewi dengan lembut dan kemudian mulai berbicara tentang hal-hal yang membuat nya merasa kesepian selama ini. “Aku merasa sangat sendirian ketika kalian pergi. Kamar ini terasa sangat kosong tanpa suara kalian berdua,” ucapnya dengan suara pelan, mata mulai berkaca-kaca.
Dewi mengangkat kepalanya dan melihatnya dengan mata yang penuh kasih sayang. “Kami juga merindukan Kak Rohita banget lho Kak. Kamu adalah orang yang paling penting bagi kami kedua,” ucapnya dengan suara penuh emosi, kemudian memeluk Rohita dengan erat. Rohita menangis pelan sambil memeluknya kembali, merasa sangat bersyukur memiliki teman seperti Dewi dan Devi.
Setelah beberapa saat, mereka berdua mulai merasa lapar lagi. “Kak Rohita, aku merasa lapar nih,” ucap Dewi dengan sedikit tertawa. Rohita juga mulai tersenyum dan berdiri dengan cepat. “Kalau begitu kita pergi ke pasar malam aja ya, pasti masih ada banyak makanan yang enak di sana,” katanya dengan suara yang lebih ceria dari biasanya. Dewi langsung bersemangat dan segera mengambil jaket nya untuk pergi bersama Rohita ke pasar malam yang tidak jauh dari kost.
Tanpa berlama-lama, Rohita dan Dewi segera keluar dari kost dan berjalan menuju pasar malam yang sudah mulai ramai dengan orang-orang. Cahaya lampu warna-warni dari berbagai kios menerangi jalanan, sementara aroma makanan lezat mulai menguap ke udara membuat mereka semakin lapar.
“Sangat ramai ya Kak,” ucap Dewi dengan senyum lebar, melihat sekeliling dengan mata yang bersinar kegembiraan. Rohita juga mulai tersenyum melihat suasana yang ramai dan hidup ini, sesuatu yang sudah lama tidak dia rasakan. “Ya dong, pasar malam selalu ramai terutama kalau malam hari seperti ini,” jawabnya dengan suara yang lebih ringan.
Mereka mulai berjalan dari satu kios ke kios lain, melihat berbagai macam makanan yang ada. Dewi langsung tertarik dengan kios bakso yang mengeluarkan aroma harum. “Kita makan bakso aja ya Kak?” tanya nya dengan penuh harapan. Rohita mengangguk cepat dan mereka segera duduk di kursi kecil yang tersedia di depan kios tersebut.
Setelah memesan dua mangkuk bakso dengan mie dan bihun, mereka duduk sambil menunggu makanan nya datang. Dewi mulai bercerita tentang bagaimana dia dan Bintang sering datang ke pasar malam ini untuk makan bersama, namun dia tidak terlalu banyak berbicara agar tidak membuat Rohita merasa tidak nyaman. Sebaliknya, dia mencoba mengajak Rohita berbicara tentang hal-hal yang dia sukai.
“Kak Rohita suka makanan apa selain bakso?” tanya Dewi dengan penasaran. “Aku suka makan sate atau juga nasi goreng,” jawab Rohita dengan senyum lembut. Saat itu juga makanan mereka datang, dan mereka langsung mulai menikmatinya dengan lahap. Rasanya sangat lezat dan membuat mereka merasa lebih bahagia.
Setelah selesai makan bakso, mereka berjalan lagi ke dalam pasar malam untuk melihat makanan lain. Rohita membeli keripik pisang yang renyah untuk dibawa pulang, sementara Dewi membeli es krim coklat yang sudah lama tidak dia nikmati. Mereka duduk di bangku kecil di tengah pasar malam sambil menikmati es krim dan keripik pisang, menyaksikan orang-orang yang lewat dengan berbagai aktivitas mereka.
“Kak Rohita, besok kita pergi ke pantai aja ya? Biar bisa bersantai dan menghirup udara segar,” ajak Dewi dengan senyum lembut. Rohita mengangguk dengan senang hati. “Baiklah, kita pergi aja. Kalau bisa kita ajak Devi juga kalau dia tidak ada jadwal sama devan,” jawabnya dengan suara penuh semangat.
Setelah merasa cukup puas dan tidak lapar lagi, mereka berjalan pulang ke kost dengan langkah santai. Udara malam yang sejuk menyegarkan tubuh mereka, sementara bintang-bintang mulai muncul di langit yang gelap. Mereka berbincang tentang rencana mereka untuk besok hari sambil berjalan, suasana hati mereka sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Ketika sampai di kost, mereka langsung beristirahat dengan perasaan yang cukup puas dan bahagia.