Sinopsis
Aruna Rembulan Maharani
Gadis dengan kata-kata yang membelenggu.
Ia adalah editor handal yang hidup di balik tirai kata-kata puitis namun kosong. Di permukaan, Aruna terlihat tenang dan terkendali, seorang gadis yang pandai memoles keburukan dunia menjadi narasi yang indah.
Biru Laksmana Langit
Laki-laki dengan lensa yang memburu kebenaran.
Lahir di tengah gelimang harta keluarga Laksmana, Biru justru memilih menjadi anomali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Operasi jemput fajar
Dini hari itu, langit Jakarta masih berwarna biru tinta saat sebuah truk pengangkut ikan yang tampak biasa berhenti di gang belakang gedung lama Laksmana Group. Di dalam bak truk yang dingin, aku duduk bersama empat pria pilihan Madam Syaza. Kami tidak membawa senjata api; kami membawa kamera, alat perekam, dan yang paling berharga: keberanian yang sudah mencapai titik didih.
Aku merapatkan rompi pelindung di balik jaket gelapku. Di pelukanku, satu eksemplar buku 'Underground Dawn' terasa sangat berat, seolah membawa beban ribuan nyawa yang suaranya kami wakili.
"Aruna, dengarkan," bisik pria di sampingku, kapten tim jemputan Madam. "Maira sudah menonaktifkan sensor alarm di pintu lift barang selama sepuluh menit. Kita masuk, ambil Biru, dan keluar. Jangan mencoba menjadi pahlawan di luar rencana. Mengerti?"
Aku mengangguk kaku. Jantungku berdentum di telinga, lebih keras daripada suara mesin truk.
Begitu pintu bak truk terbuka, kami bergerak dengan kecepatan yang sunyi. Gedung lama ini adalah labirin beton yang lembap dan penuh kenangan kelam. Kami menyusuri lorong basement yang hanya diterangi lampu darurat yang berpendar kuning.
Sesuai instruksi Maira, pintu akses menuju ruang isolasi terbuka sedikit. Kami menyelinap masuk. Suara langkah kaki kami teredam oleh debu lantai yang tebal. Namun, saat kami mendekati ruang bawah tanah terakhir, suara teriakan Abhinara terdengar menggema, memecah kesunyian.
"Tanda tangani, Biru! Atau aku pastikan Aruna tidak akan pernah ditemukan oleh siapa pun!"
Aku mengisyaratkan tim untuk berhenti di balik pilar besar. Dari posisi ini, aku bisa melihat ke dalam ruangan. Abhinara tampak seperti orang kesurupan, ia mencengkeram kerah baju Biru yang terkulai lemas di kursi.
Biru mendongak, ada senyum getir di wajahnya yang bersimbah darah. "Kamu... sudah kalah, Abhi. Fajar tidak butuh persetujuanmu untuk terbit."
"Brengsek!" Abhinara mengangkat tangannya, siap melayangkan pukulan lagi.
"Cukup, Abhi!" teriakku sambil melangkah keluar dari bayang-bayang.
Abhinara tersentak. Dia berbalik, matanya membelalak melihatku berdiri di sana. "Aruna? Bagaimana bisa—"
"Aku tidak datang sendirian," kataku dengan suara yang tenang namun menusuk. Aku mengangkat buku di tanganku. "Buku ini sudah dicetak sepuluh ribu eksemplar. Videomu saat menyiksa Biru sudah terunggah di cloud dan akan rilis otomatis jika kami tidak keluar dari sini dalam lima menit."
Abhinara tertawa histeris, sebuah tawa yang terdengar sangat pecah. "Kamu pikir aku takut dengan buku foto sampah ini? Aku punya pengacara, aku punya media, aku punya segalanya!"
"Kamu tidak punya Maira lagi, Abhi," jawabku pendek.
Wajah Abhinara mendadak pucat. Pada saat yang sama, tim Madam Syaza bergerak cepat melumpuhkan dua penjaga Abhinara di sudut ruangan. Aku berlari ke arah Biru, jemariku yang gemetar mencoba membuka ikatan talinya.
"Na... kamu nekat sekali," bisik Biru, suaranya lemah tapi matanya bersinar lega saat melihatku.
"Diamlah, Biru. Aku menjemputmu pulang," kataku sambil berhasil melepas ikatannya. Biru ambruk ke pelukanku, tubuhnya panas karena demam.
Abhinara mencoba menerjangku, namun kapten tim Madam Syaza menahannya dengan satu gerakan kunci yang telak. "Lepaskan aku! Kalian tidak tahu siapa aku!" raung Abhinara.
"Kami tahu siapa kamu, Abhinara," kataku sambil meletakkan buku 'Underground Dawn' di meja di depan wajahnya. "Kamu adalah pria yang takut pada sebuah kenyataan. Silakan baca bab terakhir. Itu adalah surat pengunduran dirimu dari dunia ini."
Di kejauhan, suara sirine polisi mulai terdengar mendekat. Madam Syaza telah memastikan bahwa polisi yang datang adalah unit yang tidak bisa disuap oleh keluarga Laksmana—unit yang selama ini mengincar kasus pencucian uang mereka.
Kami memapah Biru keluar menuju lift barang. Saat pintu lift tertutup, aku melihat Abhinara jatuh terduduk di lantai, dikelilingi oleh lembaran-lembaran buku yang mulai berserakan, hancur oleh kebenaran yang tidak bisa ia beli.
Begitu kami sampai di luar, udara subuh yang dingin menusuk paru-paru. Namun bagi Biru, itu adalah oksigen paling murni yang pernah ia hirup.
"Aruna," panggilnya lemah saat kami membaringkannya di dalam mobil medis cadangan.
"Ya?"
"Terima kasih... sudah menjadi langit untukku malam ini."
Aku menggenggam tangannya erat. "Bukan langit, Biru. Aku fajar. Dan pagi ini, kita benar-benar akan melihat matahari."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...