Lastri menjadi janda paling dibicarakan di desa setelah membongkar aib suaminya, seorang Kepala Desa ke internet.
Kejujurannya membuatnya diceraikan dan dikucilkan, namun ia memilih tetap tinggal, mengolah ladang milik orang tuanya dengan kepala tegak.
Kehadiran Malvin, pria pendiam yang sering datang ke desa perlahan mengubah hidup Lastri. Tak banyak yang tahu, Malvin adalah seorang Presiden Direktur perusahaan besar yang sedang menyamar untuk proyek desa.
Di antara hamparan sawah, dan gosip warga, tumbuh perasaan yang pelan tapi dalam. Tentang perempuan yang dilukai, dan pria yang jatuh cinta pada ketegaran sang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter⁴ — Kemunafikan yang Dibungkus Agama.
Mereka berjalan bersama ke rumah tempat pengajian. Ayah Lastri tidak ikut, batuknya belum reda dan rencananya besok akan dibawa ke puskes terdekat. Di sepanjang jalan, beberapa pasang mata mengikuti langkah mereka. Ada yang pura-pura ramah, ada yang terang-terangan berbisik.
Di teras rumah itu, sandal-sandal tertata rapi. Lastri melepas alas kakinya, ia menunduk sopan. Ia duduk di barisan belakang bersama ibunya.
Pengajian dimulai dengan bacaan yang menenangkan. Lastri memejamkan mata sejenak, mencoba meresapi ayat-ayat yang dulu selalu memberinya rasa pulang.
Lalu ceramah dimulai.
“Saudara-saudari,” ujar Ustadz dengan suara datar, “Rumah tangga adalah amanah. Aib itu seharusnya ditutup, bukan diumbar.”
Lastri akhirnya membuka matanya.
Beberapa kepala menoleh ke arahnya. Cepat, lalu kembali menghadap ke depan. Seolah-olah mereka tidak sedang menunjuk ke arahnya, padahal arah pandang sudah cukup jelas.
“Seorang istri,” lanjut sang Ustadz, “Punya kewajiban menjaga kehormatan suami. Sekalipun diuji, kesabaran adalah jalan paling mulia.”
Lastri merasakan tangan ibunya bergetar kecil di atas pahanya. Ia menarik napas panjang.
Kenapa kesabaran selalu diminta dari pihak perempuan? Dan aku pun... sudah lama diam.
“Kalau semua masalah dibawa ke luar,” kata Ustadz itu lagi, “Apa jadinya tatanan masyarakat kita?”
Lastri menunduk. Bukan karena ia merasa bersalah, melainkan karena lelah menatap kemunafikan yang dibungkus oleh agama.
Di sudut ruangan, Malvin duduk di antara para pria. Ia datang atas undangan seorang perangkat desa yang ingin menunjukkan bahwa desa ini religius dan tertib. Sejak awal ceramah, alis Malvin sudah mengerut. Ia tidak bodoh membaca arah, ini bukan pengajian... ini pengadilan untuk Lastri.
Selesai acara, para jamaah berhamburan dengan senyum-senyum tipis. Beberapa wanita bersuami mendekati ibunya Lastri.
“Sabar ya, Bu Sarmi,” kata salah satunya, dengan nada yang lebih mirip penilaian daripada empati. “Anak perempuan memang harus dijaga.”
Lastri menatap perempuan itu dengan mata tajam. “Dijaga dari apa, Bu?”
Perempuan itu tersenyum kaku. “Dari ketidaktaatan seorang istri pada suaminya.”
Lastri mengangguk pelan. “Jika itu yang Ibu yakini, silakan terus memilih diam dan tunduk pada kezaliman suami Ibu.”
Ia menarik ibunya pergi sebelum suasana makin panas.
Di halaman, Malvin berdiri tak jauh. Tatapan mereka bertemu sebentar, dan Lastri hanya mengangguk pelan. Dalam diri perempuan itu, Malvin melihat sesuatu yang jarang ia temui dalam rapat-rapat direksi... keberanian yang tetap sopan.
Di rumah, ibu Lastri duduk lama di dipan. Matanya berkaca-kaca. “Mungkin ibu salah membesarkan mu,” katanya lirih.
Lastri berlutut di hadapan ibunya. “Kalau Ibu membesarkan ku untuk diam saat salah, mungkin iya. Tapi kalau membesarkan ku untuk selalu jujur, Ibu nggak salah apa-apa.”
Ibunya menangis, Lastri memeluknya erat.
Malam semakin larut. Dari jendela, Lastri melihat lampu balai desa masih menyala. Ia tahu, rapat-rapat kecil sedang berlangsung. Nama baik sedang dirapikan, dan namanya sedang dikorbankan.
Di penginapan, Malvin menulis catatan singkat di laptopnya.
Agama dipakai untuk membungkam, moral dipilih-pilih. Perempuan yang jujur dianggap ancaman!
“Kalau begini caranya, apakah diamku justru ikut berdosa?”
Di desa yang mengaku damai itu, doa-doa telah berubah fungsi. Bukan lagi untuk mengetuk langit, melainkan untuk menekan bumi.
Malvin selalu percaya bahwa kekuasaan paling berbahaya bukan yang berteriak, melainkan yang tampak tenang, religius, dan seolah bekerja demi ketertiban.
Ia belajar itu dari ruang-ruang rapat berpendingin udara. Dari senyum para pejabat yang menekan angka sambil menyebutnya efisiensi. Dari keputusan yang dibuat dengan bahasa halus, namun berdampak panjang pada hidup banyak orang.
Desa ini tidak berbeda.
Pagi itu, Malvin duduk di penginapan kecil dengan secangkir kopi hitam yang sudah dingin. Lalu dia membuka laptop dan membaca kembali hal-hal yang ia tulis dari inspeksi desa itu.
1. Distribusi hasil panen dipersempit.
2. Tekanan sosial lewat Tokoh Agama.
3. Pengucilan keluarga.
Semua itu bukan asumsi, tapi fakta lapangan. Malvin menutup laptop dan berdiri, hari ini ia akan menuju balai desa.
Bangunan itu tampak ramah dari luar, cat krem, spanduk program desa, pot-pot bunga plastik di teras. Namun Malvin tahu, tempat seperti ini sering menjadi pusat keputusan paling sunyi.
Seorang perangkat desa menyambutnya dengan senyum profesional.
“Ada keperluan apa, Pak?”
“Saya ingin bertanya soal program distribusi hasil tani,” jawab Malvin santai. “Saya dengar ada perubahan.”
Senyum itu sedikit menegang. “Tidak ada perubahan, Pak. Semua berjalan seperti biasa.”
Malvin mengangguk. “Menarik, karena data lapangan saya menunjukkan sebaliknya.”
Perangkat itu terdiam sesaat, lalu tertawa kecil. “Ah, mungkin ada kesalahpahaman.”
Namun, Malvin tidak tertawa. Ia pamit dengan sopan, meninggalkan kartu nama sederhana tanpa jabatan besar. Namun cukup jelas, bahwa ia bukan orang sembarangan.
Siangnya, Malvin menerima panggilan dari kantor pusat.
Suara sekretarisnya terdengar cemas. “Tuan, sesuai perintah Anda untuk memeriksa Desa Dermaga. Laporan awal proyek desa ini agak… janggal.”
“Teruskan,” kata Malvin.
“Ada indikasi penyelewengan dana dan pemanfaatan kekuasaan lokal.”
Malvin menutup mata sejenak, ia sudah menduganya.
“Simpan semua bukti, dan siapkan laporan resmi.” Katanya tenang.
Ia tidak ingin desa ini meledak tiba-tiba. Ia ingin keadilan bekerja tanpa menyeret orang yang tidak perlu, terutama Lastri.
Sore harinya Malvin berdiri di pinggir sawah, memandangi matahari yang turun perlahan. Dari kejauhan, ia melihat Lastri berjalan pulang membawa ikatan rumput untuk ternak. Ia tidak mendekati perempuan itu, hanya memandangi dari kejauhan.
Di rumah dinas Surya, rapat kecil digelar. Beberapa perangkat desa duduk melingkar, wajah-wajah mereka serius.
“Orang luar itu terlalu banyak tanya, dia mencurigakan,” kata seseorang.
Surya mengangkat tangan, menenangkan. “Tenang. Selama kita kompak, tidak ada yang perlu ditakuti.”
“Tapi ada yang melihat, dia mendatangi Lastri,” sahut yang lain.
Senyum kecil terbit di bibir Surya, sarat ejekan. “Memangnya apa yang mampu dilakukan seorang janda yang tak punya kekuasaan?”
*
*
*
Disclaimer: Jika dalam cerita ini terdapat unsur keagamaan yang dirasa kurang nyaman, perlu ditegaskan bahwa kisah ini sepenuhnya fiksi. Penulis percaya... bahwa kesalahan tidak pernah terletak pada Agama, melainkan pada oknum-oknum yang menyalahgunakannya dalam kehidupan sosial 🙏