NovelToon NovelToon
Santet Kelamin

Santet Kelamin

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Selingkuh / Dendam Kesumat
Popularitas:38k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...

Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?

Baca ceritanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilihan dua Neraka

Malam di bawah kolong jembatan itu mendadak berubah menjadi sangat dingin, namun udara di dalam bedeng terasa gerah dan menyesakkan. Bau harum melati yang sangat tajam jenis keharuman yang biasanya hanya muncul di pemakaman yang baru digali menyusup melalui celah-celah papan triplek. Di luar sana, Ratih telah melepaskan "jangkar" nafsunya, memaksa imajinasi kotor Bimo terbangun dari tidurnya yang tertekan.

Bimo mulai merintih. Tubuhnya melengkung di atas kardus alas tidurnya. Nafasnya memburu, berat dan kasar. Di dalam tidurnya yang gelisah, ia melihat bayangan-bayangan erotis yang selama ini menjadi candunya di Jakarta. Wajah Diana, wanita-wanita di bar, dan kenikmatan-kenikmatan duniawi merasuk ke dalam otaknya seperti racun yang manis.

"Panas... Guh... panas..." igau Bimo.

Pak Broto, yang sedang duduk bersila, langsung menyadari bahwa ini bukan sekadar serangan santet biasa. Ini adalah serangan syahwat gaib. Begitu nafsu Bimo terbangun, ulat-ulat sengkolo yang tadinya pasif mulai bereaksi. Mereka menggeliat hebat, merambat naik dari pangkal paha menuju perut, punggung, bahkan mulai menyasar saraf mata. Bimo menjerit dalam tidurnya, tangannya mulai mencakar-cakar dadanya sendiri hingga berdarah.

Perantara Sang Mantan Dukun

Pak Broto mengambil segelas air putih, membacakan beberapa kalimat perlindungan yang masih ia ingat, lalu memercikkannya ke wajah Bimo. Bimo tersentak bangun dengan mata merah dan tatapan liar.

"Pak Broto... tolong saya! Rasanya... rasanya ada ribuan semut api di dalam badan saya!" teriak Bimo sambil bergulingan di lantai bedeng yang kotor.

Pak Broto tahu, kekuatannya yang sekarang hanyalah sisa-sisa dari masa lalu yang kelam. Ia tidak ingin lagi bertarung ilmu, namun ia tidak bisa membiarkan Bimo mati begitu saja di depannya. Pak Broto kemudian mengambil sebuah benda pusaka tua yang selama ini ia bungkus kain kafan hitam di dasar gerobaknya: sebuah keris kecil tanpa warangka yang sudah berkarat.

Ia memegang keris itu, memejamkan mata, dan mencoba melakukan "komunikasi batin" dengan energi yang sedang menyerang Bimo. Ia ingin mencari tahu siapa pengirimnya dan apa tebusannya. Sebagai mantan dukun besar, Pak Broto memiliki kemampuan untuk menjadi perantara komunikasi gaib tanpa harus terlibat langsung dalam pertempuran.

Dalam heningnya kolong jembatan, Pak Broto masuk ke dalam alam mediasi. Ia melihat sesosok pria tua yang menyeramkan Mbah Suro yang sedang duduk di depan api unggun di lereng gunung. Di belakang Mbah Suro, terlihat bayangan Ratih yang menatap penuh kebencian.

"Siapa kamu, berani mencampuri urusan kami?" suara Mbah Suro menggema di telinga batin Pak Broto.

"Aku hanya pemulung yang ingin menyelamatkan satu nyawa," jawab Pak Broto tenang. "Apa syaratnya agar ulat-ulat ini berhenti memakan daging anak ini?"

Mbah Suro tertawa terbahak-bahak, suara tawanya terdengar seperti gesekan tulang kering. "Syaratnya adalah kehancuran total. Tapi jika dia ingin sembuh secara instan lewat jalan hitam, pilihannya hanya dua: Dia harus bersenggama dengan tujuh mayat perawan."

Pak Broto tersentak. Itu adalah syarat ilmu hitam tingkat paling rendah dan menjijikkan yang pernah ia dengar.

"Atau..." lanjut Mbah Suro, "Pilihan lainnya adalah pilihan bagi mereka yang pengecut. Dia harus memotong sendiri alat kelaminnya, sumber dari segala nafsunya. Potong akarnya, maka ulat-ulat itu tidak akan punya tempat untuk tinggal. Jika tidak, biarkan dia membusuk perlahan sampai kepalanya menjadi sarang belatung!"

Penyampaian Titik Nadir

Pak Broto menarik nafas panjang dan membuka matanya. Ia berkeringat deras. Ia menatap Bimo yang kini sedang merangkak, mencoba menahan rasa sakit yang luar biasa. Bau busuk kini menyeruak kembali, lebih tajam dari sebelumnya.

"Bimo, dengarkan aku baik-baik," Pak Broto memegang bahu Bimo dengan kuat. "Aku sudah berkomunikasi dengan 'sumbernya'. Aku hanya bisa membantumu sampai di sini. Aku tidak mau dan tidak bisa masuk kembali ke dalam lingkaran iblis itu."

Bimo menatap Pak Broto dengan mata yang mulai membengkak. "Apa katanya, Pak? Bagaimana cara sembuhnya?"

Pak Broto menghela nafas berat. "Pilihannya hanya dua, dan keduanya adalah neraka. Pertama, kamu harus melakukan perbuatan paling bejat yang pernah ada: berhubungan intim dengan tujuh mayat perawan. Syarat ini akan membuatmu menjadi iblis seutuhnya. Kamu akan sembuh fisiknya, tapi jiwamu akan menjadi milik mereka selamanya."

Bimo terbelalak. Rasa mual menghantamnya lebih kuat dari rasa sakitnya. "Gila... saya nggak mungkin sanggup melakukan itu, Pak!"

"Pilihan kedua," lanjut Pak Broto dengan suara yang lebih pelan, "kamu harus memotong sendiri alat kelaminmu. Itu adalah cara untuk memutus ikatan santet ulat sengkolo ini. Karena santet ini hidup dari nafsu kejantananmu, jika akarnya hilang, santetnya akan gugur."

Bimo terdiam seribu bahasa. Memotong kemaluannya sendiri? Itu sama saja dengan membuang identitasnya sebagai laki-laki. Itu adalah harga diri terakhir yang ia miliki, satu-satunya hal yang ia banggakan saat ia memperdaya Ratih dan wanita lainnya.

"Pak... tidak ada cara lain?" rintih Bimo.

"Ada satu cara lagi, tapi bukan jalan pendek," Pak Broto menatap Bimo dengan iba. "Pergilah ke alamat yang diberikan temanmu, Teguh. Hadapi penderitaan ini sebagai penebusan dosa. Jangan ikuti bisikan setan untuk mengambil jalan pintas. Jika kamu memilih salah satu dari dua pilihan tadi, kamu hanya akan berpindah dari satu lubang hitam ke lubang hitam yang lebih dalam."

Secercah Pikiran yang Melayang

Malam itu, Bimo tidak bisa tidur. Ia duduk di pojok bedeng sambil memegangi kepalanya yang terasa mau pecah. Ulat-ulat di bawah kulitnya mulai tenang kembali setelah Pak Broto membacakan doa penenang, namun bayangan tentang "potong alat kelamin" atau "tujuh mayat perawan" terus berputar di otaknya.

Pikirannya melayang-layang. Ia merasa berada di ujung tanduk. Jika ia tetap diam, ia akan mati membusuk secara perlahan. Jika ia mengikuti syarat pertama, ia menjadi monster. Jika ia mengikuti syarat kedua, ia cacat seumur hidup.

Namun, di tengah keputusasaan itu, sebuah pikiran liar muncul. Pikiran itu bukan tentang syarat-syarat gila tersebut, melainkan tentang Ratih.

Kenapa syaratnya harus tentang nafsu? Kenapa akarnya harus di sana?

"Ratih ingin aku kehilangan apa yang paling aku banggakan," gumam Bimo.

Bimo mulai berpikir, mungkinkah ada jalan tengah? Ataukah ia memang harus benar-benar meniadakan dirinya sendiri untuk mendapatkan maaf dari Ratih? Di sela-sela rasa sakitnya, Bimo merasa ada sesuatu yang Ratih sembunyikan. Kehadiran Ratih yang terus mengikutinya menunjukkan bahwa Ratih belum sepenuhnya puas. Ratih butuh pengakuan, bukan sekadar kematian Bimo.

Pamit dari Kolong Jembatan

Pagi harinya, Bimo sudah berkemas. Ia membawa karung pemulungnya dan sedikit bekal yang diberikan Pak Broto.

"Pak Broto, terima kasih atas segalanya. Saya tidak akan mengambil jalan pintas yang menjijikkan itu," ucap Bimo dengan nada yang lebih mantap, meski wajahnya masih sangat pucat.

Pak Broto tersenyum tipis. "Bagus, Nak. Itu pilihan yang benar. Ingat, penderitaan di dunia ini ada batasnya, tapi penderitaan di sana tidak ada ujungnya. Pergilah cari jalan tobatmu."

Bimo melangkah keluar dari bawah kolong jembatan. Ia tidak lagi mencari botol plastik. Ia berjalan menuju arah di mana ia merasa Ratih sedang mengawasinya. Ia tidak lagi lari. Ia ingin memancing Ratih keluar.

Di atas jembatan, Ratih melihat Bimo keluar dengan langkah yang lebih tegak dari kemarin. Ia sedikit terkejut. Seharusnya pagi ini Bimo gila atau setidaknya mencoba melakukan hal nekat setelah serangan mimpi buruk semalam.

"Dia punya nyali," bisik Ratih.

Ratih tidak tahu bahwa percakapan Pak Broto dengan Mbah Suro telah memberitahu Bimo tentang "pilihan-pilihan" itu.

Aku akan mencoba berjalan ke Desa terdekat dulu,aku mencoba mencari kedamaian ku sendiri.

Langkah Bimo tidak bertujuan,dia hanya mengikuti kemana langkah kaki membawa nya.

1
Rembulan menangis
makin seru ya thor ,
Rembulan menangis
thor ,mkasih telah mmbuat si bimo ketipu rupnya si sari tdak punya sari murni lg sarinya sudah gk ory 🤣
Halwah 4g: 🤭🤭🤭🤭 iya kak mklum sinden tempo dlu
total 1 replies
Akbar Aulia
bimo,kamu itu jelmaan kucing ya🤭 punya nyawa 9 lolos terus
Halwah 4g: hehehehejejhje...kyaknya iya ka
total 1 replies
dzafara dza
kapan tobatnya sih thor nih si Bimo🤣
Ineke Susanti: mungkin nanti klo tumbalnya dh lengkap baru deh tobat🤭
total 2 replies
Anjany
kpn Bimo kena batunya Thor.
Halwah 4g: biasaaaa ka..kek para pejabat korup..susah matinya..🤭
total 1 replies
Taramia
emang sudah bukan manusia kan si Bimo
Halwah 4g: 🤭🤭 spertnya bukan ka
total 1 replies
Taramia
emang dasarnya jahat si Bimo mah
Rembulan menangis
thor yg pngantin gendoruwo kok blm juga up sih
pnasaran lanjutanya
Halwah 4g: ooohhhh..ada yg baca ya ka..q pikir sepi GK ada yg baca..jdi q blm up..hehehehe...ok hbis isya q up buanyakkkkkkkkkkk 🤭
total 1 replies
Nia Rahmi
bnr2 sdh jd setan dlm wujud manusia si bimo ini
Halwah 4g: nyata kaaa...berarti klo setan mau di wjutin tuh jadinya salah satunya Bimo hihihihi....
total 1 replies
Yeni Yulita
meskipun bimo berubahpun tak kan hilang jiwa psikopatnya
Halwah 4g: mnurut psikologis orng ktanya gtu,klo dh kecanduan sekli yg menyimpang,akan susah buat berubah ka 🤭
total 1 replies
dzafara dza
panjang nih kayaknya ceritanya
Halwah 4g: gak ka, pngen segera di tamatkan 🤭
total 1 replies
Kustri
gengsi kegedean, rasain sakit hati ratih yg diubah jd siksaanmu🤣
Kustri
rasakno, enak tho😂
dzafara dza
di tunggu kehancuran bimi nih thor
Lintang
hadeh, kalo emang dari awal punya sifat asli yg tidak baik, pasti mau sekeras apapun orang membimbing nya ke jalan kebenaran, pasti ujung-ujungnya sifat asli nya itu lah yang menghalangi nya
Lintang
gila, pengen bertaubat ada aja ya rintangannya? Wkwkw
Nia Rahmi: iya begitu emg dlm kehidupan nyata..tanpa adanya bimbingan seorg guru maka jln menuju taubat akn susah dicapai
total 1 replies
Lintang
ujian bimo berat banget ya? Pengen balik ke jalan yg benar ada aja rintangannya hehee
dzafara dza
luar biasa keren
dzafara dza
author pinter banget bikin cerita👍👍👍
Halwah 4g: terimakasih kka..love u bertubi-tubi 🤭
total 1 replies
dzafara dza
aku ikut tegang ngebayangin kalau aku ada disana gimna dengan keimanan setipis tisu ini astagfirullah
Halwah 4g: 🤣 klo Thor pasti dah guling2..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!