NovelToon NovelToon
Santet Kelamin

Santet Kelamin

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Duniahiburan / Selingkuh / Dendam Kesumat / PSK / Playboy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...

Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?

Baca ceritanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilihan dua Neraka

Malam di bawah kolong jembatan itu mendadak berubah menjadi sangat dingin, namun udara di dalam bedeng terasa gerah dan menyesakkan. Bau harum melati yang sangat tajam jenis keharuman yang biasanya hanya muncul di pemakaman yang baru digali menyusup melalui celah-celah papan triplek. Di luar sana, Ratih telah melepaskan "jangkar" nafsunya, memaksa imajinasi kotor Bimo terbangun dari tidurnya yang tertekan.

Bimo mulai merintih. Tubuhnya melengkung di atas kardus alas tidurnya. Nafasnya memburu, berat dan kasar. Di dalam tidurnya yang gelisah, ia melihat bayangan-bayangan erotis yang selama ini menjadi candunya di Jakarta. Wajah Diana, wanita-wanita di bar, dan kenikmatan-kenikmatan duniawi merasuk ke dalam otaknya seperti racun yang manis.

"Panas... Guh... panas..." igau Bimo.

Pak Broto, yang sedang duduk bersila, langsung menyadari bahwa ini bukan sekadar serangan santet biasa. Ini adalah serangan syahwat gaib. Begitu nafsu Bimo terbangun, ulat-ulat sengkolo yang tadinya pasif mulai bereaksi. Mereka menggeliat hebat, merambat naik dari pangkal paha menuju perut, punggung, bahkan mulai menyasar saraf mata. Bimo menjerit dalam tidurnya, tangannya mulai mencakar-cakar dadanya sendiri hingga berdarah.

Perantara Sang Mantan Dukun

Pak Broto mengambil segelas air putih, membacakan beberapa kalimat perlindungan yang masih ia ingat, lalu memercikkannya ke wajah Bimo. Bimo tersentak bangun dengan mata merah dan tatapan liar.

"Pak Broto... tolong saya! Rasanya... rasanya ada ribuan semut api di dalam badan saya!" teriak Bimo sambil bergulingan di lantai bedeng yang kotor.

Pak Broto tahu, kekuatannya yang sekarang hanyalah sisa-sisa dari masa lalu yang kelam. Ia tidak ingin lagi bertarung ilmu, namun ia tidak bisa membiarkan Bimo mati begitu saja di depannya. Pak Broto kemudian mengambil sebuah benda pusaka tua yang selama ini ia bungkus kain kafan hitam di dasar gerobaknya: sebuah keris kecil tanpa warangka yang sudah berkarat.

Ia memegang keris itu, memejamkan mata, dan mencoba melakukan "komunikasi batin" dengan energi yang sedang menyerang Bimo. Ia ingin mencari tahu siapa pengirimnya dan apa tebusannya. Sebagai mantan dukun besar, Pak Broto memiliki kemampuan untuk menjadi perantara komunikasi gaib tanpa harus terlibat langsung dalam pertempuran.

Dalam heningnya kolong jembatan, Pak Broto masuk ke dalam alam mediasi. Ia melihat sesosok pria tua yang menyeramkan Mbah Suro yang sedang duduk di depan api unggun di lereng gunung. Di belakang Mbah Suro, terlihat bayangan Ratih yang menatap penuh kebencian.

"Siapa kamu, berani mencampuri urusan kami?" suara Mbah Suro menggema di telinga batin Pak Broto.

"Aku hanya pemulung yang ingin menyelamatkan satu nyawa," jawab Pak Broto tenang. "Apa syaratnya agar ulat-ulat ini berhenti memakan daging anak ini?"

Mbah Suro tertawa terbahak-bahak, suara tawanya terdengar seperti gesekan tulang kering. "Syaratnya adalah kehancuran total. Tapi jika dia ingin sembuh secara instan lewat jalan hitam, pilihannya hanya dua: Dia harus bersenggama dengan tujuh mayat perawan."

Pak Broto tersentak. Itu adalah syarat ilmu hitam tingkat paling rendah dan menjijikkan yang pernah ia dengar.

"Atau..." lanjut Mbah Suro, "Pilihan lainnya adalah pilihan bagi mereka yang pengecut. Dia harus memotong sendiri alat kelaminnya, sumber dari segala nafsunya. Potong akarnya, maka ulat-ulat itu tidak akan punya tempat untuk tinggal. Jika tidak, biarkan dia membusuk perlahan sampai kepalanya menjadi sarang belatung!"

Penyampaian Titik Nadir

Pak Broto menarik nafas panjang dan membuka matanya. Ia berkeringat deras. Ia menatap Bimo yang kini sedang merangkak, mencoba menahan rasa sakit yang luar biasa. Bau busuk kini menyeruak kembali, lebih tajam dari sebelumnya.

"Bimo, dengarkan aku baik-baik," Pak Broto memegang bahu Bimo dengan kuat. "Aku sudah berkomunikasi dengan 'sumbernya'. Aku hanya bisa membantumu sampai di sini. Aku tidak mau dan tidak bisa masuk kembali ke dalam lingkaran iblis itu."

Bimo menatap Pak Broto dengan mata yang mulai membengkak. "Apa katanya, Pak? Bagaimana cara sembuhnya?"

Pak Broto menghela nafas berat. "Pilihannya hanya dua, dan keduanya adalah neraka. Pertama, kamu harus melakukan perbuatan paling bejat yang pernah ada: berhubungan intim dengan tujuh mayat perawan. Syarat ini akan membuatmu menjadi iblis seutuhnya. Kamu akan sembuh fisiknya, tapi jiwamu akan menjadi milik mereka selamanya."

Bimo terbelalak. Rasa mual menghantamnya lebih kuat dari rasa sakitnya. "Gila... saya nggak mungkin sanggup melakukan itu, Pak!"

"Pilihan kedua," lanjut Pak Broto dengan suara yang lebih pelan, "kamu harus memotong sendiri alat kelaminmu. Itu adalah cara untuk memutus ikatan santet ulat sengkolo ini. Karena santet ini hidup dari nafsu kejantananmu, jika akarnya hilang, santetnya akan gugur."

Bimo terdiam seribu bahasa. Memotong kemaluannya sendiri? Itu sama saja dengan membuang identitasnya sebagai laki-laki. Itu adalah harga diri terakhir yang ia miliki, satu-satunya hal yang ia banggakan saat ia memperdaya Ratih dan wanita lainnya.

"Pak... tidak ada cara lain?" rintih Bimo.

"Ada satu cara lagi, tapi bukan jalan pendek," Pak Broto menatap Bimo dengan iba. "Pergilah ke alamat yang diberikan temanmu, Teguh. Hadapi penderitaan ini sebagai penebusan dosa. Jangan ikuti bisikan setan untuk mengambil jalan pintas. Jika kamu memilih salah satu dari dua pilihan tadi, kamu hanya akan berpindah dari satu lubang hitam ke lubang hitam yang lebih dalam."

Secercah Pikiran yang Melayang

Malam itu, Bimo tidak bisa tidur. Ia duduk di pojok bedeng sambil memegangi kepalanya yang terasa mau pecah. Ulat-ulat di bawah kulitnya mulai tenang kembali setelah Pak Broto membacakan doa penenang, namun bayangan tentang "potong alat kelamin" atau "tujuh mayat perawan" terus berputar di otaknya.

Pikirannya melayang-layang. Ia merasa berada di ujung tanduk. Jika ia tetap diam, ia akan mati membusuk secara perlahan. Jika ia mengikuti syarat pertama, ia menjadi monster. Jika ia mengikuti syarat kedua, ia cacat seumur hidup.

Namun, di tengah keputusasaan itu, sebuah pikiran liar muncul. Pikiran itu bukan tentang syarat-syarat gila tersebut, melainkan tentang Ratih.

Kenapa syaratnya harus tentang nafsu? Kenapa akarnya harus di sana?

"Ratih ingin aku kehilangan apa yang paling aku banggakan," gumam Bimo.

Bimo mulai berpikir, mungkinkah ada jalan tengah? Ataukah ia memang harus benar-benar meniadakan dirinya sendiri untuk mendapatkan maaf dari Ratih? Di sela-sela rasa sakitnya, Bimo merasa ada sesuatu yang Ratih sembunyikan. Kehadiran Ratih yang terus mengikutinya menunjukkan bahwa Ratih belum sepenuhnya puas. Ratih butuh pengakuan, bukan sekadar kematian Bimo.

Pamit dari Kolong Jembatan

Pagi harinya, Bimo sudah berkemas. Ia membawa karung pemulungnya dan sedikit bekal yang diberikan Pak Broto.

"Pak Broto, terima kasih atas segalanya. Saya tidak akan mengambil jalan pintas yang menjijikkan itu," ucap Bimo dengan nada yang lebih mantap, meski wajahnya masih sangat pucat.

Pak Broto tersenyum tipis. "Bagus, Nak. Itu pilihan yang benar. Ingat, penderitaan di dunia ini ada batasnya, tapi penderitaan di sana tidak ada ujungnya. Pergilah cari jalan tobatmu."

Bimo melangkah keluar dari bawah kolong jembatan. Ia tidak lagi mencari botol plastik. Ia berjalan menuju arah di mana ia merasa Ratih sedang mengawasinya. Ia tidak lagi lari. Ia ingin memancing Ratih keluar.

Di atas jembatan, Ratih melihat Bimo keluar dengan langkah yang lebih tegak dari kemarin. Ia sedikit terkejut. Seharusnya pagi ini Bimo gila atau setidaknya mencoba melakukan hal nekat setelah serangan mimpi buruk semalam.

"Dia punya nyali," bisik Ratih.

Ratih tidak tahu bahwa percakapan Pak Broto dengan Mbah Suro telah memberitahu Bimo tentang "pilihan-pilihan" itu.

Aku akan mencoba berjalan ke Desa terdekat dulu,aku mencoba mencari kedamaian ku sendiri.

Langkah Bimo tidak bertujuan,dia hanya mengikuti kemana langkah kaki membawa nya.

1
Bp. Juenk
Bagus kisah nya. cinta ya g tulis dari seorang gadis desa berubah menjadi pembunuh. karena dikhianati.
Halwah 4g
iya ka..ada lanjutannya kok
Rembulan menangis
gantung
Bp. Juenk
ooh masih dalam bentuk ghaib toh. belum sampe ke media
Bp. Juenk
pantesan. Ratih nya terlalu lugu
Halwah 4g: hehehehe..maklum dari kampung ka 🤭
total 1 replies
Bp. Juenk
sadis ya si ratih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!