"Di dunia yang dibangun di atas emas dan darah, cinta adalah kelemahan yang mematikan."
Kenzo Matsuda adalah kesempurnaan yang dingin—seorang diktator korporat yang tidak mengenal ampun. Namun, satu malam penuh kegilaan di bawah pengaruh alkohol dan bayang-bayang masa lalu mengubah segalanya. Ia melakukan dosa tak termaafkan kepada Hana Sato, putri dari wanita yang pernah menghancurkan hatinya.
Hana, yang selama ini hidup dalam kehampaan emosi keluarga Aishi, kini membawa pewaris takhta Matsuda di rahimnya. Ia terjebak dalam sangkar emas milik pria yang paling ia benci. Namun, saat dinasti lama mencoba meruntuhkan mereka, Hana menyadari bahwa ia bukan sekadar tawanan. Ia adalah pemangsa yang sedang menunggu waktu untuk merebut mahkota.
Antara dendam yang membara dan hasrat yang terlarang, mampukah mereka bersatu demi bayi yang akan mengguncang dunia? Ataukah mahkota duri ini akan menghancurkan mereka sebelum fajar dinasti baru menyingsing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: KERETAKAN PADA Cermin ABADI
10 Tahun Lalu...
Tahun 2036. Tokyo adalah simfoni keteraturan. Di bawah pengawasan sistem AI Matsuda-Sato, kejahatan hampir nol, dan kemiskinan disembunyikan di balik dinding-dinding beton yang estetik. Namun, di distrik bawah tanah Old Shinjuku yang terlupakan, "keteraturan" adalah lelucon yang pahit.
Di sebuah bengkel bawah tanah yang pengap oleh bau solder dan oli mesin, seorang wanita duduk meringkuk di depan monitor usang yang berkedip-kedip. Namanya kini adalah "Zero", namun di dalam darahnya yang pahit, ia tetaplah Miyu. Ledakan sepuluh tahun lalu tidak membunuhnya; ia diselamatkan oleh seorang pemulung bawah tanah, meski ia harus membayar harganya dengan wajah yang hancur dan paru-paru yang kini bergantung pada filter udara portabel.
Miyu menatap layar. Di sana, seorang bocah laki-laki berusia sepuluh tahun, Renji Matsuda, sedang turun dari limosin antipeluru menuju sekolah dasar elit Imperial Crown. Renji tampak seperti miniatur Kenzo, namun dengan sorot mata yang lebih dingin—sorot mata Hana.
"Lihatlah dirimu, Renji," bisik Miyu. Suaranya serak, hasil dari pita suara yang rusak akibat menghirup asap beracun sepuluh tahun silam. "Kau adalah permata mereka. Jika kau retak, seluruh dunia mereka akan hancur berkeping-keping."
Shizuka dan Renzo sudah menjadi abu, nama mereka dihapus dari arsip digital dunia seolah mereka tidak pernah ada. Miyu adalah satu-satunya saksi sejarah yang masih bernapas, sebuah anomali dalam sistem sempurna milik Kenzo.
Kehidupan Miyu adalah siksaan yang terstruktur. Setiap hari ia bekerja sebagai teknisi ilegal, memperbaiki robot-robot domestik yang dibuang oleh warga kelas atas. Ia tinggal di sebuah sel kecil yang lembap, makan dari ransum protein sintetis murah, dan menghabiskan sisa waktunya untuk meretas jalur data Matsuda-Sato Enterprises.
Setiap kali ia melihat Hana Sato di layar televisi—tampil cantik, awet muda, dan dipuja sebagai ibu negara—Miyu merasakan dorongan untuk mencakar wajahnya sendiri. Hana memiliki segalanya: cinta Kenzo, kekuasaan, dan seorang putra yang sempurna. Sementara Miyu? Ia harus bersembunyi setiap kali patroli robot keamanan lewat, karena wajahnya yang tidak terdaftar akan segera memicu alarm "penyusup ilegal".
Namun, penderitaan inilah yang memberinya kekuatan. Selama sepuluh tahun, ia telah menyusun kode virus yang ia sebut 'The Widow's Weep'. Virus ini dirancang bukan untuk merusak sistem kota, melainkan untuk menyelinap ke dalam protokol keamanan yang melindungi Renji.
Renji bukanlah anak biasa. Di usianya yang kesepuluh, ia sudah menguasai teori strategi militer dan ekonomi makro. Namun, bahkan seorang jenius pun memiliki rutinitas. Miyu menemukan bahwa setiap hari Selasa, Renji bersikeras untuk mengunjungi taman botani pribadi di pinggiran kampus—tempat satu-satunya yang memiliki sedikit celah dalam pengawasan sensor AI karena banyaknya vegetasi organik.
Miyu mulai bergerak. Ia menyamar sebagai petugas kebersihan robotik dengan mengenakan setelan kamuflase optik curian. Ia mulai menanamkan alat transmisi kecil di akar-akar pohon sakura tempat Renji sering duduk membaca.
"Sedikit lagi," gumam Miyu saat ia melihat Renji dari balik semak-semak melalui teropong digitalnya. "Hana mengajarimu menjadi predator, Renji. Tapi dia lupa bahwa predator pun bisa dijebak oleh umpan yang tepat."
Miyu tidak berencana membunuh Renji sekarang. Kematian terlalu cepat bagi mereka. Ia ingin Renji mulai meragukan orang tuanya. Ia ingin menanamkan racun di pikiran sang pewaris, memberitahunya bahwa takhtanya dibangun di atas tumpukan mayat Shizuka dan Renzo yang dikhianati.
Suatu sore yang dingin, Renji sedang duduk sendirian di taman botani. Pengawalnya berdiri di kejauhan, memberi ruang bagi sang pangeran untuk menyendiri. Tiba-tiba, jam tangan pintar Renji bergetar. Sebuah pesan muncul di layar holografiknya, melompati semua enkripsi keamanan tingkat tinggi.
“Tanyakan pada Ayahmu tentang Shizuka. Tanyakan pada Ibumu siapa yang benar-benar memegang Mahkota Duri sebelum dia.”
Renji mengerutkan kening. Matanya yang perak menyapu sekeliling dengan ketajaman yang tidak wajar bagi anak seusianya. "Siapa ini?" tanyanya pelan, suaranya tenang namun penuh otoritas.
Dari balik bayangan pepohonan, sebuah suara parau menjawab melalui pemancar tersembunyi. "Aku adalah hantu yang kalian lupakan, Renji. Aku adalah kebenaran yang terkubur di bawah taman gantung orang tuamu."
Renji berdiri, melangkah menuju sumber suara. "Sistem keamananku akan melacakmu dalam 60 detik. Menyerahlah."
Miyu, yang memantau dari jarak satu kilometer di sarangnya, tersenyum pahit. "Kau sangat mirip Kenzo. Sombong. Tapi kau belum tahu bahwa sistem yang kau banggakan itu memiliki pintu belakang yang aku buat dengan darah Shizuka."
Tiba-tiba, layar di jam tangan Renji menampilkan foto lama yang buram: Kenzo, Hana, Shizuka, dan Renzo di masa lalu—foto yang seharusnya sudah musnah. Wajah Shizuka yang tersenyum tampak sangat kontras dengan narasi sejarah yang diajarkan pada Renji.
"Kenapa mereka tidak ada di buku sejarah?" Renji bertanya pada dirinya sendiri, suaranya sedikit bergetar.
"Karena orang tuamu adalah monster yang memakai jubah cahaya," suara Miyu kembali terdengar, dingin dan penuh benci. "Mereka membunuh keluarga mereka sendiri demi takhta yang kau duduki sekarang. Kau hanyalah pangeran yang berdiri di atas kuburan massal."
Sebelum pengawal Renji mendekat, sinyal itu terputus. Miyu dengan cepat menghapus jejak digitalnya. Di sarangnya, ia terengah-engah, memegangi dadanya yang sakit. Ia tahu Kenzo akan segera menyadari ada infiltrasi. Sistem Matsuda-Sato tidak akan tinggal diam.
Namun, benih itu sudah ditanam. Ia melihat melalui kamera pengawas saat Renji berjalan kembali ke limosinnya. Wajah anak itu tidak lagi tenang; ada kemarahan dan rasa ingin tahu yang besar di sana.
Malam itu, di puncak menara Matsuda, Kenzo dan Hana sedang makan malam dengan romantis ketika Renji masuk ke ruangan. Ia tidak langsung duduk. Ia menatap kedua orang tuanya dengan tatapan yang berbeda—tatapan seorang hakim.
"Ibu," kata Renji datar. "Siapa Shizuka?"
Hana menjatuhkan gelas kristalnya. Denting kaca pecah menggema di seluruh ruangan yang sunyi itu. Kenzo segera berdiri, matanya memicing tajam. "Dari mana kau mendengar nama itu, Renji?"
Di kejauhan, di sudut gelap kota Tokyo, Miyu tertawa di tengah batuknya yang berdarah. Ia
tahu ia mungkin akan mati besok, tapi ia telah berhasil melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh pasukan mana pun: ia telah meretakkan fondasi kepercayaan Dinasti Matsuda.
"Pertunjukan baru saja dimulai, Hana," bisik Miyu sambil menatap kegelapan. "Dan kali ini, tidak akan ada akhir yang bahagia bagi kalian."
BERSAMBUNG...