Shen Yi, tabib desa yang bajunya penuh tambalan, berlutut di sampingnya.
Tanpa ragu, ia pegang pergelangan tangan itu
dan racun dingin yang seharusnya membunuh siapa pun... tak menyentuhnya sama sekali.
Wanita itu membuka mata indahnya, suaranya dingin bagai embun pagi
"Beraninya kau menyentuh Dewi Teratai?"
Shen Yi garuk kepala, polos seperti biasa.
"Maaf, Nona Lian'er. Kalau nggak dicek nadi, bisa mati kedinginan.
Ini ramuan penghangat dulu, ya? Gratis kok."
Dia tak tahu...
sentuhannya adalah satu-satunya harapan Lian'er untuk mencairkan kutukan abadi yang menggerogoti tubuhnya.
Dan juga satu-satunya yang bisa menghancurkannya selamanya.
Dari gubuk reyot di lereng gunung terpencil, hingga dunia jianghu penuh darah dan rahasia,
seorang tabib miskin dan dewi teratai terikat oleh takdir yang tak terucap.
Apa yang terjadi ketika manusia biasa jatuh cinta pada dewi yang terlarang disentuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sungai yang Berbisik
Shen Yi berdiri di tepi sungai, air yang mengalir pelan di depannya terlihat hampir tenang di bawah sinar matahari pagi. Tapi dia tahu—tenang itu palsu. Di bawah permukaan, ada arus dingin yang tak terlihat, seperti napas yang tertahan terlalu lama. Botol kaca di tangannya sudah penuh sampel air dari tiga titik berbeda: hulu dekat mata air, tengah dekat saluran pasar, dan muara yang mengarah ke kampung nelayan.
Lian'er berlutut di sampingnya, jari-jarinya menyentuh air sungai sebentar lalu ditarik cepat. “Dinginnya… lebih dalam dari kemarin. Seperti ada yang bernapas di bawah sana.”
Shen Yi menuangkan sampel dari muara ke mangkuk kecil yang dia bawa. Dia meneteskan ramuan penghangat yang sudah dia modifikasi dengan ekstrak teratai murni. Air bergetar hebat. Bintik hitam kecil muncul seperti ikan mati yang mengapung, lalu mencoba melawan—bergerak melingkar, seolah hidup. Ramuan itu bekerja lambat, bintik hitam akhirnya mencair, tapi sebelum hilang sepenuhnya, ada suara samar seperti desis dari dalam mangkuk.
Lian'er mengerutkan kening. “Ini bukan hanya sisa energi. Ini… seperti ada kesadaran kecil di dalamnya. Seperti es hitam yang belajar bertahan.”
Shen Yi mengangguk pelan. “Aku juga rasakan. Bukan Xue Han lagi. Ini seperti… pecahan yang hidup sendiri. Mungkin saat ritual di danau hancur, beberapa pecahan lolos ke sungai dan sumur. Mereka tak punya tubuh lagi, jadi mereka cari inang baru—air, tanah, manusia.”
Mereka berjalan menyusuri tepi sungai menuju hulu lagi, kali ini lebih dalam ke bukit. Jalan semakin sempit, rumput liar mulai menutupi tanah. Udara semakin dingin meski matahari sudah naik tinggi.
Di mata air utama—sebuah celah batu kecil yang mengeluarkan air jernih—Shen Yi berlutut lagi. Dia menurunkan botol, tapi sebelum botol menyentuh air, Lian'er memegang lengannya.
“Tunggu. Aku rasakan sesuatu… seperti ada yang mengawasi.”
Shen Yi menoleh. Di balik semak di seberang sungai, ada gerakan samar—bayangan abu-abu yang cepat menghilang. Lian'er mengangkat tangan, kelopak teratai kecil muncul di telapaknya, siap dilempar.
Tapi tak ada serangan. Hanya angin yang bertiup lebih dingin.
Shen Yi mengambil sampel. Air dari mata air ini bersih—tak ada bintik hitam. “Mata air aman. Sumbernya pasti dari saluran pasar. Tapi kenapa bintik hitam di air sungai bisa ‘bergerak’ seperti hidup?”
Lian'er memandang ke arah semak tadi. “Mungkin ada yang sengaja. Bukan alam. Seseorang atau sesuatu yang sebarkan.”
Shen Yi mengangguk tegang. “Kita kembali. Kita tutup saluran pasar sekarang. Dan kita periksa kios-kios yang tutup kemarin.”
Mereka berbalik. Tapi saat melewati belokan sungai, Lian'er tiba-tiba berhenti. Dia memegang dada, wajahnya pucat. Bintik hitam di pergelangan tangannya kini sudah sebesar koin kecil, garis hitam tipis mulai merambat ke lengan.
“Lian'er!”
Shen Yi langsung memeriksa. Dingin di meridian paru-parunya semakin dalam. Napasnya mulai pendek. Dia tersenyum lemah. “Aku… baik-baik saja. Cuma sedikit capek.”
Shen Yi menggeleng keras. “Ini bukan capek. Ini sudah masuk ke paru. Kau terlalu lama rawat pasien tanpa pelindung. Aku seharusnya tak izinkan kau dekat-dekat.”
Lian'er memegang tangan Shen Yi. “Aku pilih sendiri. Aku tak mau kau rawat sendirian. Tapi… kalau aku memburuk, kau harus janji tetap lanjut. Cari sumbernya. Sembuhkan kota ini.”
Shen Yi menarik Lian'er ke pelukannya. “Aku tak akan janji itu. Kalau kau sakit, aku hentikan semuanya sampai kau sembuh. Kau lebih penting dari kota ini.”
Lian'er menangis pelan di dada Shen Yi. “Kau selalu begitu. Tapi kali ini… aku tak mau jadi beban.”
Shen Yi mencium keningnya. “Kau bukan beban. Kau alasan aku masih bertahan.”
Mereka kembali ke kediaman bupati dengan cepat. Di aula timur, pasien sudah bertambah jadi sembilan puluh orang. Beberapa sudah tak sadar, bintik hitam di dada dan leher mereka seperti luka terbuka yang menganga.
Shen Yi langsung rawat Lian'er di kamar terpisah. Dia menusuk titik paru-paru dan jantung dengan jarum akupunktur, lalu oles ramuan teratai murni. Dingin di dada Lian'er mundur sedikit, bintik hitam di tangannya memudar, tapi tak hilang.
“Kau harus istirahat total,” kata Shen Yi tegas. “Tak boleh rawat pasien lagi sampai bintik ini hilang.”
Lian'er menggeleng lemah. “Aku masih bisa bantu dari sini. Aku bisa buat ramuan. Aku bisa arahkan murid sekte.”
Shen Yi menghela napas. “Baik. Tapi kau tak boleh keluar kamar. Aku akan periksa pasar dan saluran sendiri.”
Lian'er memegang tangan Shen Yi. “Hati-hati. Kalau kau merasa dingin di dada… kembali segera.”
Shen Yi mencium tangan Lian'er. “Aku janji.”
Siang itu, Shen Yi pergi ke pasar dengan dua tentara pengawal. Pasar sudah sepi—kios-kios tutup, hanya beberapa pedagang yang masih berjualan dengan wajah takut. Dia menuju saluran pembuangan di belakang kios ikan yang sudah tutup dua hari.
Di sana, genangan air hitam pekat masih ada—lebih banyak dari kemarin. Shen Yi berlutut, mengambil sampel lagi. Saat dia menuang ramuan, bintik hitam di air itu bergerak lebih cepat—seperti mencoba kabur dari mangkuk.
“Ini… bukan hanya energi sisa,” gumam Shen Yi. “Ini seperti ada yang hidup di dalam air.”
Dia mengikuti saluran ke belakang kios. Di bawah tumpukan keranjang ikan tua, ada sebuah botol kaca kecil yang pecah. Dari dalam botol itu, cairan hitam pekat mengalir pelan ke saluran.
Shen Yi mengambil pecahan botol itu. Di dalam ada sisa cairan hitam yang masih bergerak. Dia meneteskan Air Teratai Murni. Cairan hitam itu berteriak kecil—suara seperti desis uap—lalu mencair sepenuhnya.
“Ini… botol dari mana?” tanya Shen Yi pada tentara di belakang.
Tentara itu menggeleng. “Kios ini milik pedagang tua yang sudah sakit. Dia bilang kemarin dapat kiriman ikan dari luar kota. Mungkin botol ini dari kiriman itu.”
Shen Yi menatap botol pecah itu. “Seseorang sengaja bawa ini ke pasar. Seseorang sebarkan es hitam ini.”
Dia kembali ke kediaman bupati dengan cepat. Lian'er sudah menunggu di aula timur, wajahnya lebih pucat dari pagi tadi. Bintik hitam di tangannya mulai merambat lagi.
“Shen Yi… aku merasa lebih dingin.”
Shen Yi memeriksa. Dingin di paru-parunya semakin dalam. Dia langsung akupunktur lagi, tapi kali ini efeknya lebih lambat.
“Kita butuh lebih banyak Air Teratai Murni,” kata Lian'er lemah. “Satu tetes lagi untukku. Dan untuk pasien kritis.”
Shen Yi mengangguk. Dia meneteskan setetes terakhir dari botol ke mulut Lian'er. Dingin di paru-parunya mundur lagi, tapi botol sekarang kosong.
Raden Arya masuk ke aula. “Tabib… paman ayahanda sudah masuk kota dengan pasukan kecil. Dia bilang kalau karantina tak dibuka malam ini, dia akan ambil alih dengan kekerasan. Dia bilang penyakit ini bisa disembuhkan dengan obat dari luar kota—obat yang dia bawa.”
Shen Yi menatap Raden Arya. “Obat itu palsu. Kalau dia sebarkan obat itu, wabah akan semakin parah. Kita harus hadapi dia sekarang.”
Raden Arya menggeleng. “Aku tak punya cukup tentara. Dia sudah suap beberapa perwira.”
Lian'er bangkit pelan. “Kita tak perlu tentara. Kita punya rakyat. Kalau kita tunjukkan bahwa kita rawat mereka, mereka akan dukung kita.”
Shen Yi mengangguk. “Besok pagi aku akan ke alun-alun lagi. Rawat pasien di depan mata rakyat. Biarkan mereka lihat sendiri. Kalau paman bupati datang dengan obat palsu, kita buktikan itu tak bekerja.”
Raden Arya menatap Shen Yi dengan mata penuh rasa hormat dan ketakutan. “Tabib… kalau kau gagal… aku tak tahu apa yang akan terjadi.”
Shen Yi tersenyum tipis. “Aku nggak akan gagal. Karena aku punya Lian'er. Dan kau punya rakyat yang masih percaya pada keadilan.”
Malam itu, aula timur penuh suara batuk dan isak. Shen Yi dan Lian'er bekerja tanpa henti. Komplikasi baru muncul: beberapa pasien mulai batuk darah hitam—cairan pekat yang berbau amis dan dingin.
Shen Yi memeriksa salah satu pasien. “Ini… paru-parunya sudah rusak parah. Dingin sudah masuk ke dalam. Ramuan kita tak cukup lagi.”
Lian'er memegang tangan pasien itu. “Kita harus temukan sumbernya besok. Kalau tak, kita kehilangan mereka semua.”
Shen Yi mengangguk. “Besok pagi. Kita pergi ke hulu sungai lagi. Dan kita bawa Raden Arya. Dia harus lihat sendiri.”
Di luar, suara massa mulai terdengar lagi. Obor menyala di alun-alun. Pangeran Wijaya sudah mulai sebarkan obat palsunya.
Wabah tak bernama itu semakin bernapas—dan kota semakin dekat ke titik patah.