NovelToon NovelToon
Istri Pilihan Gus Azkar

Istri Pilihan Gus Azkar

Status: tamat
Genre:Romansa / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.

Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.

Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23

Langkah kaki Gus Azkar yang tegas menggema di lantai marmer, membuat percakapan serius di dalam ruangan itu seketika terhenti. Kyai Muhammad mendongak, matanya yang teduh membelalak sempurna melihat putra tunggalnya masuk dengan menggendong seorang wanita berbaju marun.

"Azkar? Apa yang terjadi?" tanya Kyai Muhammad spontan, setengah kaget setengah khawatir.

Para tamu dari Arab Saudi pun ikut tertegun. Mereka saling berbisik dalam bahasa Arab yang cepat, bertanya-tanya siapakah wanita yang digendong oleh keponakan mereka itu. Ustadz Fadly, sahabat karib Gus Azkar yang berdiri di dekat pintu, hampir saja menyemburkan air minumnya. Ia tahu Azkar sudah menikah, tapi ia tidak menyangka sahabatnya yang kaku itu akan melakukan aksi seberani ini di depan keluarga besar.

"Mohon maaf, Abah, Ammu (Paman)... Rina keseleo di depan asrama putra tadi. Dia tidak bisa berjalan," ujar Gus Azkar dengan tenang, sama sekali tidak merasa canggung meski sedang ditatap belasan pasang mata.

Gus Azkar perlahan menurunkan Rina ke sofa panjang yang paling empuk. Rina segera menundukkan kepalanya dalam-dalam, berusaha menutupi wajahnya yang sembab dengan cadar marunnya. Tangannya gemetar hebat memegang ujung gamisnya.

Kyai Muhammad berdehem, mencoba mencairkan suasana. "Masya Allah... Azkar, setidaknya jelaskan dulu pada paman-pamanmu ini. Mereka belum tahu kalau kamu sudah menemukan 'tulang rusuk'mu."

Salah satu paman Gus Azkar dari Arab Saudi, Syekh Abdullah, tersenyum lebar hingga janggut putihnya ikut bergerak. "Ya Azkar! Man hadzihi? Al-’arusu al-jadidah? (Siapa ini? Pengantin baru?)"

Gus Azkar mengangguk mantap. Ia berdiri di samping sofa tempat Rina duduk, meletakkan tangannya di sandaran sofa seolah melindungi istrinya. "Benar, Ammu. Ini adalah Rina, istri saya. Kami baru saja melangsungkan akad secara sederhana kemarin."

Seketika, ruangan yang tadinya formal berubah menjadi penuh dengan ucapan selamat dan doa-doa dalam bahasa Arab. Syekh Abdullah tertawa bangga, "Ah, pantas saja kamu tidak mau dijodohkan dengan putri kenalan Ammu di Jeddah! Ternyata seleramu luar biasa, Azkar. Kamu sangat menjaganya seperti mutiara."

Di tengah kegembiraan keluarga ndalem, Rina hanya bisa terpaku. Ia tidak menyangka keluarga Gus Azkar yang tampak sangat terhormat dan berwibawa itu justru menyambutnya dengan begitu hangat dan terbuka.

Gus Azkar berjongkok di depan kaki Rina, sama sekali tidak peduli pada tatapan paman-pamannya. "Masih sangat sakit?" bisiknya lembut.

Rina mengangguk pelan. Gus Azkar kemudian menoleh pada Ustadz Fadly. "Fad, tolong panggilkan Bi Ijah di dapur, minta minyak urut dan air hangat. Segera."

Ustadz Fadly hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum geli. "Siap, Gus! Melaksanakan perintah Kanjeng Suami Siaga!"

Gus Azkar kembali menatap Rina, ia menggenggam tangan istrinya di bawah meja, seolah ingin menyalurkan kekuatan agar Rina tidak lagi merasa minder di depan keluarga besarnya yang baru pulang dari tanah suci itu.

Gus Azkar yang masih berjongkok di depan Rina mendongak saat mendengar suara lembut yang sangat ia kenali. Dari arah lorong dalam, muncul Umi Fatimah, ibu kandung Gus Azkar, dengan senyum yang begitu meneduhkan. Beliau berjalan mendekat, menatap menantunya yang tampak mungil dan rapuh di atas sofa besar itu.

Umi Fatimah mengusap pundak Gus Azkar, lalu beralih menyentuh tangan Rina yang masih gemetar. "Bawa istrimu ke kamarmu di atas, Azkar. Kasihan, dia butuh istirahat dan tempat yang lebih tenang untuk mengobati kakinya," ucap Umi Fatimah dengan nada keibuan.

Beliau kemudian menoleh ke arah Ustadz Fadly yang baru saja kembali. "Nanti Nak Fadly biar membantu membawakan minyak urut dan air hangatnya ke atas, ya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!