Di sebuah dunia yang damai, tempat berbagai ras hidup berdampingan, seorang gadis ras campuran menjalani kehidupan normalnya yang tampak biasa.
Namun, perlahan sesuatu yang terasa asing menghampiri. Mimpi yang terasa nyata.
Aroma kematian yang menyusup. Dan sesuatu yang mengincarnya dari balik kegelapan.
Rahasia masa lalu, makhluk terkutuk, dan gerbang yang seharusnya tetap tertutup perlahan bergerak menuju satu titik temu.
Tak semua yang melindungi berniat baik. Tak semua mimpi ingin dilupakan.
Ketika kebenaran akhirnya menuntut harga, hanya satu pertanyaan yang tersisa:
apa sebenarnya yang ada dibalik dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amateurss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
catatan mimpi
Luce menerima botol itu dengan raut bingung. Ia memutar-mutar botol di tangannya, seolah mencari tahu apa isinya.
"Minum. Itu ramuan pemulih," ujar Dornus datar. "Kau tidak pernah sebabak belur ini sebelumnya, jadi ambillah. Mengenai nilaimu... kau berhasil menerima lima serangan dan tetap berdiri. Itu lima belas poin. Sudah, kembali sana."
Luce mengerjapkan mata, masih berusaha mencerna perubahan sikap sang instruktur. "Oh... baik, Instruktur. Terimakasih. Saya izin kembali," jawabnya kikuk.
Tidak biasanya Instruktur Dornus bersikap 'lembut', setidaknya untuk ukuran pria kaku itu. Tanpa membuang waktu, Luce segera meneguk ramuan tersebut hingga tandas, lalu bergegas kembali menuju tempat Ursha'el dan rekan-rekannya berteduh.
Kenny menyambutnya dengan nada penasaran, "Ada apa, Luce?"
"Oh, cuma pemberitahuan nilai. Enggak ada apa-apa," jawab Luce datar.
"Serius? Cuma itu?" sahut Vivi heran. "Kau enggak dimarahi?"
"Enggak, kok. Beneran, cuma itu..." balas Luce meyakinkan.
Ursha'el bangkit berdiri sambil mengenakan kembali kemejanya. "Ke kelas sihir, yuk? Kelas teori sihir bakal mulai setengah jam lagi."
"Iya, ayo," jawab Kenny dan Vivi yang segera ikut berdiri dan merapikan pakaian mereka.
"Teori sihir bab akhir itu tentang jenis-jenis sihir terlarang, ya?" ujar Vivi sembari mengancingkan kemejanya.
"Iya,...tapi kayaknya nggak bakal masuk di ujian akhir nanti...cuma tambahan aja" jawab Ursha'el.
Luce memakai kembali jubahnya lalu tertawa ringan. "Wah, enggak terasa sudah hampir genap dua belas tahun aku mondar-mandir di akademi ini terus, hahaha."
"Begitulah, Luce. Tahu-tahu bulan depan sudah ujian kelulusan saja, hahaha," sahut Ursha’el sambil tertawa ringan. "Oh iya, ngomong-ngomong, Luce..." sambungnya sembari mencari sesuatu di dalam tasnya.
"Oh? Catatan mimpimu tadi, ya? Mana?" tanya Luce sembari menatap Ursha’el dengan penuh rasa penasaran.
Ursha’el mengeluarkan selembar kertas berisi detail mimpinya yang ia tulis tadi pagi. Luce kembali duduk di rerumputan, menerima kertas itu dan segera membukanya. Hal itu memicu rasa penasaran Vivi dan Kenny yang langsung ikut mengintip dari sisi kiri dan kanan Luce.
"Wih, sepertinya memang ngeri mimpimu ini, Ursha. Kalau aku, mungkin sudah stres berat kalau dapat mimpi seperti ini berkali-kali," komentar Vivi setelah membaca baris demi baris.
"Dan satu lagi, Luce... aroma yang ada di dalam mimpiku itu benar-benar sama dengan aroma kotoran naga terkutuk di kelas alkimia tadi," jelas Ursha’el pelan.
Sontak, ketiganya menoleh serentak ke arah Ursha'el.
"Aromanya sama?" Luce mengernyit heran. "Tunggu dulu. Sepengetahuanku, kotoran naga terkutuk itu residu dari sisa energi kegelapan sang naga, kan?"
"Iya, tepat sekali. Wah, kamu benar-benar paham soal bahan ramuan alkimia, ya," puji Ursha’el dengan senyum tipis. Kenny dan Vivi hanya menoleh ke sana-kemari, menyimak percakapan teknis tersebut dalam diam.
"Lalu, tadi Profesor Ojike menceritakan sesuatu padaku..." Ursha’el pun mulai memaparkan kisah tentang legenda itu, tentang naga yang menjadi sumber energi kegelapan, tentang gerbang kuno dan monster-monster yang muncul karena tertarik pada energi kegelapan naga terkutuk, tentang segel yang hanya bisa menggunakan jiwa, tentang identitas sang legenda agung yang misterius, tentang residu yang memiliki kemungkinan untuk membuka celah, persis seperti yang diceritakan sang profesor.
"Loh? Jadi... itu semua benar-benar kisah nyata? Kupikir hanya mitos," komentar Vivi dengan raut terkejut.
"Begitulah, Vi. Awalnya aku pun mengira itu hanya dongeng, tapi setelah mendengar penjelasan Profesor Ojike, sepertinya bukan," jawab Ursha’el serius.
Kenny dan Luce menyimak cerita itu dalam keheningan yang panjang. Luce kemudian melipat kertas tersebut perlahan dan memasukkannya ke dalam saku jubah.
"Baiklah, aku akan mencoba mencari tahu apa arti mimpimu ini, Ursha’el," ujar Luce.
Ia lalu merapikan gelas bekas susu dan wadah kayu di rerumputan, kemudian berdiri , bersiap mengembalikannya kepada pedagang elf muda yang duduk di samping gerobaknya di luar Gerbang Timur.
“Berapa tadi harga ubinya, Luce?” tanya Kenny.
“Satu koin tembaga, Ken,” jawab Luce santai.
Kenny melemparkan koin tembaga ke arah Luce, yang langsung menangkapnya dengan sempurna.
“Kalau aku?” tanya Vivi sambil merogoh sakunya.
“Oh, nggak usah, Vi,” jawab Luce sambil menjauh dan mulai melangkah ke arah Gerbang Timur.
“Hah?” Vivi mengernyit bingung.
Luce menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh. "Aku bayarin, hehe. Anggap saja balas budi karena kau sudah mengobatiku tadi."
Luce memberikan senyum yang manis dan hangat, sebuah senyum jujur yang luar biasa langka, sangat kontras dengan seringai jahil yang biasa ia tunjukkan. "Terima kasih," tutup Luce, lalu segera berbalik menuju pedagang.
Seketika, wajah Vivi memerah padam hingga ke telinga. Kenny, yang kebetulan memperhatikan raut wajah Vivi, langsung menyadari ada sesuatu yang sedang terjadi.
"Astaga, Vivi! Serius?!" ujar Kenny pelan, kaget bercampur geli. Ia tertawa kecil, membuat Ursha’el ikut menoleh dan tersenyum simpul melihat pemandangan itu.
Vivi, yang merasa seperti penjahat yang tertangkap basah, hanya mampu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Wah..." gumam Kenny heran, masih tak percaya. "Kok bisa? Sejak kapan?"
"Ssst... sudahlah, Ken. Biarkan dia menenangkan diri dulu," sela Ursha’el dengan senyum tipis, memberikan isyarat agar Kenny berhenti menggoda. "Bisa-bisa malah jadi berantakan kalau kau cecar terus, hahaha," tambahnya pelan.
Kenny menatap Ursha’el, lalu mengangguk paham. "Iya, sih... aku cuma... hahaha! Benar-benar tidak menyangka saja," ujar Kenny sembari menggelengkan kepala, namun ia setuju untuk menjaga rahasia itu.
Tak lama kemudian, Luce kembali. Suasana sudah kembali normal, seolah-olah tidak ada momen canggung yang baru saja terjadi.
"Yuk, ke kelas sihir," ajak Luce tanpa curiga, terus melangkah mendahului mereka.
"Oke, ayo," sahut Kenny datar. Meski nadanya dibuat biasa saja, ia tetap menyunggingkan senyum geli sambil menepuk bahu Luce pelan saat mereka berpapasan.
Mereka berempat pun berjalan bersamaan, meninggalkan lapangan pelatihan pertarungan menuju sebuah koridor panjang yang mengarah ke selatan akademi.
"Ngomong-ngomong, Luce," Ursha’el membuka suara sembari berjalan di samping Kenny. "Kenapa orang tuamu sampai punya buku penerjemah mimpi? Bukannya aku meremehkan, tapi setahuku ilmu ramal itu jenis ilmu yang paling sedikit peminatnya. Bahkan di akademi saja tidak ada mata pelajarannya, kan?"
Luce terkekeh pelan mendengar pertanyaan itu. "Oh... hahaha. Memang sih, ilmu ramalan itu sudah susah, jarang akurat pula. Jadi pantas saja jarang ada yang tertarik."
Ia menarik napas panjang sejenak, tatapannya menerawang ke depan. "Dulu, kata mendiang nenekku, mendiang ibuku sangat menyukai ilmu ramalan. Jadi, ya... begitulah. Beliau menyimpan buku penerjemah mimpi itu di rumah, hehe," jawab Luce dengan nada santai, namun terselip getaran kerinduan yang tipis di suaranya.
"Oh... begitu..." komentar Ursha’el pelan, merasa sedikit tidak enak karena telah mengungkit hal pribadi.
Mereka berempat kemudian melangkah masuk ke dalam kegelapan koridor yang dingin, suara langkah kaki mereka bergema di antara dinding batu tua.
Namun, tanpa mereka sadari, dari kejauhan, dari bawah bayang-bayang pepohonan dilapangan, sepasang mata tajam milik Instruktur Dornus mengawasi mereka. Pria kaku itu berdiri mematung, menatap punggung keempat murid tersebut tanpa ekspresi, terus memperhatikan hingga sosok mereka benar-benar hilang ditelan tikungan koridor.