NovelToon NovelToon
Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Wanita perkasa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri, Aurelia kembali dari kematian dalam tubuh Elara, putri bangsawan lemah yang ia benci. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh yang trauma pada api, di istana yang sama tempat pembunuhnya bertahta.

Dikelilingi selir licik pemuja sihir hitam dan kaisar paranoid yang terobsesi padanya, Aurelia harus menggunakan sihir void terlarang untuk membalas dendam tanpa menghancurkan jiwanya sendiri. Di antara intrik racun dan rahasia kuno yang mengguncang dunia, sang Ratu harus memilih: takhta berlumur darah, atau keselamatan dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 Nyanyian Sirene Es

Sisa-sisa debu salju dari derap kuda utusan kaisar masih menggantung di udara tipis perbatasan, menciptakan tirai putih yang perlahan menyatu dengan cakrawala kelabu. Elara tetap mematung di gerbang perkemahan, jemarinya mencengkeram kain jubah kasar miliknya hingga buku-buku jarinya memutih. Tangan kirinya—yang kini menghitam pekat hingga pergelangan akibat beban purifikasi sumber air tempo hari—berdenyut perih, seolah-olah sirkuit Void di dalamnya sedang memprotes kelelahan yang ia paksakan.

Di tengah kesunyian itu, sebuah frekuensi mulai merayap naik. Sebuah nada tinggi yang melengking, namun terasa halus seperti sutra yang menyayat kulit.

"Nyonya? Utusan itu sudah jauh. Kenapa Anda masih berdiri di sini? Udara semakin membeku," Kaelen melangkah mendekat, suaranya berat oleh kecemasan yang tertahan.

Elara tidak menoleh. Ia memejamkan mata, mencoba menyaring kebisingan angin dari denging asing yang kini mulai membuat telinganya terasa panas. "Kaelen, apa kau benar-benar tidak mendengar apa pun? Sebuah nada yang seolah-olah ditarik dari kedalaman es yang paling tua?"

Kaelen terdiam, menajamkan pendengarannya ke arah hutan pinus yang membeku di hadapan mereka. "Hanya desau angin yang menghantam tebing, Nyonya. Tidak ada nyanyian, tidak ada suara wanita. Hanya napas kita yang membeku."

"Berarti resonansi ini memang hanya ditujukan untuk jiwa yang terikat pada frekuensi Void," Elara membuka matanya, kilatan ungu samar berdenyut di pupilnya. "Panggil Juna. Sekarang."

"Tapi Sersan Juna masih sangat lemah, Nyonya. Lendir abu-abu itu baru saja keluar dari paru-parunya beberapa jam yang lalu saat pembersihan wabah kemarin," Kaelen mencoba memberikan alasan logis, namun ia segera bungkam saat Elara memberikan tatapan absolut yang mematikan.

"Panggil dia sebelum nyanyian ini membawanya pergi jauh dari kita, Kaelen!" perintah Elara dingin.

Tak butuh waktu lama bagi Kaelen untuk membawa Juna ke gerbang. Sersan itu berjalan dengan langkah limbung, matanya tampak kosong dan berkabut. Saat ia sampai di dekat Elara, kepalanya mendongak ke arah hutan pinus, mengikuti arah yang sama dengan tatapan Elara. Bibirnya yang pucat bergerak-gerak tanpa suara.

"Juna, fokus padaku!" Elara mencengkeram rahang Juna dengan tangan kanannya yang masih hangat. "Apa yang kau lihat di sana?"

"Ladang bunga matahari, Nyonya..." suara Juna terdengar serak, menyerupai gesekan batu. "Ibu saya sedang berdiri di ladang bunga matahari Asteria yang kita tinggalkan. Dia memanggil saya... dia bilang di sana sangat hangat. Tidak ada es, tidak ada rasa sakit di dada ini."

Elara merasakan hantaman emosi yang luar biasa. Ladang bunga matahari. Itu adalah gambaran yang sama yang diceritakan oleh para prajurit yang nyaris kehilangan kewarasan saat badai salju sebelumnya. Sekte itu tidak menyerang dengan pedang; mereka menyerang dengan kerinduan yang paling dalam. Elara sendiri mulai mencium bau teh melati hangat—aroma yang biasa diseduh ibunya setiap pagi di istana lama sebelum semuanya terbakar habis.

"Itu palsu, Juna! Itu adalah manipulasi frekuensi!" Elara membentak, lebih kepada dirinya sendiri daripada prajurit di hadapannya.

"Tapi rasanya sangat nyata, Nyonya..." air mata mulai mengalir di pipi Juna yang kotor. "Kenapa kita harus berada di sini? Di tanah yang membenci kita ini? Biarkan saya pergi ke sana. Ibu memanggil saya."

Juna mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Elara, kekuatannya meningkat pesat secara tidak wajar, seolah-olah ada energi tambahan yang dipompa masuk ke dalam otot-ototnya melalui frekuensi nyanyian tersebut.

"Kaelen, siapkan barisan 'Bisu'. Ambil sepuluh prajurit, sumbat telinga mereka dengan lilin lebah sekarang juga!" perintah Elara.

"Kita akan memasuki hutan itu dalam kondisi seperti ini? Ini adalah bunuh diri, Elara! Pasukan kita baru saja berdiri kembali setelah pembersihan sumber air kemarin!" Kaelen berseru, kemarahannya pecah melihat Elara yang tampak semakin irasional.

"Jika kita tidak masuk sekarang, besok pagi perkemahan ini hanya akan berisi mayat-mayat yang tersenyum karena mati dalam halusinasi!" Elara membalas dengan nada yang lebih tinggi. "Pilih antara mati sebagai prajurit yang bertarung, atau mati sebagai boneka yang menari mengikuti lagu musuhmu. Pilih, Kaelen!"

Kaelen menggeram, namun ia segera menjalankan perintah tersebut. Tak lama kemudian, sepuluh prajurit dengan telinga tersumbat rapat berdiri di belakang mereka. Elara memimpin di depan, tangannya yang hitam terasa sangat panas sekarang, kontras dengan suhu Utara yang ekstrem.

"Nyonya, bau ini..." salah satu prajurit berbisik saat mereka mulai memasuki vegetasi pinus.

"Abaikan apa pun yang indra kalian rasakan," Elara menyahut tanpa menoleh. "Bau pinus ini mulai membusuk karena sihir Void. Tetap pada formasi."

Semakin dalam mereka masuk ke dalam hutan, nyanyian itu kini bukan lagi suara wanita, melainkan denging logam yang memekakkan telinga. Elara mengaktifkan sirkuit Void Level 1.9 miliknya. Ia tidak mencoba menutup telinganya; sebaliknya, ia memproyeksikan "kebisingan putih" melalui analisis frekuensi molekuler yang ia pelajari saat menganalisis racun sebelumnya. Ia menciptakan penghalang gelombang untuk memecah resonansi sihir pada prajuritnya.

"Juna, tetap di belakangku!" Elara menarik Juna yang terus mencoba merangkak menuju sebuah pohon pinus kuno yang batangnya melintir tidak alami.

"Dia ada di sana, Nyonya! Ibu saya ada di balik pohon itu!" Juna berteriak, matanya membelalak lebar.

"Kaelen, tahan dia!"

Kaelen memiting lengan Juna, namun sersan itu mengeluarkan teriakan melengking. Dari mulutnya keluar uap ungu pekat. Juna menghantamkan sikunya ke rusuk Kaelen dengan kekuatan ganda, membuat ksatria itu terlempar beberapa langkah.

"Juna! Hentikan!" Elara berseru, namun Juna sudah berlari menuju pohon tua di tengah tanah lapang hutan.

Di depan pohon pinus kuno itu, Elara melihatnya. Bukan seorang wanita. Di sana tergantung sebuah lonceng kecil yang terbuat dari logam gelap keunguan. Lonceng itu bergetar begitu cepat hingga menciptakan distorsi visual di udara sekitarnya. Itulah sumber frekuensi yang telah merusak kewarasan perkemahan mereka.

"Jadi ini senjata kalian?" Elara menggertakkan gigi.

"Biarkan dia pergi, Putri Asteria..." sebuah suara halusinasi terdengar di telinga Elara. Suara suaminya, Valerius. "Bukankah kau juga ingin kembali? Ke malam sebelum api itu menyentuh kulitmu? Aku ada di sini, menunggumu di ranjang kita yang hangat."

Elara tersentak. Bayangan api besar yang melahap kamarnya di istana lama tiba-tiba muncul di depan matanya. Aroma daging terbakar dan rasa sakit yang tak terlukiskan kembali menghantamnya.

"Tidak... tidak lagi..." Elara terengah-engah, matanya menatap api ilusi yang seolah-olah mulai menjilat jubahnya.

"Istriku, datanglah padaku. Lupakan dendammu yang dingin itu," bayangan Valerius mengulurkan tangan.

Elara mendadak tertawa histeris di tengah hutan. Tawanya begitu kering dan penuh keputusasaan hingga Kaelen yang sedang bergulat dengan Juna menoleh dengan wajah pucat.

"Nyonya? Elara! Jangan dengarkan suaranya!" teriak Kaelen.

"Kau tahu apa yang lucu, Kaelen?" Elara bergumam dengan nada irasional yang menakutkan. "Lagu ini... melodi yang lonceng ini mainkan... ini adalah lagu pengantar tidur yang dulu dinyanyikan ibuku sebelum aku tidur. Mereka mencuri lagu itu dari ingatanku."

Elara memaksakan kakinya bergerak. Ia mengabaikan api halusinasi tersebut. Dengan kemarahan yang meluap, ia memfokuskan seluruh sirkuit Void miliknya ke ujung jarinya. Ia tidak akan menyerah pada kenangan manis yang telah diracuni.

"Kau bukan ibuku, dan kau bukan Valerius yang mencintaiku," bisik Elara. "Kalian hanyalah getaran molekul yang salah."

Elara melangkah maju, menerjang ilusi api yang kini terasa menggelitik kulitnya. Setiap langkah yang ia ambil membuat salju di bawah kakinya sedikit mencair, bukan karena panas fisik, melainkan karena radiasi energi Void yang meluap dari sirkuit jiwanya. Di depannya, lonceng itu bergetar semakin liar, menciptakan suara denging yang seolah-olah ingin mencungkil keluar bola matanya.

"Juna! Kaelen! Tutup mata kalian!" teriak Elara.

Ia tidak lagi menggunakan kata-kata untuk memproses mana. Ia menggunakan kehendak murni. Elara memusatkan seluruh sirkuit Void Level 1.9 miliknya pada satu titik di udara, tepat di depan permukaan lonceng yang berdistorsi. Ia menerapkan teknik filter frekuensi, sebuah aplikasi tingkat lanjut dari analisis molekuler yang ia asah saat memurnikan racun di sumber air tempohari. Ia menciptakan gelombang pembalik yang menghantam resonansi sihir itu tepat di intinya.

"Void: Ledakan Frekuensi!"

Suara dentuman hampa meledak di tengah tanah lapang itu. Bukan suara ledakan mesiu yang bising, melainkan sebuah denyut energi yang menyedot suara di sekitarnya hingga menjadi vakum selama sepersekian detik. Lonceng logam gelap itu terlempar, menghantam batang pohon pinus kuno dengan keras sebelum akhirnya retak menjadi serpihan kecil yang tidak lagi bercahaya.

Seketika, nyanyian itu lenyap. Bayangan ladang bunga matahari, aroma teh melati, dan api yang menjilat-jilat Asteria dalam ingatan Elara menguap seperti kabut yang dihantam badai. Juna mendadak lemas, tubuhnya merosot ke tanah sementara Kaelen dengan sigap menangkap bahunya.

"Nyonya? Apa sudah berakhir?" Kaelen terengah-engah, wajahnya bersimbah keringat dingin meski suhu di sekitar mereka berada di bawah titik beku.

Elara tidak menjawab. Ia masih berdiri mematung, menatap serpihan lonceng yang kini tak lebih dari sampah logam. Napasnya memburu, meninggalkan uap putih yang tebal di udara pagi yang mulai terang. Rasa sakit di tangan kirinya yang menghitam perlahan mereda, namun sensasi dingin yang baru kini mulai merayap dari arah tebing di belakang mereka.

"Lihat itu..." bisik salah satu prajurit yang masih menyumbat telinganya dengan lilin lebah.

Getaran dari ledakan frekuensi Elara tadi ternyata memicu sesuatu yang lebih besar dari sekadar menghancurkan artefak sekte. Gelombang itu merambat melalui struktur molekuler es yang menyelimuti dinding tebing raksasa di balik pohon pinus kuno tersebut.

Suara retakan besar terdengar, menyerupai bunyi tulang raksasa yang patah. Lapisan es yang selama ini menutupi air terjun beku di belakang mereka mulai runtuh, jatuh dalam bongkahan-bongkahan besar yang menghantam tanah dengan suara menggelegar. Debu es yang beterbangan perlahan menipis seiring dengan hembusan angin Utara, menyingkap apa yang selama ini disembunyikan oleh sihir tingkat tinggi.

Di balik air terjun yang telah runtuh itu, dinding batu tebing tidak lagi rata. Sebuah gerbang batu kuno dengan ukiran kristal biru yang rumit mulai terlihat, menganga lebar menuju kegelapan perut bumi. Kristal-kristal biru yang tertanam di sepanjang bingkai gerbang itu berdenyut dengan cahaya safir yang tenang, namun sangat kuat—sebuah denyut cahaya yang secara misterius bergerak searah dengan detak jantung Elara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!