Setelah dikhianati oleh orang orang terdekatnya, Indira pun berusaha untuk keluar dari zona yang membuatnya tertekan, namun orang orang itu sama sekali tidak membiarkan Indira untuk bebas. Dengan rasa trauma yang dia alami, ia di hantui kata kata menyakitkan yang selama ini ia dengar, lantas bagaimana caranya agar bisa keluar dari zona tersebut? apakah dia akan menemukan cinta sejati yang selama ini ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penikmat_lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan Rania
"Nggak usah pulang, menginap disini saja, Dira. Nanti tidur di rumahku," Ucap Rania.
"Nggak bisa aku, nanti kasihan kucing kucingku kalo nggak dikasih makan," Ucap Indira.
"Ya besok pagi aja dikasih makan, ini udah malem juga soalnya. Nggak baik kalo cewek cewek pulang sendiri malam malam gini, gimana kalo nanti dibegal orang? Atau dihadang gengster?"
"Tapi ya gimana lagi? Harus pulang pokoknya,"
"Pulang bareng aku aja, sekalian juga nanti searah," Ucap Kakak lelaki dari Rania.
"Baiklah," Jawab Indira.
"Bilang sama Ibumu, kalo kamu pulang diantar dua bodyguard yang tubuhnya besar bertato,"
Mendengar ucapan dari Kakak lelaki Rania, hal itu langsung membuat semuanya tertawa, karena memang Kakak dari Rania itu memiliki tato di sekujur tubuhnya. Kedua orang yang dimaksudkan itu memiliki badan yang besar, tinggi, dan bertato sehingga nampak begitu sangat menyeramkan.
"Nanti kita ikuti dari belakang,"
"Siap Bos!"
******
Akhirnya pernikahan Rania pun terjadi, untung saja uang buat beli kucing itu telah selesai Indira cicil hingga lunas sebelum Rania mengundurkan diri dari pekerjaannya. Karena Indira dan Rania adalah sahabat, sehingga waktu Rania nikah Indira pun meminta izin cuti kepada mandor pabriknya.
Indira datang kerumah Rania sejak pagi dini hari untuk membantu pelaksanaan acara resepsi pernikahan itu, sehingga banyak hal yang harus Indira kerjakan demi membantu sahabatnya itu menikah. Pernikahan itu pun berjalan dengan lancar tanpa ada halangan apapun, dan Indira merasa lega atas lancarnya pernikahan itu.
"Dira, kamu istirahat aja dulu, pasti capek dari tadi belum istirahat," Ucap Rania ketika melihat Indira yang justru sibuk dengan tugasnya sendiri.
"Habis ini istirahat kok, kamu sendiri pasti capek. Duduk aja dulu, biar aku yang atur semuanya," Ucap Indira.
"Janganlah gitu, udah istirahat dulu, atau makan makan dulu sana. Waktunya masih lama, dan masih banyak tamu yang akan datang nantinya."
"Baiklah kalo begitu, aku istirahat dulu ya,"
"Nah gitu dong."
Indira pun pergi meninggalkan pesta tersebut dan duduk didalam rumah, disana dirinya bertemu dengan Eka ( saudara dari Rania ) yang tengah duduk sendirian. Indira lalu datang menghampirinya, siapa tau dirinya bisa menjadikannya sebagai teman ngobrol selama berada disana.
"Beli bakso yuk," Ajak Eka.
"Beli bakso dimana? Di acara pesta nikahan Rania kan juga ada bakso," Ucap Indira.
"Aku punya banyak rekomendasi tempat bakso yang enak enak, kalo bakso yang ada di pesta kan nggak bisa ambil banyak soalnya buat tamu. Mending beli aja, nanti dimakan di rumahku mumpung sepi,"
"Hemmm.... Baiklah ayo,"
Indira langsung meninggalkan tempat pesta pernikahan itu bersama dengan Eka, mereka pergi tanpa berpamitan kepada Rania terlebih dahulu. Keduanya pikir bahwa Rania tidak akan mencarinya karena dirinya sendiri tengah sibuk dengan pestanya itu, sehingga mereka pergi sebentar saja tidak akan membuat Rania menyadarinya.
Baru saja sebentar Indira pergi bersama dengan Eka dari tempat itu, dan tak lama kemudian Rania langsung menelponnya. Baru saja dirinya pergi namun langsung dicari oleh Rania, bahkan disaat dirinya tengah sibuk pun Rania masih sempat memikirkan Indira.
"Halo, kamu dimana Dira?" Suara Rania menggema didalam telepon itu.
"Lagi keluar bentar nih, mau beli makanan sama Eka. Ada apa?" Tanya Indira balik.
"Disini loh banyak makanan, kenapa beli makanan hem?"
"Iya nggak papa aja, lagian disana sangat ramai jadi nggak bisa tenang makannya,"
"Yaudah kalo gitu, habis itu cepat balik. Disini ada Miranda loh yang nyariin kamu,"
"Oke."
Indira lalu menutup telepon itu, dirinya hanya bisa menghela nafas dengan kasar, hanya karena itu Rania langsung memintanya kembali ke acara pernikahan. Ditambah lagi Indira dengan Miranda sudah lama tidak saling sapa karena suatu hal, sehingga hubungan keduanya memang tidak baik baik saja, dan bahkan Indira tidak lagi mau berhubungan dengan orang itu.
Sudah hampir 3 tahun mereka putus hubungan, hanya karena sebuah masalah yang membuat Indira merasa kesal sekaligus merasa tidak dihargai oleh Miranda. Indira merasa bahwa persahabatan mereka hanya bisa diremehkan, dan bahkan Indira masih ingat dengan jelas bagaimana Miranda merendahkan dirinya dan menganggap pekerjaannya saat ini sangat hina.
Indira tidak mau ribut hanya karena masalah yang sudah lama berlalu, dirinya memang mudah sekali untuk terpancing emosi, sehingga lebih baik darinya menghindar daripada harus tersulut emosi sesaat. Siapa sangka sebelum kejadian itu memang telah terjadi sebuah tragedi yang dialami oleh Miranda, gadis itu mengalami hamil diluar nikah dan depresi karena hal tersebut.
"Kenapa? Kok mukamu kusut gitu?" Tanya Eka ketika melihat wajah Indira setelah menerima telepon.
"Ah nggak papa kok, cuma Rania nyuruh aku balik ke acara nikahan itu," Jawab Indira.
"Nanti aja lah, baru juga keluar dari pesta itu masak iya langsung kembali. Emang kamu nggak lelah apa? Aku aja sudah sangat lelah kok,"
"Yaudah nanti aja."
Indira lebih memilih untuk menghindari bertemu dengan Miranda saat ini, rasanya kurang tepat jika mereka bertemu sekarang dan Indira tidak ingin mengingat ingat kejadian yang telah lama berlalu itu. Sehingga Indira tiduran terlebih dahulu dirumah Eka sebelum balik ke acara pernikahan itu, ia tidak lagi mempedulikan Miranda yang tengah menunggunya di acara tersebut.
Terserah maunya Miranda, entah dirinya akan terus menunggu disana atau dia langsung berpamitan untuk pulang setelahnya. Indira tidak terlalu memperhatikan hal tersebut, dan ia tidak perlu memikirkan orang lain yang bahkan sama sekali tidak memikirkan dirinya sebelumnya dengan perkataan perkataan yang sangat menyakitkan.
Di satu sisi, Rania dan Miranda terus menunggu kedatangan dari Indira yang tak kunjung datang juga, padahal sebelumnya Indira sudah mengatakan bahwa dirinya akan datang, namun hingga sekarang ia tak kunjung mendatangi mereka. Hingga akhirnya Miranda pun merasa lelah, sehingga dirinya langsung berpamitan pulang.
Setelah Miranda pulang, tak lama kemudian akhirnya Indira datang bersama dengan Eka, Indira langsung menghampiri dimana keberadaan dari Rania. Ia melihat Rania sekarang bersama dengan teman teman kerjanya, dan mereka tengah berkumpul saat ini.
"Eh kamu dari tadi kemana aja?" Tegur Rania ketika melihat kedatangan dari Indira.
"Jalan jalan lah," Jawab Indira.
"Dari tadi ditungguin Miranda kamu nggak datang datang, sampe kapan musuhan terus? Nggak capek apa? Apa nggak pengen baikan kayak dulu lagi?"
"Nanti aja aku pikir pikir ulang lagi, lagi males aku bahas Miranda sekarang,"
"Ayolah pikirin bener bener, dulu kamu gimana sama Miranda? Masak sekarang jauh begitu. Setiap orang juga punya kekurangannya masing masing,"
"Dia yang buang temen sendiri bukan aku yang buang, kalo kamu terus bahas ini, mending aku pulang saja,"
"Iya deh iya, nggak bahas ini lagi."
"Nah gitu dong."
Sebelumnya menang hubungan mereka bisa dibilang sangat dekat, kemana mana mereka selalu bersama sama, dan bahkan memiliki nama gengnya sendiri. Namun sekarang rasanya hubungan itu tidak dapat diperbaiki lagi, Indira sudah terlanjut kecewa dengan semuanya, dan ia sendiri juga tidak tau bagaimana caranya memulai semuanya sementara ada rasa kekecewaan tersendiri didalam hatinya.
Indira sendiri juga tidak menyangka bahwa hubungan mereka akan menjadi sejauh ini, padahal sebelumnya mereka selalu bersama sama dalam suka maupun duka. Lantas bagaimana bisa hubungan itu langsung sirna begitu saja, dan bagaimana caranya untuk bisa mengembalikan semuanya seperti semula.
Pertemanan mereka terdapat Rania, Miranda, Putri, Indira, dan Dewi. Mereka berlima biasanya selalu bersama sama, namun semenjak kejadian itu mereka berlima serasa berjalan dijalan mereka masing masing. Karena biasanya Indira akan menjadi penengah bagi mereka, namun Indira sendiri yang pergi dari dalam pertemanan itu.
Semenjak Indira keluar dari pertemanan itu, Indira belum pernah mendengar kabar mengenai mereka tengah berkumpul ataupun sekedar jalan jalan bersama. Biasanya Indira yang akan menjadi patokan mereka, namun semenjak kepergiannya itu membuat seluruhnya seperti bubar tanpa arah dan pilihan.
Waktu sebelum dirinya bertemu dengan keempat temannya itu, ia juga pernah memiliki sebuah geng sahabat yang sangat dekat juga. Geng itu berada didalam desa yang sama sehingga kerap kali melihat mereka bermain bersama, ataupun hanya sekedar berkumpul hanya untuk membahas hal hal random lainnya.
Hingga akhirnya dirinya sendiri yang di khianati dalam geng itu, membuatnya kehilangan kepercayaan dari keluarganya dan bahkan ia harus menerima luka yang sangat menyakitkan. Akhirnya dirinya pun meninggalkan geng tersebut, hal yang dirinya lakukan itu mampu membuat geng tersebut hancur tak tersisa.
Indira sudah sangat lelah apabila harus di khianati lagi oleh orang orang terdekatnya, dirinya sudah lelah jika nantinya kejadian yang serupa bakalan terjadi lagi kepadanya. Entah apa yang harus ia korbankan selanjutnya, entah apa yang membuatnya harus kehilangan lagi kedepannya.
Indira tidak memiliki banyak tenaga untuk melakukan hal itu, ia tidak memiliki tenaga untuk kehilangan lagi, tidak memiliki tenaga untuk marah ataupun kecewa lagi. Sehingga ia memilih untuk menjauh dari semuanya, tidak ada yang lebih penting dari kesehatan mentalnya sendiri karena hanya dirinya sendiri yang merasakannya bukan orang lain.
Mereka pun melakukan tugasnya masing masing untuk menyambut setiap tamu yang datang, Indira juga menemani beberapa teman Rania yang datang sambil mengobrol dengan mereka dalam acara itu. Sehingga dirinya terlihat sangat sibuk saat ini, dan begitu banyak tamu yang berdatangan ke acara tersebut.
"Dira, sini deh," Panggil Rania.
"Iya." Jawab Indira.
Indira lalu mendekat kearah dimana Rania berada, Rania kini tengah duduk bersama dengan seorang wanita tua yang entah siapa. Indira lalu duduk didekat Rania sesuai dengan perintah dari Rania, dan Indira sendiri masih terheran heran.
"Nih Tante kenalin temenku Dira, ini loh yang dimaksud Ayah itu," Ucap Rania.
"Cantik juga anaknya," Jawab wanita tua itu.
Itu adalah orang tua dari lelaki yang dimaksud oleh Rania dan Ayahnya sebelumnya, yang dimana akan dijodohkan dengan Indira oleh mereka. Indira sendiri bahkan tidak terlalu kenal dengan lelaki itu, tentang bagaimana sikapnya, tentang bagaimana wajahnya, dan tentang bagaimana kepribadiannya.
Mereka pun mengobrol santai saat itu, namun Indira hanya bisa berdiam diri tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya itu karena ia tidak tau harus mengobrol bagaimana. Jika ditanya dirinya hanya bisa diam, ataupun harus menyuruh Rania untuk mengutarakan pembicaraannya itu kepada orang tersebut.
"Kalo jodoh mah, Tante bersyukur banget punya mantu seperti ini," Pungkas wanita itu.
"Ya doain aja Tante, siapa tau emang mereka itu berjodoh," Jawab Rania.
Entah kenapa harus dirinya yang dikenalkan oleh orang lain, kenapa tidak teman teman Rania yang lain yang hadir didalam acara itu. Lagi pula bukan hanya dirinya saja yang hadir disana, namun masih banyak lagi teman temannya yang ikut hadir di acara tersebut, tapi kenapa dirinya yang harus dijodoh jodohkan.
kayak nya orang desa lbih Pinter mau tinggal di suatu tempat ya laporan dulu, ibarat kata permisi. trus salam perkenalan ke tetangga.
kcuali rumah kaum elit lah biasa gk akn kenal dng tetangga. kl komplek hrse ya laporan dulu kan.