Di malam Festival Bulan Darah yang kelam, klan kecil Lin di pinggiran Benua Timur Dunia Fana Bawah dibantai habis-habisan oleh pasukan elit Sekte Bayangan Abadi.
Sebuah Tanah Suci 8 bintang yang ditakuti seluruh alam rendah. Penyebabnya? Hanya sebuah cincin perak tua yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia mengerikan.
Lin Xuan, pemuda berusia 17 tahun dengan bakat kultivasi biasa-biasa saja di Qi Condensation Lapisan 3, menyaksikan segalanya dengan mata terbuka lebar.
Ayahnya Kepala Klan Lin dibunuh di depan matanya. Ibunya, dalam keputusasaan terakhir, merobek jantungnya sendiri dengan tangan gemetar, menyerahkan cincin itu ke telapak tangan anaknya sambil berbisik.
“Jangan pernah menyerah… balas dendam… bahkan jika kau harus menjadi iblis.”
Lin Xuan dilempar ke jurang maut Laut Darah Terlarang, tubuhnya hancur, darah mengalir deras. Di ambang kematian, cincin itu bergetar hebat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Suara tua yang dalam dan dingin bergema di benaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Kemarahan Naga Palsu
Berbeda jauh dengan asrama Paviliun Seribu Bambu yang kumuh, kediaman untuk "Murid Inti Potensial" terletak di lereng atas Gunung Awan Hijau. Udaranya kaya akan energi spiritual alami, dan setiap murid mendapatkan paviliun kecil bergaya paviliun bangsawan.
Di halaman Paviliun Giok Api, udara bergetar karena suhu panas yang ekstrem.
Wang Long duduk bersila di atas batu hitam raksasa. Energi merah (Api) dan kuning (Tanah) berputar mengelilingi tubuhnya seperti dua ekor naga kecil yang sedang bermain. Kultivasinya telah stabil di Qi Condensation Lapisan 6, sebuah pencapaian luar biasa untuk murid yang baru masuk kurang dari sebulan.
Wuuush!
Wang Long membuka matanya. Dua semburan uap panas keluar dari hidungnya. Dia mengangkat tangan, dan sebuah batu seukuran kepala manusia melayang, lalu hancur menjadi debu terbakar hanya dengan satu remasan Qi dari jarak jauh.
"Bagus sekali, Tuan Muda!"
Suara tepuk tangan terdengar dari pinggir halaman. Beberapa murid senior menjilat dengan senyum lebar.
Namun, senyum Wang Long memudar saat dia melihat tiga sosok berjalan terpincang-pincang memasuki gerbang halamannya. Itu adalah si wajah lonjong dan dua anak buahnya. Wajah mereka pucat pasi, dan jubah mereka yang robek di bagian dada terlihat menyedihkan.
"Apa-apaan ini?" suara Wang Long berat dan angkuh. "Liu San, bukankah aku menyuruhmu menagih pajak di asrama bawah? Kenapa kalian terlihat seperti anjing yang habis dipukuli warga desa?"
Pemuda berwajah lonjong itu Liu San langsung berlutut hingga dahinya menyentuh tanah.
"Maafkan hamba, Tuan Muda Wang! Kami diserang!" Liu San berseru dengan suara gemetar, menyodorkan sisa tongkat kayunya yang terpotong rapi beserta patahan pedang teman-temannya.
Wang Long mengerutkan kening. Dia melambaikan tangannya, dan potongan senjata itu terbang ke telapak tangannya berkat tarikan Qi elemen Tanah.
Dia meraba permukaan potongan besi itu. Sangat mulus.
"Siapa yang melakukannya? Murid senior dari Fraksi Harimau Putih?" tanya Wang Long dingin. Jika faksi senior lain ikut campur, ini adalah penghinaan terhadap klan Wang.
"B-bukan, Tuan Muda. Itu murid baru... penghuni Kamar 204. Namanya Mu Chen."
"Mu Chen?" Wang Long mencoba mengingat-ingat. Wajah Lin Xuan yang datar dan hasil tes kekuatannya yang hanya 310 Jin melintas di kepalanya. Wang Long mendengus sinis. "Si sampah berwajah datar yang tes pukulannya nyaris tidak lulus itu? Kau bercanda?"
"Hamba berani bersumpah demi langit!" Liu San bersujud lagi. "Dia menyembunyikan kekuatannya! Dia menggunakan teknik pedang yang sangat aneh. Cepat seperti kilat. Dia memotong senjata kami bahkan sebelum kami bisa melihatnya mencabut pedang!"
PRANG!
Wang Long melempar potongan senjata itu ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Udara di halaman itu langsung memanas akibat Niat Membunuh (Killing Intent) yang bocor dari tubuhnya.
"Satu tebasan kilat yang bisa memotong besi biasa? Cih," Wang Long mencibir meremehkan. "Itu pasti teknik jalan pintas kelas rendah yang memaksa Qi berkumpul di satu titik. Kultivator rendahan yang tidak punya bakat memang suka menggunakan teknik sampah yang merusak meridian mereka sendiri hanya demi terlihat kuat sesaat."
Wang Long berdiri, menyilangkan tangannya di belakang punggung.
"Dia pikir dia bisa menantang Fraksi Naga hanya dengan trik murahan seperti itu? Berani sekali tikus menatap naga."
"Apa kita harus mengirim senior Lapisan 7 untuk membereskannya malam ini, Tuan Muda?" tanya salah satu penjilat di samping Wang Long.
"Tidak perlu," Wang Long tersenyum kejam. "Membunuhnya diam-diam di asrama terlalu murah untuknya. Bulan depan adalah Turnamen Peringkat Murid Luar. Aku dengar dia berteman dekat dengan si bodoh elemen angin, Zhao Yun."
Wang Long menatap ke arah bawah gunung, matanya menyala dengan kekejaman.
"Biarkan dia ikut turnamen. Aku akan mematahkan tulang-tulangnya satu per satu di atas arena, di depan seluruh Tetua dan murid sekte. Aku akan membuatnya memohon kematian, lalu mengambil Pil Pembentuk Dasar sebagai hadiahku. Itu baru pantas untuk reputasi Wang Long!"
Satu Bulan Kemudian.
Satu bulan adalah waktu yang singkat bagi kultivator tingkat tinggi yang bisa bermeditasi selama bertahun-tahun tanpa henti. Namun bagi Murid Luar Sekte Awan Hijau, satu bulan adalah neraka perjuangan.
Waktu berlalu tanpa ampun.
Di sebuah gua tersembunyi di balik Air Terjun Hitam, terdengar suara geraman rendah yang dipenuhi rasa sakit.
Lin Xuan duduk bersila di tengah genangan air sedingin es. Di sekitarnya, berserakan belasan bangkai Kera Bertangan Besi (Binatang Buas Tingkat 1 Atas). Darah mereka telah mengering, diserap habis oleh Cincin Samsara Darah di jarinya.
Kulit Lin Xuan saat ini berwarna merah menyala, keringat menguap menjadi kabut tipis di sekeliling tubuhnya. Di bawah kulitnya, tulang-tulangnya berderit keras, seolah-olah sedang dipukul oleh ribuan palu godam tak kasat mata.
"Tahan!" teriak Gu Tianxie di dalam benaknya. "Ini adalah batas antara Lapisan 4 dan Lapisan 5! Meridianmu sedang diperlebar secara paksa oleh esensi darah kera-kera itu! Jika kau pingsan sekarang, aliran Qi-mu akan berbalik dan meledakkan organ dalammu!"
Lin Xuan menggigit bibirnya hingga robek. Rasa sakitnya tidak bisa digambarkan. Tidak ada istilah membius diri di Jalan Asura. Setiap keping kekuatan dibayar dengan kewarasan.
Dia terus mengalirkan energi darah yang mendidih itu ke dalam tulang-tulangnya, memadatkan Tulang Asura tahap Besi Hitam menuju kesempurnaan. Bersamaan dengan itu, ia terus memutar Seni Pedang Kilat Hantu di dalam benaknya, membiarkan Qi pedang yang tajam ikut menyayat meridiannya sendiri dari dalam agar tumbuh lebih kuat.
DUMMM!
Sebuah ledakan energi tumpul terjadi di dalam Dantian (pusat energi) Lin Xuan.
Air terjun di sekitarnya seolah tertahan sejenak oleh gelombang kejut yang memancar dari tubuhnya.
Lin Xuan membuka matanya. Warna merah darah menyala terang di pupilnya sebelum perlahan memudar kembali menjadi hitam pekat yang dingin.
Suhu tubuhnya kembali turun, air di sekitarnya bahkan mulai membentuk lapisan es tipis.
Qi Condensation Lapisan 5. Lin Xuan bangkit berdiri. Tubuhnya tidak bertambah kekar, namun otot-ototnya terlihat sangat padat dan efisien, bagaikan ditarik dari kawat baja. Bekas-bekas luka akibat latihan pedang di lengan kanannya telah menyatu menjadi jaringan parut yang keras.
"Kau berhasil," kata Gu Tianxie, nadanya terdengar sedikit terkesan. "Untuk ukuran manusia dengan bakat menengah, ketahanan mentalmu bisa disandingkan dengan iblis murni."
Lin Xuan mengambil jubah sektenya yang tersampir di batu, lalu mengenakannya.
"Bakat hanyalah alasan bagi orang lemah yang tidak berani mati untuk menjadi kuat," jawab Lin Xuan datar.
Dia berjalan keluar dari gua air terjun. Cahaya fajar mulai menyinari Gunung Awan Hijau.
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh ribuan murid.
TENG! TENG! TENG!
Suara lonceng perunggu raksasa dari Puncak Utama berdentang sembilan kali. Suaranya bergema menyapu lautan awan, membangunkan setiap jiwa yang tertidur di dalam sekte.
Itu adalah panggilan pendaftaran untuk Turnamen Peringkat Murid Luar.
Lin Xuan kembali ke Kamar 204. Di sana, Zhao Yun sudah bersiap. Pemuda itu terlihat lebih matang. Berkat latihan keras dan dukungan Batu Roh yang Lin Xuan berikan secara diam-diam, Zhao Yun telah mencapai Puncak Lapisan 4, bersiap menerobos Lapisan 5.
"Saudara Mu!" sapa Zhao Yun bersemangat, menepuk pedang baru di pinggangnya. "Kau dengar loncengnya? Hari ini kita akan menunjukkan pada dunia siapa kita sebenarnya!"
Lin Xuan memasang topi caping bambunya, menyembunyikan matanya yang dingin. Dia menekan kultivasinya kembali ke Lapisan 4 menggunakan teknik dari Gu Tianxie.
"Jangan berlebihan," kata Lin Xuan pelan. "Simpan tenagamu untuk arena. Dan ingat, jika kau bertemu orang dari Fraksi Naga, jangan banyak bicara. Langsung serang titik fatalnya."
Zhao Yun tertawa, mengira Lin Xuan hanya bersikap sinis seperti biasa. "Tenang saja! Aku tidak akan kalah dari para penjilat itu!"
Lin Xuan berjalan keluar pintu, matanya menatap ke arah arena raksasa di tengah sekte yang mulai dipenuhi oleh lautan manusia.
Huo Yan dan Sekte Bayangan Abadi masih terlalu jauh dari jangkauannya saat ini. Tapi Wang Long?
Wang Long hanyalah batu pijakan pertama yang akan Lin Xuan hancurkan menjadi debu untuk membangun singgasananya.
"Ayo," gumam Lin Xuan. "Sudah waktunya memanen nyawa."