NovelToon NovelToon
Pura-Pura Jadi Supir

Pura-Pura Jadi Supir

Status: tamat
Genre:CEO / Konglomerat berpura-pura miskin / Menyembunyikan Identitas / Perjodohan / Tamat
Popularitas:793.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: SunRise510k

Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Udara panas yang kering khas kota pahlawan menyapu wajah Kirana saat ia membuka kaca jendela mobilnya. Kirana melemparkan tatapannya keluar jendela menikmati padatnya jalanan ibu kota provinsi itu.

"Mas Rio, tolong antar saya ke Kafe Teras Senja dulu, ya. Saya harus mengecek laporan stok dan keadaan di sana. Sudah beberapa hari saya tinggal karena sakit," ucap Kirana sambil merapikan tas kerjanya.

"Baik, Mbak Kirana. Tapi kalau boleh saya mengingatkan, Mbak baru saja pulih. Jangan terlalu memaksakan diri. Kesehatan Mbak jauh lebih penting daripada sekadar laporan stok."

Kirana tertegun sejenak. Ia menatap Rio dari balik kaca mobil. Ada sesuatu pada nada bicara pria ini yang selalu berhasil menenangkannya, namun juga membuatnya merasa... diperhatikan dengan cara yang berbeda.

"Terima kasih, Mas Rio. Saya bersyukur sekali ada orang-orang seperti Mas yang perhatian. Ayah dan Mama biasanya hanya bertanya soal hasil, bukan soal bagaimana keadaan saya," jawab Kirana tulus, ada nada getir yang terselip di sana.

Rio tidak menjawab, namun genggamannya pada kemudi sedikit mengeras. Ia ingin sekali mengatakan bahwa ada satu orang lagi yang sangat memperhatikannya—pria yang saat ini sedang menyamar menjadi supirnya.

“Mas Rio, tunggu dulu ya. Saya tidak begitu lama, tapi nanti kalau misalnya saya lama masuk saja ke kafe dan minta makanan disana.”

“Baik, Mbak.”

Kirana mengayunkan kakinya masuk kedalam kafe, meninggalkan Rio yang menunggunya di dalam mobil.

**

Setelah satu jam memantau kafenya, Kirana kembali ke mobil dengan raut wajah yang sedikit lebih serius. "Mas Rio, sekarang kita ke kantor KiraPharma. Oh ya, nanti kita makan siang di sana saja. Kantin di lantai empat cukup nyaman, kita bisa makan bersama supaya Mas tidak perlu mencari makan di luar."

Rio mengangguk patuh. "Siap, Mbak Kirana."

Setibanya di gedung KiraPharma, sebuah gedung berlantai empat yang modern namun tidak terlalu luas, Kirana langsung bergegas menuju lantai tiga tempat ruangannya berada. Rio, sesuai perannya, memilih untuk menunggu di area lobby bawah.

Ia duduk di kursi tunggu dekat meja satpam. Sambil berpura-pura bermain ponsel, Rio sebenarnya sedang meninjau laporan keuangan Mahardika Group melalui aplikasi terenkripsi. Tak lama, ponselnya bergetar. Nama Bram muncul.

Rio beranjak menuju sudut yang lebih sepi, dekat jendela besar yang menghadap ke area parkir.

"Ya, Bram. Ada apa?" suara Rio berubah menjadi dingin dan penuh wibawa—suara asli Raditya Mahardika.

"Pak, saya baru saja mendapat informasi bahwa kompetitor KiraPharma, yaitu PT Global Medika, mencoba menyabotase kontrak bahan baku herbal dari supplier di Kalimantan yang biasa digunakan perusahaan Nona Kirana. Mereka mencoba menawar lebih tinggi agar supplier itu memutuskan kontrak sepihak dengan KiraPharma," lapor Bram cepat.

Rahang Raditya mengeras. "Global Medika? Bukankah mereka salah satu anak perusahaan yang sedang memohon investasi dari Mahardika Group?"

"Benar, Pak."

"Hubungi Direktur Operasional mereka sekarang. Katakan, jika mereka berani menyentuh satu saja rekanan bisnis KiraPharma, Mahardika Group bukan hanya tidak akan berinvestasi, tapi saya sendiri yang akan memastikan izin edar produk mereka dicabut dari seluruh jaringan apotek Mahardika Medical Center. Lakukan sekarang tanpa menyebutkan identitas saya secara langsung."

"Dimengerti, Pak."

Raditya menutup telepon. Matanya menatap tajam ke arah papan nama KiraPharma di dinding lobby. Tidak akan kubiarkan siapapun mengganggu kerja kerasmu, Kirana, batinnya.

**

Menjelang pukul satu siang, ponsel Rio berdering. Pesan singkat dari Kirana: "Mas Rio, naik ke lantai 4 ya. Saya tunggu di kantin."

Rio segera menuju lift. Begitu pintu lift terbuka di lantai empat, ia disambut oleh suasana yang sangat berbeda. Kantin KiraPharma di desain dengan konsep semi-outdoor. Angin semilir Surabaya berhembus bebas di antara pilar-pilar beton, memberikan pemandangan gedung-gedung di pusat kota yang memanjakan mata.

Ia melihat Kirana duduk di meja sudut, di depannya terdapat dua porsi nasi ayam penyet dan es jeruk segar. Kirana tampak sedang memijat pelipisnya, beberapa berkas tergeletak di samping piringnya.

"Mbak Kirana, sepertinya pekerjaannya sedang menumpuk sekali," ucap Rio sambil duduk di kursi seberangnya.

Kirana mendongak, tersenyum lemah. "Iya, Mas Rio. Maaf ya jadi menunggu lama. Ternyata selama saya sakit, banyak masalah yang timbul. Salah satu pemasok bahan baku utama kami tiba-tiba sulit dihubungi, padahal kami harus memproduksi batch baru minggu depan. Belum lagi tekanan dari beberapa distributor yang minta diskon tambahan."

Kirana menghela napas panjang, matanya menatap kosong ke arah gedung-gedung tinggi. "Kadang saya merasa capek. Membangun perusahaan dari nol sendirian itu... sunyi sekali."

Melihat gurat kelelahan itu, insting bisnis Raditya mendadak bangkit. Ia lupa sejenak bahwa ia sedang menjadi Rio.

"Kenapa Mbak tidak mencoba melakukan diversifikasi pemasok sejak awal?" tanya Rio tiba-tiba. Suaranya terdengar sangat mantap. "Untuk industri farmasi, bergantung pada satu supplier adalah risiko bunuh diri. Harusnya Mbak menggunakan sistem kontrak multi-tier atau mungkin melakukan akuisisi kecil pada lahan produksinya langsung. Dengan begitu, margin keuntungan Mbak akan naik 15 persen karena memotong jalur distribusi, dan Mbak tidak akan bisa diintimidasi oleh kompetitor yang mencoba bermain harga."

Kirana terdiam. Ia meletakkan sendoknya dan menatap Rio dengan tatapan yang sangat tajam. Penjelasan itu... bukan penjelasan seorang supir. Itu adalah analisis strategis tingkat tinggi yang hanya biasa ia dengar di seminar ekonomi internasional atau dari konsultan bisnis senior.

"Mas Rio... dari mana Mas tahu soal sistem kontrak multi-tier dan perhitungan margin 15 persen itu?" tanya Kirana curiga.

Raditya tersentak. Ia menyadari kesalahannya. Ia berdehem pelan, mencoba merubah raut wajahnya menjadi lebih santai.

"O-oh... itu, Mbak. Saya kan sering mengantar jemput orang-orang hebat sebelum bekerja di tempat Mbak. Sambil menunggu di mobil, saya suka mendengarkan podcast bisnis atau membaca koran yang tertinggal di jok belakang. Tadi saya cuma asal bicara saja, Mbak. Maaf kalau saya sok tahu."

Kirana masih menatapnya, tidak sepenuhnya percaya. "Asal bicara? Tapi saran Mas tadi sangat masuk akal. Bahkan saya sendiri tidak terpikir soal akuisisi lahan produksi secepat itu."

"Mungkin itu cuma insting orang lapangan, Mbak," elak Rio sambil mulai menyuap nasinya dengan cepat untuk menghindari pertanyaan lebih lanjut.

Kirana mengangguk pelan, meski dalam hatinya ia mulai mencatat keanehan-keanehan Rio. Supir ini terlalu berwawasan, terlalu tenang, dan memiliki kancing manset platinum yang tertinggal di kamarnya.

**

Sore harinya, saat mereka dalam perjalanan pulang menuju rumah Adytama, ponsel Kirana bergetar hebat. Ia menerima telepon dari manajer pengadaannya.

"Halo? Apa?! Supplier Kalimantan itu menelepon balik?" suara Kirana terdengar kaget sekaligus senang. "Mereka minta maaf dan bersedia menurunkan harga lima persen asal kontrak diperpanjang? Bagaimana bisa?"

Kirana mendengarkan penjelasan Rika dengan wajah tidak percaya. "Katanya ada 'tekanan dari atas' yang membuat mereka takut? Siapa? Mahardika Group? Tidak mungkin... kenapa perusahaan sebesar itu mau ikut campur urusan supplier kami?"

Kirana menutup telepon dengan tangan gemetar. Ia merasa seperti ada malaikat pelindung yang sedang bekerja di balik layar, membersihkan jalan setapak yang penuh duri baginya.

Ia melirik Rio yang sedang fokus menyetir. Pria itu tampak tenang, seolah tidak tahu apa-apa.

"Mas Rio, Mas tahu tidak? Masalah supplier yang tadi saya ceritakan... tiba-tiba selesai begitu saja. Katanya ada campur tangan dari perusahaan raksasa di Surabaya ini," cerita Kirana, mencoba memancing reaksi Rio.

Rio hanya tersenyum tipis tanpa menoleh. "Mungkin itu buah dari kebaikan Mbak Kirana selama ini. Orang baik biasanya selalu punya jalan, Mbak."

Kirana terdiam, menatap punggung Rio yang tegap. Ia merasa sedang berada sangat dekat dengan sebuah rahasia besar. Rasa penasaran itu kini berubah menjadi sebuah daya tarik yang tak bisa ia jelaskan.

Sementara itu, Raditya merasa puas. Ia berhasil melindungi Kirana tanpa harus membuka identitasnya. Baginya, menjadi Rio adalah satu-satunya cara untuk mencintai Kirana tanpa embel-embel harta, sekaligus cara paling efektif untuk menghancurkan siapapun yang berani menyentuh wanita itu dari kegelapan.

***

1
~Ni Inda~
Anak lu tuh...buang² uang
Jls nampak dpn mata
Buta lu
~Ni Inda~
Bayangkan klw dia jd istrimu...bikin sesak nafas setiap saat 😆😆
krn prinsip kalian bertolakbelakang
anton prasetya
Luar Biasa
~Ni Inda~
Salah besar
Cara pikir keluarga Mahardika gak seperti itu
Meski dunia dlm genggaman mereka tp mereka punya pikiran jauh ke dpn...gak mengutamakan gaya hdp glamour
Justru mereka gak level sm kamu...yg suka menghambur²kan uang
Becce Ana'na Puank
Luar biasa
Raw Rrr
p
Edi Sulaiman
mampir dulu...!"
YuWie
anak kandubg sederhana dan anak tiri glamour. yg kaya si haris atau mama reva nih
YuWie
elah, hy adik tiri dan ibu tiri tho
Atiqa Fa
maaf y kakak author kan sebelumnya mereka udah tau kalau Reva merencanakan kejahatan harusnya udah notice donk waktu ada petugas mengalihkan jalan dan seorang Raditya yg disini digambarkan sangat hebat masa nggak mempersiapkan apapun ntuk antisipasi rencana jahat Reva
Sri Darwati
kan hp ny dh disadap ko bs PE kecolongan??
Atiqa Fa
kamu kan nyetir mobil bukan megendarai sepeda
ardan
seruuu
Atiqa Fa
thor harusnya jgn pesan suara kan disitu masih ada Kirana
Ibrahim Efendi
karya ini cukup bagus. alur cerita mengalir baik tanpa terasa terlalu cepat atau terlalu lambat. adegan juga tersaji tanpa ada kesan terlalu di dramatisir. hanya sedikit yang terasa menggelitik. pemilihan katanya lebih seperti 'AI Polished'. Bagi seorang kreator yang sering menggunakan AI untuk merefine karyanya, novel ini sangat terasa ke arah sana. terlepas dari benar atau tidak, tapi memang aromanya seperti itu.
ceuceu
ini gmn ya Kirana sama Bianca kaka adik kandung bukan sih?
ibu Kirana meninggal umur Kirana 16 tahun,sedangkan Bianca sekarang umur 20 tahun,masa dalam waktu 4 Tahun Bianca lahir langsung umur 20?
Suleman Hasan: iya juga ya
total 1 replies
Ibrahim Efendi
teka teki yang menarik...
Ibrahim Efendi
sejauh ini, ini part yang paling menyentuh buatku.
Indra Wahyu Rianti
yaa ampuuun kasar sekali maennya paman
delis armelia
makin seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!