Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Tak butuh waktu lama bagi Romeo. Bahkan sebelum malam benar-benar turun, rencananya terwujud. Saham milik keluarga Calista anjlok drastis, dan tanpa ragu Romeo bergerak cepat mengambil alih kepemilikan perusahaan itu.
Bukan Romeo jika dia membiarkan perkara sekecil ini berlalu begitu saja. Abas, ayah Calista, kini berulang kali menghubunginya, memohon pertolongan agar perusahaan yang nyaris hancur itu bisa diselamatkan. Namun Abas tak pernah menyangka, justru Romeo lah dalang di balik kehancuran tersebut orang yang sengaja menjatuhkan saham perusahaan itu hingga para investor menarik diri satu per satu atas perintahnya.
Romeo menemukan celah saat mengetahui Calista menjadi simpanan salah satu pejabat negara. Cukup dengan menaikkan isu panas itu ke permukaan, harga saham perusahaan milik ayahnya langsung terjun bebas tanpa ampun.
“Jangan sampai dia menemukan keberadaanku, Sat. Aku ingin melihat sejauh apa dia memperalat putri angkuhnya itu sampai harus berlutut dan memohon padaku.” desis Romeo tajam
“Tenang saja, semuanya masih dalam genggaman,kalau kau mau, aku masih punya satu bukti lagi cukup untuk membuat keadaan makin gempar.” ucap Satria santai.
“Katakan apa yang kau temukan.”
“Gibran adalah hasil hubungan gelap wanita itu dengan pejabat negara tersebut.” ucapnya datar, namun kalimat itu terdengar seperti bom yang siap menghancurkan segalanya.
“Kerja bagus, Sat. Kau memang tak pernah gagal menemukan titik lemah musuh-musuhku,naikkan berita itu. Biarkan perempuan itu datang sendiri kemari menunduk, memohon, dan meminta maaf pada anak-anakku.” desisnya tajam, penuh kepuasan.
“Bukan pada Alya.”
“Hmm… iya, sekalian saja padanya. Lagipula dia sudah melindungi si kembar.” jawab Romeo datar, nyaris terdengar.
Satria menghela napas pelan sambil menggeleng, tak habis pikir apa sebenarnya kesalahan Alya hingga sahabatnya bersikap sedingin itu. Romeo jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaannya tanpa berusaha menutupi. Sungguh malang nasib Alya terikat dalam pernikahan dengan pria seangkuh dan setertutup Romeo.
“Gue balik dulu,begitu lo dapet kabar soal Tania, langsung hubungi gue. Kali ini gue nggak bakal diam. Dia harus belajar dari kesalahannya.” ucap Romeo dingin.
“Tenang aja, semuanya aman,begitu ada kabar, gue bakal langsung ngabarin lo. Nggak bakal gue tunda.” Ia mengangkat ibu jarinya ke arah Romeo, memberi isyarat yakin.
Romeo tak menunggu lebih lama. Ia segera meninggalkan gedung perusahaan, pikirannya tertuju pada rumah. Si kembar pasti masih terluka oleh ucapan Calista sebelumnya, dan ia harus memastikan mereka baik-baik saja.
“Maaf Romeo,gue sebenarnya udah tahu keberadaan Tania. Tapi demi kebaikan lo dan juga demi keselamatan anak sama istri lo lebih baik ada hal-hal yang nggak perlu lo ketahui.” ucap Satria lirih.
Alya akhirnya tiba di rumah bersama si kembar setelah berkeliling sejenak. Mereka sempat singgah di kedai kakao untuk membeli kue cokelat favorit anak-anak itu, lalu mampir ke beberapa tempat lain sebelum pulang.
Ketiganya segera melangkah ke arah meja makan. Alya dibantu Bi Dewi menata hidangan yang tadi sempat dibelinya. Sejujurnya, sejak pagi perutnya sudah terasa perih menahan lapar, namun rentetan kejadian yang menimpanya membuat Alya sama sekali lupa untuk mengisi perutnya.
“Nyonya, ini makanan apa?” tanya Bi Dewi sambil menatap kantong belanja di tangan Alya, rasa ingin tahunya jelas terlihat.
“Ini seafood saus Padang Bi,aku beli tiga kotak. Satu buat aku, dan dua lagi untuk Bibi sama yang lain.” jawab Alya lembut.
Bi Dewi terdiam sejenak, hatinya tersentuh oleh ucapan itu. Ia sama sekali tak menyangka nyonya besar di rumah ini masih menyimpan kepedulian pada mereka yang bekerja di sana.
“Eh jangan Nyonya,kalau Tuan Besar tahu, saya bisa dimarahi.” sergah Bi Dewi cepat sambil menggeleng kuat.
“Nggak bakal,ini aku beli pakai uangku sendiri, bukan pakai punya dia. Jadi ambil aja. Sayang loh, sekarang zamannya seafood saus Padang masa belum pernah nyobain?” ujar Alya sambil terkekeh.
Dengan mata berkaca-kaca, Bi Dewi akhirnya menerima kotak itu. Bukan hanya dirinya beberapa pelayan lain yang menyaksikan kejadian tersebut ikut tersentuh, rasa haru dan kagum terhadap Alya perlahan memenuhi hati mereka.
“Bu, boleh nggak kita mencicipi makanan yang Ibu bawa?” tanya Serena tiba-tiba, matanya berbinar penuh harap.
Sejak tadi pandangannya tak lepas dari hidangan seafood itu, perutnya bergejolak, seolah liurnya siap menetes karena godaan aroma yang begitu menggugah selera.
“Ini pedas, kamu yakin mau coba?Takutnya nanti perutmu malah sakit.”
“Pedas sekali, ya, Bu?” cicit Selina sambil meringis kecil.
“Terus terang, iya,ibu sebenarnya tidak ingin membelinya karena pedas. Ibu khawatir kalian tidak menyukainya.”
“Kalau begitu… tidak jadi.” jawab keduanya lirih, raut wajah mereka langsung meredup.
“Besok Ibu buatkan yang tidak pedas, khusus untuk kalian berdua, bagaimana?” tanya Alya sambil menatap satu per satu anak sambungnya dengan senyum lembut.
“Beneran, Bu?” tanya si kembar serempak, mata mereka langsung berbinar penuh semangat.
Alya mengangguk dengan senyum antusias. Hatinya ikut menghangat melihat reaksi si kembar yang tampak begitu tak sabar menunggu hari esok.
“Hore! Ibu yang masak!” seru si kembar riang, tawa mereka pecah penuh sukacita.
Alya hanya tersenyum sambil tertawa kecil melihat betapa bahagianya si kembar sekarang. Padahal tadi, sepanjang perjalanan pulang, mereka lebih banyak terdiam setelah perdebatan dan hinaan yang dilontarkan Calista.
Tanpa disadari oleh ketiganya, Romeo memperhatikan seluruh kejadian di meja makan itu. Rahangnya mengeras, tangannya terkepal menahan amarah entah mengapa, di matanya, apa pun yang dilakukan Alya selalu merasa salah.
“Sayang, kalian sedang bahas apa?” tanya Romeo sambil tersenyum tipis.
“Papa, cepat sini!Kuennya manis dan lembut. Aku suka sekali. Papa pasti juga suka.” ujar Selina sambil tersenyum lebar.
Anak kecil itu turun dari kursinya tanpa ragu, langkahnya ringan saat berlari ke arah papanya. Ia berdiri di depan Romeo yang sedang bersama Serena, lalu mengulurkan makanan itu dengan senyum lebar, memaksa Romeo menurunkan gengsinya dan memakannya.
"Papa suka, kan?Ini kuenya juara, loh.” ucap Selina tanpa ragu.
Sebagai seseorang yang disiplin menjaga gula darah, Romeo awalnya ragu menerima kue itu. Dalam pikirannya, kue cokelat selalu rasa nga begitu manis, itulah sebabnya ia sering membatasi si kembar. Tapi satu suapan kecil saja sudah cukup membuatnya terdiam.
“Ini… enak,Kalian beli di mana?”ucapnya singkat, tangannya tak berhenti mengambil potongan kue itu sampai habis.
“Kedai kakao itu, Pa.” ucap Selina lirih. Matanya memerah, kilau air mata membuat dadanya terasa sesak.
Baik Serena maupun Alya mengerti alasan di balik mata Selina yang berkaca-kaca. Tapi suasana justru membeku. Alya membisu, menekan segala reaksi karena takut kembali dianggap bersalah. Berbeda dengan Serena yang pelan-pelan menepuk dahinya, ekspresinya tampak menyesal.
“Kok nangis?Papa salah ngomong, ya?” Romeo mengerutkan kening ringan.
“Papa makan semuanya,itu sebabnya dia sedih.” ucap Serema pelan tapi jelas.
Ucapan itu membuat Romeo terdiam. Ia menunduk, menatap kotak di tangannya, dan saat itulah ia sadar. Kue cokelat tersebut sudah habis, benar-benar tak meninggalkan satu potong pun.
“Kalau Papa mau, jangan habiskan milik Selina,papa bisa minta punya Mama saja, kan…” ucapnya lirih sambil terisak.
“Astaga… maafkan Papa, sayang,papa nggak sadar sudah menghabiskan jatahmu. Nanti kita beli lagi, ya.” ujar Romeo penuh penyesalan.
“Beli sekarang saja, Pa, sama ibu,soalnya yang punya Mama tadi sudah diberikan ke orang yang lagi kelaparan di pinggir jalan. ” sahut Serena santai.
Romeo sempat menangkap pandangan Alya, namun perempuan itu segera memalingkan wajahnya. Bukan karena ia tak ingin menatap suaminya, melainkan Alya tak lagi kuat menerima sorot mata Romeo yang selalu dingin dan menusuk setiap kali tertuju padanya.
“Harus sekarang pa.....” ucap Romeo terhenti, suaranya terputus seakan menahan emosi.
“Kalau Papa nggak mau, ya sudah, nggak perlu dibelikan lagi.” gumam Selina merajuk.
“Seharusnya Papa minta izin dulu ke Selina,dia sudah lama ingin itu, baru tadi kesampaian, malah Papa yang menghabiskannya.” ucap Serena lirih, ikut merasa perih.
“Pa…” suara Romeo kembali terhenti, kata-katanya terpotong sebelum sempat terucap sepenuhnya.
Romeo menatap lirih punggung kedua putrinya yang berlalu dengan amarah, meninggalkannya terpaku di tempat itu. Suasana pun berubah canggung. Alya sendiri terasa enggan beranjak dari meja makan,bahkan satu suapan pun belum sempat ia kecap dari hidangan yang telah dibelinya.
“Kenapa hanya satu yang kamu beli?” tanya Romeo tanpa emosi.
Alya terdiam sesaat saat pertanyaan itu meluncur padanya. Ia sempat kebingungan, dalam benaknya terlintas pertanyaan yang sama seharusnya ia membeli berapa.
“Jawab, Alya Dewita,Kenapa kamu cuma membelikan satu untuk anakku? Dan kenapa justru kamu berikan yang lain pada orang di pinggir jalan?” bentak Romeo dengan nada tertahan amarah.
Alya memejamkan mata rapat-rapat. Ia merasa tak melakukan kesalahan apa pun, namun entah mengapa dalam situasi itu justru dirinya yang tampak menjadi pihak paling bersalah.
“Karena masing-masing dari mereka sudah mendapatkan satu kotak,jadi saya rasa tak perlu membeli lebih. Lagipula, terlalu banyak cokelat juga tidak baik untuk mereka. Dan yang satu itu milik saya,saya berhak memberikannya kepada siapa pun.” jawab Alya tenang.
“Jangan bicara soal hak di depanku. Kau membelinya memakai kartu yang aku berikan, jadi.....” ucapan Romeo terhenti.
“Maaf saya memotong pembicaraan Anda, Tuan Romeo Andreas,saya sama sekali tidak memakai uang milik Anda. Kartu itu tidak pernah saya gunakan saya masih memiliki dan memakai milik saya sendiri.” sela Alya dengan suara terkendali namun berwibawa.
“Angkuh sekali dirimu,perempuan mana yang tak tergiur uang? Bahkan pernikahan ini kau terima karena itu. Jangan lupa, aku yang menutup seluruh utang papamu utang pria bangkrut yang bahkan tak mampu menyelamatkan keluarganya sendiri.” dengus Romeo dingin tanpa empati.
“Saya tidak munafik jika harus mengakui bahwa saya menyukai uang,namun saya bukan tipe wanita yang hidupnya hanya bergantung pada harta orang lain. Terima kasih atas bantuan Anda melunasi utang-utang Papa saya. Dan percayalah, secepat mungkin semua itu akan saya kembalikan kepada Anda, Tuan Andreas,” katanya lantang tanpa ragu.
Tak perlu ada yang menanyakan bagaimana perasaannya saat ini. Di balik wajah yang tampak tenang, hatinya berteriak pilu dipandang rendah, diremehkan oleh pria yang kini menyandang status sebagai suaminya sendiri.
Tak ingin memperpanjang perdebatan dengan Alya, Romeo hanya menatapnya dingin tanpa berniat melanjutkan pertikaian. Ia sadar betul ucapan yang barusan keluar dari mulutnya pasti telah melukai harga diri wanita itu, namun sama sekali tak menggugah rasa bersalah dalam dirinya. Di benaknya, Alya hanyalah sosok yang berhasil merebut simpati kedua putrinya hingga akhirnya berada di posisi sekarang sebagai istri sah Romeo Andreas.
Pandangan Romeo tanpa sadar beralih pada hidangan milik Alya yang masih utuh tak tersentuh. Entah mengapa, rasa lapar tiba-tiba menyeruak di perutnya, disertai dorongan samar dalam dirinya keinginan kuat untuk mencicipi makanan yang terhidang tepat di hadapan Alya.
“Itu apa?” tanya Romeo datar.
“Ini makanan.” sahut Alya pendek.
“Aku tahu itu makanan, bukan benda aneh apalagi pesawat,yang kutanyakan, makanan apa itu sebenarnya?” sentak Romeo dengan nada kesal.
“Kalau ingin bertanya, gunakan cara yang benar,aku bukan wanita yang mengerti bahasa aneh.” dengus Alya kesal.
“Menurutmu aku ini hewan?” sergah Romeo tak terima.
“Aku tidak pernah mengatakannya,namun kalau kau merasa seperti itu, maafkan aku.” jawab Alya santai.
Rasa jengkel menguasai diri Romeo sepenuhnya. Ingin rasanya ia berteriak meluapkan emosi pada Alya, namun kekhawatiran akan telinga kedua putrinya membuatnya memilih menahan amarah itu rapat-rapat.
Tersinggung karena pertanyaannya diabaikan, Romeo sigap meraih hidangan milik Alya dan menariknya ke hadapan sendiri. Tanpa sepatah izin, apalagi berbagi, ia langsung melahapnya dengan kasar, seakan melampiaskan perasaan yang terpendam.
Alya terdiam kaku, tak mampu mempertahankan apa yang menjadi miliknya. Pandangannya terus tertuju pada mulut Romeo yang penuh oleh makanan, rasa terkejut membuat lidahnya kelu tanpa suara.
Romeo melahap habis makanan milik Alya tanpa setitik rasa bersalah. Dengan wajah polos seakan tak melakukan kesalahan, ia malah melemparkan tatapan sinis ke arah Alya.
“Rasanya biasa saja, jangan beli lagi,makanan seperti itu juga tidak baik untuk kesehatan.” ucapnya dingin sambil menyeka sudut bibirnya.
Sorot mata Alya menajam menatap suaminya. Dari sekian banyak cara Romeo melukai perasaannya, inilah yang paling ia benci makanannya dirampas tanpa permisi. Bukan karena ia pelit, melainkan soal sikap. Jika diminta dengan baik, ia bahkan tak keberatan berbagi lebih. Namun diperlakukan seperti itu, keinginan untuk memaki suaminya sendiri nyaris tak terbendung.
“Itu saya beli untuk makan siang saya, bukan untuk Anda,mohon diingat, Tuan Andreas.” sahut Alya dengan nada kesal.
"Lakukan sesukamu.” ucapnya pendek.
“Bilangnya tak enak, tapi nyatanya habis juga.” lirih Alya menyindir pelan.
“Cukup. Sekarang ikut aku.” perintah Romeo dingin. Tanpa memberi kesempatan Alya membalas.
Alya sempat memberontak, namun akhirnya terpaksa duduk diam di kursi samping kemudi. Pikirannya melayang tak menentu ke mana Romeo akan membawanya? Bayangan-bayangan liar bermunculan, hingga ia berpikir konyol, jangan-jangan ia akan ditinggalkan di tengah hutan.
“Aku mau dibawa ke mana, Tuan?Tolong jangan celakai aku. Aku mengaku salah, tapi jangan tinggalkan aku sendirian di hutan. Aku benar-benar takut.” rengek Alya ketakutan.
Romeo memilih diam, tak menanggapi satu pun ucapan Alya. Padahal di dalam hatinya, ia susah payah menahan tawa, geli mendengar rengekan manja istrinya yang terdengar begitu polos.
“Tuan, tolong jawab aku,Jangan terus membisu.” suaranya meninggi.
Ia bahkan tak menyadari ke mana Romeo membawanya kali ini, sampai akhirnya mobil itu berhenti mendadak di suatu tempat.
Bugh!
Kepala Alya menghantam dasbor mobil cukup keras. Rasa nyeri langsung menjalar, hingga dahinya memerah dengan semburat merah muda akibat benturan itu.
“Aduh!” pekik Alya keras, refleks memegangi kepalanya yang terasa perih.
Romeo yang sejak tadi memilih diam, hanya menatap istrinya dengan sorot datar tanpa sedikit pun rasa bersalah.
“Tidak perlu dramatis, kau tidak mengalami luka serius.” ujarnya santai, seolah hal itu tak berarti apa-apa.
Sekali lagi Alya hanya bisa pasrah. Ia mengedarkan pandangannya ke depan, hingga akhirnya tersadar bahwa kini mereka telah berada di sebuah kedai kakao.
“Untuk apa kita ke sini?” tanyanya singkat, nada suaranya dipenuhi heran.
“Kau bertanya padaku?” balas Romeo datar, sorot matanya tak berubah.
“Bukan,tentu saja aku bertanya padamu. Bukan bertanya sama gorila?” sahut Alya ketus.
“Kalau begitu, kamu yang jadi istri gorila nya.” balas Romeo lugas.
“Istri?Sejak kapan Anda mengakui keberadaan saya sebagai istri Anda, Tuan Romeo Andreas?” Alya menahan senyum pahit.