NovelToon NovelToon
Trapped In My Lover’S Embrace

Trapped In My Lover’S Embrace

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Trauma masa lalu / TKP / Horror Thriller-Horror / Cintamanis / Kekasih misterius
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Achromicsea

Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"

Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sepertinya Aku Jatuh.

Hari itu mengalir dengan cara yang sederhana. Hanya aku dan Arven.

Siang kami habiskan di ruang tengah. Aku duduk di sofa dengan selimut tipis, membaca buku-buku lama yang tulisannya terasa akrab meski isinya tidak sepenuhnya kuingat. Arven bekerja di meja kecil dekat jendela, laptop terbuka, sesekali menatapku lebih lama dari yang perlu.

"Kenapa?" tanyaku suatu kali.

"Nggak apa-apa," jawabnya. "Aku cuma senang kamu ada disni."

Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi cara ia mengatakannya pelan, tidak berlebihan membuat dadaku hangat.

Aku mulai terbiasa dengan kehadirannya. Dengan suara langkahnya di pagi hari. Dengan caranya selalu menaruh gelas air di dekatku, bahkan sebelum aku merasa haus. Dengan kebiasaannya menanyakan hal-hal kecil

dingin nggak?

capek?

mau lampunya diredupkan?

Perhatiannya tidak menyesakkan untukku. Justru terasa seperti ruang aman.

Suatu sore, hujan turun deras. Langit menggelap lebih cepat dari biasanya. Aku duduk di lantai, menyusun potongan puzzle yang tidak lengkap. Arven duduk di sampingku, membantu tanpa bicara.

"Ven," panggilku pelan.

"Hm?"

"Aku...nyaman," kataku, jujur. "Di sini."

Ia berhenti sebentar, lalu tersenyum. Senyum yang tidak besar, tapi hangat. "Aku juga."

Aku menoleh. "Padahal aku banyak lupa."

"Justru itu," katanya. "Kita bisa mulai dari nol."

Kata kita kembali terdengar. Dan kali ini, aku menyukai kata itu.

Malam hari kami nonton film lama yang aku tidak ingat judulnya, tapi ceritanya ringan. Aku tertawa di bagian yang tepat, menangis sedikit di akhir. Arven memperhatikanku sepanjang film, bukan layar.

Tanpa sadar, aku menyandarkan kepala ke bahunya.

Ia tidak bergerak. Tidak juga menjauhkan bahunya. Tangannya perlahan melingkar di pundakku.

Aku membiarkannya.

Dan untuk pertama kalinya sejak bangun dari koma, aku merasa hidup.

Beberapa hari kemudian, aku bertanya lagi soal kerja.

"Kalau aku udah baikan, aku bisa kerja lagi, kan?" tanyaku sambil melipat selimut.

Arven menggeleng pelan. "Ngapain buru-buru?"

"Aku cuma nggak mau jadi beban."

Ia tertawa kecil, lalu menatapku serius. "Kamu bukan beban."

"Tapi-"

"Seren," katanya lembut, tapi tegas, "aku bisa urus semuanya. Kamu cukup fokus hidup. Itu aja."

Nada suaranya tidak memerintah. Lebih seperti seseorang yang sedang menenangkan anak kecil yang terlalu banyak berpikir.

Aku terdiam.

"Lagi pula," tambahnya santai, "dunia luar itu capek. Berisik. Kamu nggak perlu ke sana dulu."

Kata dulu membuatku mengangguk.

Aku mulai jarang membuka ponsel. Tidak ada pesan masuk selain dari Arven. Tidak ada notifikasi yang terasa penting. Hari-hariku terasa penuh tanpa harus ke mana-mana.

Dan anehnya...aku bahagia.

Malam-malamku tenang. Tidurku lebih nyenyak. Pria tanpa wajah itu tidak datang lagi. Namaku tidak dipanggil dalam mimpi.

Aku mulai percaya

mungkin aku memang aman sekarang.

Suatu malam, saat aku berdiri di balkon menatap lampu kota, Arven memelukku dari belakang. Dagunya bertumpu ringan di kepalaku.

"Kamu dingin?" tanyanya.

"Sedikit."

Ia memelukku lebih erat.

"Aku di sini," katanya pelan. "Selalu."

Aku memejamkan mata, membiarkan kalimat itu menetap di dadaku.

aku sedang jatuh cinta lagi. Aku mulai menyadari keinginanku dengan cara yang sepele dan hangat

......................

Suatu sore, saat cahaya matahari jatuh miring ke lantai ruang tengah dan Arven duduk di meja kerjanya, aku berpikir.

'Ini rasanya seperti hari yang cocok untuk kencan.'

Aku tidak mengatakannya langsung.

Aku duduk di sofa sambil mengayunkan kaki pelan, membuka ponsel, menutupnya lagi. Aku bertanya hal-hal kecil yang tidak penting.

"Ven," panggilku.

"Hm?" jawabnya tanpa menoleh.

"Kalau orang normal...biasanya ngapain ya kalau lagi nggak ngapa-ngapain?"

Ia berpikir sebentar. "Tidur. Atau nonton."

Aku mengangguk, berpura-pura puas.

Beberapa menit kemudian aku pindah posisi, duduk lebih dekat ke mejanya.

"Jakarta lagi cerah ya hari ini."

"Iya," katanya. "Jarang-jarang."

Aku menunggu. Dia tidak melanjutkan perkatannya.

Aku mendesah pelan.

'Dasar enggak peka sama sekali.' pikirku

Aku akhirnya menyerah pada caraku sendiri.

"Ven," kataku sambil menatapnya. "Kita pernah kencan nggak?"

Ia berhenti mengetik. Menoleh. Alisnya sedikit terangkat.

"Pernah." Jawabnya singkat

"Sering?"

"Cukup." Jawabnya lagi.

"Terus...." aku menarik napas kecil. "Sekarang?"

Ia menatapku beberapa detik. Lalu tertawa. Bukan tawa mengejek, seperti tawa tertahan yang akhirnya lolos.

Matanya menyempit sedikit, sudut bibirnya terangkat dengan cara yang membuat dadaku hangat.

"Kamu lagi ngajak aku kencan?" tanyanya.

Wajahku panas. "Iya. Maksudku....kalau kamu mau."

Ia berdiri, mendekat, lalu menunduk sedikit agar sejajar denganku. Tangannya bertumpu di sandaran sofa, membuat jarak kami menyempit.

"Kenapa nggak dari tadi bilang?" katanya, masih tersenyum.

"Karena aku ngira kamu bakal ngerti," jawabku jujur.

Ia tertawa lagi, lebih pelan kali ini. "Maaf. Aku nggak peka kalau soal kamu."

"Aneh," gumamku. "Katanya pacarku."

Ia mengusap kepalaku pelan. "Justru karena kamu."

Aku tersenyum, lalu bertanya dengan nada yang lebih ringan, "Jadi....kita ke mana?"

Aku sudah membayangkan hal sederhana. Makan malam, lampu kota, duduk berhadapan di tempat ramai. Aku tidak terlalu memikirkannya sampai Arven terdiam sebentar.

"Kita di sini aja," katanya akhirnya.

"Oh." Nada suaraku datar. Bukan kecewa, lebih terkejut.

"Kamu capek keluar," lanjutnya. "Dan aku lebih suka kalau kamu di tempat yang nyaman."

Aku menatapnya. Entah kenapa, aku mengangguk.

"Oke."

Ia terlihat sedikit lega. "Serius?"

"Iya," jawabku sambil tersenyum kecil. "Kencan kan nggak harus pergi jauh."

Kalimat itu keluar begitu saja. Dan aku menyadari aku benar-benar mempercayainya.

Malam itu kami menggeser meja kecil ke pinggir, menggelar alas tipis di lantai ruang tengah. Arven memasak pasta sederhana. Aku memotong roti, meski potongannya tidak rapi.

Kami makan sambil duduk berhadapan. Lampu dimatikan, hanya menyisakan cahaya kecil dari lampu meja.

"Kencan paling minimalis," kataku.

"Tapi kamu senyum," balasnya.

Aku memang senyum.

Setelah makan, kami menonton film lagi. Kali ini aku tidak benar-benar memperhatikan ceritanya. Aku lebih fokus pada kehadirannya. Cara lengannya terasa di bahuku. Cara napasnya teratur.

Saat film hampir selesai, aku menyandarkan kepala ke dadanya.

"Ven," kataku pelan.

"Hm?"

"Kalau nanti aku pengen keluar..."

Ia tidak langsung menjawab. Tangannya mengusap rambutku perlahan. "Nanti kita pikirin."

Jawaban itu seharusnya membuatku bertanya lebih jauh. Tapi aku terlalu nyaman untuk peduli.

Aku memejamkan mata, mendengarkan detak jantungnya.

Dan aku tidak sadar bahwa aku baru saja menerima dunia yang dipersempit dengan senyum di wajahku.

1
humei
coba cari tau seren , jgn terlalu percaya arven
humei
iya . kemana arven 🙃
SarSari_
Semoga Arven jadi alasan kamu sembuh, bukan cuma ingatan yang kembali tapi juga bahagianya.💪
Kim Umai
sebenarnya dia perhatian kali sih, tapi kek penasaran woy kejadian selama setahun lalu itu
❀ ⃟⃟ˢᵏkasychan
kebanyakan nanya🤭
Ria Irawati
Mulai mencurigakan nihh
Ria Irawati
waduhh kenapa di batasi?? gk bisa toktokan dong🤣
Ria Irawati
perhatian sekali🤭
Tulisan_nic
Jangan² dia punya 1000 lot di Astra🤣🤣🤣
Tulisan_nic
Apa di kamar ini, semuanya akan terungkap?
j_ryuka
nanya mulu bisa diem dulu gak sih 🤣
ininellya
nah kan bau" mencurigakan nih arven
Panda%Sya🐼
Mau curiga sama Arven. Tapi dia terlalu baik juga, jadi confuse
Suo: Hayolohhh
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Uhh apakah dulu Seren kabur kerana stress sama sikap Arven? Jangan-jangan mereka ini udah pisah cuma Arven belum rela /Yawn/
Suo: Liat aja nanti kelanjutannya kak/Chuckle/
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Kerana itu kasih tau semuanya aja. Masa harus kurung Seren di rumah terus. Kasian diaa 🤧
Panda%Sya🐼
Positive thinking aja. Mungkin Arven sebenarnya baik. 😌
only siskaa
ortunya kemanaa sii😤
Suo: Nanti dijelasin kok/Chuckle/
total 1 replies
Blueberry Solenne
Kok bisa kenapa tu?
Blueberry Solenne
Ada yang kelaparan malam-malam ceritanya?
Suo: btul bgt/Proud/
total 1 replies
Suo
dia di temenin kok nantinya 😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!