Arc 1 : Bab 1 — 41 (Dunia Melalui Mata Bayi Ajaib)
Arc 2 : Bab 42 — ... (On-going)
Aku terlahir kembali di dunia kultivasi dengan ingatan utuh dan selera yang sama.
Di sini, kekuatan diukur lewat tingkat kultivasi.
Sedangkan aku? Aku memulainya dari no namun dengan mata yang bisa membaca Qi, meridian, dan potensi wanita sebelum mereka menyadarinya sendiri.
Aku akan membangun kekuatanku, tingkat demi tingkat bersama para wanita yang tak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20 : Malam di Atap Rumah.
[PoV Ibu Shen]
Malam terasa lebih berat dari biasanya.
Aku berdiri di atap rumah, telapak kakiku menyentuh genting yang dingin oleh embun. Angin malam menyusup ke balik pakaianku, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang hampir membusuk. Di bawahku, rumah ini tampak kecil dan rapuh. Terlalu mudah dihancurkan jika sesuatu benar-benar datang.
Aku tidak sendirian.
Di sampingku berdiri seorang wanita yang wajahnya hampir sama denganku. Garis pipinya, bentuk matanya, bahkan cara ia berdiri. Bedanya, wajahnya lebih keras, lebih matang. Matanya tajam seperti pisau yang sudah terlalu sering diasah oleh kenyataan. Rambut peraknya dikepang rapi, berkilau redup di bawah cahaya bulan.
“Saudariku,” katanya pelan. “Sudah lama.”
Dadaku mengendur sedikit. Aku menoleh padanya dan tersenyum tipis.
“Lin Jie. Kau datang cepat.”
Ia melangkah ke tepi atap dan menatap ke bawah, ke arah jendela kamar yang tertutup rapat. Di sana Shen Yu tidur. Anakku. Napasnya kecil dan teratur, sama sekali tidak menyadari dunia yang mulai bergerak mengelilinginya.
“Ketika liontinmu berdenyut,” ujar Lin Jie. “Aku tahu ini bukan hal sepele.” Pandangannya tetap ke bawah. “Itu dia? Pewaris Biji Cahaya?”
“Iya,” jawabku lirih. “Shen Yu.”
Menyebut namanya selalu membuat dadaku menghangat sekaligus nyeri.
Lin Jie memejamkan mata. Aku merasakan Qi di sekeliling kami bergetar halus. “Potensinya luar biasa. Bahkan dari sini, aku bisa merasakannya.” Saat ia membuka mata, alisnya berkerut. “Tapi ada yang mengawasi. Dua di bukit timur. Satu di hutan utara.”
Jantungku berdegup lebih cepat. “Yang di hutan itu aku rasakan siang tadi. Ia memanipulasi Qi. Menyedot kehidupan dari sekitarnya.”
“Pelaku Gelap,” katanya tanpa ragu. “Kultivator yang mencuri Qi. Berbahaya, meski biasanya tidak kuat jika sendirian.”
“Mereka mungkin mengincar Shen Yu,” kataku. “Atau aku.”
“Keduanya.” Lin Jie menoleh dan menatapku langsung. “Kau tidak bisa tinggal di sini selamanya, Mei. Mereka akan menemukanmu. Shen Yu terlalu berharga untuk disembunyikan di desa seperti ini.”
Aku menegang. “Tapi dia masih bayi.”
“Justru itu,” balasnya tenang. “Itulah yang membuatnya paling rentan.”
Ia mendekat dan meletakkan tangan di bahuku. Hangat dan mantap. Sentuhan yang mengingatkanku bahwa aku tidak sendirian, meski rasanya seperti itu selama ini.
“Dengarkan aku,” katanya. “Aku punya tempat. Sebuah desa kecil di lembah terpencil. Dilindungi formasi alam lama. Jauh lebih aman.”
“Kita harus pergi?” tanyaku.
“Sebelum yang lain datang. Pelaku Gelap itu mungkin hanya pengintai. Yang lebih kuat akan menyusul.”
Aku kembali menatap ke bawah. Ke kamar Shen Yu. Lalu ke kamar lain, tempat Yu Yan tidur dengan napas gelisah dan simpul gelap di dadanya. Perutku mengencang.
“Ada seorang gadis,” kataku pelan. “Yu Yan. Dia tinggal bersama kami sekarang.”
“Gadis dengan simpul gelap turunan?” Lin Jie langsung tahu.
“Kau bisa merasakannya?”
Ia mengangguk. “Potensinya besar. Tapi lukanya dalam. Kau yakin membawanya?”
Aku mengangguk tanpa ragu. “Shen Yu terikat dengannya. Dan dia keluarga sekarang.”
Lin Jie menghela napas panjang. “Baik. Bawa dia. Tapi kita harus cepat. Besok malam.”
“Secepat itu?”
“Liontinmu mungkin sudah menarik perhatian.” Ia menatap ke kejauhan, ke arah pegunungan yang tenggelam dalam bayangan. “Aku merasakan getaran aneh. Seperti sesuatu yang terbangun dari tidur panjang.”
Aku menggigit bibir. “Aku lelah terus lari, Jie.”
“Ini bukan lari,” katanya lembut, meski matanya tegas. “Ini mundur dengan perhitungan. Untuk Shen Yu. Untuk masa depannya.”
Kami terdiam. Angin malam berhembus pelan. Genting berderak pelan di bawah kaki kami. Serangga malam bernyanyi seolah dunia ini masih damai.
“Bagaimana yang lain?” tanyaku lirih. “Masih adakah yang selamat?”
Lin Jie menggeleng. Wajahnya dipenuhi kesedihan yang tidak perlu diucapkan. “Hanya kita. Dan sekarang Shen Yu.”
Mataku panas. Aku mengangguk pelan. “Aku akan siap besok.”
“Bagus.” Ia mundur selangkah. “Aku akan berkeliling malam ini. Memastikan tidak ada yang mendekat. Kau harus tidur. Besok akan panjang.”
Dalam satu gerakan ringan, Lin Jie melompat turun dari atap dan menghilang ke dalam bayangan malam.
Aku tetap berdiri sendirian. Menatap langit penuh bintang yang terasa begitu jauh.
“Maafkan Ibu, Shen Yu,” bisikku. “Dunia belum aman untukmu. Tapi suatu hari nanti, Ibu berjanji, kau tidak perlu bersembunyi lagi.”