"Mencintai Pak Alkan itu ibarat looping tanpa break condition. Melelahkan, tapi nggak bisa berhenti"
Sasya tahu, secara statistik, peluang mahasiswi "random" sepertinya untuk bersanding dengan Alkan Malik Al-Azhar—dosen jenius dengan standar moral setinggi menara BTS—adalah mendekati nol. Aris adalah definisi green flag berjalan yang terbungkus kemeja rapi dan bahasa yang sangat formal. Bagi Aris, cinta itu harus logis; dan jatuh cinta pada mahasiswa sendiri sama sekali tidak logis.
Tapi, bagaimana jika "jalur langit" mulai mengintervensi logika?
Akankah hubungan ini berakhir di pelaminan, atau justru terhenti di meja sidang sebagai skandal kampus paling memilukan? Saat doa dua pertiga malam beradu dengan aturan dunia nyata, siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatin fatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 20
Kemenangan Alkan atas konsorsium spionase itu ternyata meninggalkan residu yang beracun. Alkan menjadi sangat protektif—hampir ke titik obsesif. Ia memasang sistem keamanan berlapis di rumah dan melarang Sasya keluar rumah tanpa pengawal pribadi dari firma keamanan (bodyguard)yang ia sewa.
Namun, Sasya, yang merasa fisiknya mulai membaik di trimester kedua, mulai merasa terkekeh. Ia merasa seperti tahanan di dalam keamanan yang dibangun suaminya sendiri.
Sore itu, Alkan sedang terjebak rapat senat yang alot. Sasya, yang merasa bosan dan mengidam ingin makan bakso di pinggir jalan dekat kampus lama mereka, memutuskan untuk keluar diam-diam. Ia berpikir, “Hanya sepuluh menit, Mas Alkan nggak akan tahu.”
Ia pergi sendiri, tanpa memberi tahu pengawal, menggunakan ojek online. Namun, saat ia sedang menunggu pesanannya, sebuah motor melaju kencang di dekatnya dan pengendaranya berteriak kasar, membuat Sasya tersentak dan hampir jatuh tersungkur jika tidak berpegangan pada tiang listrik. Ketakutan kilat itu membuat perutnya mendadak kencang.
Saat ia kembali ke rumah, Alkan sudah berdiri di depan pintu. Wajahnya gelap. Tidak ada kelembutan di matanya—hanya ada kemarahan murni yang dingin.
"Dari mana aja kamu?" suara Alkan rendah, tapi bergetar karena emosi.
"Mas... aku cuma cari angin sebentar ke depan," jawab Sasya terbata, menyembunyikan tangannya yang gemetar.
"DENGAN SIAPA? SAYA SUDAH BILANG JANGAN KELUAR SENDIRI!" Alkan membentak. Suaranya menggelegar di ruang tamu yang sepi. Sasya tersentak, ini pertama kalinya Alkan membentaknya sekeras itu.
"Mas, aku Tahanan yang bisa Mas kunci seenaknya! Aku manusia, aku butuh keluar!" Sasya balas berteriak, air mata mulai mengalir.
"KAMU PIKIR INI PERMAINAN?!" Alkan mendekat, napasnya memburu. "Di luar sana ada orang-orang yang ingin menghancurkan hidup saya melalui kamu! Kalau sesuatu terjadi pada bayi itu karena keteledoranmu, apa kamu sanggup hidup dengan rasa bersalah itu?!"
Alkan memukul meja kayu di sampingnya dengan keras. BRAK!
Sasya terlonjak, rasa sakit yang hebat tiba-tiba menghantam perut bawahnya. Ia memegang perutnya, wajahnya mendadak seputih kertas. "Mas... sakit..."
Alkan, yang masih dikuasai amarah, awalnya mengira itu hanya taktik Sasya. "Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan—"
Namun, kalimatnya terhenti saat melihat Sasya jatuh terduduk, meringis kesakitan dengan keringat dingin mengucur deras. "Mas... benar-benar sakit... ada... ada darah..."
Melihat noda merah tipis di daster Sasya, kemarahan Alkan menguap seketika, digantikan oleh ketakutan yang melumpuhkan. "Sasya! Ya Allah, Sasya!"
Alkan menggendong Sasya ke mobil dengan kecepatan gila. Sepanjang jalan menuju rumah sakit, ia terus meracau minta maaf. "Maafkan Mas, Sayang. Maafkan Mas... bertahanlah."
Sasya tidak menjawab. Ia hanya bisa memejamkan mata, memegang tangan Alkan dengan sangat lemah. Dunianya terasa memudar.
Di ruang IGD, dokter segera melakukan penanganan darurat. Alkan dipaksa menunggu di luar. Ia terduduk di lantai koridor, menyandarkan kepalanya di dinding dingin. Ia merasa seperti monster. Logika yang ia banggakan gagal total mengendalikan emosinya sendiri. Ia baru saja membahayakan dua nyawa paling berharga dalam hidupnya hanya karena rasa takutnya yang berlebihan.
Dua jam kemudian, dokter keluar. "Kandungannya mengalami kontraksi hebat akibat stres fisik dan psikis yang mendadak. Ada ancaman keguguran dini. Istri Anda harus bed rest total selama minimal dua minggu ke depan. Tidak boleh ada tekanan sedikit pun."
Alkan masuk ke ruang rawat dengan langkah gontai. Sasya terbaring lemah dengan berbagai selang infus. Matanya tertutup, namun sisa air mata masih ada di pipinya.
Alkan duduk di sampingnya, meraih tangan Sasya yang dingin, dan menciumnya berkali-kali sambil menangis tanpa suara.
"Maafkan Mas, Sasya... Mas gagal menjagamu. Mas justru jadi ancaman terbesar buatmu," bisik Alkan dalam isak tangisnya.
Sasya membuka matanya perlahan. Ia menatap Alkan dengan tatapan yang sangat lelah. "Mas... jangan bentak aku lagi. Hatiku nggak sekuat server Mas..."
Alkan mengangguk cepat, dadanya sesak karena penyesalan. "Tidak akan lagi, Sayang. Sumpah. Saya akan hapus semua ego saya. Tolong... jangan pergi, tolong tetap sehat."
Malam itu, Alkan tidak tidur. Ia terjaga di samping tempat tidur rumah sakit, menyadari bahwa sistem paling sempurna sekalipun akan hancur jika kehilangan sentuhan kasih sayang dan kelembutan.