Zoran Shihai adalah pemuda 19 tahun dari Bumi yang hidup sebagai perampok jalanan. Ia mencuri bukan karena rakus, melainkan demi bertahan hidup. Namun satu kesalahan fatal yakni merampok keluarga kaya yang terhubung dengan dunia gelap membuat hidupnya berubah selamanya.
Dikejar para pembunuh bayaran, Zoran terjebak dalam pelarian putus asa yang berakhir pada sebuah retakan ruang misterius. Ketika ia membuka mata, ia tidak lagi berada di Bumi, melainkan di Dunia Pendekar, sebuah dunia kejam tempat kekuatan menentukan segalanya.
Terlempar ke Hutan Angin dan Salju, Zoran harus bertahan dari cuaca ekstrem, binatang buas, manusia berkuasa, dan kelaparan tanpa ampun. Di dunia ini, uang Bumi tak berarti, belas kasihan adalah kelemahan, dan bahkan seorang pemilik kedai tua bisa memiliki kekuatan mengerikan.
Tanpa bakat luar biasa, tanpa guru, dan tanpa sistem,
Ini adalah kisah tentang bertahan hidup, ironi, dan kebangkitan seorang manusia biasa di dunia yang tidak memberi ampun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kon Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Disambar petir.
Wuhen hendak kembali melesat.
Aura di tubuhnya masih bergejolak, jelas dia belum puas hanya dengan satu pukulan. Namun tepat saat dia akan bergerak, Sebuah tangan menahan bahunya.
“Cukup,” ucap Fengwu.
Wuhen menoleh dengan tatapan tidak senang. “Kenapa?” tanyanya tajam.
“Kamu mau apa lagi?” Fengwu balik bertanya.
“Tentu saja mau memukulinya,” jawab Wuhen tanpa ragu. “Dia sudah berani membuat kita ketakutan seperti itu.”
Fengwu mengerutkan kening. “Apa kamu mau memukuli orang mati?”
Ucapan itu membuat Wuhen terdiam.
Dengan kondisi pemuda tadi, tubuh penuh luka, satu tangan hilang, lalu terkena pukulan penuh tenaga dari Jiwa Spiritual tingkat tujuh, Fengwu yakin kemungkinan hidupnya nyaris nol. Terlebih lagi, Wuhen sama sekali tidak menahan diri saat menyerang.
Wuhen mendengus kesal. Wajahnya tampak tidak puas, namun dia tidak membantah.
“Sudahlah,” ucap Fengwu singkat. “Ayo pergi.”
Tanpa menoleh lagi, mereka berdua meninggalkan tempat itu dan bergerak menuju bagian hutan yang lebih dalam, seolah kejadian barusan tidak lebih dari gangguan kecil dalam latihan mereka.
\*\*\*
Keesokan harinya...
Zoran perlahan membuka mata.
Pandangan di hadapannya buram. Dia menatap langit kelabu di atasnya, lalu menoleh ke sekeliling dengan ekspresi linglung.
“Kenapa aku tidur di sini…?” gumamnya dalam hati.
Yang membuatnya heran bukan hanya tempatnya, tapi juga fakta bahwa dia sama sekali tidak mengingat rasa mengantuk sebelum pingsan. Tidak ada peringatan. Tidak ada kelelahan ekstrem.
Zoran mencoba duduk.
“Aduh!”
Rasa sakit meledak dari punggungnya.
Dia meringis, napasnya terputus sesaat. Rasa nyeri yang sebelumnya sudah parah kini terasa berkali-kali lipat lebih menyiksa. Seolah ada sesuatu yang menghantam tubuhnya dengan kekuatan brutal.
Zoran duduk cukup lama, mencoba menenangkan napasnya, sambil memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
Ingatan terakhirnya perlahan muncul.
Pohon.
Dua pemuda di atasnya.
Dan… sensasi tubuhnya terangkat.
Matanya sedikit membelalak. Dia teringat, sangat jelas, bahwa sesaat setelah melewati dua orang itu, tubuhnya seperti terbang sebelum segalanya menjadi gelap.
“Apa… mereka?” pikir Zoran pelan.
Tidak mungkin tubuhnya tiba-tiba terlempar sendiri lalu pingsan begitu saja.
Semakin dia mengingatnya, wajah Zoran semakin menghitam. Otot rahangnya menegang. Amarah perlahan muncul dari dasar dadanya.
“Keparat…”
“Lihat saja nanti…” geram Zoran pelan. “Aku akan membalas kalian.”
Kata-kata itu keluar lirih, namun sarat tekad. Tidak ada teriakan, tidak ada sumpah berlebihan, hanya janji yang tertanam dalam hati.
Setelah merasa tubuhnya cukup pulih, Zoran menyantap sarapan seadanya. Rasa lelah perlahan menghilang, meski bekas nyeri masih tertinggal. Dengan langkah mantap, dia kembali melanjutkan perjalanan, menjauh dari tempat kejadian kemarin.
Tidak lama kemudian, Zoran menemukan sebuah area yang terasa tenang, jauh dari jalur manusia dan tanpa tanda-tanda keberadaan pendekar lain. Dia membangun tenda sederhana di sana, memastikan tempat itu cukup aman, lalu beristirahat.
Keesokan harinya,
Zoran membuka buku teknik yang diberikan Zilan. Jemarinya menyusuri halaman demi halaman dengan saksama. Tulisan di dalamnya ringkas namun padat, seolah ditujukan bagi pemula yang benar-benar kosong dari dasar.
Di dunia ini, para pendekar menggunakan energi spiritual, energi yang ada di alam, untuk menyerang, bertahan, dan memperkuat tubuh.
Zoran membaca perlahan, berulang kali, memastikan setiap kata benar-benar dipahami.
Satu jam berlalu.
Posisi Zoran berubah. Dari duduk santai, kini dia duduk bersila. Matanya terpejam. Napasnya pelan dan teratur. Tidak ada suara, bahkan angin pun seolah enggan mengganggu.
Zoran mulai bermeditasi. Dia mengikuti instruksi dalam buku, menenangkan pikiran, merasakan alam, lalu menarik energi spiritual di sekitarnya.
Perlahan,
Untaian energi yang tak kasatmata mulai berkumpul. Mereka berputar lembut di sekitar tubuh Zoran, lalu satu per satu masuk ke dalam dirinya.
Zoran merasakan kesegaran yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Seolah udara dingin berubah menjadi aliran hangat yang menenangkan. Bahkan rasa sakit di tubuhnya, luka, memar, nyeri, perlahan memudar.
Satu jam berlalu.
Tiba-tiba,
Bus!
Dari dalam tubuh Zoran terdengar ledakan kecil, seperti jembatan angin yang patah lalu tersambung kembali. Sensasi itu mengguncang kesadarannya.
Pada saat yang sama, Langit yang tadinya cerah mendadak bergetar.
Sebuah petir kecil terbentuk, berkilat sesaat, lalu menyambar turun tepat ke arah Zoran.
Boom!!
Zoran tersentak. Tubuhnya terasa seperti disambar arus listrik bertekanan tinggi. Otot-ototnya menegang, napasnya terhenti.
“Aaarrgh!!”
Dia berteriak kesakitan.
Meski hanya petir kecil, bagi manusia seperti Zoran, yang baru memulai jalan sebagai pendekar, rasa sakitnya luar biasa. Sensasi terbakar menjalar dari kulit ke tulang, dari tulang ke inti tubuh.
Tubuhnya bergetar hebat.
Belum sempat Zoran menarik napas...
Boom!!
Petir kedua menyambar turun tanpa peringatan.
Sambaran itu menghantam tepat ke tubuh Zoran yang masih duduk bersila. Ledakannya membuat udara di sekitarnya bergetar hebat. Di kejauhan, hewan-hewan yang bersembunyi di balik pepohonan langsung berlarian menjauh, seolah naluri mereka berteriak bahwa tempat ini telah menjadi wilayah kematian.
Tubuh Zoran bergetar tak terkendali.
Pakaiannya, yang sejak awal sudah compang-camping, kini hampir sepenuhnya hangus. Serat kain terbakar, dan asap tipis mulai mengepul dari tubuhnya. Kulitnya memanas, sementara udara di sekitarnya tetap membeku.
Zoran membuka matanya. Dia mengangkat kepalanya perlahan dan menatap langit yang masih tampak cerah. Tidak ada awan hitam. Tidak ada badai.
Namun petir tetap turun.
Tatapan Zoran berubah. Amarah membara di matanya, hingga kedua matanya memerah seperti disulut api.
Boom!!!
Sambaran ketiga turun.
Kali ini jauh lebih besar daripada dua sambaran sebelumnya.
Petir itu menghantam tanah tepat di bawah Zoran, menciptakan lubang kecil dan melemparkan tanah serta salju ke segala arah. Ledakan itu terlalu kuat.
Bruk!
Tubuh Zoran akhirnya ambruk ke tanah.
Dia tidak sanggup lagi menahan rasa sakit yang datang bertubi-tubi. Ini adalah pertama kalinya dalam hidupnya dia disambar petir secara langsung, dan rasa sakitnya jauh melampaui apa pun yang pernah dia alami.
Kesadarannya perlahan memudar.
Dua hari kemudian,
Serangga-serangga kecil merayap di tubuh Zoran yang terbaring tak bergerak. Mereka menggigit bagian tubuh yang diperban, tertarik oleh bau darah dan daging yang belum sepenuhnya kering.
Bagi mereka, tubuh Zoran tampak seperti makanan empuk yang ditinggalkan begitu saja.
Zoran perlahan membuka mata.
Pandangan pertama yang dia lihat membuatnya terkejut. Banyak serangga merayap di tubuhnya. Dengan tubuh gemetar dan napas berat, dia buru-buru menyingkirkan mereka, mengibaskan tangan seadanya.
Setelah itu, dia kembali terbaring.
Tubuhnya terasa sangat lemah. Setiap tarikan napas terasa berat, seolah paru-parunya masih dipenuhi sisa-sisa sengatan listrik.
“Sialan…” gumamnya pelan. Kepalanya masih terasa pusing, namun pikirannya mulai jernih. “Panduan di buku itu… Seharusnya hanya ada ledakan kecil energi spiritual di dalam tubuh.”
Dia terdiam sejenak, lalu menggertakkan gigi.
“Ini…Kenapa malah ada petir yang menyambarku?”