Nareya, anak sulung bermimpi meniti karir di dunia fashion, harus merelakannya demi menjadi tulang punggung keluarga. Terlahir untuk berjuang sejak dini membuat dia tidak tertarik soal pernikahan.
Tidak menikah, berkecukupan, dan bisa membahagiakan keluarganya adalah keinginan sederhana Nareya. Tapi siapa sangka, dia justru menyetujui perjanjian pernikahan dengan mantan Bosnya?
Kala terlahir berdarah campuran membuatnya dicap sebagai noda. Demi pengakuan para tetua, dia menyeret Nareya dalam sebuah perjanjian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oryelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Pernikahan? Nah, sekedar Kesepakatan
Ini nyata. Menikah di usia dua puluh empat saat tidak ada rencana menikah di hidupnya. Tidak hanya itu, terlibat skandal membuatnya jadi sorotan di mana-mana. Menanggung beban yang bukan atas kesalahan dia. Semua tetangganya ikut menghakiminya. Wira dan Sundari pun turut menyalahkan. Mereka semua tidak tahu sebenarnya dia lebih membenci hari ini dari siapapun yang sudah menghujatnya. Kalimat-kalimat rusak dilemparkan kepadanya. Lewat tulisan? Puluhan ribu. Secara langsung? Ratusan.
Air matanya sudah kering. Tatapan kosong, padahal cermin di depannya mengatakan dia cantik. Riasan wajahnya selesai.
“Mbak Nareya, sekarang kita pakai gaunya ya, sebelah sini.” tuntun Kirana.
“Astaga mbak cantik banget kamu” ucap Kirana.
Cermin panjang menampakan keseluruhan gaun yang menjuntai dengan indah. Gaun putih dengan pinggang melekat pas dan kamisol yang memeluk dadanya dengan aman. Ada sentuhan tradisional di setiap pola payetnya. Tapi design modern ssesuai kemauan Nareya.
“Mbak, Mas Kala itu orangnya sangat menyayangi aku sebagai adiknya. Bahkan dia memuliakan mommy dan Eyang Putri. Kirana tahu, Mbak Nareya pasti kesel karena berita yang mengganggu.”
“Tapi hari ini harus jadi hari bahagia nya Mbak. Jangan pedulikan orang lain pokoknya sudah harus bahagia.”
Nareya hanya tersenyum tipis. Hanya menunggu upacara pernikahan dilaksanakan. Entah kenapa ucapan Kirana tadi membuatnya sedikit tenang.
‘Jangan pedulikan yang lain pokoknya sudah harus bahagia’
Suara itu seperti terus berputar di telinga nya. Harus bahagia? Bagiaman caranya saat semua rencana hidupnya akan mulai diruntuhkan. Saat selalu menjadi baik untuk semua orang justru dirinya lah yang menjadi korban. Apakah harus berhenti menjadi baik untuk bisa bahagia?
Harusnya memang bahagia, di sekelilingnya adalah hal-hal yang dia mimpikan juga. Nareya menyentuh bunga-bunga dekorasi di ruangan riasnya. Ini bunga asli pastinya mahal. Cemilan di meja kecil itu juga bukan yang biasa dia makan. Nareya mendekatinya, meraih sumpit di samping, lalu menyuapkan sushi dengan salmon besar diatasnya. Ini enak. Ah, sia-sia ini semua jika dia terus meratapi nasibnya.
“Oiya mbak Nareya belum sarapan, aku bantu ya.” ucap Kirana
Nareya dibantu duduk, disiapkan makanan-makanan di depanya. Lalu disiapkan minumnya.
“Kamu sudah sarapan? Coba ini deh enak!”
“Belum mbak, sibuk dari tadi… oke aaa” Kirana menerima suapan dari Nareya
“Enak kan? Aku suka banget. Ini apa ya?”
“Itu klepon, luarnya kenyal, dalamnya ada gula cair. Gurih dari kelapa di luarnya ditambah manis dari gula di dalam.” jelas Kirana.
“Hmm… Aduhh. Blepotan deh.” ucap Nareya. Dia mengambil tisu buru-buru menghapus noda dari gula merah di bibir nya.
“Ngga papa, nanti habis mbak makan di rapihkan lagi lipsticknya.”ucap Kirana pelan.
“Harusnya aku makan sebelum di makeup tadi, aduh maaf mengacaukan hasil kerja makup artist yang sudah menangani ku ” ucap Nareya.
“Eh, bukan masalah mbak, cuma lipstik dibetulkan lagi bisa. Bukan kacau, ini bisa diperbaiki.”
Nareya malah jadi menatap Kirana lama sekali.
“Aduh jadi malu aku malah di tatap mbak gini. Isi energi dulu mbak nanti biar nggak pusing berdiri di pelaminan.” ucap Kirana sambil menyuapi Nareya.
***
Kala dan Nareya sudah sah menjadi suami istri. Kala justru berkumpul di antara para laki-laki di ujung ruangan mengarahkan tugas. Memastikan situasi terkendali dan aman disekitar media yang sudah berkumpul di luar. Ketika Nareya sudah berganti baju dia segera mendekatinya.
“Nanti biar saya yang bicara, kamu mendampingi saya saja.”ucap Kala.
“Oke,” ucap Nareya cepat.
Mereka berjalan berdampingan menuju press conference
“Mas Kala tolong jelaskan apakah betul anda bagian dari Atmasena?”
“Iya betul, orang tua saya pak Adji pimpinan Atmasena.”
“Lalu tadi saat acara pak Adji tidak berdampingan dengan ibu Ratna?”
“Iya karena ibu kandung saya Mommy Anna.”
“Mengapa selama ini tidak pernah terlihat di pertemuan-pertemuan yang biasa dihadiri oleh keluarga Atmasena, apakah karena dari pernikahan yang tidak sah secara hukum?”
“Pertama karena kami saling menjaga privasi sehingga tidak semua informasi kami bagikan. Saya berharap juga semuanya bisa menghargai batasan privasi kami. Kedua, pernikahan orang tua saya sah secara hukum dilangsungkan di Amerika, sehingga hanya dihadiri keluarga inti saja.”
“Wahhh baru tau Pak Adji beristri dua.” ucap salah satu wartawan. Nareya masih menangkap suara itu meski tersamar dengan suara jepretan puluhan kamera yang menyorot.
“Terkait rumor anda sudah melangsungkan pertunangan dengan Sabreena itu bagaimana Mas?”
“Itu sudah clear, tidak ada permasalahan apapun, hanya ketidak cocokan saja jadi Sabreena membatalkan lamaran dari keluarga saya.”
“Ahhh ternyata malah Sabreena yang membatalkan.” ucap beberapa wartawan.
“Terikait istri…” ucapan salah satu mereka terpotong.
“Saya kira cukup ya penjelasanya. Mohon untuk berhenti menyebarkan berita tidak benar di keluarga kami. Saya mengharapkan untuk bisa dihargai ruang pribadi kami. Mohon doa juga untuk pernikahan kami.” ucap Kala menutup presscon itu.
Kala langsung menggandeng Nareya untuk kemballi masuk ke ruangan.
“Doa nya semoga gak ngikut jejak bapak ya mas ganteng, hehe…” ledek salah satu dari mereka, sesaat sebelum mereka menghilang ke balik pintu
***
“Seperti ini kah sikap kalian? Kami wariskan kemudahan kalian balas tindakan gegabah seperti itu!”tunjuk Eyang kepada semua garis termuda Atmasena.
“Kala yang bertanggung jawab penuh di sini,”
“Tanggung jawab seperti apa yang kamu maksudkan?! Citra buruk negara ini kepada kita?”
“Itu hanyalah fase yang harusnya kita manfaatkan untuk memperluas pengaruh kita, pada saat sorot mata semua orang mengarah ke kita. Kasih Kala waktu. Kala akan buktikan itu.”
“NIlai kita bukan hanya uang! Nilai kita pada kepercayaan negara ini.”
“Nah.” decak Kala terlepas
“Itu hanya segelintir pemangku jabatan di pemerintahan yang mau mengendalikan kita. Hanya karena garis keturunan yang tidak murni mereka menaruh doktrin kepada kita sebagai pengaruh asing? Konyol.” lanjut Kala terkekeh.
Plakk
Pipi kirinya ditampar, tak jeda lama wajahnya terlembar ke arah sebaliknya.
Plakk
“Sejak kapan kamu gila kuasa?!” teriak Eyang Putri
“Ada bagian dirimu yang mengalir di tubuh cucuku, Kala!”lanjutnya keras.
Tubuhnya yang sudah lemah lunglai luruh ke lantai. Semua mata langsung tertuju kepadanya. Dengan sigap Kala mengangkat Eyang Putri.
“Panggilkan dokter!” ucap Darma
“Lebih baik kamu menyingkir dahulu, kamu semakin memperburuk keadaan!”geram Darma kepada Kala.
Ketegangan di rumah utama berbanding terbalik dengan Nareya yang sudah bertempat di Apartemen Kala. Berendam dengan segala sabun mandi yang lengkap. Bahkan sambil menonton series talk show yang sempat tertinggal karena kekacauan hidupnya. Nareya begitu menikmati malam pertamanya setelah menikah. Tanpa suami yang siang tadi mengucapkan janji pernikahan. Hanya sendiri di apartemen yang sangat luas.