tentang dia yang samar keberadaannya tapi pasti tentang rasa cintanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: SIMFONI DI TEPI KERUNTUHAN
Udara di desa nelayan kecil di Skotlandia itu terasa seperti es yang tajam, menusuk hingga ke sumsum tulang. Di dalam pondok batu yang tua, aroma kopi yang mulai basi bercampur dengan bau debu dari kabel-kabel tua yang baru saja ditarik Jamie dari gudang bawah tanah. Elara berdiri di depan jendela yang menghadap ke Samudra Atlantik, menatap ombak hitam yang menghantam tebing dengan kemarahan yang konstan. Ia merasa dirinya seperti ombak itu—terus menerus menghantam dinding yang sama, hancur berkeping-keping, lalu dipaksa untuk kembali dan menghantam lagi.
"Kau benar-benar yakin tentang ini, Arlo?" tanya Elara tanpa menoleh. Suaranya terdengar kecil di tengah deru angin yang menyelinap melalui celah pintu kayu yang mulai lapuk.
Arlo tidak menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, terdengar suara *tring* yang panjang dari gitar akustik miliknya yang baru saja dipasangi senar baru. Suara itu begitu bersih, begitu jujur, hingga membuat Elara sedikit gemetar. Selama berminggu-minggu, Arlo menghindari instrumen itu seolah-olah kayu dan baja tersebut adalah instrumen penyiksaan. Namun sekarang, cara Arlo memegang gitar itu tampak berbeda. Ia tidak lagi menggenggamnya seperti sebuah pelarian, melainkan seperti sebuah senjata.
"Selama sepuluh tahun, aku membiarkan Marcus dan industri ini mendikte apa itu suara kita, El," Arlo akhirnya bersuara. Ia duduk di atas peti kayu tua, dikelilingi oleh mikrofon-mikrofon yang diatur Jamie untuk menangkap frekuensi murni. "Aku membiarkan mereka mengubah rasa sakitku menjadi grafik penjualan. Aku membiarkan mereka mengubah suaramu menjadi gema yang bisa mereka jual per detik. Hari ini, aku ingin merebutnya kembali."
Elara berbalik, menatap Arlo. Di bawah cahaya lampu bohlam yang berkedip-kedip, Arlo tampak seperti sisa-sisa dari sebuah peradaban yang hilang—pucat, kurus, namun dengan mata yang menyala oleh api yang belum pernah Elara lihat sebelumnya. Bukan api kegilaan seperti di mercusuar, tapi api kejelasan.
"Marcus akan menghancurkan reputasiku, Arlo. Dia punya bukti percakapan kita. Dia punya tim hukum yang bisa membuatku tampak seperti manipulator yang memanfaatkan musisi yang tidak stabil," Elara berjalan mendekati Arlo, jari-jarinya yang gemetar menyentuh permukaan meja kayu yang kasar.
"Biarkan dia mencoba," potong Arlo dengan tegas. "Dunia mungkin akan membencimu selama satu atau dua hari karena berita tabloid itu. Tapi setelah mereka mendengar apa yang akan kita lakukan malam ini... mereka tidak akan bisa mendengarkan lagu Marcus lagi tanpa merasa mual. Kita tidak akan membalasnya dengan hukum, El. Kita akan membalasnya dengan frekuensi yang sebenarnya."
Jamie, yang sejak tadi sibuk dengan laptopnya di sudut ruangan, mengangkat kepala. "Koneksi satelit sudah stabil. Aku sudah meretas protokol penyiaran di beberapa situs musik independen. Begitu kita menekan tombol 'Live', sinyal ini akan menyebar tanpa bisa dihentikan oleh filter korporat. Tapi kita hanya punya waktu sekitar dua puluh menit sebelum mereka melacak koordinat IP kita dan memutus jalurnya."
"Dua puluh menit," gumam Elara. "Cukup untuk mengakhiri sebuah karier, atau memulai sebuah kebenaran."
Elara mulai membantu Jamie mengatur kabel-kabel. Ia adalah seorang akuntan, seseorang yang terbiasa dengan keteraturan angka dan logika. Namun malam ini, ia melepaskan semua itu. Ia membiarkan rambutnya yang biasanya rapi menjadi berantakan tertiup angin laut. Ia melepas blazer mahalnya dan hanya mengenakan sweter wol tebal yang sudah mulai berlubang. Ia ingin dunia melihatnya sebagai manusia, bukan sebagai objek yang dibicarakan Marcus di tabloid.
Saat persiapan hampir selesai, Arlo menarik Elara untuk duduk di sampingnya. Ia menyerahkan sebuah mikrofon kecil pada Elara.
"Aku tidak bisa bernyanyi, Arlo. Kau tahu itu," bisik Elara dengan tawa getir.
"Aku tidak butuh kau bernyanyi, El. Aku butuh kau bernapas. Aku butuh suara detak jantungmu, suara gesekan kainmu, dan suara kejujuranmu saat kau menceritakan kenapa kau naik ke kereta itu sepuluh tahun lalu. Itulah nada yang tidak bisa dipalsukan oleh algoritma Marcus. Itulah resonansi yang asli."
Elara memejamkan mata, mencoba menenangkan badai di dalam dadanya. Ia teringat stasiun Piccadilly di Manchester tahun 2014. Ia teringat aroma kopi murahan dan lantai peron yang dingin. Ia teringat bagaimana ia merasa bahwa dengan pergi, ia sedang menyelamatkan Arlo. Sekarang ia menyadari betapa salahnya dia. Pergi tidak menyelamatkan siapa pun; itu hanya menciptakan ruang hampa yang kemudian diisi oleh orang-orang seperti Marcus.
"Aku takut, Arlo," aku Elara pelan.
Arlo menggenggam tangan Elara erat-erat. "Aku juga. Tapi ingat apa yang kita gambar di atap gedung itu? Bintang yang tidak ada. Kita menggambarnya karena kita tidak ingin bergantung pada apa yang diberikan langit. Malam ini, kita akan menggambar suara kita sendiri."
Jamie memberikan aba-aba. Tiga jari. Dua jari. Satu.
Lampu merah di kamera laptop menyala. Di layar kecil, Elara bisa melihat angka penonton mulai bergerak dengan sangat cepat. Sepuluh, seratus, seribu, sepuluh ribu... gema berita tentang 'kemunculan kembali Arlo' telah menyebar di internet seperti api yang disulut bensin.
Arlo mulai memetik gitarnya. Bukan melodi "About You" yang mendayu-dayu, melainkan sebuah progresi akord yang mentah, penuh dengan nada-nada minor yang tajam dan jujur.
"Namaku Arlo," suara Arlo menggelegar melalui mikrofon, merambat ke ribuan telinga di seluruh dunia. "Dan di sampingku adalah Elara. Selama sepuluh tahun, kalian mendengar lagu-lagu yang diklaim sebagai milikku. Tapi malam ini, aku ingin kalian mendengar apa yang sebenarnya terjadi saat sebuah lagu menjadi senjata."
Elara menarik napas dalam-dalam. Ia melihat ke arah kamera. Ia tidak lagi melihat sebuah lensa, ia melihat sebuah kesempatan untuk meruntuhkan tembok distorsi yang selama ini mengurungnya.
"Sepuluh tahun lalu, aku naik ke sebuah kereta karena aku pikir aku adalah beban bagi sebuah melodi," Elara mulai berbicara, suaranya awalnya bergetar namun perlahan menjadi stabil dan kuat. "Aku tidak pernah tahu bahwa kepergianku akan diubah menjadi sebuah produk. Aku tidak pernah tahu bahwa rasa sakit pria ini akan dipatenkan oleh sebuah perusahaan."
Sepanjang siaran itu, Arlo terus bermain musik di latar belakang, namun kali ini ia menyertakan elemen-elemen suara alami dari pondok itu—suara ombak Skotlandia, suara derit kursi kayu, dan suara napas Elara. Ia sedang mempraktikkan "Resonansi Elara" yang asli, bukan untuk manipulasi, melainkan untuk koneksi.
Di London, di dalam kantornya yang mewah, Marcus kemungkinan besar sedang berteriak pada asistennya untuk mematikan siaran ini. Namun ia terlambat. Jutaan orang sedang mendengarkan pengakuan jujur tentang bagaimana industri musik mengeksploitasi trauma. Mereka sedang mendengarkan bagaimana lagu yang mereka cintai sebenarnya adalah hasil dari pemerasan emosional.
"Ini bukan lagu untuk kalian konsumsi," kata Arlo di akhir siaran. "Ini adalah suara kami yang kembali kepada pemiliknya."
Tepat pada menit kedua puluh, layar menjadi hitam. Jamie menarik napas lega. "Mereka memutusnya. Tapi sudah terlambat. Rekaman ini sudah diunduh oleh ribuan orang. Marcus tidak akan bisa menghapusnya dari sejarah."
Elara menyandarkan kepalanya di bahu Arlo. Ia merasa kosong, namun dalam cara yang baik. Seolah-olah beban sepuluh tahun itu telah terbawa oleh frekuensi siaran tadi, menyebar ke seluruh dunia dan menghilang ke angkasa.
"Kita melakukannya," bisik Elara.
"Kita baru saja memulai, El," jawab Arlo sambil menatap ke luar jendela. Di kejauhan, lampu-lampu mobil mulai terlihat mendekati pondok mereka. Polisi, atau mungkin orang-orang Marcus. "Tapi kali ini, mereka tidak bisa mengambil apa pun lagi dari kita. Karena kita sudah memberikan segalanya secara gratis."
Bab 14 ditutup dengan keheningan yang paling nyata yang pernah mereka rasakan. Sebuah keheningan yang bukan lagi tentang ketiadaan suara, melainkan tentang kepuasan karena telah meneriakkan kebenaran di tengah badai distorsi.
Aku suka gaya tulisan seperti ini. Cara kamu ngedeskripsiin tiap bait suasana, benda dan waktu, bikin aku bener-bener masuk ke dalam diri El. Sukses selalu thor, semangat ⭐