Sandrina mendapatkan tiket liburan keliling Eropa. Ketika berada di negara Italia, dia terpisah dari rombongannya. Saat berada di sebuah gang sepi, dia melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Alecio dan anak buahnya
Demi menyelamatkan nyawanya Sandrina pura-pura buta dan tuli. Namun, kebohongannya itu segera ketahuan oleh Patrick, kaki tangan Alecio. Dia pun menjadi tahanan kelompok mafia, "Serigala Hitam".
Saat dalam perjalanan ke markas, Alecio dan anak buahnya mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tak diketahui. Ban mobil yang ditumpangi oleh Alecio dan Sandrina kena peluru, sehingga mereka harus pindah ke mobil yang lain. Siapa sangka mereka berdua terkena tembakan. Bukan peluru timah atau obat bius, tetapi obat perangsang.
"Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya." -Alecio-
"Ya Allah, ampuni dosaku. Lebih baik cabut nyawanya Alecio agar aku terhindar dari zina." -Sandrina-
"Bukannya Tuan Alecio impoten? Kenapa jadi Birahi?" -Max
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Alecio berdiri di tengah kamar kuno itu dengan rahang mengeras.
Pintu sudah dikunci kembali dari luar oleh Rosa, dan kini sudah dibuka lagi. Ruangan tampak sama seperti biasa, tempat tidur berdebu, tirai berat, lukisan tua yang menatap kosong.
Alecio berdiri tepat di tengah ruangan dengan rahang mengeras. Lampu gantung tua dinyalakan, cahayanya redup kekuningan dan membuat bayangan perabot tampak seperti siluet menyeramkan.
“Tadi dia masuk ke sini,” ucap Alecio datar.
Rosa berdiri di ambang pintu dengan tangan saling menggenggam gelisah. “Maaf, Tuan. Tadi saya hanya lihat pintu terbuka, saya pikir itu karena angin.”
“Tidak ada angin yang bisa membuka kunci dari luar,” potong Alecio tajam.
Rosa langsung menunduk. “Maaf, Tuan ... maaf!”
Alecio berjalan menyusuri ruangan dengan langkah terukur tapi cepat. Ia menyibakkan tirai tempat tidur, kosong. Lalu, dia membuka pintu kamar mandi kecil di sudut, tidak ada siapa pun.
Ia berlutut dan melihat ke bawah ranjang, debu tebal menunjukan tidak ada bekas pijakan.
“Sandrina!” panggil Alecio keras.
Suara itu memantul di dinding kayu tua. Tidak ada jawaban.
Rosa mulai panik. Ia berjalan cepat ke meja rias, membuka laci satu per satu seolah-olah gadis itu bisa bersembunyi di dalamnya.
“Non possibile ... non possibile,” gumam wanita tua itu.
Alecio berbalik tajam. “Berhenti membuka laci! Dia bukan tikus!”
Rosa terlonjak kaget. “Saya hanya, saya tidak tahu harus bagaimana, Tuan.”
Alecio mengusap wajahnya dengan kasar. Ia memaksa dirinya berpikir.
Rekaman menunjukkan Sandrina masuk ke kamar ini. Tidak ada rekaman dia keluar. Artinya ia masih di dalam ruangan ini.
Alecio berjalan perlahan mengelilingi kamar, memperhatikan setiap sudut. Tangannya menyentuh dinding kayu, mengetuk pelan. Suara padat. Tidak ada rongga. Ia berhenti di depan lukisan perempuan tua yang tergantung di dinding.
Ia mengangkatnya, tidak ada apa-apa di belakangnya.
“Rosa,” panggil Alecio suaranya lebih rendah sekarang, lebih berbahaya karena ditekan. “Kau bilang ada ruang lama.”
Rosa terlihat ragu. “Bukan ruang, maksud saya ... dulu ada jalur rahasia keluarga. Tapi itu sudah lama sekali. Tidak pernah dipakai.”
“Di mana?”
Rosa menunjuk ke arah lemari besar di sisi kiri ruangan. Lemari kayu ek tua dengan ukiran rumit, terlihat terlalu berat untuk sekadar tempat menyimpan pakaian.
Alecio mendekatinya. Ia menarik gagangnya, tidak bergerak. Ia mendorongnya dengan bahu, tetap tidak bergerak.
Rosa mendekat dengan wajah pucat. “Ada mekanisme di bawah panel ukiran. Tapi saya tidak pernah coba.”
“Coba sekarang.”
Tangannya gemetar saat meraba bagian bawah lemari. Ia menekan satu ukiran kecil berbentuk bunga. Tidak terjadi apa-apa.
Alecio menatapnya tajam.
Rosa panik. “Tunggu, mungkin yang ini ....” Ia menekan ukiran lain, masih tidak bergerak.
“Rosa.” Nada itu membuat wanita tua itu hampir menangis.
“Saya tidak ingat! Itu cerita dari nenek saya! Katanya dulu dipakai saat perang!”
Alecio kehilangan kesabarannya. Ia meraba sendiri bagian bawah lemari, menekan beberapa bagian dengan cepat.
Klik. Suara mekanisme tua berbunyi. Lemari itu bergetar pelan.
Rosa menutup mulutnya. “Santa Maria.”
Lemari mulai berputar perlahan, memperlihatkan celah gelap di baliknya. Udara dingin dan lembap langsung menyeruak keluar.
Alecio menyorotkan lampu senter kecil dari meja ke dalam celah itu. Lorong batu yang gelap dan sempit.
Jantung Alecio seperti jatuh ke perut. “Sejak kapan kau tahu ini ada?” tanyanya tanpa menoleh.
Rosa menangis pelan. “Saya tidak tahu masih bisa dibuka. Saya pikir sudah disegel bertahun-tahun.”
Alecio berbalik menatapnya. Matanya tidak lagi sekadar marah. Ia takut.
“Lorong ini dipercaya labirin yang bisa menyesatkan orang yang memasukinya.” Suara Rosa bergetar. “Tidak ada peta. Tidak ada yang tahu ujungnya ke mana. Dulu hanya untuk jalur pelarian perang. Banyak percabangan. Orang bisa tersesat sampai mati.”
Kata terakhir itu membuat dada Alecio terasa sesak. Bisa mati karena tidak ada cahaya, tanpa makanan dan tanpa air.
“Berapa lama pintu ini terkunci setelah kau menutupnya?” tanya Alecio cepat.
“Sekitar ... lima sampai enam jam,” jawab Rosa takut dan panik.
Alecio memejamkan mata sesaat. Lima jam bukan waktu yang sebentar.
Patrick berdiri di ambang pintu. “Aku bisa panggil orang-orang untuk membongkar dinding.”
“Tidak.” Suara Alecio tajam.
Alesio tidak bisa sembarang mengerahkan anak buahnya. Ruangan ini bukan sekadar kamar tua. Ini bagian kastil yang menyimpan rahasia keluarga. Bahkan Patrick, orang yang sudah bersamanya lebih dari sepuluh tahun, tidak pernah diizinkan masuk ke bagian terdalamnya.
“Patrick!”
Patrick yang menunggu di luar langsung muncul di pintu. “Iya, Bos?!”
“Tutup akses sayap kiri. Jangan biarkan siapa pun masuk.”
“Baik.”
Alecio mengambil senter besar dari tangan penjaga. Cahayanya jauh lebih kuat, menembus gelap lebih dalam. Ia kembali menatap lorong itu. Ia merasa benar-benar tidak siap. Bukan karena bahaya di dalamnya, tetapi karena kemungkinan ia terlambat.
Rosa terisak pelan. “Maaf, Tuan. Ini salah saya ....”
Alecio melangkah mendekat ke lorong. Sebelum masuk, ia berkata tanpa menoleh, “Kalau sesuatu terjadi padanya, aku tidak akan memaafkan siapa pun. Termasuk diriku sendiri.”
Alecio tidak menunggu lagi. Ia melangkah masuk ke lorong yang gelap. Batu-batu tua memantulkan cahaya senter dengan warna pucat. Langkahnya cepat, hampir berlari. Suara sepatunya menggema keras di dinding sempit.
“Sandrina!” teriak Alecio. Suara itu memantul berkali-kali. “…drina… drina…”
Alecio tidak peduli pada kemungkinan tersesat. Tidak peduli pada jebakan tua atau runtuhan. Dalam pikirannya hanya satu hal. Kalau sesuatu terjadi pada Sandrina, dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.
bukan kesempitan yah di ajak nikah ntar pas sandrina mau banyak lagi alasan ini itu