Dulu aku adalah sampah di Sekte Awan Azure, sampai sistem 'Night Crawler' merobek kemanusiaanku dan menggantinya dengan insting predator. Sekarang, aku bisa bertransformasi menjadi monster dan melahap kultivasi siapa pun yang berani menghalangi jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Aku bersimpuh di atas tanah yang masih bergetar. Tanganku mencengkeram rumput hingga akar-akarnya tercabut, namun sensasi dingin di ujung jariku tidak kunjung hilang. Tempat di mana He Ran berdiri tadi kini hanya menyisakan udara kosong yang hampa. Lubang hitam itu tertutup begitu cepat, seolah-olah dunia baru saja menelan satu-satunya alasan yang membuatku tetap waras.
"Kembalikan dia!" teriakku sembari menatap langit yang masih menyisakan sisa-sisa cahaya merah.
Suara geraman rendah menjawab panggilanku. Monster sistem itu, makhluk yang lahir dari sisa-sisa Night Crawler, berdiri tiga langkah di depanku. Tubuhnya yang besar bergetar hebat. Cairan hitam kental menetes dari sela-sela kulit bajanya, membakar rumput setiap kali menyentuh tanah. Mata merahnya yang tidak memiliki pupil itu kini terkunci padaku.
[Kesalahan kritis. Otoritas pengguna nol persen. Memulai pembersihan sisa organik.]
Suara itu bergema di dalam kepalaku, namun terasa jauh lebih berat dan berwibawa daripada biasanya. Itu bukan lagi sekadar instruksi sistem. Itu adalah vonis mati.
"Han Wol, menjauhlah dari benda itu!" seru Lin sembari melesat ke sampingku.
Wanita berambut putih itu tampak sangat rapuh. Jubah birunya compang-camping, dan pendar energi di tangannya mulai memudar. Meskipun begitu, tatapannya tetap tajam mengarah pada monster di depan kami.
"Apa yang terjadi pada He Ran? Di mana kau mengirimnya?" tanyaku sembari berdiri dengan kaki yang masih gemetar.
Lin menatapku dengan sorot mata yang penuh kesedihan. "Lubang itu adalah gerbang menuju Patahan Asura. Itu adalah mekanisme pertahanan terakhir ketika energi Vanguard meledak tanpa wadah yang stabil."
"Maksudmu dia terjebak di sana?" tanyaku lagi dengan nada suara yang meninggi.
"Dia terseret ke tempat di mana waktu tidak bergerak, Han Wol," jawab Lin sembari mengatur napasnya yang tersengal.
Monster sistem itu tiba-tiba bergerak. Kecepatannya jauh melampaui apa yang pernah kutunjukkan saat masih terhubung dengannya. Dalam sekejap, sebuah hantaman tangan raksasa mendarat tepat di posisi kami berdiri. Aku berhasil berguling ke samping, namun gelombang kejutnya membuat tubuhku terlempar hingga menghantam batang pohon besar.
Punggungku terasa remuk. Aku bisa merasakan tulang-tulangku berderak, mencoba menyembuhkan diri dengan sisa energi yang ada. Namun, tanpa dukungan sistem, proses regenerasiku terasa sangat lambat dan menyakitkan.
"Kau menciptakan benda ini untuk membantuku, tapi sekarang dia mencoba membunuhku?" tanyaku pada Lin yang sedang menahan serangan monster itu dengan dinding air.
"Aku tidak menciptakan sistem itu, Han Wol!" balas Lin sembari berteriak. "Keluarga Han menemukannya di dalam makam! Kami hanya mencoba menjinakkannya, tapi sepertinya kau baru saja melepaskan segel sejatinya!"
Monster sistem itu kembali menggeram. Bentuk tubuhnya mulai berubah secara aneh. Sisik hitamnya perlahan-lahan berubah warna menjadi emas, persis seperti transformasi Vanguard milikku. Bahkan sayap hitam yang menyerupai sayap kelelawar mulai mencuat dari punggungnya.
"Dia meniruku," gumamku sembari menatap cermin kegelapan di depanku.
[Analisis target selesai. Han Wol: Subjek gagal. Memulai ekstraksi Inti Asura.]
Makhluk itu melesat lagi. Kali ini sasarannya adalah jantungku. Aku mencoba memicu energi kegelapan di tanganku, namun aliran tenagaku terasa buntu. Tanpa modul sistem, aku seperti seorang pendekar yang kehilangan pedangnya di tengah medan perang.
Tepat sebelum cakar monster itu merobek dadaku, Lin muncul di depan dengan perlindungan penuh. Ledakan energi yang dihasilkan mementalkan mereka berdua. Lin jatuh tersungkur dengan darah yang mengalir dari sudut bibirnya.
"Gunakan darahmu, Han Wol!" teriak Lin sembari menunjuk ke arah lukaku.
"Apa maksudmu?" tanyaku bingung.
"Kau adalah Vanguard yang murni! Darahmu adalah perintah yang tidak bisa dia abaikan!" jelas Lin sembari terengah-engah.
Aku menatap telapak tanganku yang terluka. Darah berwarna merah gelap kehitaman merembes keluar. Aku tidak punya waktu untuk ragu. Saat monster itu bersiap untuk serangan berikutnya, aku mengoleskan darahku ke udara, mencoba membentuk segel yang pernah kulihat di dalam ingatan makam.
Seketika, monster itu berhenti bergerak. Tubuhnya yang besar mendadak kaku, seolah-olah ada ribuan rantai tak terlihat yang mengikatnya. Suara dengungan di kepalaku berubah menjadi jeritan statis yang memekakkan telinga.
[Peringatan. Otoritas darah terdeteksi. Konflik logika perintah.]
"Tinggalkan tubuh itu dan kembali ke dalam diriku!" perintahku dengan suara yang menggema rendah.
Monster sistem itu meronta. Wajahnya yang tidak berbentuk mulai membentuk raut kesakitan. Perlahan-lahan, tubuh bajanya mulai meluruh, berubah kembali menjadi uap hitam pekat yang melayang di udara.
Namun, alih-alih masuk kembali ke dalam tubuhku, uap itu justru melesat ke arah jurang di mana Jang Mi dan Song Min terjatuh tadi.
"Tunggu! Jangan ke sana!" seruku sembari mencoba mengejar, namun tubuhku sudah mencapai batasnya.
Aku jatuh terduduk di pinggir sungai. Lin merangkak mendekatiku, wajahnya tampak jauh lebih tua dari beberapa menit yang lalu. Ia memegang bahuku dengan tangannya yang dingin.
"Semuanya sudah terlambat, Han Wol," bisik Lin dengan nada suara yang penuh keputusasaan.
"Apa lagi sekarang?" tanyaku sembari menatap ke arah jurang yang kini mulai mengeluarkan cahaya ungu pekat.
"Makhluk itu tidak kembali padamu karena dia sudah menemukan inang baru yang lebih penuh dengan kebencian," jawab Lin sembari menunjuk ke arah sosok yang mulai merangkak keluar dari jurang.
Sosok itu berdiri tegak di bawah sinar matahari pagi. Itu adalah Jang Mi, namun separuh wajahnya kini tertutup oleh sisik hitam yang berdenyut. Di tangannya, ia memegang sabit besar milik Song Min yang kini dialiri energi merah menyala.
Mata Jang Mi yang kini berwarna merah darah menatapku dengan tatapan yang sangat asing. Ia menyeringai lebar, memperlihatkan deretan taring yang baru saja tumbuh.
"Terima kasih atas kekuatannya, Han Wol," ucap Jang Mi dengan suara yang berlapis, perpaduan antara suaranya yang melengking dan suara sistem yang berat.
Aku terpaku melihatnya. Musuh terbesarku baru saja mendapatkan senjata terkuatku. Dan di kejauhan, lubang hitam tempat He Ran menghilang tiba-tiba terbuka kembali hanya untuk sedetik, mengeluarkan sebuah benda kecil yang jatuh tepat di depan kakiku.
Itu adalah ikat rambut milik He Ran, namun warnanya kini sudah berubah menjadi putih perak sempurna.
"He Ran masih hidup," gumamku sembari memungut ikat rambut itu.
"Dia hidup, tapi dia bukan lagi He Ran yang kau kenal," timpal Lin sembari menatap ke arah langit dengan wajah ketakutan.
Tiba-tiba, bumi di bawah kaki kami terbelah sekali lagi, dan ribuan tangan hitam mulai merangkak keluar dari dalam tanah, menarik apa pun yang ada di permukaan masuk ke dalam kegelapan.