NovelToon NovelToon
Penjelajah Ghaib [Perkumpulan Pawang Ghaib] ~ [SEASON 2]

Penjelajah Ghaib [Perkumpulan Pawang Ghaib] ~ [SEASON 2]

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Rumahhantu / Matabatin / Misteri / Tumbal / Hantu
Popularitas:22.4k
Nilai: 5
Nama Author: Stanalise

Setelah dokumentasi ekspedisi mereka melesat ke permukaan dan menjadi perbincangan dunia, nama "Gautama Family" bukan lagi sekadar nama keluarga biasa.

Mereka kini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang sukmanya tersesat di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.

Kelahiran Arka Kumitir Gautama, bayi yang lahir tepat di ambang batas kematian semalam, membawa aura baru sekaligus beban yang lebih berat bagi keluarga ini.

Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah panggilan pahit datang dari benua lain. Ada raga-raga yang terbaring kaku; tubuh mereka masih di sini, namun sukma mereka telah didekap habis oleh kegelapan alam sebelah.

.Kalian akan kembali mendengar suara teriakan, tangisan, dan jeritan dari sudut-sudut bumi yang paling sunyi. Ekspedisi ini akan terus berjalan hingga waktu memaksa mereka untuk berhenti.


[Saya sarankan baca Season 1, supaya lebih mengenal kemampuan dan karakter keluarga Gautama]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 012 : Gula-Gula Tiga Bangsa

Udara sore di taman Rumah Sakit Adio Medical Center terasa sejuk, membawa aroma rumput basah dan bunga sedap malam yang mulai mekar.

Taman ini adalah salah satu kebanggaan Adio; tempat yang ia rancang khusus untuk menenangkan jiwa pasiennya dengan aliran air dan vegetasi yang asri.

 Namun bagi Rachel Gautama, taman ini lebih dari sekadar tempat relaksasi. Baginya, taman ini adalah perpotongan dimensi di mana yang hidup dan yang mati seringkali berpapasan tanpa sengaja.

Rachel duduk tenang di sebuah bangku panjang kayu yang terletak di bawah pohon kenari tua. Kakinya diselonjorkan perlahan—masih terasa kaku dan nyeri akibat sisa-sisa pertarungan melawan Legion malam itu.

 Di depannya, sebuah air mancur kecil berbentuk malaikat terus mengucurkan air yang suaranya menenangkan saraf-saraf Rachel yang tegang.

Namun, ketenangan itu terusik. Rachel merasakannya—sebuah gesekan energi yang tidak sinkron. Dari balik rimbunnya pohon kenari tua di sudut taman, ia merasakan hawa keberadaan yang sangat ia kenal.

Barend dan Albert berdiri di sana. Dalam dimensi ghaib, mereka mengenakan seragam tentara Belanda yang tampak usang namun tetap terawat.

Mereka tampak ragu untuk melangkah maju, mata biru mereka menatap tajam ke arah atap rumah sakit, tepat di atas posisi Rachel duduk. Di sana, Anako duduk berayun-ayun dengan kimono merahnya, tampak acuh tak acuh.

"Dia di sana lagi, Albert. Duduk seperti burung gagak yang sedang mengintai mangsanya," bisik Barend dengan nada sinis yang kental.

Albert mendengus, merapikan letak topinya yang sedikit miring.

"Nihon itu... keberadaannya benar-benar merusak estetika taman ini. Bagaimana bisa Rachel membiarkan anak kecil itu menjaganya seolah kita tidak cukup kuat untuk melindunginya?"

"Ini penghinaan, Albert! Penghinaan bagi sejarah kita!" Barend mengepalkan tangan ghaibnya.

"Aku membenci dia yang sangat menjengkelkan! Maksudku, bukan cuma anak Jepang itu, tapi Rachel juga! Rachel benar-benar menjengkelkan! Kenapa dia harus keras kepala dan mencampuradukkan kita dalam satu rumah dengan orang-orang yang dulu merampas wilayah kita? Ini pengkhianatan!"

"Aku setuju. Rachel terkadang bertindak seolah-olah dia adalah hakim agung bagi dunia roh," timpal Albert sambil bersedekap.

 "Kita ini punya harga diri, Barend. Kita bukan pion yang bisa diletakkan berdampingan dengan musuh lama begitu saja!"

Rachel, yang sedari tadi sebenarnya sedang memejamkan mata menikmati semilir angin, akhirnya mencapai batas kesabarannya. Ia mendengar setiap gerutu, setiap cercaan, dan setiap keluhan mereka melalui koneksi batin yang tersambung kuat.

Tanpa membuka mata, Rachel mulai bersuara. Suaranya tidak keras, namun terdengar sangat jernih dan berwibawa di telinga kedua setan Belanda tersebut.

"Kalau kalian masih saja jual mahal dan berisik soal urusan bangsa yang sudah punah itu, terserah! Itu tidak akan mengubah keputusanku sedikit pun!" suara Rachel memotong perdebatan mereka seperti pisau panas membelah mentega.

Barend dan Albert tersentak. Mereka saling pandang dengan wajah pucat—meskipun mereka sudah pucat. Mereka kaget karena "pembicaraan rahasia" mereka disadap mentah-mentah.

Rachel perlahan membuka matanya, lalu meraba kantong kardigan rumah sakitnya. Ia mengeluarkan sekantong permen karamel aroma kopi.

 "Dengar ya, aku punya sekantong permen yang enak sekali. Aku akan memberikannya pada Anako sekarang sebagai hadiah karena dia tidak banyak mengeluh sepertinya kalian. Jika kalian mau... bergabunglah ke sini dan tutup mulut kalian yang cerewet itu!"

Anako tiba-tiba melompat turun dari atap, mendarat tanpa suara di samping bangku Rachel. Ia menatap kantong permen itu dengan mata bulatnya yang polos, lalu melirik ke arah Barend dan Albert dengan tatapan datar.

Barend mendengus, melangkah keluar dari bayangan pohon dengan wajah angkuh yang dipaksakan.

"Kami tidak butuh permenmu, Rachel. Kami punya standar yang tinggi. Kami lebih suka cerutu dan anggur, bukan gula-gula anak kecil."

"Oh ya? Standar tinggi, ya?" Rachel menaikkan sebelah alisnya. Ia membuka satu bungkus permen, lalu meletakkannya di atas kursi taman di sampingnya.

 "Karamel ini dibuat dengan mentega terbaik. Wanginya sampai ke dimensi sebelah, lho. Sayang sekali kalau cuma Anako yang menikmati intisari manisnya."

Albert tampak menelan ludah ghaibnya. Keinginan untuk merasakan kembali sensasi rasa adalah kelemahan setiap roh.

 "Barend, kurasa... sebagai kawan lama Rachel, kita tidak boleh membiarkan anak Nihon itu mengambil semua jatahnya. Itu tidak adil secara diplomasi antar-bangsa."

"Diplomasi atau kamu memang sudah lapar sejak seratus tahun lalu, Albert?" sindir Rachel sambil terkekeh.

"Sini, duduklah. Aku tidak akan menggigit kalian."

Akhirnya, dengan langkah kaku dan wajah yang masih ditekuk, Barend dan Albert mendekat. Mereka duduk di ujung bangku terjauh dari Anako.

Rachel membuka dua bungkus permen lagi dan menaruhnya di permukaan kayu bangku agar intisarinya bisa mereka nikmati.

"Nah, makanlah. Jangan cemberut terus, wajah kalian jadi tambah jelek kalau begitu."

Barend mengambil intisari permen itu dalam diam. Wajahnya yang tegang perlahan melunak.

"Begini lebih baik, kan?" ucap Rachel lembut.

 "Dengarkan aku, kalian berdua. Jika kalian memang menghargai aku di sini sebagai orang yang menampung kalian, maka kalian harus belajar menerima keputusanku tanpa drama."

Barend ingin menyanggah, tapi Rachel mengangkat tangan, menghentikan niatnya.

"Kalian boleh membenci seseorang, beberapa orang, atau bahkan banyak orang. Tapi, bencilah hanya orang yang secara langsung mengecewakan atau menyakiti kalian di masa lalu," lanjut Rachel dengan nada yang lebih bijaksana.

"Orang baru, seperti Anako ini, tidak perlu kalian benci. Dia tidak terlibat dalam masalah kalian di masa lalu. Dia hanya seorang anak yang juga terjebak di antara dua dunia, sama seperti kalian."

Albert menunduk, menatap permennya yang kini sudah hambar.

"Tapi Rachel, luka sejarah itu... tidak mudah hilang begitu saja."

"Luka itu ada karena kalian terus-menerus menggaruknya," balas Rachel tenang.

"Anako tidak pernah menembak kalian, kan? Jadi, kenapa harus memusuhi dia? Menaruh benci pada orang yang tidak bersalah itu hanya akan membuat langkah kalian terasa berat. Jika kalian ingin 'pulang' suatu hari nanti, kalian harus melepas beban kebencian ini."

Barend terdiam lama. Ia melirik Anako yang sedang memainkan ujung kimononya. Anak itu memang tidak terlihat mengancam. Sebaliknya, ada kesedihan yang sama terpancar dari mata Anako.

"Mungkin... permen ini memang lumayan enak," gumam Barend akhirnya.

"Hanya lumayan?" Rachel tertawa.

 "Besok aku belikan cokelat Belgia kalau kalian bisa duduk berdampingan dengan Anako tanpa menggerutu selama satu jam."

"Cokelat Belgia?" tanya Albert dengan mata berbinar. "Yang ada isian kacangnya?"

"Apapun yang kalian mau," jawab Rachel. Ia menaruh sisa permen di bangku tersebut. "Nah, habiskan ini. Aku mau masuk—"

Satu jam sebelumnya, di lantai lima, Adio baru saja menyelesaikan visitasi pasien di bangsal bedah.

Langkah kakinya yang panjang membawanya menuju kamar VVIP tempat Rachel dirawat. Ia membawa satu cup kopi hangat dan sebuah laporan hasil laboratorium terbaru.

Namun, saat pintu kamar dibuka, Adio mematung. Kamar itu kosong.

Brankar Rachel rapi, namun bantalnya sedikit berantakan. Tiang infus yang seharusnya berdiri tegak di samping tempat tidur juga hilang. Adio segera meletakkan kopinya di atas meja dengan kasar.

"Rachel?" panggilnya, namun hanya kesunyian yang menjawab.

Adio segera keluar dan mencari perawat jaga. "Suster, pasien di kamar 501 ke mana?"

"Tadi saya lihat Mbak Rachel keluar berjalan pelan membawa tiang infusnya sendiri, Dok. Katanya ingin mencari udara segar," jawab perawat itu dengan wajah takut.

Wajah Adio seketika berubah merah padam. Antara khawatir dan kesal yang memuncak.

 "Dia baru saja mati suri semalam dan sekarang dia keluyuran membawa infus?!"

Adio segera menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah cepat. Ia memeriksa area kantin, lobi, hingga akhirnya ia menuju arah taman.

 Saat itulah, di lorong panjang menuju akses taman, ia melihat sosok gadis kurus dengan kardigan rumah sakit, berjalan perlahan sambil menyeret tiang infusnya yang berbunyi krek... krek... krek... di atas lantai porselen.

Rachel, yang sedang asyik berjalan perlahan, tiba-tiba merasakan kehadiran energi yang sangat kuat dan familiar dari arah depannya.

 Ia mendongak dan matanya langsung bertemu dengan mata tajam Adio yang tampak seperti ingin meledak.

Dalam pikirannya, Rachel membatin kesal,

"Mati Aku! Bapak dokter satu ini, kenapa rajin sekali sih mencariku, huh! Benar-benar tidak bisa membiarkanku bernapas sebentar saja!"

Adio menghampirinya dengan langkah lebar. Wajahnya menunjukkan perpaduan antara kemarahan yang tertahan dan kekhawatiran yang sangat dalam. Begitu sampai di depan Rachel, ia langsung memegang tiang infus itu agar Rachel berhenti bergerak.

"Rachel Gautama," suara Adio rendah namun penuh penekanan.

 "Bisa tidak, satu hari saja kamu tidak bertindak seolah-olah kamu punya sembilan nyawa?"

Rachel mengerucutkan bibirnya.

 "Aku cuma bosan, Dio. Kamar itu terlalu luas untukku sendirian."

"Bosan bukan alasan untuk membahayakan luka syarafmu!" Adio memegang bahu Rachel, memastikan gadis itu tidak oleng.

"Kamu tahu betapa paniknya aku saat melihat kamarmu kosong? Aku pikir Legion datang lagi dan menculikmu!"

"Legion sudah kumasukkan ke neraka, Dokter cerewet," balas Rachel santai, meski dalam hati ia merasa bersalah melihat keringat dingin di dahi Adio.

"Gadis ini benar-benar tidak bisa diam," gumam Adio pelan sambil menggelengkan kepala.

 Ia tidak melepaskan tangannya dari bahu Rachel, justru ia memutar posisi tiang infus itu.

"Ayo. Karena kamu sudah di sini, aku akan menemanimu ke taman. Tapi setelah sepuluh menit, kamu harus kembali ke tempat tidur."

Kembali ke masa kini, di bangku taman...

Adio membantu Rachel berdiri dengan sangat hati-hati setelah sesi pemberian petuah kepada para hantu selesai. Ia merangkul pinggang Rachel untuk menyanggah tubuhnya yang masih ringkih.

"Ayo, pahlawan. Waktunya minum obat dan tidur," ucap Adio lembut namun tetap tegas.

Rachel menoleh ke arah bangku taman sebelum mereka berjalan menjauh. Ia melihat Barend sedang mencoba berinteraksi dengan Anako, menawarkan intisari permen karamel yang terakhir. Rachel tersenyum lebar. Misi perdamaian kecilnya berhasil.

"Kenapa senyum-senyum?" tanya Adio curiga, sambil menatap bangku kosong yang tadinya ditempati permen.

"Nggak ada. Aku cuma senang permennya laku," jawab Rachel ringan.

"Dasar aneh," gumam Adio, meski tangannya semakin erat memeluk pinggang Rachel untuk menjaganya agar tidak terjatuh.

Ia menuntun Rachel menyusuri lorong menuju kamarnya, memastikan bahwa kali ini, pasien kesayangannya itu tidak akan kabur lagi.

Di kejauhan, Melissa dan Peterson yang menyaksikan dari balkon hanya bisa tertawa kecil.

Bagaimana tidak? Sepasang hati yang saling berseru. Tetapi terlalu gengsi untuk mengungkapkan. Namun selalu manis tiap tindakannya. Itulah, Rachel dan Adio.

1
≛⃝⃕|ℙ$°Siti Hindun§𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Dio dapat lampu hijau tuh, gass lah😉
Lexy¹⁰⁵
meskipun di roma, hal serem tetap ada
Lexy¹⁰⁵
merinding disko bacanya
Dony ¹⁰4
lanjut thor, semangat buatmu
Dony ¹⁰4
sukak banget sama jalan ceritanya
Rafi¹⁰³
crazy up thor
Rafi¹⁰³
bagus banget
Memet¹0²
tawaran yg keren
Memet¹0²
"Dari season 1-Season 2. Gautama Family tetap gak hilang sisi horornya. Diksinya beneran diolah dengan baik. Minim typo, yang baca jadi enak."
Rizky¹⁰¹
crazy up thor
Rizky¹⁰¹
"Dari season 1-Season 2. Gautama Family tetap gak hilang sisi horornya. Diksinya beneran diolah dengan baik. Minim typo, yang baca jadi enak."
≛⃝⃕|ℙ$°Siti Hindun§𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Emang sih sambal terasi paling ngangenin diantara sambal² yg lain nya🤣🤣
≛⃝⃕|ℙ$°Siti Hindun§𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Nggak lah, makasih. Aku baca ini aja udah mual/Proud/
Arini
ini horornya serem tapi penasaran
Arini
lanjut ya thor
Alya
yg suka horor, ini rekomend banget buat kalian
Alya
tulisannya bagus. setiap kata seperti bermakna
Rina
untung ada aido
Rina
novelnya bagus no typo
ranty
horornya seperti fakta
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!