Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.
Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.
Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.
Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.
Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Yang Tenang Lebih Melukai
Ayza kembali ke kamar rawat membawa tas di tangannya. Langkahnya terhenti ketika Reza menoleh dan berkata pelan,
“Ayza… bisa tolong?”
“Apa?” tanyanya singkat.
“Nyeka badanku.”
Alis Ayza langsung berkerut. Ia melirik jam di dinding. “Biasanya perawat yang nganter air buat itu. Jam segini mereka pasti sudah selesai keliling.”
Reza menghela napas pendek. “Aku nggak nyaman disentuh orang asing.”
Ayza menatapnya beberapa detik. Lalu di balik cadarnya, bibirnya melengkung tipis, bukan senyum.
“Oh,” katanya pelan. “Jadi aku bukan orang asing?”
Reza mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu. “Apa yang kamu katakan?” tanyanya. “Kamu istriku,” ucap Reza, datar tapi pasti.
Ayza mengangguk pelan. “Aku kira kamu sudah lupa,” katanya tanpa emosi berlebih. “Soalnya selama ini aku nggak pernah merasa jadi istri. Aku lebih mirip… pembantu rumah tangga.”
Reza berdecak pelan, menoleh ke samping. “Ini sebabnya aku males ketemu dan bicara sama kamu,” gumamnya hampir tak terdengar.
“Apa?” Ayza sedikit mendekat. “Kamu bilang sesuatu?”
Reza kembali menatapnya. “Nggak ada.” Ia menghela napas. “Tolong saja. Aku risih. Badanku lengket.”
Entah lengket karena keringat biasa, atau keringat yang lain. Hanya Reza yang tahu.
Ayza tak menjawab. Ia hanya melangkah ke kamar mandi kecil, menyiapkan air hangat dan waslap. Ketika kembali, ia berdiri di sisi ranjang tanpa menatap Reza.
Tangannya terulur membuka kancing baju Reza satu per satu. Gerakannya rapi, cepat, profesional. Tapi saat kain itu terbuka dan bahu lebar serta dada bidang tersingkap, Ayza spontan memalingkan wajah.
Hanya sepersekian detik. Tapi Reza menangkapnya.
Sudut bibir Reza terangkat samar. “Kenapa?” tanyanya ringan. “Kagum lihat tubuhku?”
Ayza berhenti. Menarik napas pelan. Lalu menoleh, menatapnya lurus. Bukan malu, bukan tergoda, tapi terkendali.
“Kamu pede sekali,” katanya. “Dan aku bukan batu.”
Reza mengernyit tipis.
“Aku perempuan,” lanjut Ayza tenang. “Punya mata. Punya rasa.”
Tangannya kembali bergerak menyeka, fokus pada tugasnya. “Tapi aku juga tahu batas. Dan aku tahu… kamu nggak pernah lihat aku sebagai istri.”
Kalimat itu terlontar tanpa nada menuduh. Dan justru itu yang membuat dada Reza terasa ditekan.
“Aku nggak mau jatuh cinta,” lanjut Ayza pelan, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Ke orang yang nggak pernah memilih aku.”
Ruangan itu mendadak sunyi. Bahkan Reza tak mampu lagi melempar candaan.
Ayza menarik tangannya lebih dulu. Gerakannya rapi, tenang, seperti orang yang menyelesaikan tugas, bukan menyentuh seseorang.
Rahang Reza mengeras.
"Sial," umpatnya dalam hati.
Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Bukan karena sakit, tapi karena tak ada satu pun tatapan Ayza yang tertinggal padanya. Tak ada jeda. Tak ada reaksi.
Ia menatap ke arah lain, memasang wajah datar, meski ada bagian dalam dirinya yang terasa… dipukul.
***
Matahari hampir tenggelam di ufuk barat.
Pintu kamar rawat diketuk dua kali, lalu terbuka.
Zahra masuk dengan langkah penuh percaya diri. Rambutnya masih terurai rapi, wajahnya tetap segar. Aroma parfum mahal menyusup, mengalahkan bau antiseptik.
“Reza…” suaranya lembut, senyumnya memesona, terlatih. “Sudah mendingan?”
Ia langsung mendekat, tangannya terulur hendak menyentuh dada Reza, lalu berhenti saat pintu kamar mandi terbuka. Ayza keluar dengan waslap di tangan.
“Oh,” Zahra tersenyum tipis. “Kamu sudah di sini.”
Ayza mengangguk pelan. “Dari semalam,” sahutnya datar.
Reza menelan ludah. Entah kenapa, ruangan terasa menyempit.
Zahra menyentuh tangan kanan Reza, yang tak terinfus. Genggamannya ringan, nyaris manja.
“Aku gak tenang karena ingat kondisi kamu,” katanya. “Sayangnya skedul aku padat.”
Reza mengangguk. “Nggak apa-apa.”
Jawaban itu otomatis. Datar.
Zahra melirik waslap dan baskom di meja samping. “Eh, kamu mau diseka ya?”
Nada suaranya naik sedikit. Bukan marah. Lebih ke terkejut.
“Iya,” jawab Reza singkat.
Zahra tersenyum kecil. “Kalau gitu, aku tunggu di luar aja ya. Aku nggak enak.”
Ia berkata begitu, tapi kakinya tak kunjung bergerak.
Ayza menatap Zahra sekilas, lalu menatap Reza. "Sepertinya kalian cukup akrab. Kamu gak canggung 'kan, kalau aku seka kamu di depan Nona Zahra?" tanyanya datar.
Reza diam tak tahu harus berkata apa. Zahra tersenyum. Senyum yang tak sampai ke mata.
Ayza kembali fokus pada tangannya sendiri. Ia membuka baju Reza, lalu menyeka dengan gerakan tenang, profesional, tanpa terburu-buru. Tak ada kecanggungan. Tak ada gengsi.
Zahra memerhatikan dalam diam. Matanya turun ke gips tebal di lengan Reza, ke infus, ke wajah pria itu yang tampak letih.
“Kamu kelihatan sakit banget,” kata Zahra akhirnya. “Aku nggak tega lihat kamu kayak gini.”
Reza tersenyum tipis. “Iya.”
Ayza selesai. Ia menutup kembali kancing baju Reza, rapi. Lalu mengangkat baskom.
“Aku tinggal sebentar,” katanya singkat. “Mau buang airnya.”
Ayza melangkah ke kamar mandi tanpa menunggu jawaban. Pintu menutup pelan.
Zahra langsung duduk di.dekat Reza. Kali ini benar-benar dekat. “Rez,” katanya lirih. “kamu kenapa? Dari tadi kayak… jauh.”
Reza menatap langit-langit. “Capek.”
“Karena kecelakaan?”
Reza terdiam. Lama. “Bukan cuma itu.”
Zahra menghela napas, mengusap lengan Reza yang tak tergips. “Kamu tahu aku selalu ada buat kamu.”
Reza menoleh. Tatapan mereka bertemu.
“Iya,” jawab Reza. Tapi kali ini tak ada kehangatan menyusul.
Zahra mengerutkan dahi. “Kenapa nada kamu kayak gitu?”
Reza ingin menjawab. Tapi yang muncul justru bayangan lain. Tangan Ayza yang tenang, kata-katanya yang jujur, dan cara ia menahan diri.
“Ayza yang nyeka aku,” ucap Reza tiba-tiba. "Yang bantu aku ke toilet."
Zahra membeku sepersekian detik. “Oh.”
“Kamu keberatan?” tanya Reza, tanpa emosi.
Zahra tersenyum cepat. Terlalu cepat. “Enggak. Dia istrimu. Wajar.”
Wajar.
Entah mengapa kata itu membuat Reza tersenyum pahit.
Ayza kembali masuk. Ia berhenti ketika melihat jarak Zahra dan Reza yang kini lebih dekat.
Tak ada perubahan di wajahnya yang tertutup cadar.
“Aku ke mushola sebentar,” ucap Ayza. “Nanti aku balik.”
Ia mengambil tas kecil berisi mukenah. Tak tergesa, tak dramatis.
Sebelum keluar, Ayza menoleh pada Reza. “Kalau kamu butuh apa-apa, bilang.”
Nada suaranya datar. Tidak cemburu. Tidak terluka. Dan justru itu yang membuat dada Reza terasa ditusuk.
Pintu tertutup.
Zahra menghela napas kecil. “Dia tenang banget ya,” katanya, setengah bercanda. “Kayak nggak peduli.”
Reza tak langsung menjawab.
“Kenapa rasanya,” gumamnya akhirnya, lebih pada dirinya sendiri, “yang nggak menuntut apa-apa… justru yang paling berat ditinggalkan.”
Zahra menoleh cepat. “Kamu bilang apa?”
Reza menggeleng. “Nggak ada.”
Tapi kali ini, kehadiran Zahra tak lagi mengisi ruang kosong itu.
Dan sekarang Reza sadar, kontras itu bukan soal siapa yang lebih mencintai, tapi siapa yang tetap tinggal, bahkan saat tak dipilih.
Mata Zahra menyipit menatapnya. "Rez, aku merasa kamu beda sejak kecelakaan."
"Beda gimana?" tanya Reza datar, tanpa menatap Zahra.
"Kamu," kata Zahra, tangannya perlahan terkepal. "kamu kayak membuat kita berjarak."
Reza menoleh, kali ini menatapnya. "Ra, kalau tak ada Ayza," tanyanya pelan, tapi jelas. "Apa kamu mau merawat aku? Membantuku ke toilet?"
...🔸🔸🔸...
..."Kadang yang paling menyakitkan bukan ditinggalkan,...
...tapi tetap tinggal tanpa pernah benar-benar dipilih."...
..."Yang merawat belum tentu dicintai....
...Tapi yang dicintai… belum tentu mau tinggal."...
..."Cinta bisa datang kapan saja....
...Tapi tanggung jawab hanya datang pada orang yang tak pernah pergi."...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya Kak 🙏🙏🙏
Ayza akan bersanding dengan Kaisyaf