Arc 1 : Bab 1 — 41 (Dunia Melalui Mata Bayi Ajaib)
Arc 2 : Bab 42 — ... (On-going)
Aku terlahir kembali di dunia kultivasi dengan ingatan utuh dan selera yang sama.
Di sini, kekuatan diukur lewat tingkat kultivasi.
Sedangkan aku? Aku memulainya dari no namun dengan mata yang bisa membaca Qi, meridian, dan potensi wanita sebelum mereka menyadarinya sendiri.
Aku akan membangun kekuatanku, tingkat demi tingkat bersama para wanita yang tak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 : Retakan Kecil di Dalam Dada.
[PoV Yu Yan]
Aku tidak bisa tidur walaupun malam sudah gelap.
Aku berbaring di kasur tipis di kamar baruku. Kasurnya keras dan berbunyi kalau aku bergerak. Jadi aku berusaha diam. Aku menatap atap kayu di atas kepalaku. Warnanya gelap, dan cahaya bulan dari jendela kecil membuat bayangan seperti bentuk-bentuk aneh. Kadang terlihat seperti tangan, kadang seperti wajah, jadi aku cepat-cepat berkedip supaya tidak takut.
Tangan kananku menempel di dadaku.
Di situ tempat yang sering sakit.
Hari ini sakitnya tidak terlalu kuat. Masih ada rasa tidak enak, tapi tidak seperti biasanya. Biasanya kalau aku tarik napas, dadaku terasa perih dan aku ingin menangis. Sekarang tidak begitu. Aku masih bisa bernapas pelan tanpa merasa mau pingsan.
Itu membuatku sedikit senang.
Tapi aku tetap tidak bisa tidur.
Dadaku terasa hangat. Bukan panas, tapi seperti kalau aku dipeluk selimut tebal. Bersamaan dengan itu, aku merasa aneh. Seperti ada yang tahu aku sedang bangun. Rasanya seperti waktu seseorang berdiri di belakangmu tapi kamu belum menoleh.
Aku merasa tidak sendirian.
Aku duduk dan turun dari kasur pelan-pelan. Kakiku menyentuh lantai kayu yang dingin dan aku meringis sebentar. Aku berjalan ke jendela kecil dan berdiri di ujung jari kakiku supaya bisa mengintip ke luar.
Di luar ada halaman belakang. Rumputnya kelihatan pucat karena cahaya bulan. Pohon-pohon diam, tidak bergerak. Jauh di sana ada bukit yang gelap dan besar. Bentuknya seperti binatang besar yang sedang tidur.
Aku menunggu.
Tidak ada suara. Tidak ada apa-apa.
Tapi perasaan aneh itu masih ada.
Aku jadi ingat Ayah.
Ayah pernah berkata padaku waktu aku duduk di samping tempat tidurnya.
“Yan’er,” kata Ayah sambil tersenyum lemah. “Dunia ini kadang suka melihat-lihat.”
Aku tidak benar-benar mengerti waktu itu.
Aku hanya tahu aku sering sakit. Aku tidak bisa lari lama seperti anak-anak lain. Dadaku sering terasa sesak. Kadang aku harus duduk lama sampai napasku kembali normal.
Aku tahu ada sesuatu yang salah di dalam dadaku. Aku tidak tahu bentuknya apa, tapi aku tahu rasanya berat.
Tapi sekarang aku tinggal di sini.
Dengan Ibu Shen.
Dan ada Shen Yu.
Aku memikirkan Shen Yu.
Bayi kecil yang jarang menangis. Matanya tenang. Kalau dia melihatku, aku merasa lebih nyaman. Dadaku tidak terlalu sakit. Seperti waktu aku memegang bantal kesayanganku saat demam.
Aku tersenyum kecil.
Aku tidak pernah punya adik. Aku juga biasanya tidak suka bayi. Bayi berisik dan suka menangis.
Tapi Shen Yu berbeda.
Dia menatapku lama, seolah dia mengenalku. Seolah dia tahu aku sering kesakitan.
Aku kembali ke kasur dan duduk bersila seperti yang diajarkan Ibu Shen. Kakiku terasa pegal dan aku hampir meluruskan kaki, tapi aku ingat kata Ibu Shen, jadi aku bertahan.
Aku memejamkan mata.
Aku menarik napas pelan.
Lalu menghembuskannya.
Aku membayangkan udara masuk ke tubuhku. Rasanya seperti angin hangat yang pelan. Ibu Shen bilang itu baik untuk tubuhku.
Di dadaku ada sesuatu yang berat. Aku membayangkannya seperti batu hitam besar. Biasanya aku tidak suka memikirkannya karena rasanya sakit.
Tapi malam ini berbeda.
Aku merasa batu itu tidak sekeras biasanya.
Seperti ada garis kecil di atasnya. Seperti retakan di batu.
Dari sana keluar cahaya kecil berwarna perak. Tidak terang, tapi cantik. Seperti cahaya bulan yang jatuh ke lantai.
Aku senang.
Aku tidak bergerak. Aku takut cahayanya pergi kalau aku bergerak. Aku duduk diam sambil terus bernapas pelan sampai tubuhku terasa capek sekali.
Mataku terasa berat.
Aku tidak tahu kapan aku tertidur.
Dalam mimpiku, aku berada di tempat yang sangat luas. Semuanya berwarna perak. Tanahnya bersinar, dan bulan di atas sangat besar.
Di depanku ada Shen Yu.
Dia tersenyum padaku. Dahinya bercahaya emas dan terasa hangat di mataku.
“Aku akan membuatmu tidak sakit,” katanya lembut.
Aku merasa dadaku hangat.
Aku tersenyum.
Dan aku tidur dengan perasaan yang baik.