Ryuga Soobin Dewangga adalah CEO dingin yang terjebak dalam trauma masa lalu dan konspirasi bisnis yang mengancam nyawanya. Hidupnya yang kaku berubah total saat ia bertemu Kiara Adiningrat, asisten pribadi tangguh yang lebih ahli memegang senjata dan memperbaiki jam antik dari pada menyeduh kopi.
Di tengah ancaman pembunuhan dan pengkhianatan orang terdekat, keduanya terpaksa menjalin kesepakatan tengah malam yang berbahaya. Antara tuntutan profesional, hobi yang saling bersinggungan, dan ego yang setinggi langit, mereka harus menghadapi musuh yang mengintai di balik bayang-bayang.
Mampukah cinta tumbuh di antara peluru dan rahasia, ataukah kesepakatan ini justru menjadi awal kehancuran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Fajar di Lauterbrunnen
Lantai kaca itu retak dengan suara memekakkan telinga. Ryuga bergelantungan di tepi besi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mencengkram pergelangan tangan Seline yang bergelantungan di bawahnya.
"Lepaskan aku, Ryuga! Atau kita jatuh bersama!" teriak Seline histeris. Matanya liar, melihat mesin resonansi di bawah yang memancarkan cahaya biru terang.
Kiara tidak tinggal diam. Ia tidak bisa membiarkan Ryuga memilih antara nyawa atau kematian. Ia melihat tali tambang pengaman yang tergantung di dekat konsol.
"Dino! Tangkap kabel ini!" teriak Kiara.
Dengan gerakan cepat yang ia pelajari dari hobi memanjatnya, Kiara mengikatkan ujung tali ke pinggangnya sendiri dan melemparkan ujung lainnya ke arah Ryuga. "Pak Bos! Tangkap!"
Dino, yang sedang gemetar, justru salah menangkap. Tali itu malah melilit lehernya sendiri. "Aduh! Kiara! Aku mau jadi penyelamat, bukan mau gantung diri!"
"Dino! Serius!" bentak Maya sambil merebut tali itu dan melemparkannya dengan akurasi sempurna ke tangan Ryuga yang bebas.
Ryuga menangkap tali itu. Ia menatap Seline untuk terakhir kalinya. "Aku tidak akan melepaskanmu ke kematian, Seline. Aku melepaskanmu ke pengadilan."
Dengan hentakan kuat, Ryuga menarik Seline ke atas tepat saat lantai kaca benar-benar runtuh. Mereka terlempar ke lantai beton yang aman. Pasukan polisi Swiss yang dipanggil Maya akhirnya masuk melalui pintu darurat.
✨✨✨
Beberapa saat kemudian, semua berakhir. Seline diborgol dan dibawa keluar. Laboratorium itu kembali tenang, menyisakan suara mesin yang berdetak lembut kini berfungsi sebagai pemurni udara yang menyembuhkan.
Ryuga berjalan tertatih menuju Kiara. Nafasnya masih memburu. Tanpa berkata-kata, ia menarik Kiara ke dalam pelukan yang sangat erat. Kiara bisa merasakan detak jantung Ryuga yang keras di dadanya.
"Kau berjanji akan menyelamatkanku," bisik Ryuga di leher Kiara.
"Saya asisten Anda, Pak. Menyelamatkan Anda adalah tugas lembur saya," sahut Kiara sambil tersenyum lemas.
Ryuga melepaskan pelukannya sedikit, lalu menangkup wajah Kiara yang merah karena dingin dan haru. Di tengah laboratorium es yang membeku, Ryuga memberikan ciuman hangat yang menandakan berakhirnya badai di Swiss.
Ciuman itu terasa seperti api yang mencairkan es di sekeliling mereka. Di tengah laboratorium dingin yang dipenuhi bunga edelweiss, waktu seolah berhenti berdetak. Ryuga melepaskan tautan bibirnya dengan perlahan, dahi mereka masih bersentuhan. Napas mereka menguap di udara dingin, menciptakan kabut tipis yang menyelimuti momen intim tersebut.
"Pak Bos..." bisik Kiara, suaranya parau. "Banyak orang yang menonton."
Ryuga melirik sekilas ke arah Satria yang sedang pura-pura sibuk memeriksa tabung oksigen, dan Maya yang sedang memberikan instruksi pada polisi Swiss. Sementara Dino? Dino sudah pasti sedang membidikkan kameranya dengan antusias.
"Biarkan saja," jawab Ryuga dengan suara rendah dan cool. "Mereka butuh bukti kalau CEO mereka bukan robot."
"Dapet! Angle-nya sempurna!" seru Dino dari kejauhan. "Judul fotonya: 'Pencairan Es Abadi oleh Asisten Bengkel'. Ini bakal mahal kalau dijual ke majalah bisnis!"
Ryuga langsung melepaskan Kiara dan menatap Dino dengan tatapan tajam yang bisa membekukan air terjun. "Dino, satu foto itu bocor, aku pastikan kau jadi fotografer hewan di Kutub Utara tanpa jaket."
Dino langsung memeluk kameranya. "Siap, Bos! Aman di enkripsi tingkat tinggi!"
🍃🍃
Kiara kembali ke konsol pusat. Ia melihat jarum pada jam tangan safir itu berhenti di angka dua belas. Getaran mesin resonansi yang tadinya liar kini menjadi tenang dan berirama.
"Ayah," Kiara memanggil Satria. "Mesin ini... dia tidak hanya menyembuhkan. Dia menyimpan data riset medis yang selama ini hilang. Semua ada di sini."
Satria mendekat, matanya berkaca-kaca menatap karya hidupnya dan sahabatnya, Ibu Ryuga. "Ini bukan lagi tentang Dewangga atau Konsorsium, Kiara. Ini tentang warisan untuk dunia. Kita akan menyerahkan ini ke yayasan medis internasional, bukan ke tangan korporat."
Ryuga mengangguk setuju. "Aku akan memfasilitasi semuanya secara legal. Dewangga tidak akan mengambil untung sepeser pun dari penemuan ini. Itu adalah cara terbaik untuk menghormati Ibu."
Suhu di dalam vila semakin drop karena sistem pendingin darurat aktif. Kiara menggigil hebat, bahunya bergetar. Tanpa banyak bicara, Ryuga melepas jaket bulu mahalnya yang tebal dan menyampirkan nya ke bahu Kiara.
Ia memutar tubuh Kiara agar menghadapnya, lalu merapatkan kancing jaket itu satu per satu, mulai dari bawah hingga ke leher. Gerakannya sangat telaten, seolah ia sedang menangani komponen jam paling berharga di dunia.
"Tanganmu dingin sekali," gumam Ryuga. Ia meraih kedua tangan Kiara dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya sendiri, menggenggamnya di dalam sana.
Kiara merasakan wajahnya memanas. "Terima kasih, Pak Bos. Tapi Anda sendiri nanti kedinginan."
"Aku punya cara lain untuk tetap hangat," sahut Ryuga sambil memberikan seringai tipis yang membuat jantung Kiara hampir copot.
Saat mereka berjalan keluar dari vila menuju mobil jip, Maya mendekat dengan wajah serius. "Ryuga, Seline sudah dalam perjalanan ke pusat penahanan di Bern. Tapi, ada satu pengawal pribadinya yang menghilang saat kericuhan tadi. Namanya The Ghost. Dia spesialis sabotase."
Ryuga menghentikan langkahnya. Ia menarik Kiara lebih dekat ke sisi tubuhnya. Matanya menyapu hutan pinus di sekeliling mereka yang tertutup salju putih. "Pantau semua jalur keluar lembah ini, Maya. Jangan biarkan ada tikus yang lolos."
Tepat saat itu, terdengar suara ledakan kecil dari arah jembatan kayu satu-satunya yang menghubungkan villa dengan jalan utama.
BOOM!
Jembatan itu runtuh, memutus akses mereka.
"Sepertinya 'The Ghost' ingin kita menginap semalam lagi di sini," gumam Ryuga sambil mengeratkan pegangannya pada tangan Kiara.
*✨Terjebak dalam Keheningan Putih✨*
Asap hitam membumbung dari arah jembatan yang runtuh, kontras dengan putihnya salju yang turun semakin lebat. Suara ledakan tadi masih terngiang di telinga mereka, menyisakan keheningan yang mencekam di lembah Lauterbrunnen.
"Jembatannya hancur total," lapor Maya setelah memeriksa melalui teropong taktisnya. "Satu-satunya jalan keluar darat terputus. Helikopter tidak bisa menjemput kita dalam kondisi badai salju seperti ini. Jarak pandang nol."
Ryuga menatap ke arah hutan yang gelap. "The Ghost tidak ingin membunuh kita sekarang. Dia ingin kita membeku di sini sebelum dia datang untuk mengambil jam itu."
Mereka terpaksa kembali masuk ke dalam vila tua. Suhu di dalam ruangan mulai turun drastis karena listrik utama mati akibat sabotase. Satu-satunya sumber panas yang tersisa adalah sebuah perapian batu besar di ruang tengah.
"Biarkan saya yang menyalakan nya," ucap Ryuga dengan nada percaya diri, seolah ia sedang menginstruksikan akuisisi perusahaan.
Ryuga berlutut di depan tumpukan kayu kayu tua. Ia mencoba memutar pemantik api limited edition-nya berkali-kali, namun angin dari cerobong asap terus mematikan apinya. Ia mulai terlihat frustasi, keningnya berkerut hebat.
"Pak Bos," Kiara mendekat sambil membawa segenggam serutan kayu kering dan minyak pelumas jam dari tasnya. "Anda sedang mencoba menyalakan api atau sedang mengajak kayu itu bernegosiasi?"
Dino, yang sedang sibuk membungkus tubuhnya dengan lima lapis selimut, terkekeh. "Bos, sepertinya kayu itu butuh kontrak kerja yang jelas sebelum mau terbakar."
Ryuga mendengus, memberikan ruang untuk Kiara. Dengan sekali sentuhan ahli dan teknik penyusunan kayu yang presisi, api langsung berkobar hangat. "Saya hanya... memberikan pemanasan awal tadi," gumam Ryuga, berusaha menjaga harga dirinya sebagai Cool boy.
Malam semakin larut. Badai di luar melolong seperti serigala lapar. Satria dan Maya berjaga secara bergantian di pintu masuk, sementara Dino sudah mendengkur di balik tumpukan karpet.
Kiara duduk di depan perapian, menggigil meski sudah memakai jaket Ryuga. Ryuga datang membawa selembar selimut wol tebal yang tersisa. Ia duduk di samping Kiara, lalu tanpa bicara, menarik wanita itu ke dalam pelukannya dan membungkus mereka berdua dengan satu selimut.
"Pak... ini terlalu dekat," bisik Kiara, wajahnya memanas bukan karena api, tapi karena napas Ryuga yang menyentuh pipinya.
"Diamlah, Kiara. Ini namanya efisiensi termal," sahut Ryuga datar, namun tangannya memeluk pinggang Kiara dengan sangat protektif. "Jika kamu kedinginan, kamu tidak bisa merakit jam besok. Dan aku tidak mau asistenku rusak."
Kiara terdiam, menyandarkan kepalanya di bahu Ryuga. Detak jantung pria itu terdengar tenang dan kuat, memberinya rasa aman yang tak terlukiskan.
Tiba-tiba, telinga Kiara yang tajam menangkap suara halus. Srak... srak... Suara langkah kaki di atas tumpukan salju di luar jendela lantai dua.
"Ryuga," Kiara berbisik, tubuhnya menegang. "Ada seseorang di atas kita. Gerakannya sangat halus... seperti jam yang tidak bersuara."
Ryuga langsung waspada. Ia meraih pistolnya yang diletakkan di dekat perapian. Matanya berubah menjadi tajam dan dingin. Ia memberi isyarat pada Maya melalui kode tangan.
"The Ghost," desis Ryuga.
Sesaat kemudian, kaca jendela atas pecah berkeping-keping. Sebuah bom asap dilemparkan ke dalam ruangan.
ini juga teman kocak si Dino gangguin aja, 🤣🤣
tp seru dan tegang.. penasaran kode apa itu ya?