NovelToon NovelToon
Benih Kesalahan Satu Malam

Benih Kesalahan Satu Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Hamil di luar nikah / Anak Kembar / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senimetha

Elisa (18 tahun) hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang sendirian demi menyekolahkan adiknya. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat sebuah pesanan makanan membawanya ke kamar yang salah. Di sana, ia kehilangan segalanya dalam satu malam yang tragis. Di sisi lain, ada Kalandra (30 tahun), pewaris tinggal kaya raya yang dikenal dingin dan anti-perempuan. Malam itu, ia dijebak hingga kehilangan kendali dan merenggut kesucian seorang gadis asing. Elisa hancur dan merasa mengkhianati amanah orang tuanya. Sedangkan Kalandra sendiri murka karena dijebak, namun bayang-bayang gadis semalam terus menghantuinya. Apa yang akan terjadi jika benih satu malam itu benar-benar tumbuh di rahim Elisa? Akankah Kalandra mau bertanggung jawab, atau justru takdir membawa mereka ke arah yang lebih rumit? Yukkk…ikuti ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senimetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Elisa-17

Matahari pagi di Puncak tidak pernah terburu-buru. Kabut putih tebal masih betah mendekap lembah, menyembunyikan pepohonan pinus di balik tirai dingin yang lembap. Di dalam villa, suara gemertak kayu bakar yang baru saja ditambahkan Bi Inah ke dalam perapian menjadi musik latar yang menenangkan.

Elisa terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Mungkin karena jagung bakar semalam, atau mungkin karena rasa aman yang mulai meresap ke dalam sanubarinya. Ia menoleh ke arah sofa. Kalandra sudah tidak ada di sana. Selimutnya terlipat rapi, menyisakan lekukan kecil di bantal yang menunjukkan pria itu baru saja beranjak.

Elisa bangkit, merapatkan jaket rajutnya, dan melangkah ke teras belakang. Di sana, ia menemukan Kalandra sedang berdiri mematung membelakanginya. Pria itu hanya mengenakan kemeja flanel tipis, menatap hamparan kabut dengan secangkir kopi hitam yang uapnya menari-nari ditiup angin gunung.

"Mas... udaranya disini dingin sekali. Kenapa keluar hanya pakai kemeja?" tegur Elisa lembut.

Kalandra berbalik. Wajahnya tampak sedikit lebih segar, meski semalam ia harus menembus hujan. "Saya terbiasa dengan udara dingin, Elisa. Tapi kamu benar juga, ini sedikit lebih menusuk dari biasanya."

Ia menatap Elisa dari ujung kepala hingga ujung kaki, memastikan istrinya itu terbungkus hangat. "Bagaimana perutmu? Jagung semalam tidak membuatmu sakit perut, kan?"

Elisa menggeleng, ia melangkah mendekat dan berdiri di samping Kalandra, turut menatap kabut yang mulai bergerak perlahan tertiup angin. "Justru itu tidur paling nyenyak yang saya rasakan sejak pindah dari kontrakan. Terima kasih, Mas. Dan maaf sudah merepotkan tengah malam."

Kalandra menyesap kopinya, lalu mendesis pelan saat rasa pahit itu menyentuh lidahnya. Anehnya, pagi ini rasa mualnya tidak muncul saat mencium aroma kopi. "Jangan pernah kamu meminta maaf untuk hal seperti itu. Itu bukan repot, tapi itu adalah tanggung jawab. Lagi pula... saya juga menikmatinya."

Mereka berdua terdiam cukup lama, menikmati sunyi yang hanya dipecah oleh suara burung-burung hutan. Di saat-saat seperti inilah, tanpa gangguan ponsel yang berdering atau tekanan dari Tuan Danu, mereka merasa benar-benar seperti manusia biasa.

"Mas Landra," panggil Elisa pelan.

"Ya?"

"Boleh saya bertanya sesuatu? Sesuatu yang...ya, mungkin sedikit pribadi?"

Kalandra menaruh cangkirnya di pagar pembatas teras. Ia menoleh sepenuhnya ke arah Elisa, memberikan perhatian penuh yang membuat Elisa sedikit gugup. "Tanyakan saja. Tidak ada lagi rahasia di antara saya dan kamu, kan?"

Elisa memilin ujung jaketnya. "Apa yang dulu Mas bayangkan tentang masa depan? Emm…Sebelum... sebelum kejadian di hotel malam itu. Maksud saya, Mas adalah pewaris tunggal, pasti Mas punya rencana tentang pernikahan impian, atau wanita yang Mas cintai."

Kalandra terdiam. Pertanyaan itu menghantamnya cukup telak. Ia memandang ke depan, matanya menerawang jauh melampaui kabut.

"Jujur?" Kalandra menghela napas. "Masa depan saya dulu hanya berisi angka, grafik saham, dan ekspansi perusahaan. Saya tidak pernah memikirkan pernikahan sebagai sesuatu yang berdasarkan cinta. Bagi saya, pernikahan adalah aliansi bisnis. Saya membayangkan mungkin akan menikahi putri dari kolega Papa, terus mengadakan pesta megah di ballroom hotel bintang lima, dan melanjutkan hidup dengan rutinitas yang membosankan."

Ia menjeda, lalu menatap Elisa dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Saya tidak pernah membayangkan akan berada di villa ini, El. mencari dan menunggu jagung bakar dan dibakar di tengah hujan, dan merasa cemas karena seorang gadis kurir makanan mual di pagi hari."

Elisa menunduk. "Maafkan saya karena merusak rencana membosankan itu."

Kalandra terkekeh kecil, suara yang sangat jarang keluar dari mulutnya. "Jangan meminta maaf. Ternyata, rencana yang membosankan itu memang pantas untuk di rusak. Saya baru sadar kalau hidup saya dulu sangat sepi, Elisa. Meskipun saya dikelilingi ribuan orang di kantor, saya tidak pernah merasa dibutuhkan secara tulus seperti sekarang."

Kalimat itu membuat dada Elisa sesak oleh rasa haru. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin Kalandra bisa berpikiran demikian.

"Lalu, bagaimana dengan Mas sendiri?" tanya Elisa balik. "Mas... eee…apa Mas tidak merasa kehilangan kebebasan?"

"Kebebasan itu relatif, El!” jawab Kalandra pendek. "Dulu saya bebas pergi ke mana saja, tapi saya tidak punya tujuan untuk pulang. Sekarang, saya punya tujuan. Meskipun tujuannya terkadang membuat saya harus muntah-muntah di kamar mandi."

Mereka berdua tertawa kecil. Tawa itu meruntuhkan sisa-sisa dinding es yang selama ini memisahkan mereka. Di tengah tawa itu, Kalandra menyadari sesuatu yang aneh. Ia tidak lagi merasakan mual yang menyiksa pagi ini. Mungkinkah karena suasana hati Elisa yang membaik?

...----------------...

Setelah sarapan nasi tim ayam yang lembut, Kalandra mengajak Elisa berjalan-jalan di kebun bunga mawar yang terletak di bagian samping villa. Aris sudah lebih dulu di sana, membantu penjaga kebun memotong rumput dengan semangat yang meluap-luap.

"Pelan-pelan saja jalannya, tanahnya disini sedikit licin karena embun," Kalandra menawarkan lengannya untuk dipeluk Elisa.

Elisa ragu sejenak, namun akhirnya ia menyambut lengan itu. Genggamannya masih terasa malu-malu. Mereka berjalan perlahan, menikmati aroma mawar yang mulai mekar.

"Elisa," panggil Kalandra di tengah jalan setapak.

"Iya, Mas?"

"Minggu depan, kita harus kembali ke Jakarta sebentar. Ada jadwal kontrol ke dokter kandungan untuk USG pertama kali. Usia kandunganmu akan masuk minggu ketujuh. Kita harus memastikan detak jantungnya sehat."

Mendengar kata detak jantung, Elisa menghentikan langkahnya. Ia menyentuh perutnya. Ada rasa haru yang mendalam. Selama ini ia hanya merasakan mual dan kram, namun membayangkan ada jantung kecil yang berdetak di dalam sana membuatnya merasa benar-benar menjadi seorang ibu.

"Detak jantung..." bisik Elisa. "Dia sudah punya jantung, Mas?"

"Menurut buku catatan Mama, jantungnya mulai berdetak di minggu ke-enam atau ke-tujuh," jawab Kalandra. Ia bisa melihat mata Elisa berkaca-kaca.

"Saya... saya takut, Mas. Gimana kalau dia tidak sehat? Gimana kalau karena stres saya kemarin, dia..."

Kalandra memegang kedua bahu Elisa, memutar tubuh gadis itu agar menghadapnya. "Dia akan sehat. Dia punya ibu yang kuat. Dan dia punya ayah yang... yah, yang bersedia merasakan mualnya untuknya. Kita akan hadapi ini bersama, oke?"

Elisa mengangguk, menyeka air mata yang jatuh. Di saat itulah, Kalandra merasa tarikan magnet yang sangat kuat. Ia mendekatkan wajahnya, memberikan kecupan ringan di kening Elisa. Kecupan itu berlangsung lama, penuh dengan doa dan janji perlindungan.

Ketenangan sore itu terusik ketika sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan gerbang villa. Kalandra, yang sedang duduk di ruang tengah bersama Elisa yang sedang merajut syal kecil untuk Aris, langsung berdiri tegak. Matanya menajam.

Bi Inah masuk dengan tergesa. "Den Landra, ada Den Bimo di depan."

Kalandra menghela napas lega saat mendengar nama Bimo, namun ia tahu Bimo tidak akan datang ke Puncak jika tidak ada urusan yang benar-benar darurat.

"Biarkan dia masuk, Bi,” perintah Kalandra. Ia menoleh ke Elisa. "Kamu masuk ke kamar dulu ya? Bawa juga dengan Aris. Saya harus bicara bisnis sebentar bersama Bimo”

Elisa tahu itu bukan sekadar bisnis. Ia melihat ketegangan di rahang Kalandra. "Hati-hati, Mas."

Bimo masuk ke dalam ruangan dengan langkah cepat. Wajahnya tampak kusut, kemejanya berantakan. Ia langsung duduk di sofa tanpa menunggu dipersilakan.

"Danu bergerak lebih cepat dari dugaan kita, Lan," ujar Bimo tanpa basa-basi.

Kalandra duduk di hadapannya. "Apa yang dia lakukan?"

"Dia menyebarkan foto-foto Elisa saat masih jadi kurir ke beberapa forum gelap kalangan elit. Dia nggak pake media mainstream karena Papa sudah kunci jalurnya, tapi dia main di bawah tanah. Dia mau bikin opini kalau Elisa itu cuma pemanis yang kamu pungut untuk menutupi skandal obat-obatan malam itu."

Kalandra mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Sialan. Dia mau menyerang mental Elisa."

"Bukan cuma itu," lanjut Bimo. "Danu mulai mendekati salah satu pemegang saham minoritas kita, Pak Gunawan. Dia tahu Pak Gunawan itu sangat kolot soal asal-usul keluarga. Dan Danu mau memicu mosi tidak percaya pada kepemimpinanmu di rapat umum bulan depan."

Kalandra terdiam. Pikirannya berputar cepat. Ini bukan lagi soal skandal malam itu, ini adalah upaya perebutan kekuasaan yang menggunakan Elisa sebagai pion.

"Gimana dengan keamanan di sini?" tanya Kalandra.

"Gue udah tambah personel di depan. Tapi Lan, lo nggak bisa selamanya sembunyi di Puncak. Danu tahu lo ada di sini. Dia sengaja biarin lo tenang sebentar supaya lo bisa lengah."

Tiba-tiba, suara gelas pecah terdengar dari arah dapur. Kalandra dan Bimo serentak berdiri. Kalandra berlari menuju sumber suara.

Di sana, Elisa berdiri mematung di ambang pintu dapur. Di kakinya, pecahan gelas air minum berserakan. Wajahnya pucat pasi, matanya menatap Kalandra dengan penuh ketakutan.

"Elisa... kamu dengar semuanya?" tanya Kalandra dengan suara bergetar.

Elisa tidak menjawab. Ia hanya memegang perutnya dengan kedua tangan, lalu perlahan tubuhnya merosot ke lantai.

"Mas... sakit..." rintih Elisa.

"ELISA!" Kalandra menerjang maju, menangkap tubuh Elisa sebelum menyentuh lantai.

Rasa mual yang hebat mendadak menghantam Kalandra secara bersamaan, jauh lebih kuat dari biasanya. Ia merasa lambungnya seolah ditusuk ribuan jarum. Ini bukan lagi sekadar gejala simpati biasa tapi ini adalah sinyal bahaya dari ikatan batin yang ia miliki dengan Elisa dan bayinya.

"Bimo! Siapkan mobil! Kita ke rumah sakit terdekat sekarang!" teriak Kalandra.

Bimo segera berlari keluar. Kalandra menggendong Elisa, mengabaikan rasa mualnya sendiri yang membuat pandangannya sedikit kabur. Ia tidak peduli jika Danu mengintai di luar sana. Pikirannya hanya satu yang mengarah ke Elisa dan jantung kecil yang baru saja ia bicarakan di kebun mawar tadi harus selamat.

Badai yang ia takuti akhirnya tiba, lebih cepat dari kabut yang menyelimuti Puncak sore itu. Dan di tengah kepanikan itu, Kalandra menyadari satu hal yang selama ini ia sangkal sepertinya ia sudah jatuh cinta pada gadis yang ada di pelukannya ini, dan ia tidak akan membiarkan dunia merenggutnya darinya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...Selamat membaca☺️🥰...

Jangan lupa like, comment, vote dan rate ya manteman🙏🏻🙌🏾❤️

1
Edi
semoga si danu cepat ketangkap dan bebi tripel lahir dengan selamat
tamara.nietzsche
Saling dukung ya! The Mansion😍🙏
tamara.nietzsche
Cerita yang kerennn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!