seorang wanita dari Negara Asia, memutuskan untuk berlibur ke Negara terpencil di bagian timur tengah, hanya untuk bisa melupakan Mantan pacarnya yang berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.
Yang dia pikir hanya akan mendapatkan pengalaman baru, tapi ternyata malah menemukan pasangan hidupnya, seorang pria pemilik kafe.
Walau begitu, wanita dari Asia itu tidak mengetahui bahwa pria tersebut, merupakan seorang penerus atau Pangeran mahkota di negara itu.
bisa dikatakan, di buang batu jalanan, malah dapat pengganti batu zamrud di negara asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
"Selamat siang, Tante," sapanya Alfero, yang kini sedang berdiri di depan rumah Tiffany. Wajahnya terlihat gugup dan malu-malu, padahal Alfero merupakan anak yang sangat terbiasa bermain di rumah Tiffany. Namun, karena ulah Tiffany yang berbohong kepada orang tuanya, Alfero harus menanggung rasa tidak enak hati kepada Damon dan Zahra.
"Mari masuk, Al. Om sudah lama menunggumu," seru Zahra, menyuruh Alfero masuk ke dalam rumahnya.
"Haha, baik, Tante. Terima kasih, permisi," ucap Alfero sambil tertawa pahit. Ia pun dipersilakan duduk di kursi tamu, yang di sana juga sudah ada Damon, sementara Zahra bergegas ke dapur untuk mengambil minuman.
"Sebentar, yah, Tante ambil minuman dulu untuk kamu," ucap Zahra, langsung bergegas ke dapur.
"Eh, gak usah repot-repot, Tante... haha."
"Om...?" sapanya Alfero sambil tersenyum panik kepada Damon.
"Iya, bagaimana pekerjaanmu, Al?" tanya Damon dengan cukup santai.
"Baik, Om. Bagaimana kabarnya, Om?" jawab Alfero, sambil bertanya kembali agar obrolan tetap berlanjut.
"Ah... Om dan Tante sekarang sedang tidak baik, Al. Kami berdua sedang mengkhawatirkan Tiffany. Itu mengapa Om memanggilmu kemari, ada yang ingin Om tanyakan kepadamu," tutur Damon dengan serius.
Mendengar hal itu, Alfero tidak berani lagi menatap wajah Damon. Ia hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar dan menunduk ke bawah. Sampailah Zahra membawa kan dua gelas kopi dan menghidangkannya kepada Damon dan juga Alfero.
"Silakan, Al. Tante buatin kopi kesukaanmu, loh..." seru Zahra, mempersilakan Alfero untuk meminum kopi yang sudah ia buat, sambil ia duduk di kursi sofa berwarna krim di samping Damon.
"T-terima kasih, Tante," ucap Alfero dengan gugup sambil ia mengambil gelas tersebut.
Damon dan Zahra bisa melihat bahwa Alfero sedang menyembunyikan sesuatu, terlihat dari wajah dan gaya mengambil gelas yang terlihat sangat kikuk.
Usai Alfero menghirup dan meminum kopi yang dibuatkan Zahra, ia merasa sedikit tenang dan fokusnya sedikit teralihkan.
"Bagaimana? Enak?" tanya Zahra kepada Alfero.
"Hm? Kopinya enak, Tante... sekali lagi, terima kasih."
"Jadi? Apa kamu sudah menanyakan keberadaan Tiffany kepada Alfero?" celetuk Zahra menanyakan hal tersebut kepada Damon, membuat Alfero langsung kaget dan terbatuk-batuk.
"Uhuk! Uhuk!"
"Eh, Al... ada apa ini? Minumnya pelan-pelan saja," ujar Zahra, mengkhawatirkan Alfero.
"Iya, Tante, Om... maaf... uhuk!"
"Al, apa kamu tahu keberadaan Tiffany?" tanya Damon langsung karena merasa curiga sedari tadi.
Usai rasa batuknya hilang, ia mulai mengatur nafasnya dengan baik. Sebenarnya, ia sudah berjanji kepada Tiffany untuk tidak pernah memberitahukan keberadaannya kepada Damon dan Zahra. Namun, begitu, ia tidak bisa berbohong kepada mereka, jadi ia hanya bisa mengatakan apa yang ia tahu dengan sejujurnya.
"Al sebenarnya tahu, Om, Tiffany tidak pergi ke kota A, melainkan keluar negeri," ucap Alfero dengan takut-takut.
"Apa!? Tiffany keluar negeri? Kemana, Al?!" tanya Zahra yang sudah mulai panik.
Karena Damon khawatir dengan kandungan istrinya itu, ia mencoba untuk menenangkannya. "Tenanglah, sayang... kita dengarkan dulu apa ucapan Al sampai selesai," lirih Damon.
"Aku minta maaf kepada Om dan Tante karena menyembunyikan hal ini. Aku tahu aku salah, Om. Jadi, Al meminta maaf sebesar-besarnya karena telah membantu Tiffany keluar negeri," tutur Alfero meminta maaf dengan tulus.
"Dan negara yang Tiffany kunjungi cukup jauh, sampai ke Timur Tengah, Om dan Tante. Tapi, sungguh! Aku juga tidak tahu kota apa yang akan ditempati Tiffany. Ia hanya mengatakan bahwa ia akan pergi ke kota Aladin," ujar Alfero dengan wajah kasihan.
"Astaga... kalian berdua ini... aaah, sungguh suka membuat masalah. Tiffany, sayang... anak itu benar-benar nakal. Ia tega membohongi diriku... aaah..." Pecahlah tangisan Zahra saat itu juga. Saat ia mengetahui bahwa Tiffany keluar negeri sampai ke Timur Tengah, dan mereka sama sekali tidak tahu keberadaan anak itu.
Saat itu juga, Damon mencoba menenangkan Zahra dan mengatakan kepada Alfero bahwa tidak masalah, dia tidak harus merasa bersalah. Ini adalah ulah Tiffany, yang penting Alfero sudah berkata jujur.
...----------------...
Di lain tempat, Tiffany, yang semalaman memikirkan ucapan Putri Nagia, memutuskan untuk melawan Ashan. Ia bertekad untuk kembali ke rumahnya pada hari itu juga. Dan benar saja, Tiffany saat ini sedang berhadapan dengan Ashan di kamarnya, tepatnya di depan pintu kamarnya.
Tubuh Ashan yang tinggi membuat Tiffany harus mendongakkan kepalanya ke atas.
"Aku ingin pulang, Ashan! Aku tidak mau lagi berada di sini! Aku ingin pulang! Tunjukkan aku pintu keluarnya, di mana?" teriak Tiffany putus asa. Ia benar-benar marah pada saat itu.
Waktu itu ia tenang karena ia mempercayai Ratu akan membantunya, namun semalam ia menyadari semuanya. Ratu tidak begitu tulus membantu dirinya. Jalan satu-satunya adalah memberontak, walau bagaimanapun caranya. Ia tidak perduli Ashan merupakan Raja maupun Pangeran, ia benar-benar akan memberontak untuk pulang.
Namun, Ashan tetap terdiam, tidak membalas teriak ataupun menunjukkan wajah tidak suka dan marah. Ia hanya menyimak Tiffany yang sedang berbicara sambil marah-marah.
"Kenapa kamu diam saja, Ashan? Jawab aku! Aku ingin pulang! Tunjukkan aku jalannya! Aku ingin pulang!" kesal Tiffany lagi dengan amarah yang meledak-ledak.
"Tenanglah, Nona Tiffany. Baiklah-baiklah, saya akan mengantarmu pulang. Tenanglah, jangan marah-marah lagi. Kamu pasti merasa sesak karena marah. Maafkan saya, ya? Mohon tenang kan dirimu, Nona," ucap Ashan dengan penuh kelembutan.
Membuat Tiffany terdiam. Ia tidak menyangka akan ada pria yang menjawab amarah di dirinya selembut Ashan. Ia mengerutkan kedua alisnya, menatap Ashan dengan keheranan.
"Ya, bawa aku pulang," ucap Tiffany lagi.
"Baik, Nona. Tapi sebelum itu, biarkan saya menepati janji saya. Mengajak Nona Tiffany untuk room tour di istana saya? Jika Nona Tiffany tidak keberatan, bagaimana?" ajak Ashan dengan penuh harap.
"Kamu tidak akan menipuku untuk kedua kalinya lagi, kan? Waktu itu kamu membawaku ke istana dengan alasan mengunjungi kafe itu untuk terakhir kali, tapi alhasil aku dicuri ke sini! Apa ini akan terjadi kedua kalinya lagi? Aku tidak mau!" tegas Tiffany, karena masih trauma dengan kejadian waktu ia dibuat pingsan.
"Maafkan saya, Nona. Tapi ini tidak akan terjadi. Saya tulus ingin menemani Nona berjalan-jalan di istana saya. Ini juga sebagai kenangan jika saya benar-benar akan berpisah denganmu," tutur Ashan sambil tersenyum tipis.
"Saya benar-benar menginginkanmu, Nona Tiffany. Tapi saya sadar, saya memintamu terlalu cepat. Maka dari itu, izinkan saya membuat satu kenangan lagi bersamamu di istana saya," pinta Ashan untuk sekian kalinya.
Melihat wajah Ashan yang memohon dan memelas seperti itu, akhirnya hati Tiffany luluh juga. Ia setuju untuk di ajak jalan di istana bersama Ashan. Ia merasa bahwa Ashan sangat baik kepadanya, tapi cara Ashan menunjukannya sangatlah salah. Walau begitu, ia mencoba untuk memaafkan semua kesalahan Ashan kepada dirinya.
...********BERSAMBUNG********...
kan memank begitu status kalian Fany...
Ashan sudah memintamu pada keluarga mu di telpon tempo hari...
jangan kasi peluang untuk mereka mengganggu Tiffany...
apalagi Cindy untuk mendekati mu...
jadi ingat pelakor aku kk 😆😆😆🙏🙏🙏
lanjut up lagi thor
Tiffany aja manggil Ashan tanpa embel2 pangeran,masa kamu masih panggil Nona...panggil nama aja lebih akrab nya
udah pangeran,brondong pula 😍😍😍